Semuanya Akan Baik-Baik Saja

Office

Office

Hari ketiga, aku tahu itu dari sinar keemasan yang masuk dari celah jendela yang tertahan rapat oleh sesuatu dari luar setelah gelap malam hari kedua yang seolah tiada akhir. Sebentar lagi pasti laki-laki bertato ular di lengannya itu akan masuk dan mengantarkan ransum buatku.

Kudengar langkah kakinya. Seperti sebelumnya, hanya tangan terulur dan sepiring makanan ditambah segelas air yang masuk dari yang hanya bisa terbuka kalau didorong dari luar itu. Suplai makanan sehari satu kali  ditambah dengan beberapa kali lagi air minum hanya untuk menjaga sistem tubuhku tidak kekeringan.

Sialan!! 

Kenapa aku lengah! Bodoh sekali tidak kuperhatikan sekitarku waktu pergi meninggalkan kantor setelah membereskan dokumen akuisisi perusahaan ke empat puluh di tahun ini, transaksi terakhir yang dari awal mengerjakannya aku sudah diteror sana sini. Sial-sial-sial!

Bukan urusanku kalau pemilik sebelumnya rugi dan akhirnya memilih bunuh diri. Aku yakin pelaku busuk yang menyekapku di sini pasti salah satu anak buah atau kerabatnya. Bagaimana caranya aku bisa keluar dari tempat busuk ini adalah fokusku sekarang. Mereka tahu dengan hanya makanan sehari sekali dan minum terjadwal aku tidak akan punya cukup kekuatan untuk mencoba kabur. Tidak dengan luka besar yang sengaja mereka buat di kedua pahaku ini yang sepertinya mereka buat setelah aku pingsan dua hari lalu.

Jendela kayu yang tertutup rapat itu sama sekali tidak bergerak ketika kucoba mendorongnya berkali-kali. Mungkin mereka memakukan kayu besar di luarnya. Pintu adalah satu-satunya akses selain jendela di ruangan 2×3 meter dengan satu toilet jongkok dan keran di salah satu sudutnya.

Orang kantor pasti mengira aku sudah cuti dan terbang ke London menemui kekasihku merayakan tahun baru. Orang kantor tidak tahu transaksi yang sedang kukerjakan ini adalah transaksi terpenting untuk firma kami. Aku mengerjakannya diam-diam seolah ini hanya proyek lain yang sedang kukejar.

Andy pasti tak akan repot-repot memeriksa di mana aku berada. Perempuan itu terlalu tangguh untuk menjadi kekasih clingy yang sibuk menanyakan kapan aku akan tiba di sana meskipun sudah kujanjikan liburan akhir tahun yang panas untuknya. Sial!

Tenggat waktu transaksi akuisisi dari pihak otoritas seharusnya bersamaan dengan berakhirnya hari kerja tahun ini, kalau dokumen yang kukerjakan tidak dapat diberikan ke badan pengawas, semua akan berakhir sia-sia.

Sudah gelap dan menurut siklus gelas yang diberikan kepadaku seharusnya sudah mendekati tengah malam. Seharusnya gelas air terakhir hari ini akan masuk sebentar lagi.

Benar saja. Hei, airnya berwarna merah! Rasanya mereka masih manusia. Memberikan kesempatan padaku merayakan momen istimewa pergantian tahun ini meskipun aku juga tidak terlalu memercayainya.

Manis! Akhirnya setelah semua air putih tanpa rasa itu!

Aku mengantuk sekali, apa mereka sengaja memasukkan sesuatu ke minuman itu? Tak kuasa rasanya menahan rasa nyaman ini. Sudahlah, besok tahun yang baru, mungkin semuanya akan kembali seperti sediakala. Bukankah semua orang bilang tahun yang baru membawa semuanya kembali baru?

Gelas itu jatuh dari tanganku yang seolah hilang kekuatan.

Gelap.

==================================

PS: fiksi seperti yang diminta oleh Mba Mechta dan Mas Ryan. Huahahaha. Gak ngerti gimana membangun cerita dan bikin latar belakang yang kuat. Salut buat yang bisa dan terbiasa bikin flash fiction! Cerita ini terinspirasi waktu baca postingannya Ibu Peri Fieni.

Advertisements

62 Comments

  1. Yeye
  2. ded
  3. bintangtimur
  4. Pungky KD
  5. rumahmemez
  6. Dwi Puspita
  7. Sandrine Tungka
      • Sandrine Tungka
  8. Awan

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh
Translate »
Want to read other posts in English in this blog?Open
+
%d blogger menyukai ini: