Menyiapkan dana pensiun sering kali hanya diidentikkan dengan pertanyaan, “Harus punya berapa banyak uang?” Padahal, jumlah dana saja belum cukup. Kamu juga perlu memikirkan kapan uang tersebut akan dipakai, kebutuhan apa yang harus dibiayai, serta tempat menyimpan dana sesuai dengan jangka waktunya. Salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengatur kebutuhan tersebut adalah bucket strategy.
Tapi, apa itu bucket strategy? Pasti kamu juga bertanya-tanya kan? Yuk, kita bahas di artikel kali ini.
Apa Itu Bucket Strategy?
Bucket strategy adalah metode mengelola dana dengan membaginya ke dalam beberapa “keranjang” berdasarkan kapan uang tersebut akan digunakan. Setiap keranjang memiliki tujuan, jangka waktu, serta pilihan instrumen yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Dalam perencanaan pensiun, bucket strategy umumnya menggunakan tiga kelompok utama. Ada keranjang untuk kebutuhan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Pembagian tersebut membantu memisahkan uang yang segera diperlukan dari uang yang masih memiliki waktu panjang untuk berkembang.
Misalnya, kamu sudah pensiun dan memperkirakan membutuhkan Rp5 juta per bulan untuk biaya hidup. Dana yang akan dipakai dalam beberapa bulan ke depan perlu dikelola secara berbeda dengan dana yang baru akan digunakan 10 atau 15 tahun lagi. Dana jangka pendek perlu lebih mudah dicairkan dan memiliki risiko fluktuasi yang rendah. Sementara itu, dana jangka panjang masih memiliki waktu untuk menghadapi naik-turunnya nilai investasi.
Karena fungsi tiap dana berbeda, seluruh tabungan pensiun tidak perlu diperlakukan dengan cara yang sama.
Baca juga: Strategi Investasi Jangka Panjang untuk Dana Pensiun di Tengah Ketidakpastian Pasar
Siapkan Dana Pensiun dengan Konsep Bucket Strategy
Sebelum membagi uang ke dalam keranjang, kamu perlu menghitung kebutuhan hidup setelah pensiun dan memperkirakan kapan setiap dana akan digunakan. Setelah itu, bucket strategy bisa diterapkan untuk menentukan porsi dana yang berada di setiap kelompok.
Berikut gambaran pembagiannya yang bisa kamu jadikan kerangka awal.
1. Isi Keranjang Pertama untuk Kebutuhan Jangka Pendek
Keranjang pertama ditujukan untuk kebutuhan yang akan dibayar dalam waktu dekat, misalnya biaya hidup satu sampai dua tahun setelah pensiun. Dana ini dapat digunakan untuk membayar makan, tagihan rumah, transportasi, kebutuhan rumah tangga, sampai pengeluaran rutin lainnya.
Misalnya kebutuhan bulananmu setelah pensiun diperkirakan Rp5 juta. Untuk kebutuhan selama dua tahun, perkiraannya mencapai:
Rp5 juta × 24 bulan = Rp120 juta
Angka tersebut belum memperhitungkan inflasi dan pengeluaran tak terduga ya. Kalau perlu, kamu dapat memberikan ruang tambahan saat menghitung kebutuhan sebenarnya.
Karena akan segera digunakan, dana pada keranjang pertama perlu mudah dicairkan. Pilihan instrumennya dapat berupa tabungan, deposito, atau instrumen pasar uang dengan karakter risiko yang sesuai.
Tujuannya adalah menjaga agar kamu tidak terpaksa menjual investasi jangka panjang ketika pasar sedang turun hanya karena membutuhkan uang untuk membayar kebutuhan bulanan.
2. Gunakan Keranjang Kedua untuk Kebutuhan Beberapa Tahun ke Depan
Keranjang kedua berisi dana yang belum akan digunakan dalam waktu dekat, tetapi tetap akan dibutuhkan dalam beberapa tahun. Contohnya biaya renovasi rumah, pembelian kendaraan, perjalanan, biaya kesehatan tertentu, atau tambahan biaya hidup setelah dana pada keranjang pertama berkurang.
Misalnya kamu memperkirakan membutuhkan Rp100 juta untuk berbagai kebutuhan dalam tiga sampai tujuh tahun setelah pensiun. Dana tersebut bisa dipisahkan sejak awal sehingga enggak kecampur dengan uang untuk pengeluaran bulanan.
Karena jangka waktunya lebih panjang dibanding keranjang pertama, pilihan instrumen dapat dibuat sedikit lebih beragam. Namun, kamu tetap perlu memperhatikan kapan dana tersebut akan dipakai.
Semakin dekat waktunya, semakin besar kebutuhan untuk mengurangi risiko penurunan nilai yang tajam. Jangan sampai dana yang segera diperlukan masih berada pada aset yang sedang mengalami penurunan ketika waktunya dicairkan.
3. Sisihkan Keranjang Ketiga untuk Kebutuhan Jangka Panjang
Keranjang ketiga memiliki horizon paling panjang. Dana di sini dapat ditujukan untuk kebutuhan yang baru muncul bertahun-tahun kemudian atau untuk menjaga agar dana pensiun enggak cepat habis.
Contohnya, kamu berusia 45 tahun dan memperkirakan pensiun pada usia 60 tahun. Dana yang baru akan digunakan setelah usia 70 tahun masih memiliki waktu panjang untuk disiapkan.
Untuk jangka waktu seperti itu, investasi dengan potensi pertumbuhan lebih tinggi dapat dipertimbangkan sesuai profil risiko dan tujuan keuanganmu. Saham, reksa dana saham, atau aset lain dapat menjadi bagian dari pertimbangan, tetapi setiap instrumen memiliki risiko masing-masing.
Dalam bucket strategy, keranjang ketiga punya fungsi penting karena kebutuhan pensiun enggak berhenti pada beberapa tahun pertama. Kamu mungkin pensiun pada usia 60 tahun dan masih membutuhkan biaya hidup selama 20 tahun atau lebih.
Artinya, sebagian dana tetap perlu dipikirkan untuk kebutuhan masa depan yang jauh setelah hari pertama pensiun.
4. Hitung Kebutuhan Setiap Keranjang Berdasarkan Pengeluaran Nyata
Pembagian keranjang akan lebih pas jika angka yang digunakan berasal dari kebutuhanmu sendiri. Jadi, coba mulai dengan mencatat pengeluaran bulanan saat ini.
Pisahkan pengeluaran menjadi beberapa kelompok, seperti:
- kebutuhan rumah tangga
- makanan dan transportasi
- cicilan atau kewajiban rutin
- premi asuransi
- hiburan dan perjalanan
- biaya kesehatan
- bantuan untuk keluarga
- kebutuhan rumah dan kendaraan.
Setelah itu, tentukan pengeluaran mana yang kemungkinan masih ada ketika kamu pensiun.
Misalnya saat bekerja kamu mengeluarkan Rp8 juta per bulan, tetapi ada cicilan Rp2 juta yang selesai sebelum pensiun. Artinya, kebutuhan pensiunmu belum tentu Rp8 juta per bulan juga. Kamu bisa menghitung ulang berdasarkan kondisi yang diperkirakan terjadi saat memasuki masa pensiun.
Masukkan pula inflasi dalam perhitungan. Harga kebutuhan pokok, layanan kesehatan, transportasi, dan berbagai barang lainnya dapat meningkat selama bertahun-tahun. Dana yang terlihat cukup hari ini bisa memiliki daya beli lebih kecil ketika masa pensiun tiba.
5. Sisihkan Dana Khusus untuk Kondisi Darurat
Dana pensiun sebaiknya enggak jadi satu-satunya sumber uang ketika muncul pengeluaran mendadak. Kamu dapat menyediakan porsi khusus untuk kondisi darurat, terutama untuk kebutuhan kesehatan atau perbaikan rumah dan kendaraan.
Contohnya, kamu sudah memiliki dana untuk membayar kebutuhan hidup selama satu tahun. Lalu tiba-tiba ada biaya pengobatan yang cukup besar. Jika seluruh uang berada dalam satu rekening tanpa pembagian tujuan, dana untuk kebutuhan bulanan bisa ikut terpakai.
Keranjang khusus untuk kondisi darurat membuat kebutuhan semacam ini lebih mudah dipisahkan.
Besarnya dana tentu bergantung pada kondisi keluarga, kepemilikan asuransi, penghasilan pasangan, aset yang tersedia, serta jenis pengeluaran yang mungkin muncul. Jangan pakai satu angka patokan untuk semua orang.
6. Atur Pengisian Ulang Setiap Keranjang
Bucket strategy bukan sistem yang selesai setelah kamu membagi uang sekali. Setiap keranjang perlu diperiksa dan diisi ulang ketika diperlukan.
Misalnya keranjang pertama awalnya berisi biaya hidup untuk 18 bulan. Setelah satu tahun digunakan, saldonya berkurang menjadi dana untuk enam bulan. Kamu kemudian perlu melihat kondisi keranjang kedua dan ketiga untuk menentukan sumber pengisian berikutnya.
Ketika investasi pada keranjang jangka panjang mengalami kenaikan, sebagian keuntungan juga dapat dialihkan ke keranjang dengan jangka waktu lebih pendek. Sebaliknya, ketika pasar sedang mengalami penurunan, kamu bisa mengandalkan dana yang memang sudah disiapkan untuk kebutuhan dekat sehingga gak buru-buru mencairkan investasi jangka panjang.
Proses tersebut membuat pembagian dana tetap mengikuti kebutuhan yang berubah. Jumlah dana di setiap keranjang juga tidak perlu selalu sama.
7. Review Setiap Tahun dan Sesuaikan dengan Kondisi Pensiun
Kebutuhan pensiun dapat berubah. Pengeluaran rumah tangga bisa naik, rencana tinggal dapat berubah, kondisi keluarga ikut berkembang, dan usia pensiun bisa maju atau mundur.
Karena itu, lakukan review atau evaluasi secara berkala. Cek berapa saldo setiap keranjang, berapa kebutuhan bulanan saat ini, serta kapan dana tertentu akan digunakan.
Misalnya kamu awalnya berencana pensiun pada usia 60 tahun. Beberapa tahun kemudian, kamu memutuskan bekerja sampai usia 63 tahun. Perubahan tiga tahun tersebut dapat memengaruhi jumlah dana yang perlu disiapkan sekaligus memberikan tambahan waktu untuk menabung dan berinvestasi.
Begitu pula ketika ada perubahan besar pada pengeluaran. Jika rumah sudah lunas, anak sudah mandiri secara finansial, atau kamu pindah ke daerah dengan biaya hidup berbeda, perhitungan kebutuhan pensiun dapat diperbarui.
Evaluasi juga membantu memastikan dana yang terlalu banyak berada di keranjang jangka pendek tidak menganggur terlalu lama, sementara dana untuk kebutuhan dekat tetap tersedia ketika waktunya tiba.
Baca juga: Strategi Hemat Biaya Hidup tanpa Mengorbankan Kebutuhan Demi FIRE
Bucket strategy membantu kamu melihat dana pensiun berdasarkan fungsi dan waktu pemakaian, bukan sekadar mengejar satu angka tabungan. Dengan memisahkan kebutuhan jangka pendek, menengah, dan panjang, kamu bisa membuat rencana yang lebih terstruktur sekaligus mengetahui dari mana biaya hidup akan diambil ketika sudah berhenti bekerja.
Mau tahu bagaimana merencanakan FIRE dan membangun aset 300 kali gaji dengan lebih detail? Kamu harus banget punya buku ini. Kamu bisa baca dan belajar secara fleksibel, dan dapatkan insight lebih detail mengenai konsep FIRE.
Sudah bisa dibeli di toko-toko buku di kota-kota besar di Indonesia! Get your copy now!
Jangan lupa untuk follow akun Instagram Dani Rachmat ya, untuk berbagai tip keuangan dan investasi yang praktis dan bisa dipraktikkan sendiri. Juga berlangganan newsletter dengan melakukan registrasi di sini, yang akan dikirimkan setiap bulan berisi berbagai update dan tren di dunia keuangan. Jangan sampai ketinggalan berita!
