Indonesia dan Ekonomi Kreatif

Ekonomi Indonesia sudah mendukung sepenuhnya ekonomi kreatif belum sih ya manteman?

Pertanyaan ini terutama mengemuka beberapa tahun terakhir beriringan dengan perkembangan Internet. Akses yang semakin mudah dan murah membuat banyak sekali pelaku usaha baru yang mengusung jenis usaha yang sebelumnya bahkan gak pernah terbayangkan. Biar gue gak ngalor ngidul, gue kutip dulu ya gimana pengertian ekonomi kreatifnya:

“Ekonomi kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama”

Modal utamanya ide dan pengetahuan yang dipakai buat mengintensifkan informasi dan kreativitas. Gak kayak jaman sekolah dulu yang modal utamanya adalah mesin dan barang modal.

Dukungan BCA dan Institusi Pemerintah untuk Perkembangan Ekonomi Kreatif Indonesia

perkembangan ekonomi kreatif Indonesia

perkembangan ekonomi kreatif Indonesia

Meskipun di sub judul atas gue sebut BCA, ini bukan postingan berbayar ya dan gue tidak menerima apapun dari BCA. Silahkan baca halaman disclaimer blog ini untuk lengkapnya.

Beberapa minggu lalu, gue dihubungi sama Lidya buat ikutan acaranya Kafe BCA yang mau membahas perkembangan industri kreatif ini. Lebih lengkapnya bisa dibaca di postingannya Liyda yang judulnya Mendukung Kekuatan Ekonomi Indonesia Melalui Orang Kreatif. Sayang banget pas acaranya diadakan di hari kerja.

Cuman karena temanya ini menarik banget, gue sampe minta materinya buat dibaca-baca. Menurut Jahja Setiaatmadja, kalo ingin jadi (anak muda) sukses dan berhasil, kudu bisa kreatif. Gak bisa kalo cuman ngikutin pakem-pakem yang ada. Toh di Indonesia ini, teknologi sudah memungkinkan banyak orang kreatif mewujudkan ide-idenya.

Gak berhenti sampai di situ, BCA ngadain acara Indonesia Knowledge Forum di tanggal 6-7  Oktober 2016 di Ritz Carlton Pacific Place Hotel Jakarta. Investasi buat ikut acara yang mengambil tema “Moving Our Nation To The Next Level : “ Optimizing Knowledge and Creativity  to Ride the Wave of New Generation in Accelerating Indonesia EconomY” ini Rp. 4.600.000/orang.

Gak tanggung-tanggung, yang bakalan hadir sebagai pembicara antara lain Menteri Koordinator Perekonomian RI, Darmin Nasution sebagai keynote speaker dan para pembicara nasional yang inspiratif. Selain itu, ada Emirsyah Satar (Chairman of MatahariMall.com), Yohanes Surya (Founder of Yayasan Surya Institute),  Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), Fauzi Ichsan (Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan), William Tanuwijaya (CEO Tokopedia), Pandji Pragiwaksono (Indiepreneur, Stand-Up Comedian), dan 12 pembicara lain.

Keseriusan pemerintah juga ditunjukkan lewat dibentuknya BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif). Pemerintah sepertinya mau fokus mendukung perkembangan ekonomi kreatif ini untuk menjadi salah satu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ini senada sama yang pernah gue denger kalo ekonomi suatu negara akan kuat kalo sebagian besarnya adalah para enterpreneur. Pemerintah ingin membantu para pelaku ekonomi kreatif menjadi entrepreneur-entrepeneur jempolan.

Berubahnya Ekonomi Indonesia dan Ekonomi Kreatif yang Menggeliat

Pantesan aja pelaku-pelaku bisnis yang masih bertahan dengan pola-pola lama akhirnya kegulung perubahan-perubahan yang terjadi. Ambil contoh rame-rame antara Taxi Bluebird dengan para penyedia jasa online beberapa waktu lalu. Apalagi kalau bukan benturan antara perubahan yang diusung para pelaku ekonomi kreatif dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dengan pelaku usaha bermode lama.

Sekarang setahu gue Bluebird pun mengubah aplikasi pemesanan taksinya mengikuti cara yang dipakai oleh para pelaku transportasi online.

Gak cuman di Taxi dan moda transportasi umum, di industri yang gue dulu pengen banget bisa terjun ke sanapun sudah menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Komik. Sekitar sepuluh tahunan lalu, gue masih aktif beli komik di Gramedia. Judul yang ada waktu itupun masih didominasi oleh komik-komik Jepang.

 

Produk Ekonomi Kreatif

Produk Ekonomi Kreatif

Perlahan tapi pasti industri komik Indonesia pun mulai hadir di jaringan toko buku Gramedia. Kayak kemarin, gue beli komik H2O Reborn karangannya Sweta Kartika. Instagramnya beliau sudah gue follow beberapa waktu dan begitu lihat komiknya di rak toko buku itu, bahagia banget rasanya.

Selain dua industri itu, masih adakah industri-industri lainnya? Banyak! Coba siapa yang udah pernah denger berapa banyak usaha katering dan jualan juice yang udah gak lagi butuh toko? Ah banyak lah, pasti kalo ditanya kalian bisa sebutkan sendiri contohnya.

Baru 3 dari 16 Sub Sektor Ekonomi Kreatif yang Berkembang

Mengutip berita yang ditulis Tempo tanggal 15 Maret 2016, dari 16 sub sektor  yang masuk ke dalam ekonomi kreatif, baru 3 yang dirasakan perkembangannya dengan cukup berarti di negara ini. Apa saja sih ke 16 sub sektor itu? Termasuk di dalamnya aplikasi dan pengembangan game, arsitektur dan desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi video, fotografi, kriya (kerajinan tangan), kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni‎ rupa, televisi dan radio.

Dari ke enam belas kategori di atas mana yang menurut teman-teman sudah berkembang banget dan dirasakan di kehidupan dengan berarti? Menurut pejabat BEKRAF yang berkembang baru kuliner, fashion dan kerajinan.

Kuliner dan kerajinan mungkin bisa jadi industri yang sudah cukup lama tumbuh dan berkembang di Indonesia dan baru akhir-akhir ini mendapatkan boosting dari teknologi yang semakin berkembang ya. Setiap pelaku di kedua industri itu seperti mendapat lahan baru.

Tapi coba deh lihat fashion. Kalau jaman gue kuliah dulu, kalau ngomongin fashion ya udah pasti desainer jebolah sekolah mode mana atau orang-orang yang terkenal banget di dunia itu yang jadi pelakunya. Tapi sekarang, dengan kemajuan teknologi, banyak banget orang-orang kreatif yang akhirnya bisa memiliki clothing line mereka sendiri. Fashion genius bermunculan dengan semakin mudahnya akses ke berbagai sumber informasi mode.

Travel Bloggers, Agensi Blog dan Self Publishing Books

Tapi menurut gue, perkembangan yang gue rasakan gak cuman di ketiga industri itu. Perhatikan gak kalau temen-temen travel blogger sekarang punya peran yang vital banget untuk memajukan industri pariwisata di berbagai daerah. Kalau mau jalan-jalan ke mana gitu, siapa sih jaman sekarang yang gak pake googling dulu, baca blog ini itu dulu?

Bukan lagi secara gak langsung, teman-teman travel bloggers sudah langsung bersumbangsih kan ke perkembangan ekonomi Indonesia. Menurut gue merekapun sudah termasuk ke dalam bagian dari Industri Kreatif dan Eknomoi Kreatif Negeri ini.

Coba lihat juga bagaimana perubaha iklan dari yang dulu jamannya selalu di media-media massa populer menggunakan talent-talent public figure. Sekarang memang masih ada, tapi teman-teman blogger juga gak kalah. Mereka eh kami, mendapatkan peluang juga untuk bisa mengiklankan berbagai macam hal. Mulai dari barang-barang keperluan sehari-hari serupa smartphone terbaru sampai ke gaya hidup.

Untuk bisa mendapatkan pekerjaan itu, gak melulu kami  gue sebagai blogger harus punya wajah ganteng atau cantik. Tapi bisa juga dari seberapa kreatif kami bisa menuliskan produk-produk yang mau diiklankan. Menulis dengan soft selling sampai menggunakan teknik-teknik SEO agar tulisa bisa muncul di halaman pencarian Google sehingga produk yang diiklankan mendapatkan eksposure di ranah internet. Bukankah ini juga termasuk ke dalam ranah industri kreatif?

Baca juga postingan Mencari Keyword untuk Blog Post biar traffic blog menjadi ramai.

Belum lagi kalo kita ngomongin tentang penerbitan buku. Jaman dulu untuk bisa menerbitkan buku membutuhkan biaya yang gak sedikit. Harus kenal dengan percetakan dan lain sebagainya dan seterusnya. Jaman sekarang? Banyak yang sudah membuat wadah untuk bisa melakukan self publishing. Semakin banyak orang yang bisa menerbitkan hasi pikirannya menjadi buku.

Jadi, Maukah Menjadi Bagian dari Perkembangan ekonomi kreatif Indonesia?

Pertanyaan ini gue ajukan terutama ke diri sendiri. Dengan begitu banyaknya perubahan yang terjadi di sekeliling gue, apakah gue mau tutup mata aja gak mau terlibat di bisnis kreatif yang ada?

Bihihik. Makanya gue mau terus menerus belajar. Meningkatkan pengetahuan dan juga skill gue. Biarpun sedikit-sedikit, gue juga mau terlibat. Dari bikin vlog-vlog yang sampe sekarang masih dikit banget itu sih. Sampe ke terus menerus belajar soal blog dan sosial media.

Dan gue juga berharap ke depannya pemerintah bisa memberikan lingkungan dan kebijakan-kebijakan yang bisa jadi inkubator perkembangan ekonomi kreatif ini. Gue memimpikan semakin banyak film-film animasi sejenis Battle of Surabaya dengan kualitas yang jauh lebih bagus. Atau komik-komik seperti karya Sweta Kartika semakin membanjiri toko buku kita.

Sebagai penutup, ini perbincangan tentang ekonomi kreatif dari Kompas TV:

Bagaimana menurut kalian tentang ekonomi kreatif ini?

About these ads

20 Comments

  1. Sari Novita

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya. (^_^)

Refresh
Translate »
Ingin membaca artikel perencanaan keuangan lainnya? Buka
+
%d blogger menyukai ini: