Takut Nyinggung

Shadow

Pernah berkali-kali gue bilang kalo sebenernya gue ini orang yang awkward kalo di tengah kerumunan orang.

Susah banget buat gue untuk bisa langsung deket sama orang meskipun settingan awal kayaknya gue ini orang yang ramah langsung munti berjamaah. Mungkin karena masa lalu gue yang menerima terlalu banyak penolakan kemudian mata menyipit zoomin-zoomout *tersinetron

Jaman dulu karena keluarga termasuk yang dianggep gak punya di kampung, beberapa kali Ibuk dilewatin gak diundang orang kampung padahal sebelah-sebelah dapet. Gak dipilih jadi peserta ini itu di acara kampung karena anaknya orang kos dan pendatang (Bapak gue pendatang di sana), sama beberapa kejadian lain yang sinetron banget deh.

Karena itu gue pas kecil agak tertutup dan lebih seneng baca buku atau ngegambar di rumah. Apalagi dulu badan gue itu kurus, ceking, dan paling tinggi. Mana item pulak. Setiap kali gue main selalu dipanggil Jerapah atau Donat Gosong. Konsep diri gue hancur. Untung punya Bapak dan Ibuk yang selalu mensugesti kalo gue anak yang baik dan pinter. Beneran loh obrolan orang tua sama anaknya itu penting banget.

Sebaik-baiknya orang tua mendidik gue, trauma pasti kejadian dan bikin gue agak susah untuk berkomunikasi sama orang dengan mudah. Pun untuk bisa reach out ke orang-orang yang sebenernya mereka sudah membuka dirinya.

Misalkan aja gini. Ada orang yang menganggap gue bisa dipercaya, mereka cerita nih ke gue tentang sesuatu yang gak diceritakan ke orang lain. Gue dengarkan tentunya dan berikan pendapat ketika diminta sampe si pencerita sampai pada titik lebih lega dari sebelumnya. Apa yang kejadian sebelumnya adalah gue gak akan berani nanya ke orang itu lagi bagaimana kelanjutan masalahnya. Bukan karena gue gak peduli, tapi lebih ke takut melanggar area pribadinya.

Kan tadinya dia cerita karena emang pengen cerita. Kalo gak cerita lagi ya gue anggep dia gak mau bahas itu lagi kan.

Lebih parahnya kalo ada kejadian duka. Kalo ada temen kehilangan anggota keluarganya,gue paling takut buat mengutarakan belasungkawa. Bukan karena gak berempati, tapi gue takut apa yang gue sampaikan bakalan terasa kurang tulus, lebih-lebih menambah kesedihan si temen itu. Padahal common sense bilang kalo gue emang harus bilang dan berusaha memberikan words of comfort buat dia. Jadinya kalo ada berita duka, gue malah kayak semakin menghindari orang yang berduka itu yang mana itu malah bikin gue jauh kan sama orang itu. Gitulah yes.

Kebayang gak sih susahnya reaching out ke orang buat gue? Punya sih beberapa temen deket yang bisa ngobrolin hal-hal ini, tapi rasanya untuk bisa mendapatkan mereka dulu itu susah banget. Paling gak butuh waktu yang lumayan lama lah ya.

Semakin ke sini sih  gue selalu berusaha untuk bisa spontaneously mengucapkan kata-kata yang memang harus diucapkan di saat yang tepat. Jangan sampai kepikiran dulu bagaimana-bagaimananya.

Semoga ke depannya gue bisa jadi orang yang lebih mudah reaching out ke orang lain ya.

Ohiya, by the way kalo dapet tawaran dari gue, if there’s anything I can do just let me know, gue beneran mengatakannya. Just let me know. 🙂

Postingan tentang curhat pribadi gue yang lain:

[display-posts category=”rants-fragment”]

Advertisements

103 Comments

  1. Ira
  2. Faris
  3. MS
  4. idangpriadi
  5. Aan
      • Aan
          • Aan
  6. cK
  7. bemzkyyeye
  8. azmihoffmann
  9. InfoMenarik.NET
  10. Ami
  11. Pungky KD
  12. Awan

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh
Translate »
Want to read other posts in English in this blog?Open
+
%d blogger menyukai ini: