Cara memulai FIRE sebagai freelancer sering dianggap sulit karena penghasilan pekerja lepas itu enggak tetap. Padahal, membangun FIRE untuk freelancer itu sama pentingnya.
Nah, kabar baiknya, seperti halnya jenis profesi lain, FIRE untuk freelancer itu juga enggak bergantung pada besarnya pendapatan, melainkan pada kebiasaan mengelola uang secara konsisten.
Tapi, FIRE untuk Freelancer Ini Kenapa Penting sih?
Menjadi freelancer berarti bertanggung jawab penuh atas kondisi keuangan sendiri. Enggak ada gaji tetap setiap bulan, enggak ada dana pensiun dari perusahaan, dan enggak ada pesangon jika suatu saat pekerjaan berhenti.
Di sisi lain, perubahan tren industri, kondisi ekonomi, perkembangan teknologi, hingga faktor usia juga dapat memengaruhi peluang mendapatkan proyek.
Karena itu, membangun aset sejak dini menjadi langkah yang penting. FIRE untuk freelancer itu krusial, karena dengan begitu, kamu bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk investasi dan aset aktif. Kalau ada aset aktif, kamu jadi enggak selamanya bergantung pada kerja aktif.
Dengan kondisi keuangan yang lebih kuat, kamu pun punya keleluasaan memilih proyek, mengambil jeda ketika dibutuhkan, sekaligus mempersiapkan masa depan dengan lebih tenang.
Baca juga: Cara Menghitung Kebutuhan Dana Pensiun bagi Freelancer dan Pekerja Mandiri
FIRE untuk Freelancer, Begini Cara Memulainya
Cara memulai FIRE untuk freelancer memang enggak segampang yang dibayangkan. Ya, sebagian besar karena tantangannya memang cukup real. Tapi bukan hal yang mustahil juga.
Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan freelancer untuk mulai menyiapkan segala sesuatunya untuk FIRE, sekaligus mengurangi ketergantungan pada proyek sebagai satu-satunya sumber penghasilan.
1. Hitung Rata-Rata Pendapatan Bulanan
Jangan menggunakan pendapatan dari bulan terbaik sebagai acuan. Ambil data pemasukan selama 6 hingga 12 bulan terakhir, lalu hitung rata-ratanya agar gambaran kondisi keuangan lebih realistis.
Angka tersebut bisa menjadi dasar untuk menyusun anggaran, menentukan target tabungan, hingga memperkirakan kemampuan berinvestasi setiap bulan.
2. Tentukan Target Saving Rate
Dalam konsep FIRE, saving rate atau persentase penghasilan yang disisihkan memiliki peran besar. Tentukan target yang sesuai dengan kondisi keuangan, misalnya 20%, 30%, atau lebih jika memungkinkan.
Saat memperoleh proyek bernilai besar, usahakan kenaikan pendapatan enggak seluruhnya berubah menjadi tambahan pengeluaran, tetapi dialokasikan untuk memperbesar tabungan dan investasi.
3. Bangun Dana Darurat Sebelum Mengejar Target Investasi
Freelancer lebih rentan mengalami jeda proyek dibanding pekerja dengan gaji tetap. Dana darurat dapat membantu membayar kebutuhan rutin ketika pemasukan sedang menurun tanpa harus menjual investasi atau berutang.
Idealnya, siapkan dana yang cukup untuk menutup pengeluaran selama 6 hingga 12 bulan (tergantung tanggungan) agar kondisi keuangan tetap stabil saat menghadapi masa sulit.
4. Berinvestasi Secara Konsisten
Setelah dana darurat mulai terbentuk, sisihkan sebagian penghasilan untuk investasi sesuai tujuan dan profil risiko. Enggak perlu menunggu modal besar karena konsistensi memberi hasil yang lebih baik daripada menunda terlalu lama.
Gunakan instrumen yang dipahami sehingga keputusan investasi enggak mudah berubah hanya karena mengikuti tren sesaat.
5. Siapkan Dana Pensiun dan Proteksi Secara Mandiri
Freelancer perlu membangun sistem perlindungan keuangan sendiri. Selain menyiapkan investasi jangka panjang untuk masa pensiun, pertimbangkan juga kepesertaan BPJS atau asuransi yang sesuai dengan kebutuhan. Langkah ini membantu menjaga kondisi keuangan ketika terjadi risiko yang dapat mengganggu kemampuan bekerja.
6. Tingkatkan Investasi saat Penghasilan Naik
Kenaikan pendapatan sering kali diikuti kenaikan gaya hidup. Tapi, FIRE untuk freelancer beda lho. Biar lebih cepat tercapai, biasakan menambah nominal investasi setiap kali tarif jasa naik atau memperoleh klien baru dengan nilai proyek yang lebih besar.
Dengan begitu, pertumbuhan aset dapat mengikuti perkembangan penghasilan, bukan hanya pengeluaran.
7. Evaluasi Kondisi Keuangan secara Berkala
Luangkan waktu untuk meninjau perkembangan aset, tabungan, investasi, dan pengeluaran setiap beberapa bulan. Dari evaluasi tersebut, akan terlihat apakah target saving rate sudah tercapai atau masih perlu penyesuaian.
Kebiasaan ini juga membantu mendeteksi pengeluaran yang mulai membengkak sehingga rencana menuju FIRE tetap berjalan sesuai target.
Sebagai freelancer, kamu memang enggak punya HRD yang akan mengingatkan untuk menabung, siapin dana pensiun, atau membangun investasi. Semua keputusan tersebut berada di tangan kamu sendiri.
Baca juga: Contoh Perencanaan Bisnis untuk Freelancer untuk Mencapai Kebebasan Finansial
Meski kerja lepas, FIRE untuk freelancer itu penting. Semakin cepat prinsip FIRE diterapkan, semakin besar peluang memiliki aset yang mampu menopang kehidupan di masa depan.
Saat itu tiba, bekerja bukan lagi karena terpaksa mengejar tagihan, melainkan karena memang memilih untuk tetap berkarya.
Mau tahu bagaimana merencanakan FIRE dan membangun aset 300 kali gaji dengan lebih detail? Kamu harus banget punya buku ini. Kamu bisa baca dan belajar secara fleksibel, dan dapatkan insight lebih detail mengenai konsep FIRE.
Sudah bisa dibeli di toko-toko buku di kota-kota besar di Indonesia! Get your copy now!
Jangan lupa untuk follow akun Instagram Dani Rachmat ya, untuk berbagai tip keuangan dan investasi yang praktis dan bisa dipraktikkan sendiri. Juga berlangganan newsletter dengan melakukan registrasi di sini, yang akan dikirimkan setiap bulan berisi berbagai update dan tren di dunia keuangan. Jangan sampai ketinggalan berita!
