Berkicau di Twitterland

Twitter Login Page

Twitter

Pasti semua orang yang aktif di dunia maya sudah tidak asing lagi dengan Twitter. Situs microblogging yang memungkinkan semua orang mengungkapkan apapun yang ada dipikiran mereka dalam tulisan singkat 140 karakter. Apapun unek-unek dan ungkapan perasaan.
Gw termasuk orang yang agak telat memasuki twitterland. Tidak seperti Facebook yang gw sudah aktif dari tahun 2007-2008 (lupa tahun pastinya) dan gw invite temen-temen gw dengan men-tag alamat email mereka yang mana mereka harus buat account Facebook dulu sebelum bisa lihat fotonya. Gw baru create account Twitter setelah semua orang ramai membicarakan serunya janjian lewat close circuit follower-following.

Masa-masa pertama gw punya account Twitter ini gw lebih banyak pasifnya. Seringnya setelah beberapa minggu gw baru login lagi. Facebook masih jadi alternatif utama social media. Lama-kelamaan semakin banyak account Facebook online shop yang melakukan wild tagging produk-produk yang mereka jual. Frustasi dengan update news feed berisi kerudung, handphone, jaket, jam tangan dan segala macam barang yang gw jelas-jelas gak butuh, perlahan-lahan frekwensi Facebooking gw semakin berkurang. Just once in a while I check my facebook account.

Jiwa keeksisan gw akhirnya mulai melirik lagi Twitter. Apalagi setelah salah satu temen gw yang ngajarin bertwitter (@aghla) bilang kalo seru ternyata mengikuti beragam pemikiran orang di twitter dengan mem-follow orang-orang yang oke. Mulailah gw follow dia dan orang-orang yang dia follow.

Turns out twitter is fun (hellowww?). Kebebasan yang diberikan 140 karakter ternyata addictive. Timeline / linimasa seolah-olah jadi dunia dinamis yang bermain berloncatan di layar kecil handphone gw. Kebiasaan, sifat dan cara pikir orang bisa terpantau dari linimasa. Banyak orang yang punya jalan pikir menarik dan lucu untuk diikuti. Beberapa ilmu baru gw kenal dari ocehan orang-orang yang bahkan gw ga kenal.

Gw ngerasa semakin lama semakin banyak orang yang make twitter. Ungkapan yang dulu dipakai “hari gini gak punya Facebook?” Juga sudah dipakai jadi “hari gini gak punya Twitter?”.

Dengan sistem follow-unfollow, setiap orang bebas menentukan siapa yang mau difollow dan apa informasi yang didapatkan. Dengan kondisi seperti ini, Twitter jadi salah satu ajang promosi yang jitu. Banyak enterpreneur muda Indonesia, penulis buku dan perusahaan mulai menggunakan twitter sebagai media promosi utama. Orang-orang dengan kemampuan berkomunikasi bagus bisa mendapatkan banyak follower dan dinobatkan menjadi selebtwit – selebritis twitter. Mereka biasanya nge-twit ocehan-ocehan lucu nan cerdas dan ga jarang berisi pengetahuan. Ga melulu lucu sih.

Di masa-masa awal gw aktif, rame dan nge tren istilah fol-back. Follow balik. Biasanya buat orang-orang yang baru masuk ke twitter dan masih fakir follower, mereka follow orang dan kemudian minta untuk di follow balik. Dengan begitu, jumlah follower mereka bakalan nambah. Dulu gw sempat tergoda buat melakukan itu. Tapi setelah dipikir-pikir ulang, heck no! Buat gw, gw pilih siapa yang mau gw follow. I pick the piece of information that I want to get. Gw difollow orang? Ya monggo. Lebih banyak yang follow gw Alhamdulillah, kalo ngga ya gak papa. Daripada gw nyampah di linimasa orang yang ga mau tahu tentang gw (tapi gw seneng banget, sekali lagi, seneng banget lo kalo difollow).

Akhir-akhir ini semakin banyak seleb twit yang berubah perangai. Mencapai kasta tinggi di twitterland bikin mereka berubah attitude jadi the king of the world. Gw baca-baca di linimasa, ada yang sebut seseorang bahkan beli follower buat bisa jadi selebtwit. Dimention becandaan dikit marah-marah gak jelas yang berujung ke twit-war. Kalau sudah berubah jadi twit-war gini gw paling males bacanya. Kalo udah gitu biasanya gw akan beberapa hari ga mengunjungi twitter.

Ngetwit juga jadi alternatif nulis meskipun ujung-ujungnya nyampah di linimasa orang). Terutama kalo mood nulis di sini lagi habis. 😛

Salah seorang yang gw follow bilang, kalau mau dapet pengetahuan beneran, baca buku, bukan linimasa. Gw setuju, linimasa ibaratnya sebagai perkenalan ilmunya dan buku sebagai sourcenya. 🙂 Jadi, nge-twit aktif, baca buku juga. 😀 biar yang di twit tetep berisi.

Sekali lagi, gw seneng di follow. 😛 Kalo mau follow gw di @danirachmat.

Advertisements

2 Comments

  1. bintangtimur
    • danirachmat

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh
%d blogger menyukai ini: