Puasa dan Pengaruhnya ke Keuangan Keluarga

Eciyeee, sok iyes banget ya judulnya. Padahal mau cerita doang soal cara mengatur keuangan rumah tangga di bulan puasa ini. Setelah semingguan puasa baru kerasa, perencanaan keuangan beneran dibutuhkan buat menghadapi momen bulan nan suci ini.

Kalo yang lain sibuk dengan target ibadah, gw mah mungkin cukup dengan berusaha biar bisa tetep istiqomah ibadahnya. Gak naik turun kek roller coaster. Mohon ampun ya Allah ya. Eh malah sekarang ngomongin soal duit.

Karena kantor pindahan ke gedung baru, gw harus menghadapi kondisi-kondisi baru yang ternyata beda banget dengan puasa tahun-tahun sebelumnya. Kalo tahun lalu gw bisa nyisihin buat nyumbang ini itu, tahun ini kok rasanya lumayan berat.

Mau gak mau penyesuaian anggaran perlu dan harus dilakukan biar gaji cukup sampe THR datang buat mengatur keuangan keluarga. Mungkin yang bisa relate sama postingan ini cuma teman-temin yang suami istri ngantor berjamaah, di daerah padet kayak Rasuna Said, Kuningan atau tempat lain yang kalo keluar telat dikit aja udah dijamin parkir berjamaah *bukan curat kok :P.

Baca postingan financial check untuk masa depan yang lebih baik deh kalo mau tahu gimana caranya buat periksa kondisi keuangan teman-teman apakah sudah sehat atau belum.

Tapi buat teman-teman yang lain gak ngalamin kejadian-kejadian yang kami alami ini, siapa tahu postingan ini bisa berguna untuk kalo misalkan harus ngalamin di sisa Ramadan tahun ini dan juga tahun-tahun yang akan datang. *menderita tapi ajak-ajak

Cara mengatur keuangan rumah tangga di bulan puasa

Cara mengatur keuangan rumah tangga di bulan puasa

Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga di Bulan Puasa (Versi Kami)

Penyesuaian Jam Kerja dan Penyesuaian Moda Transportasi

Satu hal yang paling kerasa selama bulan puasa (selain gak makan dan minum siang hari ya *ditoyor berjamaah) adalah perubahan jam kerja. Sebagian besar perusahaan pasti ada pemotongan jam kerja kan ya? Nah pemotongan jam kerja ini ternyata berbanding lurus dengan tingkat kemacetan di jalan.

Jam pulang kantor yang semakin cepat di Ramadan beriringan dengan tingkat kemacetan. Click To Tweet

Kayak misalkan di kantor gw yang jam kerja masuk tetep jam 8 tapi pulang jam setengah lima. Depan kantor nih udah macem tempat parkir umum bahkan mulai jam 4! Ntahlah itu orang-orang mau ngapain ya jam segitu udah pada turun. Giliran jam 5 pas gw nyari ojek, yassalam! Gak ada yang mau ambil kalo pesen ojek online. Pake ojek konvensional harganya pasti  dipatok gilak. 

Baca juga postingan tentang demo sopir taksi tentang transportasi online beberapa waktu lalu.

Iye, gw tahu kalo semua orang samaan ama gw. Pengen buka puasa bareng orang-orang terkasihnya. Alhasil gw pun hampir setiap hari pake layanan ojek online terbaru yang nerapin surcharge di jam-jam sibuk. 

Memilih transportasi sebagai salah satu cara mengatur keuangan rumah tangga di bulan Ramadan

Memilih transportasi sebagai salah satu cara mengatur keuangan rumah tangga di bulan Ramadan

Gw rasa hal ini juga berlaku buat teman-teman yang lain yang mungkin gak puasa dan satu-satunya moda transportasi yang dipakai adalah mobil dan kendaraan pribadi lainnya (pun motor). Peningkatan arus lalu lintas yang berujung kemacetan pasti meningkatkan biaya transportasi yang harus dikeluarkan. Uang bensin yang sebelumnya cukup buat seminggu, mungkin hanya bertahan tiga atau empat hari.

Kemacetan di jam menjelang berbuka puasa pasti akan meningkatkan biaya transportasi untuk pengguna kendaraan pribadi ataupun pengguna moda transportasi umum apabila tidak ingin waktu perjalanan meningkat. Penyesuaian cara bertransportasi adalah salah satu cara mengatur keuangan tumah tangga di bulan Ramadan. Atau kalau tetap bertahan tanpa perubahan, pembengkakan anggaran transportasi jadi pilihan. 

Anggaran Makan untuk Berbuka dan Sahur

Jangan belanja makanan di waktu lapar. Bakalan banyak yang terbuang. Click To Tweet

Iya gak sih? Berasa gak kalo pas puasa justru keinginan beli makanan ini itu malah semakin besar?

Karena memanglah belanja (terutama makanan) di waktu lapar sungguh sangatlah berbahaya. Apalagi kalo digabungkan dengan kenyataan kami berdua bekerja, jadi begitu nyampe rumah ngulik dapur bukan jadi salah satu pilihan kegiatan yang paling menyenangkan.

Taunya begitu nyampe rumah kamipun pengennya bisa langsung main-main sama A.

Makan di luar jadi pilihan utama gw dan Bul. Enak dan harga pun bisa disesuaikan. Terlebih lagi kami gak ada kewajiban buat cuci piring. 😛 Gw pernah juga nulis tentang cara tetep hemat tapi tetep gaya makan di mall tiap hari karena kantor gw waktu itu emang dikelilingi mall-mall dan tempat nongkrong paling mutakhir di Jakarta.

Tapi, tantangan terbesar buat kami, eh gw terutama, adalah menahan godaan lapar mata. Memang tempat makan bisa disesuaikan dengan budget, tapi menahan keinginan makan segala yang ada yang jadi ganjelan. Pas hari pertama puasa, berbukalah kami di sebuah warung soto yang juga jualan segala macam makanan Jawa Timur. Sukseslah gw buat gak pesen sotonya yang semangkuknya udah mahal banget itu, tapi berujung gw pesen nasi goreng jawa ditambah gado-gado siram.

Ujungnya, gw pun makan gado-gadonya aja dan nasinya dijadikan menu sahur. Semakin ke sini, kamipun (terutama gw) semakin paham kalo setelah lapar puasa bukan berarti bebas makan apa saja. Pun untuk pilihan makan sahur.

Dengan kondisi seperti kami, ternyata ada cara-cara tertentu yang bisa dilakukan untuk tetap stay on the budget. Pengeluaran makan kami sebulan dikompensasikan dengan berkurangnya pengeluaran lainnya.

hemat-makan-di-luar-untuk-mengatur-keuangan-rumah-tangga-di-bulan-puasa

Mengatur keuangan rumah tangga di bulan puasa melalui pengaturan cara

Pengeluaran macam apa saja yang kami kompensasikan? Salah satunya gaji pembantu rumah tangga. Sudah sejak beberapa bulan ini kami kerjakan sendiri semua pekerjaan rumah. Ya rumah gak terlalu bersih, tapi yasudahlah. Pun budget buat ngopi-ngopi kece, gw pangkas habis (meskipun gw pernah publish tulisan tips ngopi hemat tapi tetep gaya).

Selain itu, makan sepiring berdua juga ampuh banget buat menekan biaya. Bihihik. Jadi ya kami cari restoran dan tempat makan yang menyajikan menu makan tengah dan dihitung per sajian makanan, instead of per item makanan. Restoran Chinese Food jadi andelan karena satu piring sayur dan lauk bisa dimakan berdua. Kalopun misalkan kebanyakan bisa dibungkus. Atau beli sayuran kuah macem rawon dan soto, tapi pesen nasi dua. Bihihik. Iya, soto dan rawonnya dibagi dua. Terutama buat sahur.

Ternyata, meskipun makan di luar terus, pengeluaran masih manageable dan pengeluaran makan ini masih lebih kecil dibandingkan ongkos transport tiap hari.

Penting untuk mengatur pola makan terutama untuk keluarga yang suami dan istri sama-sama bekerja di bulan puasa kayak kami. Memilih menu berbuka yang bisa dimakan berdua dan juga menu sahur bisa menentukan hemat atau tidaknya cara mengatur keuangan rumah tangga di bulan puasa ini. 

Penyesuaian Biaya Sosial(isasi)

Nah biaya sosial yang satu ini tentunya adalah buat buka puasa bersama. Tahu sendiri kan kalo buka bersama jadi event yang rame dan happening banget buat menjalin ajang silaturahim di bulan Ramadan ini.

Dengan jarak rumah tinggal dengan lokasi-lokasi buka bersama yang jauh, sementara membawa A sepulang kerja masih belum memungkinkan naik kendaraan umum, mau gak mau Bul harus naik taksi ke rumah kalo gw lagi ada acara atau sebaliknya. Sementara naik taksi konvensional bisa habis Rp. 200.000 sekali jalan, dan paling murah naik taksi online pun habis Rp. 150.000-an, gw pun harus benar-benar membatasi keikutsertaan di acara-acara seperti ini.

Kalaupun gw ikut, atau Bul ikut, mau gak mau salah satu dari kami harus menunggu yang laindi mall atau tempat yang bisa dipakai nunggu terdekat sampai selesai acara buat pulang bareng. Kalo nggak? Biaya yang harus kami keluarkan pun gila banget.

Belum lagi harga makanan di tempat berbuka yang kalo di Jakarta rasanya udah jarang di bawah Rp. 30.000 hanya untuk makanannya aja. Gak mungkin kan ngumpul rame-rame mau gosip seru silaturahim di tempat yang panas, becek dan harga makanannya di bawah Rp. 20.000 sudah termasuk minum es teh manis? *ihik̋

Jadi ya, pas kami datang di acara buka bersama, hampir bisa dipastikan salah satu dari kami sedang bermain-main bareng A di suatu tempat di sekitaran situ.

Apakah acara buka bersama itu gak penting? Menurut gw sih penting banget, dan sebisa mungkin gw akan dateng dengan mempertimbangkan segala macem hal yang gw sebutkan di atas. Kalo semua disanggupin dan semua didatengin, terus terang kami juga gak sanggup karena waktu commuting yang lumayan panjang masih harus ditempuh setelah acara buka bersamanya selesai.

Biaya sosialisasi ini juga harus diperhitungkan dan jadi salah satu elemen penting dalam cara mengatur keuangan rumah tangga di bulan puasa. 

Sebagai penutup postingan dan untuk lebih mendalami cara mengatur keuangan rumah tangga di bulan puasa ini, masilah kita simak video dari MetroTV dan Kompas TV yang menghadirkan pakar perencanaan keuangan Freddy Pieloor dan Prita Ghozie ini.

Video pertama tentang perencanaan keuangan dan bagaimana mengatur keuangan rumah tangga di bulan puasa dari MetroTV:

Yang kedua tentang mengatur keuangan rumah tangga di bulan puasa dari KompasTV bareng perencana keuangan Prita Ghozie:

 

Advertisements

52 Comments

  1. De
  2. eda
  3. Bba

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya. (^_^)

Refresh
Translate »
Ingin membaca artikel perencanaan keuangan lainnya? Buka
+
%d blogger menyukai ini: