Mengatasi Trauma Investasi (Bodong)

Pas gw browse di google cara mengatasi trauma investasi, gw dapet berita-berita tentang betapa banyaknya orang yang tertipu ajakan investasi yang ujungnya bodong. Eh manalah pagi ini mbakyuku di Surabaya sana cerita kalo dia NGERRIIHH sama yang namanya investasi, apalagi habis baca buku Negeri Para Bedebahnya si Tere Liye.

Kalo ada yang belom tahu, buku ini pernah gw review di postingan Review Buku Negeri Para Bedebah.

Btw, as much as I love reading the book, gw lihat banyak bagian buku itu yang dibuat terlalu bombastis for the sake of the story tanpa memberikan cerita pembanding dari sisi baiknya. Katanya Mbakyuku itu kok kayaknya di buku itu duit kita itu gak jelas juntrungannya gitu. Apalagi belio termasuk salah satu yang trauma sama investasi bodong. Sering denger kan ya investasi bodong yang menjanjikan keuntungan dalam bentuk imbal/bagi hasil rutin sekian-sekian tiap bulan dan di akhir masa investasi duit akan utuh balik lagi.

Pelaku investasi bodong ini juga beraneka ragam, mulai dari yang janjiin usaha perkebunan, nanem kayu sampe (yang ngakunya) ustadz dan nawarin bisnis serupa. Pokoke, sebelum terlanjur trauma, hati-hati dulu aja. Analisa dengan seksama meskipun yang nawarin investasi itu sosoknya relijius dan bisa dipercaya.

Balik lagi ke tema postingan, kalo udah terlanjur gimana? Nah yang mau gw tulis ini berdasar pengamatan dan logika gw ya. Gw alhamdulillaah belom gak pernah ikutan investasi yang ujungnya bodong. Kalo berbeza ya disesuaikan aja.

Mengatasi Trauma Investasi 

(1) Akui dan terima kalo udah ketipu

Pengakuan ini yang menurut gw paling penting. Mengakui diri sendiri sudah tertipu dan enerima kenyataan itu berarti menempatkan diri sebagai pelaku. Mengambil alih kontrol ke depannya. Gw tahu memang sudah tapi langkah paling penting buat move on menurut adalah menyadari kalo kita-gw punya kendali penuh sama apa yang ada di depan (di luar takdir Tuhan tentunya – tsaaaaah! *beneri kopyah)

Yes, si penipu sudah memanfaatkan kita dan menyalahgunakan kepercayaan yang sudah kita berikan. Tapi ya sudah. Itu udah kejadian kan? Ada satu orang yang menipu kita, bukan berarti harus mencurigai semua orang lainnya kan? Gw tahu berat banget langkah ini apalagi kalo duit yang terlibat sudah dalam jumlah jutaan ato bahkan ratusan juta rupiah.

(2) Periksa lagi profil risiko

Sebelum memutuskan berinvestasi di manapun, coba deh periksa dulu profil risiko kita. Tentang ini pernah gw posting di Jangan Investasi Saham dan Reksadana Dulu, Periksa Dulu Profil Risiko!

Dengan mengetahui profil risiko ini, kita bisa jadi kira-kira investasi apa yang cocok sama kita. Jangan belom pernah ngecek profil risiko yang ternyata sebenernya masuk ke investor konservatif, eh ternyata malah investasi di peternakan ayam misalnya, yang gak ada jaminan dari pemerintah, gak ada aturan jelas dan baku yang mengatur dan bisa dipengaruhi oleh buanyaaakkkk faktor lain yang tidak terduga. Eh investasi di kebon kayu sejeni juga loh kan ya?.

Salah satu tools cek profil risiko yang bisa dipakai umum yang ada di kontan.co.id.

(3) Pilih investasi yang relatif lebih aman dulu

Kalo mau mulai investasi lagi, coba deh ke investasi-investasi yang relatif lebih aman dulu. Ada beberapa pilihan dan catet ya, emas BUKAN salah satunya. Emas harganya naik turun berfluktuasi juga. Mihihihihi 😛

Instrumen investasi yang relatif lebih aman ini salah satunya adalah Obligasi Pemerintah. Buat nasabah perorangan, bisa beli obligasi pemerintah ini lewat penerbitan ORI dan atau SUKUK. Obligasi apaan sih? Surat hutang. Jadi pemerintah menerbitkan surat hutang yang bisa kita beli. Minimal pembelian paling cuma RP. 5 juta.

Hampir setiap tahun pemerintah keluarin ORI ato SUKUK ini. Kenapa gw bilang relatif lebih aman? karena di akhir jangka waktu hutangnya pemerintah menjamin pengembalian pokoknya dan kupon yang dibayar juga lebih tinggi dari deposito. Kayaknya harus nulis tentang ORI dan ato SUKUK ya? 😛

Kalo misalkan lagi gak ada yang diterbitkan, coba deh tanya ke bank tempat rekening manteman apakah bisa beli di pasar sekunder.

Selain ORI dan SUKUK bisa juga loh coba beli reksadana pasar uang yang menurut gw juga relatif lebih aman dan cocok buat investor yang masih belom terlalu yakin mau menginjakkan kaki dalem-dalem.

Cobain dulu deh beli reksadana pasar uang, catetin berapa jumlah yang dibeli, trus catet perkembangannya. Bandingin kalo misalkan ditaroh di deposito. Memang butuh waktu, tapi luka kegores karena pisau aja butuh waktu buat sembuh kan? Apalagi luka hati akibat tertipu investasi bodong. *eaaaaaa

Kalo masih bingung gimana beli reksadana bisa dibaca Cara Beli Reksadana di Bank.

(4) Pilih buat lupakan trauma

Nah, langkah ini nih yang penting, pilih buat lupain trauma yang dirasakan. Inget kejadiannya, tapi bukan traumanya. Kalo gak bisa lupain trauma namanya terjebak nostalgia eh luka lama *eaaaaa

Semuanya kita yang memutuskan bukan? Gw sih yakin kalo kitalah aktor utama untuk hidup kita masing-masing. Jadi gak perlu merasa tidak berdaya karena traumanya. Life must go on dan investasi gak bisa nunggu lama-lama. Kalopun mau investasi di sektor riil lagi, jadikan pengalaman sebelumnya sebagai guru, analisa lebih mendalam dan lebih menyeluruh.

Lakukan upaya terbaik mengatasi trauma investasi dan investasi secepatnya karena teman terbaik buat investor adalah waktu.

Buat diskusi ato ngobrol bisa follow dan colek gw di @danirachmat. Postingan gw lainnya tentang finance:

[display-posts category=”finance”]

Advertisements

48 Comments

  1. Ira
  2. adi
  3. bemzkyyeye

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh
%d blogger menyukai ini: