Oleh Murah

Aku arek Suroboyo, Cuk!

Aku iki lho arek Suroboyo. Dari lahir sampe umur 23 tahun ga pernah sekalipun meninggalkan Suroboyo dengan durasi lebih dari sebulan. Seminggu ae kayaknya nggak pernah.

Tahun 2005 baru berangkat ndek Jakarta. Gabung program management trainee perusahaan tempat kerja sebelum yang sekarang. Setahun penuh ndek Jakarta. Pasti mengalami culture shock lah ya.

Sebulan dua bulan pertama kaget rasane mendengar anak-anak dan orang-orang gaya ngomonge kayak sinetron.

ini maenan gw! lu punya mainan mana? aih dasar lu ya kampung! lu pade mau kemane? Bang pecelnya atu yak! Mati gak lu! eh itu pan laki gw yak? Bujuuuug..

Rasane gimanaaa gitu loh denger bahasa yang lain dari yang biasa tak pake ndek Suroboyo. Bahkan setahun rasanya gak cukup buat telinga Suroboyo ini membiasakan diri dengan logat dan bahasa Jakarta sampe akhirnya dapat penempatan tugas di Lampung. Culture shock lanjutan kayaknya ya.

Awalnya nyangka kalo di Lampung bakal susah lagi penyesuaian telinga ini sama bahasa dan logat di sana, tapi entah kenapa pas di Lampung ini kok nggak kayak ndek Jakarta. Bahasa daerah orang Lampung terdengar menarik dan jadi buat pengen sekali belajar, tapi sayangnya nggak banyak orang Lampung yang menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa sehari-hari. Paling ngga waktu itu di orang-orang sekitar.

Lha terus yak opo, kangen nggak aku karo Suroboyo? Kuangen bangeeeeetttt pastine.

Etapi untunge (wong jowo kan dimanapun selalu untung ya) Lampung itu banyak dihuni transmigran dari Jawa. Lokasi kantor ndek tengah Pasar bikin gampaaaang banget ketemu pedagang sing asline Jowo.

Salah satu hobi sing berhasil berkembang baik di Lampung itu masak. Jadi nginthil lah diriku ini sama Ibu-Ibu heboh di kantor buat belanja ke pasar tiap sore. Biasalah ya Ibu-Ibu, belanja kalo nggak nawar nggak puas rasane. Tapi kok ya aku dulu merasa kalau harga yang didapet sama itu Ibu-Ibu masih kemahalan dasar mreki. Berangkatlah sendiri kalo Sabtu pagi dari kosan naik sepeda pancal.

Demi melihat mbah-mbah penjual sarungan kain dan kerudung strimin kayak Mbah Suroboyo, nyoba ae aku sapa dengan bahasa Jawa:

“Tempene pintenan Mbah?”
“Pecel meniko pecel Madiun to Bu?”
“Brambangipun seger Bu nggih”
“Sampun dangu sadean ten mriki Mbah?”

“Tempenya berapaan Mbah?”
“Pecelnya dari Madiun ya Bu?”
“Bawang merahnya segar ya Bu?”
“Sudah lama jualan di sini Mbah?”

Gambar Mbah Surabaya yang gaya berpakaiannya sama kayak mbah yang jualan di Lampung. Poto udah pernah dipake jadi ilustrasi sebelumnya.

Daaaan reaksi mereka benar-benar bikin aku trenyuh. Pada senyum ceria dengan muka heran melihat gw yang ganteng, muda, cakep, rambut mohawk pake kaos dan celana pendek sabtu pagi nawar dagangan mereka pake jowoan. Otomatis mereka nanya:

“Saking pundi njenengan? kok saged boso jawi”

“Dari mana kamu? kok bisa bahasa Jawa?”

Kujawab:

“Saking Suroboyo Bu. Bonek kulo niki”

“Dari Surabaya Bu. Bonek saya ini”

Mereka tertawa.

“oalah cah baguuus. kok boso jawane alus njenengan niki.”

“Oalah bocah ganteng *suka-suka dong nerjemahinnya yee :’P*. Kok bahasa jawanya kamu ini halus ya”

Daaan para mbah dan ibu itu kasih diskon khusus. Tempe yang setelah ditawar temen kantor seharga Rp. 2.500 dijual ke aku Rp. 2.000. Tak lupa beberapa potong lontong, sayur dan siraman sambel tambahan pas beli pecel. Makan siang sing biasane Rp. 12.000 jadi cuman Rp. 10.000. All those little things.

Melihat senyum si mbah dan para ibu-ibu pas kuajak ngomong bahasa jowoan itu tak ternilai. Dan sing penting aku oleh murah. hihihihi.

Bukaaan… bukan bermaksud jadi kedaerahan atau apa, tapi mendengar bahasa yang akrab ditelinga di suatu tempat yang asing pasti akan membangkitkan suatu memori indah nggak sih? yakan yakan yakan? atau paling ga memori dari mana kita berasal. Dalam kasusku sih akan dengan senang hati menyapa orang tersebut, bertukar cerita dan menurunkan sedikit standar kecurigaan.

Bersyukur Bapak & Ibu masih mengajarkan tata krama bicara dalam bahasa Jawa meskipun menggunakan ukuran bahasa Suroboyoan yang lebih longgar. Paling ga aku masih bisa bicara dengan bahasa yang sama yang dipakai sama Bapak dan Ibu.

Aku cinta bahasa daerah. Aku seneng boso jowoan.

Postingan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway.

Advertisements

163 Comments

  1. ongakudewi
  2. Yeye
  3. dian_ryan
  4. Evi
  5. Miss Fenny
  6. Sagippio
  7. Pungky KD
  8. applausr
  9. dea
  10. afan
  11. nate
  12. Bibi Titi Teliti
    • Ina
  13. Ina
      • Ina
  14. Solochanger
  15. Surya
  16. Surya
  17. ronal
  18. awan
  19. Rahmi Aziza
  20. buat website murah

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya. (^_^)

Refresh
Translate »
Want to read other posts in English in this blog?Open
+
%d blogger menyukai ini: