#5 Modal Sarung?

No picture for this post

Kalo ada yang belom sumbangin ide buat year end writing challenge dan giveaway blog ini monggo loh. Masih terbuka kesempatan. Semakin unik tantangan semakin besar kesempatan terpilih untuk ditulisnya dan menang hadiah giveawanya. Hehehe.

Kayak tantangan hari ke 5 yang gw pilih dari Lia the happy newly wed blogger.

Menurut gw gimana tentang ‘Stay-at-Home Husband vs Working Wife’? Dan apa yang gw pikirkan jika terjebak dalam kondisi itu?

Mulai dari mana ya?
Dari menurut gw ajalah ya.

I have no problem at all about stay at home husband. Pastinya banyak yang bilang suami seharusnya bekerja menghidupi istri, kodrat wanita mendidik anak lalalili. Setuju banget kalo sebagai cowok suami dan pimpinan keluarga kudu bisa menghidupi anak istri. Kudu bisa bertanggung jawab provide living. Tapi kalo kondisinya harus dibalik gimana?

Jaman sekarang di saat dimana gw hidup ini, kesempatan kerja buat laki-laki maupin perempuan sama besarnya, meskipun untuk beberapa industri dan bidang kerja laki-laki masih lebih dipilih purely karena tuntutan fisik. Harus gw akui juga kalo perempuan telah menunjukkan banyak sekali kelebihan yang bahkan bisa ngegiling kemampuan laki-laki di tempat kerja.

Gw kenal banyak perempuan yang posisi, gaji dan responsibilitynya jauh lebih gede dari laki-laki.
A woman beats men singlehandedly in form of performance, salary and professionalism.

Trus ketika mereka ketemu sama laki-laki baik yang beneran care, they fell for each other then got married sementara kerjaan yang cowok biasa-biasa aja sementara kondisi menuntut salah satu untuk tinggal di rumah, lets say mereka sepakat untuk salah satu di rumah nungguin anak mereka. Pilihan paling logis siapa menurut manteman yang kudu berhenti kerja?

Pilihan yang wajar menurut gw kalo si laki-laki berhenti kerja. After they talked about this through lah tentuya. Making money is not easy. Apalagi kalo misalkan si perempuan sudah dapet fasilitas pembelian rumah di kawasan yang bagus dengan tanpa bunga dari kantornya, fasilitas mobil yang mereka gak perlu bayar angsurannya, kesempatan untuk memberikan yang lebih baik buat buah hatinya dari gaji bulanan yang cukup besar dari istri.

Menurt gw kalo sampe dilakukan oilihan ini, yang terpenting dari itu semua gimana si laki-laki menghadapi keputusan besar ini. Di tengah norma sosial yang pergi bekerja harusnya dia kemudian dia memutuskan untuk tinggal di rumah. Bagaimana dia dan pasangannya merespon tanggapan-tanggapan dari orang-orang terdekatnya bisa jadi  menentukan kelangsungan hidup mereka. Jangan sampe si laki-laki jadi drop kalo denger cibiran modal sarung doang dari orang-orang.

Memang hidup bukan semuanya tentang uang dan bisa saja si suami keluar bekerja lalu istri di rumah, tapi apa itu menjamin kebahagiaan mereka berdua? Kekurangan uang untuk digunakan di kehidupan keluarga gak jarang bikin semua berantakan. As shallow as it can be. Dangkal emang dan siapapun bisa mengatakan seharusnya bisa lebih sabar dan menikmati apa yang dipunya dan sebagainya dan sebagainya, tapi kenyatannya gak jarang bubar jalan juga kan kalo dang adong hepeng?

Balik lagi soal komentar modal sarung, tunggu dulu, apa iya laki-laki yang gak bekerja cuman modal sarung doang? Ya ada sih dan gw tagu beberapa tapi dengan stay di rumah, laki-laki tidak serta merta terkebiri dari kemampuannya mencari penghasilan tambahan untuk keluarga. Dengan pola pikir sistematis dan fokusnya, si suami bisa jadi manajer invetasi paling brilian yang dipunya oleh keluarga. Dia bisa fokus alokasikan uang yang dihasilkan istri. Trading saham bisa dilakukan dari rumah. Belom lagi kalo blogging. Ya ga? Borderless money making. Gak ada alasan untuk membuat seorang suami yang memutuskan berhenti bekerja dan tinggal di rumah memiliki rasa kurang percaya diri.

Tentang hal ini gw sebenernya dah mikirin lama cuman gak kepikiran buat posting aja.

Gw sendiri kalo sampe harus “terjebak” (btw gw kurang sreg ama kata terjebak sih Li), kalo sampe harus mengambil opsi ini ya akan gw ambil dengan dagu tegak. Gak malu-malu dan gak merasa pesimis dan merasa kurang bermanfaat sebagai laki-laki. Karena sebelum mengambil posisi sebagai stay at home husband, pastinya sudah diomongin secara menyeluruh sama istri. I will make the best stay at home husband lah.

Gw sendiri sering ambil posisi sebagai stay at home dad on duty. Cuman cuti sih, tapi bisalah ngebayangin kira-kira gimana kalo misalkan gw yang harus resign.

So Lia, semoga menjawab ya. 🙂  Teman yang lain ada pendapat?

PS: agak siang nih publishnya. Sori ya Li. Mikirnya agak panjang meskipun tulisannya gak panjang-panjang amat.

Advertisements

83 Comments

      • Vita
  1. bemzkyyeye
  2. nad

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya. (^_^)

Refresh
Translate »
Want to read other posts in English in this blog?Open
+
%d blogger menyukai ini: