Jangan Beli Saham dan Reksadana, Cek Profil Risiko Dulu!

Sudah pada cek profil risiko masing-masing belum? Kalau belum coba kerjain kuiz penentuan profil risiko ini. Inget ya, waktu ngerjain jangan mikir kelamaan, langsung jawab aja sesuai yang terlintas pertama kali di pikiran.

Setelah memutuskan investasi di saham, tiba-tiba nilainya turun 25% dan ada potensi rugi, apa yang lu lakukan?

Bagaimana hasilnya? Tipe profil risiko yang apa nih? Konservatif, berimbang atau justru agresif?

Berkali-kali gue bilang kan kalau investasi yang paling baik adalah yang paling sesuai dengan profil risiko masing-masing orang. Jadi saham yang returnnya gede banget belum tentu yang terbaik buat orang yang tipe konservatif dan suka dag-dig-dug kalo harga sahamnya jatuh. Buat apa kan profit tinggi kalo ternyata jantungan yes?

Kenapa Harus Cek Profil Risiko Sebelum Mulai Investasi?

Profil risiko menurut imoney

Profil risiko menurut imoney

The featured image borrowed from investment quiz on www.imoney.my website. You can check your risk profile there as well! 🙂 

Oiya, investasi yang gue maksudkan adalah dana yang disisihkan untuk mendapatkan return tertentu dan dimasukkan lagi ke dalam pokok investasinya. Tujuannya: buat bisa memenuhi kebutuhan tertentu di masa depan. Bukan sebagai income bulanan. 😀

Kisah Sedih Investasi Tanpa Tahu Profil Risiko

Ngomongin profil risiko,  jadi inget cerita waktu kerja di cabang bank dulu. Sekitaran tahun 2008 sewaktu gue masih jadi customer service. Sayangnya cerita ini bukan salah satu kejadian lucu yang pernah gue tulis di postingan Kerja di Bank dan Kejadian Ajaibnya.

Dateng ibu-ibu dengan dandanan istri bupati. Sasak tinggi, baju gelap berkelas dan kacamata muka (ituloh kacamata yang nutupin 80% bagian muka kecuali hidung dan bibir :P). Begitu meja gw kosong si Ibu dengan semangat 45 nyamperin meja guw.

Kurang galak sih ini

Kurang galak sih ini

Pas buka kacamata gue kaget! Matanya ituloh, kayak siap nelen orang!

Si Ibu: “Mas, gila ya ini Customer Servicenya bank ini. Duit saya yang tahu lalu katanya bisa naik dua puluh lima persen sekarang tinggal segini. Dua puluh lima juta menguap! Sekarang sisa berapa juta doang ini!” *sambil kasih lihat cetakan rekening reksadana

Gw: *glek *senyum paling manis “Ibu belinya tahun berapa Bu ini?”

Si Ibu:”setahun lalu. Tahun 2006 apa 2007 gitulah! “

Di mana tahun 2008 pasar dunia lagi ambruk kena sub prime mortgage crisis dari Amrik sono. Dia beli reksadana saham, sementara profil risiko si Ibu menurut hasil dokumen isiannya adalah konservatif! Makjang!

Pas ditanya udah dijelasin belom risikonya sama yang jualan dulu,  dia ngeles. Ngomel panjang lebar karena ngerasa gak dikasih penjelasan. Ditutup dua puluh menit kemudian gue jelaskan panjang kali lebar dan akhirnya buka deposito. Reksadananya dia dibiarkan aja nunggu balik lagi harganya.

Profil Risiko itu Penting, tapi Jarang Diperhatikan

Hayo, ngaku deh, siapa di antara yang baca postingan ini sudah pernah cek profil risiko sebelumnya? Terutama sebelum beli reksadana, atau unit link.

Kalo pada bilang belom, trus kenapa udah buka deposito, beli emas lalalili?

Siapa tahu loh, instrumen yang kalian sudah beli itu (termasuk deposito, tabungan rencana dan unit link yang dibeli) bukan yang paling cocok dengan profil risiko kalian. Kalo yang selama ini sudah punya deposito, tabungan rencana dan yang aman-aman itu ada yang ngerasa kok dananya gak berkembang ya? Ya siapa tahu kalian memang agresif tipe profil risikonya tapi ambil investasi di yang paling aman.

Atau malah karena baca postingan orang di blog soal saham langsung (pengen) beli saham, giliran sudah dibeli langsung sport jantung dilihatin tiap hari (bahkan tiap jam!). Ternyata profil risikonya tipe yang konservatif.

Makanya cari tahu dulu biar tahu pilihan instrumen investasi terbaik buat diri masing-masing apa aja.

Coba baca juga postingan  tentang 5 Alasan Sederhana Investasi di Pasar Modal.

Apa aja sih Profil Risiko yang Ada di Kuiz di Atas Tadi?

Kalau dari hasil quiz yang gue bikin itu, ada 4 tipe profil risiko di hasil akhirnya, konservatif, seimbang, berkembang dan agresif.

Profil Risiko Konservatif yang Maunya Aman 100%

Tipe Risiko Konservatif Banget

Tipe Risiko Konservatif Banget

Profil risiko konservatif ini pokoknya mau aman. Sama sekali gak mau ada risiko yang terjadi sama uang yang diinvestasikan.

Kalo nanti manteman ada yang mendapatkan hasil konservatif waktu tes, lebih baik memang memilih investasi di instrumen-instrumen yang aman. Kalau perlu yang dijamin sama pemerintah. Cocoknya sih masuk ke pasar uang macem deposito dan obligasi pemerintah. Lebih tentram hidupnya.

Tapi-tapi-tapi, jangan pernah lupakan inflasi ya. Karena uang yang kita investasikan itu kan tujuannya buat ngelawan inflasi. Nah kalau deposito gue sih yakin kalo gak bakal ngelawan sama inflasi. Obligasi pemerintah masih mungkin lah buat kejar itu nilai inflasi.

Meskipun bertipe konservatif, ingat selalu ada yang namanya inflasi! Click To Tweet

Apa sih obligasi pemerintah? Itu loh, ORI atau Sukuk. Kalo mau sih ya ini, coba juga alokasiin 20% campuran instrumen yang lebih agresif ke reksadana campuran ato reksadana pendapatan tetap. Atau kalau gak nyaman 20% ya perkecil porsinya. Mulai belajar dikit-dikit.

Baca juga postingan tentang Belajar Lagi Obligasi Ritel Pemerintah.

Seimbang yang Mau Untung tapi Tetap Aman

Untuk tipe investor dengan profil risiko seimbang ini, sebenernya sudah mulai punya penerimaan risikonya. Udah bisa lah ngadepin sedikit gejolak di instrumen investasinya. Jadi gak harus selalu yang 100% dijamin pemerintah.

Tipe Risiko Seimbang

Tipe Risiko Seimbang

Selain obligasi pemerintah maupun deposito, tipikal investor Seimbang ini sudah bisa lah memperbesar porsi kepemilikan investasi di portfolio yang lebih berisiko kayak di reksadana pendapatan tetap atau reksadana campuran. Cuman ya toleransi untuk risiko masih lebih kecil. Sebagian besar mungkin masih akan ada di deposito atau obligasi pemerintah.

Tipe pemilik profil risiko ini menurut gue tinggal belajar lebih banyak tentang instrumen investasi yang lain yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi. Dengan semakin banyak belajar, bakalan semakin tinggi toleransi terhadap risiko.

Coba baca juga postingan yang ini nih, postingan tentang Ketika Harga Saham dan Reksadana Jatuh.

Berkembang dan Mencoba Instrumen Investasi Baru yang Ada

Termasuk tipe pemilik profil risiko berkembang?

Tipe Profil Risiko Berkembang

Tipe Profil Risiko Berkembang

Meskipun masih menginginkan keamanan dalam portofolio investasi, tipe profil risiko berkembang ini sudah lebih terbuka terhadap instrumen-instrumen yang memiliki potensi kerugian (dan tentunya keuntungan) lebih besar.

Deposito dan obligasi pemerintah mungkin masih menjadi pilihan sebagai safety cushionnya, tapi reksadana saham, emas dan saham mungkin sudah ada di portfolionya. Pilihan-pilihan investasi terbaru pun mungkin akan dicobanya.

FYI, investasi emas bukanlah instrumen investasi yang 100% aman. Harganya fluktuatif dan punya risiko harga yang naik turun seperti saham. Coba baca postingan apa yang gue pelajari dari investasi emas.

Gue sendiri pernah berada di kondisi ini setelah dua tahun kerja di front-line Bank Mandiri dan tahu tentang reksadana. Pertama kalinya waktu itulah gue buka rekening sekuritas.

Tipe Profil Risiko Agresif

Pasar modal yang bergejolak (dan bisa jadi lagi jeblok) bukan sesuatu hal yang bikin orang dengan profil risiko agresif kebat-kebit. Malahan dia akan mungkin beli lagi untuk nambah portfolionya. Jadi gak ada khawatir yang berlebihan banget gitu.

Tipe profil risiko agresif

Tipe profil risiko agresif

Portfolio para investor dengan profil agresif ini biasanya atau lebih lebih banyak ke saham, reksadana saham, dan lain-lain sejenisnya. Mereka ngarepin untung gede dari investasinya over time. Paham banget bahwasannya semboyan risiko gede pasti diikuti dengan untung gede.

Tapi penting dan kudu diinget sama teman-teman dengan profil risiko ini, bahwa sebaiknya mereka masih harus ada paling gak 20% investasi di pasar uang. Tujuannya buat cushion kalo sewaktu-waktu perlu cash. Jangan sampe gak ada buffer sama sekali.

Apakah Profil Risiko Bisa Berubah?

Profil risiko ini bukan harga mati, tenang aja, bisa berubah kok.

Bisa berubah dari yang konservatif ke agresif dengan banyak baca dan update-update pengetahuan tentang pasar modal dan lain sebagainya. Tapi bisa juga sebaliknya emang. Dari yang agresif banget ke sangat konservatif karena trauma portfolionya turun nilainya. Hehehe.

Jadi jangan mentang-mentang dibilang tipe konservatif trus maunya depooo mulu.  Inget inflasi! 😛

Nah kalo bingung mau belajarnya di mana,  bisa loh ikut kelas dari Bursa Efek Indonesia gratis yang lernah gw tulis postingannya di Belajar Gratis Pasar Modal.

Saran gw pas ngisi tes ataupun kuisionernya ini, jujur aja ama diri sendiri.

Ga usah takut ngerasa diri terlalu serakah ato terlalu cupu dan gak usah takut salah. Gak ada benar gak ada salah kok.

Jadi-jadi-jadi sebelum manteman semua aggressively beli saham lalalili, coba cek dulu profil risiko masing-masing ya. Selain kuis dan di link yang di atas, bisa juga coba cek profil risiko di fitur Kontan.co.id. Gratis kok.

 

 

Advertisements

24 Comments

    • dani
  1. Dunia Ely
  2. eda
  3. maya rumi

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya. (^_^)

Refresh
Translate »
Ingin membaca artikel perencanaan keuangan lainnya? Buka
+
%d blogger menyukai ini: