Lampung, Sang Bumi Ruwa Jurai

Akhir Januari 2007, gw lupa tanggalnya. Pelantikan para lulusan ODP Mandiri angkatan 24. Prosesi acara pelantikan dilanjutkan dengan pembacaan penempatan masing-masing peserta. Gw inget berdoa dalam hati buat dapat penempatan di Surabaya, Jakarta-lah atleast. Dengan harapan gw yang masih peringkat 8 -masuk 10 besar kan??- bakalan dapet ditempat yang gw pernah denger namanya.

“Dani Rachmat Kurniawan, penempatan di Bambu Kuning” – Heh?? Bambu Runcing? Alhamdulilllaaah di Surabaya. As I expected… Announcer melanjutkan “Bambu Kuning Bandar Lampung”…  Heehhhh???? Dimana ituuu? Pucat pasilah gw.. Sampai salah satu temen yang asli dari Lampung bilang: “Tenang aja Dan, Enak lo dapet di Bandar Lampung. Deket dari Jakarta dan kotanya bersih kok.” Tetep gw ga kebayang waktu itu. Nilai geografi gw paling jelek. Gw ga ngeh Bandar Lampung yang ternyata di seberang selat dari Jakarta itu ada dimana. Kerja di Bank Mandiri Lampung waktu itu seolah jadi semacam vonis yang menakutkan buat gw.

1 Februari 2007. Hari Kamis, gw menginjakkan kaki pertama kali di Bandar Lampung. Bandara Raden Intan Bandar Lampung adalah yang pertama kali gw liat. Beda banget ama Soetta. Bahkan dari Juanda di Surabaya.  Pertanyaan-pertanyaan timbul di kepala gw. Apakah bener di kota ini listrik sudah masuk? jalan sudah di aspal? dan terlebih lagi, apakah ada mall (s) di sini. Maklum. Otak gw waktu itu udah tercuci sama gemerlapnya Jakarta. Baru 2 tahun kemudian kalo gw ga pernah merindukan Jakarta.

Penempatan gw di cabang Bambu Kuning. Sebelum nyampe kota ini gw beberapa kali kontak dengan kepala cabang di sana. Bu Anggie. Or that what she said. Gw penasaran ama cabang ini, penuh berbagai macam ekspektasi otak gw. Bakalan kayak gimana sih. Dan ternyata, cabang ini ada di ujung paling jauh sebuah pasar yang terkenal. Pasar Bambu Kuning, Pasar Turi-nya Surabaya dan mungkin Tanah Abang-nya Jakarta. Gw shock pertama kali lihat nih cabang. Karena di tengah pasar, gw kira cabang nya bakalan gede dan memadai untuk transaksi yang banyak dan ternyata, ini adalah salah satu cabang terkecil se-jagad raya Bank Mandiri. Paling ga itu pendapat salah satu petinggi bank ini waktu melakukan kunjungan.

Di cabang Bambu Kuning inilah gw ketemu orang-orang luar biasa. Selama 2 tahun disana gw ngerasain gimana kalo kantor berasa jadi rumah dan orang-orang di dalemnya jadi keluarga. Gw gak bilang kalo kami gak pernah berantem. Sering banget malah. Apalagi gw yang emosional dan masih terbawa idealisme usia muda. Siapa yang belom pernah gw ajak berantem di sana.

Pertama gw masuk sana timnya ada Bu Anggie, Bu Lala, Bu Ayu, Bu Anna, Bu Feri, Bu Dessy, Bu Fatma, Bu Nina, Mbak Rieka, Pak Leman, Pak Akbar, Pak Maska, Pak Agus. Semua orang kayak ragu ama kedatangan gw. Udah kurus, ga ngerti soal bank sama sekali, ngambekan, gitu-gitu deh. Dulu gw masuk situ ngegantiin Binbin yang dipanggil ke Treasury. Cuman ketemu sehari, gw ditinggalin aja di cabang. Learning by doing lah akhirnya gw. Nothing better than that. By doing so, there were mistakes on the way, but i learnt the best way to overcome them.

Personil datang dan pergi, di sini gw sempet kenal Pak Pram (Alm), yang dengan kerendahan hati mengajarkan kesabaran, ada Pak Bambang, Pak Asep, Lidya, Fajrin dan banyak banget nasabah-nasabah yang datang dan pergi.

Selain kerjaan yang lumayan menyenangkan, kehidupan di Lampung sangat indah. Hiruk pikuk dan kemegahan Jakarta digantikan dengan kesederhanaan dan keindahan alam Lampung. Belum lagi gw ketemu ama temen-temen yang menyenangkan banget disini. Noli, Dedi, Mariska, Rini, Ganes dan temen-temen gw yang lain. God, I love it when life seems so simple.

Kalo mau main, ga perlu kuatir ga ketemu mall. Disini di Lampung, ada pantai-pantai yang indah, kebun duren yang kalo kita cukup beruntung kenal ama pemiliknya bakal bikin kita mabok makan duren, kotanya yang berbukit-bukit bisa biki kita dapet view lau t dari halaman rumah kita sendiri, bagi pencinta sepeda bisa biking keliling kota dengan tantangan yang ga kalah serunya dengan naik gunung, dan makanan di kota ini beraneka ragam, mulai dari pecel madiun sampai makanan serba ikan yang gw sama sekali ga bisa makan.

I Love Lampung. Bandar Lampung is definitely one of my hometown.

Posting berikutnya : Surabaya, Why I Love This City

Advertisements

6 Comments

  1. anggie
    • danirachmat
  2. Anggie
    • danirachmat
  3. Desember 27, 2013

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh
%d blogger menyukai ini: