Ahlinya Tempat Wisata Bandung Bagi Tips: Biar Lancar Traveling Bersama Anak

Sudah kenal dengan ahlinya tempat wisata Bandung yang satu ini belum? Mbak Nurul Wachdiyah atau yang biasa gue panggil Mbak Ulu, yang punya sekaligus pengelola bandungdiary.id ini bagi tips buat traveling bersama anak. Jadi silahkan dibaca postingan tamu dari Mbak Ulu ini terutama buat yang punya anak kecil dan masih ngeri traveling bareng. 

Kok gak ada hubungannya sama keuangan Dan? Ada dong… Percayalah, kalau manage duitnya bagus, jalan-jalannya pasti lancar. *ihikk!!

=======

Punya anak dan membawanya bepergian, saya melakukan banyak kompromi dengan diri sendiri. Menatap masa lalu, betapa mudahnya perjalanan yang pernah saya lakukan dulu.

You dont know what youve got untill its gone. Berjalan sendiri dan masih merasa kerepotan? Coba bepergian dengan makhluk hidup bernama anak kecil. Niscaya…ah sudahlah hahaha.

Bagaimana Tips Traveling Bersama Anak dari Ahlinya Tempat Wisata Bandung ini?

Ini nih Ahlinya Tempat Wisata Bandung

Ini nih Ahlinya Tempat Wisata Bandung

Membawa Nabilkubil -anak saya yang baru berumur 4 tahun- bepergian bukan perkara sulit. Terbiasa oleh waktu dan frekuensi, saya bisa menyetel Nabil beradaptasi dengan banyak tempat dan cuaca. Faktanya malah dia jauh lebih fleksibel dengan cuaca dibanding saya.

Bedanya, kalau saya gak enak badan saya tahu mesti berlaku apa. Sementara anak saya kalau gak enak badan ya sama seperti anak kecil lainnya: menangis, cranky atau diam.

Jauh sebelum saya punya anak, saya bertemu dengan anak kecil yang mengenalkan saya pada konsep ‘anak-anak bisa diajak jalan-jalan’. Dia yang bernama Samudera. Panggilannya Samsam.

Dari Samsam ini saya menyadari kalau anak-anak bisa juga diajak traveling. Untuk pertama kali pula saya melihat potret bapak mengasuh anak, tanpa bantuan istri. Biasanya kan Ibu itu pawang anaknya, ini enggak. Samsam kalau traveling berdua dengan Bapaknya. Biasa saja tuh gak nangis-nangis nyari Ibunya 😀

Pendek kata, Samsam adalah anak kecil yang bisa diajak kompromi. So here goes yang saya lakukan supaya Nabilkubil ga rese kalau diajak traveling. (eyaampuun Mbak Uluuu, hahaha… biar gak rese (>.<))

Ibu-Bapaknya Jangan Rese

Kasih contoh ke anak kelakuan yang tidak rese. Anak akan meniru sikap kita yang easy going dan fleksibel kok. Mau itu liburan di tempat wisata Bandung, liburan di Jakarta, wisata Jendela Alam Lembang, atau di manapun deh! Anak akan meniru sikap kita.

Contohnya rese nih, saya pernah pergi dengan orang yang keukeuh harus ngasih makan anaknya ayam crispy sementara di depan kami adanya warung nasi padang. Selain itu, sebenernya keukeuh harus mandi juga menurut saya gak perlu.

Sikap-sikap keukeuh dalam perjalanan mestinya bisa dikurangin, karena merepotkan diri sendiri dan orang lain, terutama kalau travelingnya satu grup dengan orang lain. Kecuali perginya sendiri dengan kendaraan sendiri juga sih gak apa-apa ya kalau mau keukeuh memertahankan suatu kebiasaan. Atau kondisinya darurat.

Selama itu tidak prinsip dan bisa dilewatkan, fleksibilitas sangat penting dalam mengajak anak traveling.

Dekatkan anak dengan hal-hal yang kita suka

Penerus Ahli Wisata Bandung

Penerus Ahli Tempat Wisata Bandung

Suka jalan-jalan? Ajak anaknya jalan-jalan dan kenalkan dengan beragam tempat: mall, taman, kampus, jalan raya, pasar, hutan, gunung, sungai, danau, kompleks perumahan, trotoar, museum, kantor, warung, restoran, kafe, hotel, kolam renang, dan masih banyak lagi.

Ajak berkali-kali. Makin beragam, anaknya makin mengenal perbedaan dan mampu beradaptasi dengan banyak hal. Baik itu cuaca, kendaraan, kontur tempat, dan orang baru.

(Apalagi dengan tempat tinggal seperti Mbak Ulu, banyak sekali pilihan tempat wisata Bandung. gue sendiri pengen banget bisa tinggal di sana biar bisa sewaktu-waktu ajakin anak main ke tempat kayak Selasar Sunaryo dan nongkrong di kafe lucunya. :P)

Kenalkan Kendaraan Pribadi dan Kendaraan Umum

Dengan tujuan membuat karakter anak gak rese, maka saya mengajaknya mengenal berbagai jenis transportasi. Mobil kakeknya, mobil tantenya, mobil uwanya, angkot, bis kota, Gojek, juga becak. Lakukan berkali-kali.

Tujuan saya sih mengenalkan Kubil dengan fasilitas yang murah tapi kurang nyaman dan mahal tapi nyaman banget. Biar dia merasakan perbedaannya berulang-ulang.

Baca tulisan Mbak Ulu tentang Bandung di Masa Depan

Ajak Anak Jalan Kaki (Jarak Jauh)

Ya, berjalan kaki jauh bisa membantu anak untuk lebih terbiasa traveling. Paling gak, gak akan gampang rewel kalau memang harus jalan kaki. Sejauh ini Kubil sanggup berjalan kaki 1 km non stop. Setengah jam non stop. Sesimpel ajak dia ke pasar berjalan kaki lewat jalan tikus. Itu saja.

Ada masanya sih dia capek dan mogok jalan. Ya baru saya gendong sambil dirayu-rayu biar mau jalan lagi. Hehehe 😀 Kecuali udah capek banget ya, baru deh kami duduk istirahat dan ketinggalan rombongan 😛 Gak masalah sih kalau memang anak sudah merasa kecapekan.

Kalo kami sendiri pernah ajakin A Jalan-jalan Keliling Kampung. Hihihi.. 😀

Menyiapkan Camilan dan Air Minum

Bagian ini hukumnya WAJIB. Jangan pernah ketinggalan menyiapkan camilan dan air minum ini. Anak kecil cepat merasa bosan (dan lapar). Memberinya camilan dapat memberi ia sensasi baru sehingga dia melupakan kebosanannya.

Kalau tips traveling bersama anak yang ini gue terapkan pas kami jalan-jalan seru ke Lampung tahun lalu. Cemilannya bawa LENGKAP! Hihihi. 

Membawa Perbekalan Mainan, Alat Tulis dan Gambar

Alasannya sama dengan poin sebelumnya.

Percayalah. Ini gak kalah pentingnya dengan menyiapkan cemilan dan air minum. Kalau perlu siapkan satu tas khusus buat mainan tapi serahkan tanggung jawab menjaga tas itu ke anak. Berkali-kali kami lakukan dan efeknya A terbiasa milih mainan esensial buat dibawa waktu traveling karena dia harus bawa sendiri. (Ini gimano seh kok tambahan tulisan lebih banyak dari tulisan aslinya! LoL)

Tidak Menggunakan Air Hangat untuk Mandi (maupun BAK dan BAB), Di Mana Pun 

Sejak Nabil umur 9 bulan saya sudah berhenti memandikannya dengan air hangat. Saya beralih ke air dingin.

Saya pribadi (termasuk Indra, pasangan saya) hampir gak pernah mandi air hangat kecuali kalau sedang sakit. Itu juga seringnya milih gak mandi daripada mandi air hangat. Jadinya Kubil terbawa gaya hidup kami.

Ini jelas menghilangkan kerepotan saya. Karena di mana pun tempatnya, air dingin selalu ada. Cemplungin anaknya ke sungai atau danau, beres sudah. Enggak deng becanda heuheuheu. (buahahahaha… saya sampe kepikiran apa ya gak disemprit sama penjaga tempat wisatanya :D)

Intinya sih urusan mandi, anaknya gak ngerepotin. Memandikan Kubil buat saya sudah pekerjaan, mendidihkan air hanya menambah pekerjaan yang sudah ada. Sudah hilangkan saja opsi mandi menggunakan air hangat ini dari kehidupan kita kalau kondisinya tidak sedang darurat 😀

Sanggup Makan Menu Apapun

Ciptakan skill “sanggup makan apa saja lah asal tidak pedas :D”.

Tidak ada ayam goreng, makan saja ikan bakar. Tidak ada nasi, makan kentang. Tidak ada roti, makan singkong. Tidak ada keju, makan saja keripik. Fleksibel alias gak rese dengan menu makanan yang ada.

Sebenarnya kami bertiga cukup rese kalau bertemu makanan pedas sih. Tapi sejauh ini makanan pedas adalah satu-satunya halang rintang dalam hal makanan. Lainnya tidak. Kecuali punya alergi tertentu sih ya. Itu mah tidak terhindarkan. Siapkan obat-obatan alerginya dan tahu batas diri.

Biasakan Minum Air Putih, Bukan Air Teh, Bukan Air Jus

Saya dan Indra kalau sedang dalam perjalanan tipikal minumnya sama: Onta. Butuh banyak banget minumnya.

Air botol kemasan 600 liter kurang. Minimal 1 liter lah dalam waktu 7-8 jam. Sementara Kubil tipe anak yang kadang-kadang harus kami ingatkan untuk minum. Kebayang kan repotnya kalau tidak terbiasa minum air putih.

(Yamasa kudu bawa-bawa teko ama kompor portable buat ngagetin air buat bikin teh atau cari kebun apel kalo mau minum jus apel? Yakan beli teh dan jus kemasan bisa jadi kebanyakan gula dan mihilll. Gak baik buat kesehatan badan dan kesehatan keuangan keluarga. #eaaaaa).

Membiarkan Anak Mengerjakan Sendiri Hal-hal Remeh

Nah ini mulainya dari rumah. Pakai baju, mengenakan sepatu, menggosok gigi, membereskan sprei kasur, naik eskalator, memencet tombol lift, menyapu, mengambil air minum, menyimpan piring kotor di tempat yang sesuai, dan sejenisnya. (wuih Mbak Ulu rumahnya ada eskalator dan liftnya… *kagumm *trus ditabok)

Percayalah, gak semua pekerjaan anak di rumah harus orang tuanya yang mengerjakan. Anak kecil juga bisa, bahkan anak berumur 4 tahun. Masalahnya kita mau percaya enggak anak kita sanggup melakukan itu meski menurut orang banyak anaknya belum cukup umur.

Anak yang mandiri membantu meringankan kerepotan waktu traveling dan sikap mandiri dipupuk dari tugas-tugas kecil di rumah 😀

Berbagi Peran dengan Pasangan

Ya intinya berbagi tugas lah. Jangan semua dikerjakan sendiri. Berimbang dan saling percaya. Ini kok kayak tagline surat kabar 😀

Membiarkan Anak Mengenal Hal-hal yang Menurut Kita Tidak Akan Membuatnya Nyaman 

Ini di Tempat Wista Bandung(?)

Ini di Tempat Wisata Bandung(?)

Let’s say misalnya: sandal yang basah, baju yang ketetesan air hujan, kecipratan lumpur. Selama barang yang melekat di tubuh masih aman dipakai, ya pakai saja lah. Jangan turuti kemauan anak untuk segera menggantinya.

Hal-hal seperti sandal anak yang basah karena hujan atau kena air tergenang, menurut saya sih biar saja sandalnya dipakai terus kalau perjalanannya dekat. Gak usah dielap. Kalau harus dielap, dampingi anaknya ngelap sandal sendiri. Ingat, anaknya yang mengelap ya! 😀

Tidak Ada Acara Bepergian yang Mulus, Terutama dengan Anak Kecil

Banyak kejutan kalau ajak anak kecil jalan-jalan. Apalagi kalau anaknya lebih dari 1 😀

Saya sih seminim mungkin mencegah kejutan itu terjadi. Tapi manusia kan tugasnya berusaha. Hasilnya bukan kita yang tentukan. So ya begitulah. Berdamai dengan situasi.  Setelah usaha ya pasrah aja.

Tips Traveling Bersama Anak Paling Yahud dari Ahlinya Tempat Wisata Bandung: Berdamai dengan Anak Kecil

Ya ini hal yang paling saya gak suka tapi saya harus terima. Berdamai dengan jam tubuh Kubil.  Ada kalanya kami harus berhenti, ada kalanya Kubil tantrum.

Sesempurna saya meyetel  anak saya ke dalam gaya saya bepergian, ada kalanya saya yang harus menyesuaikan diri sendiri dengan Kubil. Pada akhirnya dia manusia (masih) kecil yang unpredictable. Banyak kejutan. Apalagi semakin tambah umur anaknya makin tahu suka apa dan mau apa.

Kita bisa berbeda pendapat akan hal ini. Tidak apa-apa, karena ini bukan perkara salah dan benar kok. Selama bisa menempatkan diri kita dan anak dalam kondisi yang mengharuskan kita bersinggungan dengan banyak orang lain, menurut saya sih okay lah. Tapi kalau keukeuh harus cari ayam crispy di antara semua warung nasi padang di tempat yang gak ada lapak ayam crispynya dan membuat satu rombongan riweuh karenanya, ugh malesin, rese itu namanya. Heuheuheu.

Pada akhirnya anak dapat menentukan suka gak dengan style orang tuanya bepergian dan dia bisa menjadi dirinya sendiri. Saya sih berharap banget setelan yang saya pasang ke dia berhasil. Sejauh ini sih berhasil meski mood swingnya Kubil buat saya masih malesin banget untuk saya hadapi heuheuheu 😀

Begitulah tips traveling bersama anak kecil versi saya dan anak saya. Kalau kamu bagaimana?

 

Advertisements

13 Comments

  1. Ulu

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Translate »
Kirim email ke halo@danirachmat.com buat jadi penulis tamu di blog iniBaca syaratnya
+
%d blogger menyukai ini: