Memahami cara menghitung FIRE bisa bantu kita melihat apakah aset yang sudah terkumpul cukup untuk membiayai kehidupan ketika berhenti bekerja nanti.
Perhitungannya dapat dimulai dari pengeluaran sehari-hari, karena kebutuhan hidup tiap orang ikut menentukan seberapa besar dana yang perlu disiapkan. Angka seperti biaya makan, tempat tinggal, transportasi, cicilan, sampai kebutuhan tahunan perlu diperhitungkan agar target yang didapat tidak terlalu jauh dari kondisi nyata.
Target FIRE kemudian bisa dibandingkan dengan jumlah aset investasi yang sudah dimiliki. Dari sini, posisi keuangan bisa terlihat lebih konkret, apakah aset saat ini masih jauh dari target, sudah mendekati, atau perlu menghitung ulang karena pengeluaran dan rencana hidup ikut berubah.
Cara Menghitung FIRE Berdasarkan Pengeluaran Bulanan
Sebelum menghitung target aset, pengeluaran bulanan perlu dicatat lebih dulu karena angka inilah yang akan menjadi dasar cara menghitung FIRE. Gunakan kondisi keuangan sehari-hari sebagai acuan, termasuk biaya rutin dan pengeluaran yang muncul secara berkala. Setelah jumlahnya diketahui, angka tersebut bisa diubah menjadi kebutuhan tahunan untuk mendapatkan gambaran dana yang perlu disiapkan.
1. Hitung Rata-Rata Pengeluaran Bulanan
Langkah pertama cara menghitung FIRE bisa dimulai dari angka yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni berapa uang yang benar-benar keluar setiap bulan. Cek catatan transaksi setidaknya selama 3-6 bulan supaya angka yang dipakai enggak dipengaruhi satu bulan yang kebetulan lebih hemat atau lebih boros.
- Catat kebutuhan rutin seperti makanan, listrik, internet, transportasi, tempat tinggal, dan tagihan lain.
- Masukkan pengeluaran lifestyle seperti makan di luar, hiburan, langganan aplikasi, atau hobi.
- Pisahkan cicilan dan utang yang masih berjalan. Jika cicilan diperkirakan lunas sebelum FIRE, jangan otomatis memasukkannya sebagai kebutuhan permanen.
- Perhatikan pengeluaran tahunan seperti pajak kendaraan, premi asuransi, servis kendaraan, mudik, atau liburan. Jumlahkan biaya setahun, lalu bagi 12 agar masuk ke anggaran bulanan.
- Setelah semua terkumpul, hitung rata-ratanya. Misalnya kebutuhan rutin Rp7 juta, lifestyle Rp2 juta, dan alokasi pengeluaran tahunan Rp1 juta. Berarti kebutuhan hidup yang perlu ditutup sekitar Rp10 juta per bulan.
Angka ini yang nantinya dipakai untuk menghitung kebutuhan dana FIRE. Karena itu, semakin realistis datanya, semakin berguna hasil perhitungannya.
Baca juga: Target FIRE Terus Naik, Apakah Kebebasan Finansial Makin Sulit Dicapai?
2. Ubah Pengeluaran Bulanan Jadi Pengeluaran Tahunan
Setelah mengetahui kebutuhan bulanan, kalikan angka tersebut dengan 12. Rumusnya:
Pengeluaran Tahunan = Pengeluaran Bulanan × 12
Misalnya kebutuhan hidup mencapai Rp10 juta per bulan. Dalam setahun, dana yang diperlukan menjadi:
Rp10 juta × 12 = Rp120 juta
Angka Rp120 juta inilah yang menjadi kebutuhan dana tahunan sebelum memperhitungkan sumber penghasilan pasif atau penarikan dari portofolio investasi.
Cara menghitung FIRE secara tahunan begini bantu kita melihat ukuran target keuangan secara lebih utuh. Pengeluaran Rp10 juta per bulan mungkin terlihat masih cukup terjangkau ketika dilihat satu per satu, tetapi kebutuhan Rp120 juta per tahun akan menghasilkan target aset yang jauh lebih besar ketika dikalikan dengan jumlah tahun masa pensiun.
3. Tentukan Tingkat Penarikan yang Digunakan
Berikutnya ada safe withdrawal rate (SWR) yang harus diperhatikan, yaitu persentase dana dari portofolio yang ditarik setiap tahun untuk membiayai hidup. Angka ini membantu menentukan seberapa besar aset yang perlu dikumpulkan agar dana pensiun tidak cepat habis.
Kamu bisa pakai angka 4% sebagai referensi dalam perhitungan FIRE. Dengan asumsi tersebut, kita bisa ambil sekitar 4% dari portofolio pada tahun pertama pensiun dengan aman, lalu menyesuaikan jumlah penarikan pada tahun-tahun berikutnya sesuai asumsi yang digunakan.
Namun, angka 4% ini bukan angka wajib. Orang yang ingin memiliki cadangan lebih besar atau memperkirakan masa pensiun sangat panjang dapat memakai SWR yang lebih rendah, misalnya 3,5% atau 3%.
Semakin rendah tingkat penarikan yang dipakai, semakin besar aset yang perlu dikumpulkan. Ini membuat target FIRE lebih konservatif.
4. Hitung Target FIRE
Sekarang tiga angka utama sudah tersedia, yakno pengeluaran tahunan, SWR, dan target aset. Target FIRE dapat dihitung dengan rumus:
Target FIRE = Pengeluaran Tahunan ÷ SWR
Misalnya kebutuhan hidup Rp10 juta per bulan atau Rp120 juta per tahun. Jika menggunakan SWR 4%, perhitungannya:
Rp120 juta ÷ 4% = Rp3 miliar
Artinya, dengan asumsi yang digunakan, target aset investasi berada di sekitar Rp3 miliar untuk membiayai kebutuhan Rp120 juta per tahun.
Supaya lebih mudah melihat pengaruh besarnya pengeluaran terhadap target aset, perhatikan contoh berikut:
| Pengeluaran per bulan | Pengeluaran per tahun | Target FIRE dengan SWR 4% |
| Rp5 juta | Rp60 juta | Rp1.5 miliar |
| Rp10 juta | Rp120 juta | Rp3 miliar |
| Rp15 juta | Rp180 juta | Rp4.5 miliar |
| Rp20 juta | Rp240 juta | Rp6 miliar |
Jadi, Apakah Asetmu Sudah Cukup untuk FIRE?
Setelah mendapatkan angka FIRE, langkah cara menghitung FIRE berikutnya tinggal membandingkannya dengan aset investasi yang sudah dimiliki. Dengan begitu, kamu bisa lihat posisi saat ini tanpa perlu menebak-nebak apakah dana yang terkumpul sudah cukup untuk berhenti bekerja.
Gunakan rumus berikut:
FIRE Ratio = Aset Investasi ÷ FIRE Number × 100%
Misalnya, hasil perhitungan menunjukkan FIRE number sebesar Rp3 miliar. Saat ini kamu sudah memiliki Rp1,5 miliar dalam bentuk aset investasi. Maka perhitungannya menjadi:
Rp1,5 miliar ÷ Rp3 miliar × 100% = 50%
Berarti aset investasi yang tersedia saat ini baru mencapai 50% dari target FIRE. Masih ada sekitar Rp1,5 miliar yang perlu dikejar jika asumsi pengeluaran dan tingkat penarikan yang digunakan tetap sama.
Cara menghitung FIRE seperti ini juga bisa dipakai setiap kali melakukan evaluasi keuangan. Misalnya, aset investasi naik menjadi Rp2,1 miliar, sementara target FIRE masih Rp3 miliar. FIRE Ratio sudah mencapai 70%. Kalau pengeluaran bulanan ikut berubah, FIRE number perlu dihitung ulang karena target asetnya pun bisa ikut bergeser.
Baca juga: Investasi Apa yang Cocok untuk Mendukung Perencanaan Keuangan FIRE?
Satu hal yang perlu diperhatikan, hitung hanya aset yang memang disiapkan untuk menopang kehidupan setelah FIRE. Rumah yang ditempati sendiri atau kendaraan pribadi enggak otomatis masuk ke dalam aset investasi karena keduanya belum tentu menghasilkan dana untuk membayar kebutuhan hidup.
Aset investasi seperti deposito, obligasi, reksa dana, saham, atau instrumen lain yang memang dialokasikan untuk tujuan FIRE lebih relevan dimasukkan dalam perhitungan.
Mau tahu bagaimana merencanakan FIRE dan membangun aset 300 kali gaji dengan lebih detail? Kamu harus banget punya buku ini. Kamu bisa baca dan belajar secara fleksibel, dan dapatkan insight lebih detail mengenai konsep FIRE.
Sudah bisa dibeli di toko-toko buku di kota-kota besar di Indonesia! Get your copy now!
Jangan lupa untuk follow akun Instagram Dani Rachmat ya, untuk berbagai tip keuangan dan investasi yang praktis dan bisa dipraktikkan sendiri. Juga berlangganan newsletter dengan melakukan registrasi di sini, yang akan dikirimkan setiap bulan berisi berbagai update dan tren di dunia keuangan. Jangan sampai ketinggalan berita!
