Surabaya

Aku cinta Surabaya.

Karena menulis kota Surabaya aku ga pake gw dulu. Gak Surabaya banget gitu loh.  😀

Surabaya, kota tempat aku lahir dan dibesarkan. Kota yang selamanya bakalan jadi hometown di profile Facebook ku. Bener-bener gak bisa dilupakan deh ini kota.

Waktu di Surabaya berjalan seolah lebih lambat dari Jakarta. Jam 8 pagi aku sudah melakukan hampir semua aktivitas yang kalo di Jakarta baru selesai dilakukan di jam 10. Mulai dari mandi, sarapan, mandi dan nonton tivi. Hehehe. Bukan hal-hal penting memang.

Di Surabaya inilah bisa ditemukan beberapa makanan-makanan terenak dengan harga yang sangat-sangat terjangkau. Pecel, soto ayam, rawon, tahu tek, semanggi bumbu kacang, lontong balap, nasi goreng merah, soto madura, sate madura, lontong kikil (meskipun aku ga pernah makan), tahu campur, rujak cingur, gado-gado surabaya sampe lontong kupang yang gosipnya banyak bikin orang ga mau makan kalo tau cara dapet kupangnya. Tapi enaak…

kehidupan di Surabaya terasa sangat bersahaja. Paling ngga dibandingkan dengan kehidupan di Jakarta. Entah karena pemerintah kotanya atau masyarakatnya. Sebagai kota terbesar ke 2 di Indonesia, mungkin memang jauh ukuran antara yang pertama dan kedua, Surabaya tidak memiliki keruwetan lalu lintas separah Jakarta. Pemerintah kota melakukan pembenahan di sana-sini. Beberapa tahun tidak mengelilingi Surabaya membuat aku terbelalak dengan perbaikan-perbaikan yang dilakukan disana-sini oleh Pemerintah Kota. Pedestrian dibangun dengan semakin bagusnya. Pulau-pulau jalan menghijau. Kali-kali dibersihkan dari tumpukan sampah dan bahkan jalanan di samping rel kereta api dibenahi sehingga mirip yang ada di komik-komik Jepang yang aku lihat dulu. Rapi.

Memang, kemacetan masih ada tapi tidak separah Jakarta. Pengendara motor di Surabaya tidak sampai atau mungkin memiliki kesadaran untuk tidak menggunakan area pedestrian yang diberikan untuk pejalan kaki. Untuk parkir aku gak perlu kuatir. Single rate masih diberlakukan untuk kendaraan-kendaraan. Bahkan untuk ukuran mall terbesar di kota ini. Semoga hal ini gak pernah berubah. Cuman yang bikin gak kecewa, untuk masuk ke toilet masih ditarik bayar. Gak mahal memang, Rp. 1.000,- per sekali masuk.

Jadi penasaran akan jadi bagaimana Surabaya ke depan. Tanda-tanda perbaikan terlihat dimana-mana. Semoga menjadi seperti apa yang selalu aku bayangkan. Semoga…

dusk in Surabaya
Advertisements

No Responses

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh
%d blogger menyukai ini: