Memperkirakan biaya hidup setelah pensiun biasanya memang jadi bagian tersulit kalau kita lagi khusyuk bikin rencana pensiun. Angkanya itu abstrak sekali, karena ya belum kita jalani kan? Karena enggak bisalah kita pakai angka yang sekarang, karena ada banyak hal variabel yang tidak pasti. Misalnya kayak kondisi keluarga, kebutuhan kesehatan, sampai harga kebutuhan yang cepat banget perubahannya.
Sehingga, mau dihitung rapi pun teteup saja belum tentu menggambarkan kebutuhan yang benar-benar akan dihadapi pada masa pensiun nanti. Dan, memperkirakan yang belum pasti itu malesin. Bener enggak?
Kesalahan yang Sering Terjadi Ketika Membuat Perhitungan Biaya Hidup setelah Pensiun
Kalau kita sedang bikin proyeksi, termasuk biaya hidup setelah pensiun, biasanya kita memang menggunakan asumsi. Tapi, asumsi itu bisa salah. Malahan, hampir selalu salah. Akhirnya, perhitungan pun jadi meleset.
Ya, sebenarnya sih enggak apa. Namanya juga manusia, tempatnya salah dan dosa #eh Tapi, bisalah ya, kita kenali apa saja kesalahan yang sering terjadi kalau kita sedang memperhitungkan biaya hidup setelah pensiun. Tujuannya ya, supaya nanti kita bisa berhati-hati dan jangan melakukan kesalahan yang sama.
Coba cek beberapa hal berikut ya, dan ingat-ingat nanti pas itung-itungan biaya hidup setelah pensiun jangan sampai dilakukan.
1. Menganggap Biaya Hidup Akan Turun Drastis Setelah Pensiun
Ya memang sih, kalau kita sudah enggak kerja ngantor lagi, ada beberapa pos yang akan berkurang. Misalnya transportasi harian, enggak perlu juga makan siang di kantor, mungkin juga enggak perlu nongkrong after hours karena harus entertain klien.
Tapi jangan salah. Enggak ada transportasi harian, tapi listrik di rumah bisa jadi lebih banyak. Enggak nongkrong di kafe, tapi ganti beli kopi buat ngopi sendiri di rumah.
Apalagi kalau pensiunnya pensiun dini, karena mau kejar passion mungkin. Nah, biayanya ada lagi berarti. Misalnya, pengin mulai ternak lele. Nah, operasionalnya bisa beda lagi kan?
So, elemen-elemen ini juga harus dihitung. Kalau ada waktu yang lebih banyak di rumah, ya bisa bikin sebagian pengeluaran meningkat. Jika proyeksi dibuat dengan asumsi biaya hidup turun terlalu tajam, target dana pensiun yang disusun berisiko menjadi lebih rendah dari kebutuhan sebenarnya.
Baca juga: Perencanaan Kesehatan dalam Konteks FIRE: Mempersiapkan Biaya Medis Pasca Pensiun
2. Mengabaikan Dampak Inflasi
Salah satu sumber kesalahan terbesar dalam perhitungan biaya hidup setelah pensiun adalah menggunakan harga saat ini untuk menghitung kebutuhan puluhan tahun ke depan.
Tahu kan, kalau nilai uang itu selalu berubah seiring waktu. Harga bahan makanan, biaya transportasi, tarif layanan, hingga biaya kesehatan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Selisihnya mungkin kelihatan kecil, tapi efeknya bisa jauh lebih besar setelah belasan atau puluhan tahun. Rasanya dana yang sudah dikumpulkan sekarang tuh udah besar, eh tahu-tahu berapa tahun lagi sudah enggak bisa dipakai buat beli apa-apa.
So, jangan sampai kelupaan. Proyeksi biaya hidup setelah pensiun itu perlu dimasukkan asumsi inflasi. Jadi, hasil perhitungannya nanti akan lebih realistis.
3. Meremehkan Biaya Kesehatan
Kesehatan ini bisa jadi salah satu komponen biaya hidup setelah pensiun yang terbesar. Karena di komponen ini tuh enggak cuma biaya berobat ketika sakit, tapi ada medical checkup, obat ina inu, tes lab, terapi, sampai kalau ada kemungkinan butuh perawat khusus.
Karena kondisi kesehatan kita, siapa yang bisa jamin kan? Iya sih, kita sudah mulai jaga kesehatan, rajin ngegym, pola makan dibagusin, tapi yang namanya sakit ya enggak akan ada yang bisa tahu dengan pasti.
Kalau komponen biaya kesehatan ini enggak dimasukkan dalam jumlah yang memadai dalam rencana pensiun, ya akhirnya dana pensiun akan tergerus lebih cepat dari perkiraan. Jadi, jangan lupa beri ruang khusus untuk kebutuhan medis, supaya dapat membantu mengurangi risiko tersebut.
4. Tidak Memperhitungkan Usia Harapan Hidup yang Lebih Panjang
Di tahun 2024 yang lalu, BPS merilis data angka harapan hidup di Indonesia adalah di kisaran 74 tahun. Maka, banyak rumus perhitungan dana pensiun menggunakan angka ini sebagai salah satu komponen penentunya. Namun, jangan lupa. Kita bisa saja hidup sampai 85 tahun, bahkan 100 tahun lho kalau kita cukup sehat sedari muda. Amin?
Nah, kalau masih hidup sampai 80 tahun ke atas, artinya selisih waktunya lumayan juga kan? Dan, ini tuh pasti akan butuh biaya hidup dong.
Kesalahan perhitungan di sini dapat menyebabkan dana pensiun habis padahal kebutuhan finansial masih terus berjalan. Jadi gimana dong? Ya, semakin panjang sih semakin aman ya, tapi tetap harus disesuaikan dengan kemampuan.
5. Belum Termasuk Dana Darurat
Perencanaan yang hanya berfokus pada kebutuhan rutin bisa saja ngeskip kemungkinan munculnya pengeluaran tak terduga. Padahal, ya namanya hidup. Kadang ada saja kebutuhan dadakan.
Kayak rumah perlu diperbaiki, kendaraan perlu diservis, atau ada kebutuhan keluarga yang membutuhkan bantuan dana. Situasi seperti ini bisa terjadi kapan pun tanpa peringatan.
Dana pensiun sih sudah siap, tapi ternyata enggak ada pos dana darurat. Kalau terjadi apa-apa ya bisa mengganggu stabilitas keuangan yang sudah direncanakan. Jadi, jangan lupa perhitungkan juga dana cadangan ya, biar ada ruang yang lebih aman untuk menghadapi berbagai kemungkinan tersebut.
6. Terlalu Optimistis terhadap Hasil Investasi
Untuk menghitung dana pensiun, kita biasanya pakai asumsi tingkat keuntungan investasi yang tinggi secara konsisten selama bertahun-tahun. Hasilnya ya, jadinya terlihat lebih ringan.
Masalahnya, hasil investasi itu kan enggak selalu bergerak sesuai harapan. Kondisi ekonomi, perubahan pasar, dan berbagai faktor lain dapat memengaruhi kinerja investasi. Kalau hasilnya nanti lebih rendah dari asumsi awal, nilai dana pensiun yang terkumpul juga pasti akan beda dari rencana.
Terus, gimana dong? Ya, untuk amannya, pakai proyeksi yang lebih konservatif saja, biar mengurangi risiko kesalahan perhitungan.
7. Mengabaikan Kemungkinan Masih Memiliki Tanggungan Keluarga
Ada anggapan bahwa seluruh tanggungan keluarga akan selesai sebelum masa pensiun tiba. Ya, itu harapan semua orang sih. Enggak salah kan, maunya anak-anak sudah mandiri, sudah bisa memenuhi kehidupannya sendiri.
Tapi, dalam praktiknya, kondisi setiap keluarga berbeda. Bahkan masih banyak tuh pensiunan yang membantu biaya pendidikan anak sampai cucu, mendukung usaha keluarga, atau memberikan bantuan kepada orang tua yang membutuhkan.
Pengeluaran semacam ini dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan awal, dan enggak bisa diabaikan. Kalau enggak dimasukkan ke dalam proyeksi, kebutuhan dana pensiun yang sesungguhnya bisa menjadi lebih besar daripada angka yang telah disiapkan.
8. Enggak Memperbarui Rencana Secara Berkala
Perencanaan pensiun bukan dokumen yang dibuat sekali lalu sudah, terus disimpan doang. Ingat, pendapatan bisa berubah, aset bertambah, tujuan hidup bergeser, dan kondisi ekonomi berkembang dari waktu ke waktu.
Rencana yang disusun lima atau sepuluh tahun lalu belum tentu masih sesuai dengan keadaan saat ini. Kalau enggak direview berkala, asumsinya bisa saja sudah enggak sesuai lagi.
So, kalau sudah bikin rencana pensiun, jangan lupa review ya. Seenggaknya, kalau ada perubahan dalam hidup, selalu lakukan review. Dengan begitu, target dana, strategi investasi, dan proyeksi biaya hidup tetap bisa sejalan dengan kondisi terbaru.
Baca juga: Karakteristik Dana Pensiun yang Penting Diketahui untuk Perencanaan Keuangan
Nah, itu dia beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam proyeksi perhitungan biaya hidup setelah pensiun. Tapi, ya namanya juga proyeksi, adanya kesalahan itu masih manusiawi. Enggak apa, yang penting kita sudah mencoba menyusun rencana untuk masa depan. Tinggal review-review saja sambil jalan. Semangat!
Mau tahu bagaimana merencanakan FIRE dan membangun aset 300 kali gaji dengan lebih detail? Kamu harus banget punya buku ini. Kamu bisa baca dan belajar secara fleksibel, dan dapatkan insight lebih detail mengenai konsep FIRE.
Sudah bisa dibeli di toko-toko buku di kota-kota besar di Indonesia! Get your copy now!
Jangan lupa untuk follow akun Instagram Dani Rachmat ya, untuk berbagai tip keuangan dan investasi yang praktis dan bisa dipraktikkan sendiri. Juga berlangganan newsletter dengan melakukan registrasi di sini, yang akan dikirimkan setiap bulan berisi berbagai update dan tren di dunia keuangan. Jangan sampai ketinggalan berita!
