#10 Indonesia Hebat

Serene

Serene

Percakapan di atas ojek dengan salah satu personel gojek yang offduty jadi kepikiran tentang betapa hebatnya orang Indonesia dan bikin gw bangga ama bangsa ini. Geliat ekonomi (baca: usaha buat memenuhi kebutuhan hidup) terasa paling kuat di level bawah.

Jadi kepikiran deh ama salah satu tantangan di Giveaway akhir tahun sekaligus 31 Days Writing Challengedari , Bang Mandor yang idenya gw copy paste gini:

Saya pengen mas Dani nulis (serius tapi guyon) tentang Rakyat Indonesia, tentang wong cilik, tentang warga, tentang orang pinggiran, tentang orang jalanan. Tentang kekuatan orang (yang dianggap) kecil yang tidak tampak namun Jelas. Jelas sekali kekuatannya hanya saja kita tidak sadar. Poin pentingnya pada kita tidak menyadarinya.

Harga cabe naik hingga 100rb aman-aman saja. Tarif listrik naik 2 kali lipat tidak ada gejolak. Beras, pupuk, bawang merah, teh botol, air akua, tiket bioskop naikkk gak ada yang protes. Hingga bensin naik 2ribu saja gejolaknya luar biasa, saya pikir yang bergejolak itu mungkin lupa kalau dirinya rakyak Indonesia.
Tentang nekat, berangkat kemana tanpa modal. Tentang merantau di negeri ajaib. Berangkat ke tempat yang jauh bermodalkan uang 50rb saja. Tentang menikah dengan modal Bismillah. Mana ada orang manusia unggul seperti ini kalau bukan Rakyat Indonesia.
Tentang kuliner ekstrim yang tidak diketahui, gorengan campur plastik, makanan dengan pewarna jeans, kripik balsem. Mungkin sampeyan pernah mengalaminya, eh masih ada juga ya sekarang Who knows. Dan itu tidak membuat kita sakit, malah tambah kebal terhadap virus dan bakteri. Racun aja mental apalagi virus bakteri.

Komen tantangannya sendiri udah hampir satu postingan yes? Hahahaha.

Cerita dari si Bang Jek kemaren itu betapa meskipun dia gak punya penghasilan formal dia masih bisa survive sekolahin anak dan menghidupi keluarga. Berapa banyak coba rakyat Indonesia yang kurang beruntung untuk bisa diterima kerja dengan upah minimum regional? Banyak lah ya dibanding sektor formal yang tersedia kalo baca datanya Badan Pusat Statisik. Begitu kreatifnya orang Indonesia sampai-sampai layanan ojek pun dibuat sebagai lahan bisnis terorganisir yang memungkinkan si Bang Jek yang gw naikin kemaren ga sepi penumpang selama masa ngojeknya. Dalam dua jam saja dia bisa mengantongi kisaran Rp.200rebu.

Dari contoh lain, kelihatan gak sih akhir-akhir ini bisnis kecil semakin terlihat semangat? Makanan, fotografi, jasa pengiriman, dagang buku, jualan pakaian, jasa dekorasi rumah, tukang cuci sofa, You name it. Apa aja deh bisa diduitin. Karena apa? Marketnya yang luar biasa besar.

200 juta jiwa lebih penduduk kayaknya emang jadi berkah dari yang Maha Kuasa. Indonesia sudah punya pasar sendiri buat hasil produksi rakyatnya. Meskipun patah tumbuh hilang berganti hore pake pepatah siapa sih yang gak mau nyobain makanan teranyar dan paling unik di kotanya. Sampe ngiler kalo baca temen-temen blogger bikin review makan-makan dari daerah mereka tinggal.

Sekali lagi, apapun laku di jual di negeri ini. Gorengan dengan minyak yang udah dipake seminggu pun ludes. Ojek motor. Ojek payung. Mi ditambahin kangkung jadi mi kangkung. Bahkan aci cuma dikasih gula ama garem trus digorengpun laku. Siapa yang belom pernah makan cilok, cireng dan sebangsanya? Ah horangkayah itumah. *nuduh πŸ˜›

Untungnya lagi nih, semua rakyat, yang kata Bang Mandor gak disadari kekuatannya itu, lahir dan tumbuh besar di negara ini. Gw salah satunya. Negara yang banyak standarnya off dari standar internasional, kayak standar kesehatan, kebersihan, pendidikan lalalili dan lain sebagainya. Karena lahir dan tumbuh dengan kondisi seperti yang kita semua alami akhirnya kan bikin badan beradaptasi dengan lingkungan yang serba gak steril ini. Selain itu segala kondisi Indonesia bikin kita terbiasa buat ulet. Terbiasa mengupayakan segala macam cara untuk bisa mencapai tujuan, meskipun banyak yang ujungnya pake cara gak halal sih. Tapi lain cerita kan ya?

Gw cukup kuat menelan masakan bercampur kotoran yang tidak sengaja tercebur di dalam kuah sayur di warteg. Ga ada yang langsung sakit perut diare makan nasi padang pinggir jalan yang mungkin gak jelas juga air buat masaknya. Soto yang dijual di samping got aja masih terasa nikmat banget. Hal-hal yang kayak gitu jadi privilege buat orang Indonesia ini yang kayaknya kalo mereka tumbuh di negara yang serba steril dan terjamin akan membuat daya tahan dan daya juang mereka letoy.

Memang masih banyak orang yang malas tapi terlalu banyak orang yang masih bangun pagi dan menyunggingkan senyum optimis menyambut hari. Kalau tidak bisa jualan gorengan mereka masih akan bisa jualan yang lainnya.

Itu yang gw lihat dan alami sendiri. Selama kurang lebih 15 tahun bantuin Bapak Ibuk jualan di toko kecil yang termasuk di dalamnya kerjaan gw adalah antri minyak tanah, antri beras dan segala macemnya.

Makanya gw yakin mereka cukup kuat untuk bisa bertahan kalo hanya dari gempuran kenaikan berbagai macam harga. Ya memang akan ada protes menyuarakan ketidaksetujuan tapi di akhirnya semua orang akan kembali menyesuaikan dan berjuang lagi dan menikmati hidupnya lagi.

Hal-hal kayak ginilah yang bikin gw bangga banget ama negara ini dan ocehan kebanggaan ini memenangkan gw salah satu hadiah dari Cerita Indonesia dan membawa gw berkunjung ke kantornya Google Indonesia. Gw bangga jadi orang Indonesia!

Makasih ya Bang tantangannya. πŸ™‚

Advertisements

58 Comments

  1. Dwi Puspita
  2. Allisa Yustica Krones
  3. dey
  4. MS
      • MS
  5. bintangtimur
  6. nad
  7. Desember 11, 2014
  8. Media Indonesia

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya. (^_^)

Refresh
Translate »
Want to read other posts in English in this blog?Open
+
%d blogger menyukai ini: