Pindah kerja? Hal yang wajar sih sekarang. Bisa karena mencari peluang baru, lingkungan yang lebih cocok, atau alasan praktis lainnya. Terus, kalau pindah kerja gitu, dana pensiun karyawan yang udah dibikin gimana nasibnya ya? Pernah kepikiran gak?
Sering Pindah Kerja, Apakah Ada Dampaknya ke Dana Pensiun Karyawan?
FYI, setiap kali pindah perusahaan, akan selalu ada perubahan yang ikut terjadi pada cara dana itu dikelola dan dikumpulkan. Terutama kalau dana pensiun ini dikumpulkan secara kolektif oleh perusahaan.
Terus, kalau gitu, kira-kira apa saja dampaknya?
Nah, pertanyaan ini sering luput dari perhatian. Akhirnya, banyak yang dana pensiunnya enggak optimal. Bahkan, jadi enggak keurus.
Jadi, dampaknya apa? Banyak. Berikut beberapa di antaranya.
1. Hak Dana Pensiun Tidak Selalu Hilang, tapi Bisa Terpecah
Setiap pindah kerja, dana pensiun dari perusahaan lama tetap menjadi milik karyawan. Memang enggak hangus sih, selama programnya memang bersifat vested atau sudah memenuhi syarat tertentu.
Masalahnya, dana pensiun karyawan ini enggak otomatis digabung dengan program di kantor baru. Akhirnya, satu orang bisa punya beberapa rekening pensiun di tempat berbeda.
Lama-lama jumlahnya bisa lebih dari dua atau tiga. Ini bikin pengelolaan jadi rada rumit. Harus ingat di mana saja dana tersimpan. Harus cek saldo masing-masing secara berkala. Kalau tidak dicatat, ada kemungkinan lupa pernah punya dana di kantor lama. Apalagi kalau pindah kerja sudah berkali-kali dalam beberapa tahun. Banyak orang baru sadar saat mendekati pensiun, lalu repot mencari datanya.
Baca juga: Cara Menghitung Dana Pensiun Karyawan Swasta
2. Masa Kerja Pendek Bisa Mengurangi Manfaat
Durasi kerja punya pengaruh besar pada hasil akhir dana pensiun karyawan. Program pensiun biasanya didesain untuk jangka panjang.
Ingat, semakin lama bekerja di satu perusahaan, manfaatnya juga akan berbanding lurus. Ketika pindah kerja terlalu sering, masa kerja di tiap tempat jadi pendek. Ini berdampak langsung pada akumulasi manfaat.
Ada program yang punya syarat minimal masa kerja sebelum manfaat bisa diambil penuh. Kalau belum memenuhi, hasilnya bisa lebih kecil dari yang diharapkan. Ada juga skema yang menghitung manfaat berdasarkan gaji terakhir dan lama kerja. Dengan masa kerja singkat, perhitungannya ya jadi gak maksimal.
Dalam praktiknya, orang dengan karier berpindah-pindah sering punya saldo pensiun yang tersebar dan enggak terlalu besar di tiap tempat. Ya, sebenarnya bisa saja tetap cukup, tapi perlu strategi tambahan.
3. Tidak Semua Perusahaan Punya Program Pensiun yang Sama
Setiap perusahaan punya kebijakan sendiri soal dana pensiun karyawan. Ada yang memberikan program lengkap dengan iuran dari perusahaan dan karyawan. Ada juga yang hanya menyediakan jaminan dasar seperti BPJS Ketenagakerjaan. Bahkan ada juga pemberi kerja yang enggak punya program pensiun tambahan sama sekali.
Nah, kalau sering pindah kerja, hal ini bisa kerasa banget. Dari yang sebelumnya dapat iuran rutin, lalu pindah ke tempat yang enggak ada fasilitas serupa. Perubahan seperti ini memengaruhi ritme tabungan pensiun. Nantinya, dampaknya akan kerasa dalam jangka panjang.
So, saat mempertimbangkan tawaran kerja, aspek ini sebaiknya ikut diperhitungkan. Bukan hanya soal gaji bulanan.
4. Risiko Enggak Melanjutkan Iuran Secara Konsisten
Konsistensi iuran adalah kunci dalam dana pensiun karyawan. Kalau kamu sering pindah kerja, maka pasti akan sering ada jeda juga kan, sebelum masuk ke program pensiun di tempat baru. Dalam periode ini, enggak ada iuran yang masuk. Kalau jedanya cukup sering, akumulasi dana bisa terpengaruh.
Selain itu, enggak semua pekerjaan baru langsung memberikan akses ke program pensiun. Ada masa tunggu, ada juga yang opsional. Tanpa disadari, iuran jadi putus-putus.
Dalam jangka panjang, ini membuat hasil akhir lebih kecil dibandingkan jika iuran berjalan rutin. Efeknya mungkin memang enggak langsung terlihat. Tapi kalau dihitung di akhir masa kerja, selisihnya bisa cukup besar.
5. Ada Potensi Penarikan Dana Lebih Awal
Saat keluar dari perusahaan, ada orang yang memilih mencairkan dana pensiun karyawan. Alasannya sih macam-macam. Ada yang katanya mau dipakai modal, ada yang mau dipakai untuk memenuhi kebutuhan sementara, dan lain sebagainya.
Akibatnya, dana yang seharusnya berkembang dalam jangka panjang jadi berhenti di tengah jalan. Jika dilakukan berulang, hasil akhirnya bisa jauh dari target.
Selain itu, ada potensi pajak atau potongan tertentu saat pencairan. Jadi jumlah yang diterima enggak selalu utuh. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa mengganggu rencana keuangan saat pensiun nanti.
6. Administrasi dan Dokumentasi Jadi Lebih Kompleks
Memiliki beberapa dana pensiun berarti juga punya lebih banyak dokumen. Setiap program punya aturan, laporan, dan bukti kepesertaan sendiri. Semua ini perlu disimpan dengan rapi. Kalau enggak, bisa menyulitkan saat ingin mengklaim di masa depan. Apalagi jika sudah lama enggak aktif di suatu perusahaan. Kontak lembaga pengelola bisa berubah, dan banya kemungkinan lainnya.
Akses data enggak selalu mudah jika dokumen awal enggak lengkap. Proses yang seharusnya sederhana jadi memakan waktu.
Alternatif buat Kamu yang Sering Pindah Kerja
Jadi, gimana dong? Kan namanya juga lagi meniti karier. Sudah bagus juga kepikiran dana pensiun karyawan. Alternatifnya apa ya, biar lebih safe?
Kabar baik nih. Untuk yang sering pindah kerja, ada opsi yang lebih fleksibel yaitu DPLK alias Dana Pensiun Lembaga Keuangan. Program ini enggak terikat dengan perusahaan tertentu. Jadi tetap berjalan meskipun berganti pekerjaan. Iurannya bisa diatur sendiri sesuai kemampuan.
DPLK membantu menjaga kesinambungan dana pensiun karyawan. Ini berguna terutama saat bekerja di perusahaan yang enggak menyediakan program pensiun tambahan.
Selain itu, semua dana terkumpul dalam satu tempat. Lebih mudah dipantau dan dikelola. Enggak perlu repot mengingat banyak akun seperti pada program perusahaan.
Kamu juga bisa mengusahakan yang lebih mandiri. Salah satunya dengan menambah instrumen investasi pribadi. Bisa berupa reksa dana, saham, atau tabungan berjangka. Tujuannya untuk melengkapi dana pensiun yang mungkin enggak konsisten dari pekerjaan.
Selain itu, penting juga punya gambaran target dana pensiun sejak awal. Dengan begitu, setiap keputusan finansial bisa lebih terarah. Dengan begitu, meskipun karier berpindah-pindah, tujuan keuangan tetap bisa dijaga.
Pergerakan karier yang dinamis sering membuat dana pensiun karyawan enggak lagi berjalan dalam satu jalur yang rapi. Ada yang terpisah, ada yang berhenti di tengah, ada juga yang berubah skema tanpa disadari.
Karena itu, penting untuk tahu posisi masing-masing dana sejak awal, bukan sekadar mengandalkan catatan dari perusahaan. Dengan gambaran yang jelas, keputusan kerja berikutnya bisa dipertimbangkan dengan lebih tenang, tanpa harus mengorbankan hal yang baru terasa jauh di depan.
Baca juga: Cara Cek Dana Pensiun Karyawan Swasta untuk Evaluasi Rencana Pensiun
Mau tahu bagaimana merencanakan FIRE dan membangun aset 300 kali gaji dengan lebih detail? Kamu harus banget punya buku ini. Kamu bisa baca dan belajar secara fleksibel, dan dapatkan insight lebih detail mengenai konsep FIRE.
Sudah bisa dibeli di toko-toko buku di kota-kota besar di Indonesia! Get your copy now!
Jangan lupa untuk follow akun Instagram Dani Rachmat ya, untuk berbagai tip keuangan dan investasi yang praktis dan bisa dipraktikkan sendiri. Juga berlangganan newsletter dengan melakukan registrasi di sini, yang akan dikirimkan setiap bulan berisi berbagai update dan tren di dunia keuangan. Jangan sampai ketinggalan berita!
