Punya target dana pensiun bukan berarti rencana keuangan otomatis aman sampai hari tua. Angka yang terlihat cukup besar saat ini belum tentu mampu menopang hidup selama puluhan tahun.
Apalagi kalau di tengah jalan ada inflasi tinggi, pasar investasi anjlok, biaya kesehatan melonjak, atau penghasilan berhenti lebih cepat dari perkiraan. Enggak ada orang yang bisa memprediksi apa yang bisa terjadi. Betul?
Karena itu, target dana pensiun perlu diuji, bukan hanya dihitung. Kamu perlu melihat apakah jumlah tersebut masih mampu bertahan ketika kondisi ekonomi enggak berjalan sesuai skenario ideal.
Semakin realistis uji yang dilakukan, semakin kecil kemungkinan kamu baru menyadari ada kekurangan ketika masa pensiun sudah dekat.
Jangan Cuma Tanya, “Dana Pensiun Cukup Nggak?”, Uji!
Ada beberapa cara untuk menguji daya tahan target dana pensiun. Kamu bisa mulai dengan membuat sejumlah skenario yang sengaja dibuat kurang nyaman, lalu melihat seberapa besar pengaruhnya terhadap tabungan dan investasi yang sudah disiapkan.
Uji ini bukan untuk membuat perencanaan pensiun jadi penuh kekhawatiran. Tujuannya adalah menemukan bagian yang masih rapuh saat kamu masih punya waktu untuk memperbaikinya.
Jadi, apa saja yang perlu diuji?
1. Hitung Ulang Kebutuhan Hidup dengan Inflasi yang Lebih Tinggi
Perhitungan perencanaan pensiun itu biasanya menggunakan kebutuhan hidup hari ini sebagai patokan untuk puluhan tahun mendatang. Nah, sementara harga makanan, tempat tinggal, transportasi, jasa, dan kebutuhan lain bisa terus naik seiring waktu.
Misalnya nih, saat ini kamu membutuhkan Rp10 juta per bulan untuk hidup nyaman. Jika masa pensiun masih 20 tahun lagi, angka tersebut enggak bisa langsung dipakai sebagai kebutuhan bulanan saat pensiun.
Dengan asumsi inflasi rata-rata 4% per tahun, Rp10 juta hari ini berarti jadi setara sekitar Rp21,9 juta per bulan di 20 tahun lagi. Itu nominalnya kalau kamu pengin punya daya beli yang setara.
Nah, pergerakan inflasi ini juga enggak akan persis sama setiap tahun. Jadi, kamu perlu menguji dengan beberapa asumsi, misalnya 3%, 4%, dan 6%. Kalau target dana pensiun hanya cukup ketika inflasi berada pada skenario paling rendah, artinya rencana pensiunmu masih terlalu rentan.
Kamu juga perlu memisahkan kebutuhan pokok dan pengeluaran gaya hidup. Biaya rumah tangga, makanan, listrik, transportasi, dan kesehatan mungkin sulit dipangkas secara drastis. Tapi, biaya liburan, hobi, makan di luar, atau belanja bisa lebih fleksibel.
Nah, kalau pembagiannya jelas begini, kamu bisa melihat pengeluaran mana yang benar-benar harus terlindungi.
Baca juga: 7 Langkah Awal Menyusun Perencanaan Keuangan Keluarga dengan Target FIRE
2. Simulasikan Investasi Jatuh saat Kamu Baru Pensiun
Salah satu risiko terbesar dalam perencanaan pensiun adalah ketika pasar jatuh pada tahun-tahun awal masa pensiun, sementara kamu tetap harus mengambil uang untuk biaya hidup.
Bayangkan kamu pensiun dengan portofolio Rp3 miliar. Lalu pasar saham mengalami penurunan 25%. Nilai portofolio bisa turun menjadi sekitar Rp2,25 miliar. Kalau pada saat bersamaan kamu tetap menarik dana dalam jumlah yang sama setiap bulan, modal yang tersisa akan mendapat tekanan lebih besar.
Karena itu, target dana pensiun sebaiknya diuji menggunakan skenario penurunan pasar, misalnya 15%, 25%, bahkan 35%. Lihat berapa lama portofolio masih mampu membiayai kebutuhan hidup jika penurunan tersebut terjadi pada awal masa pensiun.
Dengan begini, kamu bisa menentukan nanti, apakah seluruh aset sebaiknya ditempatkan pada instrumen dengan tingkat risiko seperti apa. Kan, kudu disesuaikan, antara dana yang akan segera digunakan dan dana yang masih akan disimpan selama belasan tahun, ya kan?
3. Coba Skenario Pensiun 5 Tahun Lebih Cepat
Rencana pensiun umumnya dibuat berdasarkan usia tertentu, misalnya 55, 60, atau 65 tahun. Masalahnya, kondisi pekerjaan enggak selalu sinkron. Perusahaan bisa melakukan restrukturisasi, kondisi industri bisa berubah, atau kamu mungkin memilih berhenti bekerja lebih cepat karena alasan pribadi.
Misalnya, target awal dibuat untuk pensiun pada usia 60 tahun. Uji ulang dengan asumsi kamu hanya bisa bekerja sampai usia 55 tahun. Dalam skenario tersebut, ada dua tekanan sekaligus, yakni waktu untuk menambah aset menjadi lebih pendek, sementara periode ketika kamu harus membiayai hidup dari aset menjadi lebih panjang.
Kalau sesudah dihitung lagi ternyarta rencana masih bisa jalan, berarti fondasimu cukup kuat. Kalau hasilnya langsung mengalami minus besar, nah, berarti kamu baru saja menemukan risiko yang perlu diantisipasi.
4. Naikkan Estimasi Biaya Kesehatan
Biaya kesehatan layak mendapatkan pengujian khusus karena kebutuhan medis bisa meningkat ketika usia bertambah. Selain premi atau iuran perlindungan kesehatan, ada pula pengeluaran seperti obat, pemeriksaan, perawatan gigi, alat bantu, hingga biaya yang enggak seluruhnya ditanggung asuransi.
Saat menguji dana pensiun, buat pos kesehatan terpisah dan gunakan beberapa skenario biaya. Jangan hanya memasukkan biaya kesehatan berdasarkan pengeluaranmu sekarang karena kebutuhan tersebut bisa berubah setelah memasuki usia pensiun.
Kamu juga bisa membuat simulasi pengeluaran besar yang muncul satu atau dua kali dalam beberapa tahun. Misalnya, ada kebutuhan medis Rp50 juta pada usia 70 tahun. Apa yang terjadi pada portofolio kalau dana sebesar itu harus diambil sekaligus?
Pengujian seperti ini memberi gambaran apakah target yang terlihat cukup besar masih mampu menanggung kejutan finansial tanpa mengganggu kebutuhan rutin.
5. Tes dengan Masa Pensiun yang Lebih Panjang
Umur panjang itu berkah. Tetapi dari sisi perencanaan keuangan, hidup lebih lama berarti “risiko” juga karena aset harus bekerja lebih lama.
Kalau kamu membuat rencana sampai usia 80 tahun, coba ulangi perhitungan sampai usia 85, 90, bahkan 95 tahun. Jangan menganggap seluruh aset harus habis tepat pada usia tertentu. Semakin panjang masa hidup yang digunakan dalam simulasi, semakin terlihat seberapa kuat sumber dana yang tersedia.
Misalnya, kebutuhan hidup saat pensiun mencapai Rp15 juta per bulan. Kebutuhan tersebut enggak berhenti ketika usia mencapai 80 tahun. Kalau kamu masih hidup sampai 90 tahun, ada 10 tahun tambahan yang harus dibiayai.
6. Kurangi Asumsi Imbal Hasil Investasi
Ketika menghitung target dana pensiun, umumnya kita akan menggunakan imbal hasil investasi yang cukup tinggi. Masalahnya, hasil investasi itu enggak akan tetap nilainya setiap tahun.
Kalau perhitungan awal menggunakan imbal hasil 8% per tahun, coba turunkan menjadi 6% atau 5%. Lihat berapa besar perubahan nilai akhir portofolio dan berapa tambahan investasi yang dibutuhkan untuk mengejar target.
Kamu juga perlu membedakan imbal hasil nominal dan imbal hasil setelah memperhitungkan inflasi. Investasi yang menghasilkan 7% ketika inflasi berada di 4% enggak akan memberimu pertumbuhan daya beli sebesar 7% juga loh!
Nah, perlu diingat ya, bahwa tujuan pengujian ini bukan mencari angka imbal hasil yang paling pesimistis. Saat ini, kamu sedang mencari tahu seberapa sensitif target terhadap perubahan asumsi. Kalau sedikit penurunan imbal hasil langsung membuat target meleset jauh, kontribusi bulanan atau strategi investasi mungkin perlu diperiksa kembali.
Baca juga: Bagaimana Menyusun Target Tabungan FIRE yang Realistis dan Tercapai
Target dana pensiun yang tahan krisis bukan berarti kamu harus mampu menghadapi setiap kemungkinan buruk sampai enggak menyisakan celah sama sekali.
Risiko seperti inflasi, investasi turun, biaya kesehatan meningkat, atau masa pensiun berubah sebenarnya merupakan bagian normal dari perencanaan keuangan. Enggak ada perhitungan yang bisa memprediksi masa depan dengan sempurna karena segala sesuatu yang berkaitan dengan uang dan kehidupan selalu punya risiko.
Pengujian ini lebih berguna sebagai cara untuk melihat apakah targetmu punya ruang yang cukup ketika kondisinya kurang ideal. Jadi, kalau hasil simulasi belum sempurna, nggak perlu langsung panik. Anggap saja itu sebagai sinyal bahwa masih ada waktu untuk menyesuaikan target dana pensiun secara bertahap.
Mau tahu bagaimana merencanakan FIRE dan membangun aset 300 kali gaji dengan lebih detail? Kamu harus banget punya buku ini. Kamu bisa baca dan belajar secara fleksibel, dan dapatkan insight lebih detail mengenai konsep FIRE.
Sudah bisa dibeli di toko-toko buku di kota-kota besar di Indonesia! Get your copy now!
Jangan lupa untuk follow akun Instagram Dani Rachmat ya, untuk berbagai tip keuangan dan investasi yang praktis dan bisa dipraktikkan sendiri. Juga berlangganan newsletter dengan melakukan registrasi di sini, yang akan dikirimkan setiap bulan berisi berbagai update dan tren di dunia keuangan. Jangan sampai ketinggalan berita!
