Demo Sopir Taksi dan Sharing Economy

Pagi ini, dengerin radio dan buka timeline diwarnai berita rencana demo sopir taksi dan sharing ekonomy dari Pak Rhenal Khasali. Gw gak tahu apakah demo sopir taksi ini juga termasuk angkutan umum (yang sekarang sudah berlangsung). Sasaran mereka demo adalah protes sama kehadiran para kendaraan umum berbasis aplikasi online. Informasi dari Radio yang gw denger “ribuan”.

Selain itu, pas lagi di angkot, gw baca juga tulisan Pak Rhenald Khasali di kompas.com dan setelah gw cari lagi juga ada di Koran Sindo tanggal 17 Maret 2016 kemarin. Artikel yang bisa diembed dari website pribadi Pak Rhenald seperti di bawah ini:

Selamat Datang Sharing Economy

Demo Sopir Taksi dan Sharing Economy yang Bertentangan

Kalo baca artikelnyaPak Rhenald, demo sopir taksi dan sharing economy ini memang kondisi yang sangat bertolak belakang. Sekilas emang kayak api dan air yang seolah gak bisa disatukan. Salah satu harus ditiadakan. Para supir taksi gak akan bisa bertahan hidup kalo mengandalkan nyupir taksi konvensional (silahkan masukkan nama perusahaan armada taksi yang sering anda gunakan) di masa internet yang memungkinkan beragam aplikasi transportasi online merajalela.

Mereka harus menghidupi anak dan istri, sementara masih harus membayar setoran kepada perusahaan pemilik armada taksi tempat mereka bekerja. Padahal dikarenakan banyaknya pilihan transportasi yang lain (baca: lebih murah) karena aplikasi tak berijin, penghasilan mereka jauh menurun dibandingkan sebelum adanya aplikasi itu. Aplikasi-aplikasi transportasi online yang merupakan perwujudan konsep sharing economy dituding sebagai biang kerusakan mata pencaharian mereka.

Para supir taksi itu gak salah. Dan gw akan balik ke sana nanti.

Gw jadi inget sekitar setahunan lalu waktu gw publish tulisan tentang cara mudah memesan taksi online, saat itu gw tahu dan yakin bahwa gw adalah happy customer dari perusahaan taksi ini. Dan dengan peluncuran mereka yang gegap gempita (mensponsori acara blogger, mengundang blogger untuk datang ke acara-acara offline mereka), gw pikir perusahaan ini sudah siap melangkah mengubah arah bisnis untuk masuk ke ranah digital. Sampe kejadian demo hari ini.

Hak Konsumen dan Hajat Hidup Orang Banyak

Kehidupan perkotaan

Kehidupan perkotaan

Buat yang hidup di kota besar kayak Jakarta yang sistem transportasi umumnya masih memberikan begitu besar ruang untuk pertumbuhan, pasti paham kalo memilih moda transportasi yang tepat adala satu hal yang krusial. Gimana enggak, dari kasus gw pribadi, biaya yang harus gw keluarkan buat transport sekitar 40% dari total pengeluaran harian gw (dengan catatan gw makan di luar, kalo bungkus makan dari rumah ya berarti 100% pengeluaran gw adalah untuk transport).

Biaya yang harus gw keluarkan kalo misalkan naik kereta nyambung dengan angkutan umum semua adalah sekitar Rp.21.000,- Cuma sekitar Rp. 450.000 – Rp. 600.000 sebulan. Angka yang gak terlalu besar memang, tapi gw harus menambah waktu perjalanan sekitar 1-2 jam dengan total commuting time sekitar 3 jam untuk satu kali perjalanan berangkat/pulang. Total setiap hari 6 jam perjalanan. 25% dari waktu yang gw punya setiap hari.

Gw akan bisa memotong waktu perjalanan 1-2 jam dengan bawa kendaraan pribadi atau naik taksi. Yes. Taksi.

Kalo naik mobil dilanjut naik angkot, yang harus gw keluarkan adalah sekitar Rp. 72.000 untuk angkot dan tol. Naik 3x dibandingkan kalo gw naik kereta. Tapi bisa menghemat 1-2 jam perjalanan tadi. Sementara kalo full naik taksi dari rumah gw ke kantor sekitar Rp. 275.000 sekali jalan. Okelah, gw gak pake aplikasi taksi online setiap saat. Mungkin ada sekali atau dua kali dalam sebulan.

Lalu muncullah aplikasi-aplikasi online ini. Sekitar setahunan gw pake aplikasi baik ojek online maupun taksi online. Untuk taksi online yang pakai mobil pribadi, sekali jalan dari rumah gw ke Jakarta dan atau sebaliknya, tarif “hanya” Rp. 97.000an kalo gak pas lagi macet dan gak kena surcharge. Kalo lagi rame dan macet paling banter kena Rp. 175 ribuan sekali jalan. Dalam otak gw yang paling gak waras pun gw akan tetep pilih menggunakan taksi online.

Dari dalam sebuah taksi

Dari dalam sebuah taksi

Sementara untuk ojek online, dengan skema tarif yang mereka tawarkan, gw bisa nyampe ke tujuan gw dengan jauh lebih cepat dan jauh lebih murah. Ojek mangkal gw digetok Rp. 35.000 tanpa mau nego sama sekali buat rata-rata jarak yang gw tuju. Sementara dengan ojek online gw cukup bayar Rp. 20.000-Rp.25.000 (sudah termasuk dan tergantung dari tambahan buat driver yang gw kasih secara sukarela).

Fenomena yang seperti Pak Rhenald bilang, anak-anak muda yang memahami konsep sharing economy menyediakan wadahnya dan memberdayakan lebih banyak orang.

Dengan gw milih menggunakan jasa ojek dan taksi online apakah kemudian gw “membunuh” para tukang ojek dan supir taksi konvensional perlahan-lahan? Ya mungkin ya. Tapi di sisi lain gw juga membantu mata pencaharian para supir taksi dan supir ojek online itu kan?

Sementara gw sendiri juga harus mikirin kelangsungan kehidupan perekonomian rumah tangga (baca juga postingan financial check dan masa depan cerah untuk keluarga). Kudu cari cara gimana biar bisa berpindah tempat dengan transportasi yang ada secepat mungkin dan semurah mungkin. Hak gw sebagai konsumen kan?

Trus, Demo Sopir Taksi dan Sharing Economy ini Tanggung jawab siapa?

persaingan Taksi di perkotaan

persaingan Taksi di perkotaan

Yang pasti bukan tanggung jawab para sopir taksi itu. Paham banget kok gimana posisi mereka karena bapak gw sopir. Jadi kebayang rasanya habis seharian keliling di jalanan Jakarta yang macet trus gak ada duit sama sekali. Jadi para supir taksi ini gak salah seperti yang gw bilang di atas tadi (baca cerita tentang Bapak dan cerita lain tentang orang yang berjuang sangat keras buat gw ini).

Trus yang salah siapa?

To be honest sih yang salah adalah perusahaan taksinya dan pemerintah. Dua pihak yang punya segala daya dan upayanya untuk bisa menyambut kehadiran era internet dan sharing economy ini. Sekali lagi, dengan diluncurkannya aplikasi pemesanan digitalnya tadi gw pikir merupakan sebuah sinyal positif untuk menyambut persaingan dengan perusahaan jasa yang menyediakan aplikasi sejenis. Posisi mereka yang ada di puncak penyedia jasa layanan transportasi seharusnya bisa memberikan mereka gambaran tentang kondisi industri transportasi di negara lain. Tentang kehadiran Uber, Grab Car, Gojek dan lain sebagainya dan lain-lainnya. Karena bagaimanapun awareness mereka sebagai perusahaan taksi terbesar terhadap potensi persaingan sudah jadi tugas mereka, apalagi status mereka sebagai perusahaan terbuka yang sahamnya diperdagangkan di lantai bursa efek Indonesia. Ini sekaligus sebagai kritikan gw terhadap perusahaan taksi yang pernah lama banget jadi perusahaan penyedia transportasi andelan gw dan keluarga.

Masyarakat dan jalanan

Masyarakat dan jalanan

Seharusnyalah para pimpinan perusahaan transportasi itu yang menyediakan solusi untuk ratusan ribu sopir yang menggantungkan hidupnya sama perusahaan, bukan memberikan ijin orang-orang yang urusan perutnya sudah kadung keganggu untuk turun ke jalan. Kegagalan mereka melihat persaingan di masa depan yang (ternyata) gak terlalu jauh dan potensi friksi yang semestinya gak perlu itu sudah jadi dua kesalahan yang cukup fatal.

Satu lagi pihak yang juga bertanggung jawab adalah pemerintah di mana sebagai regulator, pemerintah seharusnya juga memiliki mata yang lebih luas untuk bisa mengantisipasi kehadiran layanan transportasi online ini. Mulai beroperasi tahun lalu, seharusnya pemerintah bisa mencium potensi timbulnya masalah seperti yang akan terjadi sekarang ini. Bagaimanapun friksi-friksi kecil antara jasa layanan konvensional dan online sudah pernah kejadian sebelumnya kan?

Harapan gw sebagai rakyat yang bayar pajak rutin, mematuhi peraturan dan lain sebagainya dan lain-lainnya adalah pemerintah bisa responsif menghadapi fenomena yang kejadian dimasayarakat ini. Jangan sampai kejadian sopir taksi (yang notabene bikin gw inget sama bapak) marah dan bertindak anarkis karena merasa hak mereka diserobot oleh orang lain yang sedihnya berkondisi kurang lebih sam dengan mereka, sementara sebagian lain merasa gak berdaya karena ketidakadaan pilihan (gw sebagai pengguna transportasi umum misalkan).

Entahlah, demo sopir taksi dan sharing economy ini sepertinya masalah yang bisa diselesaikan dengan cukup sederhana tapi gw tahu memang gak mudah. *halah! Dan bener seperti yang dibilang sama Pak Rhenald, orang-orang tua yang sudah kadung numpuk aset mestinya bisa berbenah, menyesuaikan diri dan bergabung di dunia sharing economy ini. Gimana menurut kalian?

*dani yang bete karena susah cari kendaraan pulang.

Advertisements

50 Comments

  1. suryahardhiyana
  2. eda
  3. hariyanto wijoyo

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya. (^_^)

Refresh
Translate »
Want to read other posts in English in this blog?Open
+
%d blogger menyukai ini: