Serial Anak-Anak Mamak

Serial Anak-Anak Mamak by Tere Liye

“Kau sejak dilahirkanย memang sudah berbeda, Burlian. Spesial!” Akhirnya aku mengerti kini, itulah cara terbaik Bapak dan Mamak menumbuhkan keyakinan dan rasa percaya diriku. -Burlian by Tere Liye

Kalimat pembuka di sinopsis itulah yang akhirnya memutuskan gw buat beli buku Burliannya si Tere Liye. Buku pertama Tere Liye yang pernah gw beli meskipun di blog ini justru review Negeri Para Bedebah yang pertama kali gw tulis. Tertarik banget dengan kalimat itu karena premisnya tentang anak istimewa dan parenting stylenya bikin penasaran.

Catatan penting: Gw belom pernah sebelumnya baca bukunya Tere Liye nor lihat film yang diangkat dari bukunya. Cuma beberapa kali aja baca reviewnya temen blog yang intinya bilang bukunya Tere Liye itu either bagus ato bagus banget. Hah!

Postingan ini sekaligus menjawab pertanyaannya Ilmiy di tantangan menulis 31 hari kemaren. Sori ya Miy gak kepilih buat diposting, jadinya gw posting sekarang aja. Daaaaan, setelah Money Talk Monday (iye gw ganti lagi! haha – makasih Sapienzadivita buat idenya!) yang ngomongin soal personal finance, trus Rebo kemaren ngomongin soal hal-hal berhubungan sama blog, gw nulis review buku aja ya mulai Kamis ini. Jadi Book Thursday. Pertimbangannya kan udah deket week-end ya. Kali aja yang baca ada yang mau ngemol pas week-end trus mampir toko buku, yakali habis baca review di sini bisa ada bayangan mau beli buku apa. Ihik. Mumpung lagi rajin baca buku kan. Review buku yang lain bisa dibaca di karegori Review-books dan menunya ada di atas kok. ๐Ÿ˜€ promo terooosss.

Balik lagi ke Serial Anak-Anak Mamak. Buku pertama yang gw baca: Burlian. Bagus banget kalo menurut gw. Serialnya sendiri terdiri dari 4 buku yang menceritakan tentang anak-anaknya Pak Syahdan dan Mak Nur yang hidup di Pedalaman Sumatera Selatan. Cerita tentang 4 anak dengan 1 buku untuk 1 anak. Eliana anak tertua yang pemberani, Pukat anak kedua yang cerdas sekali, Burlian anak ketiga yang istimewa dan Amelia si anak Bungsu dengan hati yang kuat.

Timeline Baca

Burlian

Paling seneng sama karakternya Burlian. He is everything that I’m not.

Cerita yang ditulis sama Tere Liye di buku ini mengingatkan gw akan masa kecil di Rungkut yang jaman dulu belom semaju sekarang. Rumah dengan lapangan berpagar pohon beluntas dan kebebasan bermain sampai ke tengah hutan kecil di tengah kampung. Main sepeda sampai jauuuuh banget dari rumah dan kemudian berenang di kubangan-kubangan yang kami bahkan gak tahu kubangan apa itu, Entah proyek pengerukan pasir atau persiapan pembangunan proyek perumahan.

Secara sederhana diingatkan oleh buku ini untuk memberikan masa kecil yang “bebas” ke anak sendiri.

Amelia

Kenapa gw tertarik baca Amelia setelah Burlian? Karena Amelia sering disebut di buku Burlian sebagai musuhnya. Penasaran bagaimana hubunga mereka.

Baca buku ini jadi kasih gw bayangan gimana adek gw sendiri ngelihat gw dan bagaimana dunia dipandang dari sudut pandang anak bungsu. Gw dulu benci banget kalo disuruh awasin adek lah, kasih contoh adek lah, lala lili gitu.ย Setelah baba buku ini kayaknya adek gw punya perasaan yang sama dengan si Amel.

Pukat

Buku berikutnya yang gw baca adalah karakter Pukat. Anak kedua di keluarga Pak Syahdan dan Ibu Nur.

Karakter anak yang “dewasa” dan cerdas sekali. Bukan mau nyombong, tapi gw dulu juga dikenal sebagai anak yang mirip-mirip karakternya Pukat ini. Kisahnya sih tetep menarik, tapi menurut gw gak terlalu istimewa. His character is great but not my favorite.

Eliana

Cerita anak tertua yang paling pemberani ini gw baca paling akhir.

Entahlah, apakah karena gw merasa sudah terlalu banyak membaca tipe buku sejenis (3 buku pertama selesai kurang dari 1 bulan jaraknya sebelum gw baca Eliana) sebelumnya, gw jadi bisa menemukan pola yang membuat kenikmatan mendapatkan kejutan jauh berkurang. Banyak sekali typo yang gw temukan di buku Eliana ini.

Tapi side upnya, baca buku ini jadi kayak dibukain tentang kebijaksanaan alam lebih dalam lagi dibandingย 3 buku lainnya. Keberanian Elianaย membela kebaikan bikin mikir juga tentang penambangan, perkebunan sawit dan industri eksploitasi alam lainnya. Jadi kepikiran waktu bikinย analisa. Ihik.

Pesan Kuat

Banyak sekali pesan yang bisa gw ambil dari keempat buku ini. Pesan paling kuat yang ingin disampaikan adalah manusia harus hidup dengan menjunjung tinggi kebijaksanaan alam. Kebaikan harus dipegang kuat sekalipun sepanas bara api dan cinta kasih orang tua tidak selalu diwujudkan dengan memberikan semua yang diminta oleh anak.

Bersahajanya ย latar yand diambil oleh Tere Liye berkali-kali ngingetin gw kalo hidup itu bukan cuman tentang duit.

Buat yang tertarik baca buku-buku ini, siap-siap aja ya buat punya durasi baca yang agak panjang. Tiap bukunya minimal 300 halaman. Gak ada gambarnya dan tulisan rapet semua. Buat gw sih gak kerasa ya karena tiap bukunya dibagi jadi bab-bab yang berisi kejadian seru yang patut di highlight. Jadi gak kerasa bosen bacanya.

Tokoh-tokoh yang muncul selain masing-masing anak yang menjadi tokoh utama relatif sama kecuali teman-teman dekat masing-masing anak. Penggambaran Nek Kiba sang guru mengaji, Wak Yati yang bisa bahasa Belanda dan tetua-tetua kampung bener-bener kerasa hidup.ย Meskipun menggunakan kehidupan masyarakat Islam di pedalaman dan ditekankan tentang menaati peraturan agama, tapi penyampaiannya bersifat universal. Baik dan buruk dan aplikasinya pada anak-anak.

Gw penasaran sama risetnya Tere Liye waktu nulis buku ini. Satu faktor penting pasti pengalaman masa lalunya.

Dah kepanjangan nih padahal masih banyak yang mau ditulis.ย Intinya, seri ini layak baca. Overall series gw kasih 4 dari 5 bintang deh.

Selamat membaca! ๐Ÿ˜€

Advertisements

83 Comments

  1. bemzkyyeye
  2. Info Menarik
  3. rumahmemez

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Translate ยป
Want to read other posts in English in this blog?Open
+
%d blogger menyukai ini: