Kategori
Buku Review

Review Buku Inteligensi Embun Pagi

Inteligensi Embun Pagi ini adalah rangkaian penutup Supernova, sebuah seri buku yang telah berlangsung selama 15 tahun. Bagaimana setiap tokoh akhirnya terhubung? Baca buku ini

Ok, postingan review buku Inteligensi Embun Pagi tulisan Dee Lestari ini sudah ketunda lama banget. Sebelum gw migrasi kemaren sudah sempat ketulis 600 kata postingan, tapi kemudian gw lupa export dan hilanglah itu draft! Jadi mau nulis ulang malesnya minta ampyun. Tapi ada untungnya juga sih ilang, karena gw rasa tulisan itu kepengaruh review yang gw baca sebelumnya. Jadi, review kali buku Inteligensi Embun Pagi gw yang ini rasanya akan lebih objektif. Dan ini adalah review buku pertama tahun ini yang gw tulis sendiri setelah sebelumnya ada guest post tentang buku Bumi Manusia tulisan Nik.

Seperti biasa: SPOILER ALERT IS ON!

Blurb Buku Inteligensi Embun Pagi

Inteligensi Embun Pagi by Dee Lestari

(Disalin dari sinopsis di halaman belakang buku) Setelah mendapatkan petunjuk dari upacara Ayahuasca di Lembah Suci Urubamba, Gio berangkat ke Indonesia. Di Jakarta, dia menemui Dimas dan Reuben. Bersama mereka berusaha menelusuri identitas orang di balik Supernova.

Di Bandung, pertemuan Bodhi dan Elektra mulai memicu ingatan mereka berdua tentang tempat bernama Asko. Sedangkan Zarah, yang pulang ke Desa Batu Luhur setelah sekian lama melanglangbuana, kembali berhadapan dengan misteri hilangnya Firas, ayahnya.

Sementara itu, dalam perjalanan pesawat dari New York menuju Jakarta, teman seperjalanan Alfa yang bernama Kell mengungkapkan sesuatu yang tidak terduga. Dari berbagai lokasi yang berbeda, keterhubungan antara mereka perlahan terkuak. Identitas dan misi mereka akhirnya semakin jelas. Hidup mereka takkan pernah lagi sama.

Review Buku Inteligensi Embun Pagi

Maafkan gw kalo misalkan penilaian gw gak bisa memuaskan kalian atau gak sependapat dengan apa yang teman-teman punya di pikiran ya. 😀

Nonono, bukaaan kok, gw bukan mau bilang di review buku Inteligensi Embun Pagi ini kalo bukunya jelek. Sama sekali nggak. Menurut gw bukunya bagus, cuman gak seperti yang gw harapkan akan bagaimana serial fenomenal Supernova ini berakhir. Dibuka dengan Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh 15 tahun lalu, gw mengharapkan closure yang jauh lebih menimbulkan badai serotonin di otak gw. Kenapa bisa begitu?

Terlalu banyak pemeran dan rangkaian cerita

Dee’s signature

Gw kenal semua karakter yang ditulis di buku ini. Jadi gak masalah sebenernya buat gw baca buku Inteligensi Embun Pagi ini. Gw tumbuh dewasa bareng karakter-karakternya, mulai dari Ruben, Dimas, Diva, Etra, Bodhi, Zara, Alfa, Gio. You name it.

Tapi menurut gw, kehadiran (hampir) semua tokoh di masa lalu gw untuk kemudian mengambil peran di buku ini agak sedikit dipaksakan. Hahaha. Maaf ya Mbak Dee… I love Pak Kas very-very-very much, tapi gak semuanya kayaknya perlu disebutkan.

Penyebutan dan penghadiran kembali tokoh-tokoh dari masa lalu seolah mau bilang kalo setiap sosok yang hadir dalam hidup gw itu penting. Terutama dalam peranannya dengan kesadaran gw sebagai manusia. Jadi jangan sekalipun menganggap remeh orang yang hadir di dalam cerita yang gw tahu.

Tapi sayangnya beberapa tokoh yang gw rasa penting dalam cerita (dan dalam hidup gw) malah sama sekali gak dihadirkan. Yes, Diva dan Rana sama sekali gak ada di cerita ini. Seolah kehadiran mereka yang dulu memporak-porandakan dunia gw 15 tahun yang lalu dihilangkan karena gugusnya gagal dalam misinya.

Well, itu saya pahaaam kok semuanya hak prerogatifnya Mbak Dee… tapi-tapi-tapi beberapa tokoh yang dihadirkan dalam cerita kok ya gak jelas lagi juntrungannya. Bahkan sampe di akhir cerita. Biarlah yang baca cari sendiri tokoh mana itu.

Selain itu, rangkaian kejar-kejaran dalam cerita ini memang seru, memang enak banget diikutin, tapi-tapi-tapi saking cepetnya peralihan dari satu adegan ke adegan lain, satu tokoh ke tokoh lain sempat bikin gw (agak) kehilangan minat sebelum sampe bagian munculnya Toni. Sampe hampir separuh buku ya kalo gak salah itu?

Seolah-olah, Mbak Dee emang sengaja menuntun gw untuk merasa seperti itu untuk kemudian dihadapkan pada kejutan-kejutan baru yang bisa membangkitkan minat baca gw lagi. Well, the first half of the book was felt like a chase themed action book. Halah ribet deh gw.

Kisah Cinta yang Kurang Terasa Tertutupi Humor Segar Tak Terkira

Kalo soal kisah cinta dalam sebuah cerita, buku Inteligensi Embun Pagi ini gw rasa kurang dalam mengeksplorasi kisah cinta yang tumbuh di antara tokoh-tokohnya. Hubungan antara Gio dan Zara mestinya bisa jauh lebih romantis dari sekedar ketertarikan dua peretas yang saling berhubungan. But well, cerita yang satu ini masih dalam taraf yang bisa gw terima dan gw nikmatin. Apa yang dilakukan Gio dan bagaimana interaksinya dia, ibunya, Zara dan yang berkaitan sama kisah cintanya memang cukup manis tapi gak sampe bikin terkesan banget.

Justru yang menurut gw plain banget dan kurang dieksplorasi adalah hubungan antara Dimas dan Ruben yang begitu fenomenalnya di masa 15 tahun yang lalu diangkat sama Mbak Dee sebagai tokoh sentral pembuat cerita KPBJ. Entahlah apa karena Mbak Dee gak mau melibatkan karya (dan dirinya) lebih dalam dalam pertentangan hubungan sejenis atau karena yang lain, gw ngerasa kehadiran Ruben dan Dimas kurang kerasa kuat. Apa ya memang hubungan cinta yang sudah berlangsung lama itu kemudian jadi sekedar bromance? Karena itu sih nuansa yang gw dapet.

Inteligensi Embun Pagi

Untungnya, kisah cinta yang menurut gw kurang ini tertutupi dengan humor segar yang bertaburan di sepanjang buku. Meskipun berat dengan banyaknya tokoh dan pergantian cerita yang lumayan cepet, humor-humor yang disisipkan melalui dialog antara tokohnya serta celetukan-celetukan spontan di sana sini bikin gw menikmati ngebaca keseluruhan cerita. Satu bagian paling epik adalah teriakan Pak Kas di satu momen yang bikin gw ngakak spontan:

“ASUUUU!”

Aselik, di situ gw angkat topi buat Mbak Dee. Belio semakin mantab jadi salah satu penulis favorit gw. 😀

Action Book with (A Bit) Philosophical Twist

Setelah berbagai macam karakter buku antara Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang  Jatuh (KPBJ), gw sendiri mengharapkan buku terakhir yang menutupnya akan penuh dengan perjalanan filosofis. Akan mampu membuat gw untuk kembali memikirkan hidup secara lebih mendalam.

Dan sedikit banyak buku Inteligensi Embun Pagi ini berhasil.

Kalo efek di buku KPBJ ini adalah gw jadi ngerasa ada di dalam jaring-jaring sang Supernova, buku Inteligensi Embun Pagi ini berhasil ngebikin gw mikirin tentang perilaku baik dan karma gw. 😀

Beneran deh, di buku pertamanya, gw ngerasa kayak Ruben dan Dimas yang merasa mereka hanyalah bagian dari sebuah permainan/jaring-jaring yang sudah dirancang oleh sebuah tokoh penuh daya dan kuasa. Efek baca buku KPBJ ini gak hilang bahkan setelah 15 tahun gw baca bukunya. Dan dengan penjelasan gugus penggugah kesadaran untuk terlepas dari siklus kelahiran kembali di buku Inteligensi Embun Pagi ini, gw jadi kepikiran tentang tingkah laku gw selama ini. Selepas baca buku ini, gw sempet tanya-tanya dan ngobrol ama temen gw yang pemeluk Budha dan ceritain konsep cerita di buku ini dan kamipun ngobrol panjang lebar.

Gw suka bagaimana Mbak Dee mengambil konsep tentang siklus kehidupan, reinkarnasi dan segala macamnya untuk kemudian dirangkai jadi satu dalam buku yang mengambil rentang sampai 15 tahun penulisan.

Closure dan Karya Fenomenal

Dengan segala kelebihan dan kekurangan buku Inteligensi Embun Pagi ini, gw berterimakasih banget sama Mbak Dee sudah menghadirkan cerita yang jadi closure buat gw. Penutupan akhir cerita yang dibuat seolah penutup ini adalah awal dari cerita yang baru menurut gw bagus. Gw gak ditinggalkan dengan satu kesimpulan mutlak yang mengebiri kebebasan gw sebagai pembacanya untuk berkelana di dunia Supernova.

Apakah ini akan menjadi awal dari saga yang baru? Gak tahu gw, tapi buat gw buku ini sudah benar-benar jadi penutup Supernova. Sudah menjadi titik pamungkas dari keseluruhan seri yang sudah gw ikutin dari 15 tahun yang lalu dan dunia Supernova akan terus berlanjut di kepala gw. Semoga Mbak Dee tidak tergoda untuk bikin lanjutan ceritanya yang mengambil setting setelah buku Inteligensi Embun Pagi karena itu bakalan jadi antiklimaks buat gw pribadi.

The closure is there and I embrace it.

Dan buku Inteligensi Embun Pagi ini menggenapkan satu rangkaian penuh akan kehadiran sebuah karya fenomenal yang sungguh-sungguh menggambarkan keluasan dunia dalam pikiran, ketajaman analisa dan kedalaman eksplorasi yang dimiliki oleh seorang Dee Lestari. I love the book and I love the whole series. Yah, meskipun paling suka sama buku KPBJ sih yang sayangnya kemudian “agak” dihancurkan oleh filmnya 😀

=======

Jadi buat yang tertarik buat baca buku Inteligensi Embun Pagi ini, gw sarankan secepatnya baca. Terutama buat penggemar serial Supernova dan sudah menunggu-nunggu buku yang menjadi pamungkas keseluruhan rangkaian yang sudah berjalan selama 15 tahun ini.

Yours truly
@danirachmat

51 tanggapan untuk “Review Buku Inteligensi Embun Pagi”

Pertamax rupanya. IEP mmg terasa dipadatkan. Kalau Gio mmg peretas gerbang yg penting knp ga dibikin bukunya sendiri ya? Aneh..Tp so far gw suka kisah terakhir ini krn lbh sreg baca yg seru2 lucu ketimbang bunga2 filosofis yg akhirnya ga ketemu2 jg jwbnnya. Lol. Hidup Wimala bersaudara!

Jadi merasa manusia kudet krn gak baca buku ini dr awal dulu. Kenapa ya? Kok tanganku gak bergerak ngambil buku ini tiap ke toko buku. Padahal dalam sebulan aku bisa banyak beli buku. Skrg baru pgn baca. Jangan2 krn review ini nih >o<

Ahahaha. Makasih Mbak Anne…. 😛
Dulu belom tergerak baca karena belom tamat aja kali Mbak. Ada temen saya yang gitu juga. Belom minat baca karena masih bersambung. Jadi dia gak mau baca dulu. Nunggu sekalian beres.. 😀

Balas

Dari serangkaian buku supernova, aku cuma baca 1 (lupa judulnya), itu pun yg terbit tengah2, dan bukunya ga habis dibaca sampai sekarang.

Kayaknya cuma aku yang adem ayem saat yang lain menghebohkan buku ini. Kadang jadi bertanya2 sendiri, jangan2 ada yang salah Tutup muka

Saya total baca 2 kali buat mencari Diva dan gak ketemu juntrungannya. Yang lebih gila lagi, Gio seakan lepas tangan dan bebas hambatan beralih ke Zarah, seneng sih, tapi alesannya kurang kuat aja, masak iya dicari keliling dunia lantas terima takdir Diva menguap ditelan atmosfir Asko? Gagal klimaks, atau saya yang bodoh luar biasa gak ngerti akhir untuk Diva hahahahaha

Sudah dapat IEP bertandatangan 3 minggu lalu dengan kekuatan nitip Chocky huahaha. Tapi sampai sekarang masih anteng belum dibaca, soalnya Gelombang aja belum selesai2 bacanya haha. Aku khatam baca review IEP sana sini :))) baru kali ini reviewnya agak beda Dan dari sudut pandangmu.

Wah iya ya Den? Pada memuja-muji kah review di sana-sini? Kuakui Dee adalah penulis hebat cuman ya penulis hebat kan kadang juga punya karya yang penerimaannya beda antara satu pembaca dan pembaca lainnya kan? 😀

Balas

Pertama kali baca karyanya dee adalah KPBJ dan langsung jatuh hati. Lanjut Madre dan Partikel yang membuatku habis dalam semalam buat nyelesaiin bacanya. Taapi mulai gelombang dan Intelegensi Embun Pagi (yang udah bikin saya syok duluan lihat ketebalannya), mulai agak tersendat-sendat nih mengumpulkan niat untuk meneruskan membaca. Apalagi setelah pada ngereview dan banyak yang kecewa. Jadi kurang semangat =(

saya kok lospoku. ITu WP review plugin kah? alamakjaaanggggggg makin semangat bikin review

Ish pediiittt bintang plotnya hihihhi *digiles

Tapi overall sih saya suka buku ini, bacanya sehari dan baca lagi hahahhaha 😀

Teteup deh saya mah The Chen-Doll team! 😀

Menurutmu apa semua buku2 Dee ini akan difilmkan? Siapa yang paling cocok memerankan Gio? 😉

pertanyaan anti mainstream

Eaaaaa. Pas baca buku ini diriku selalu teringat-ingat dirimu Mas. Hahahaha. Orang pertama bernama Gio yang kukenal. Kalo siapa yang memerankan sih agak susah ya. Dirimu ajalah. ?

Balas

Soal Rueben-Dimas itu Dan, mungkin kebijakan penerbit ya, konon katanya BP nggak ngebolehin adegan kissing atau pembunuhan brutal, sempet tau dari seorang penulis, “sekaleng bir” di naskahnya mesti diganti jadi “softdrink” lho hehehe.

baru pertama review bukuintelgensia embun pagi..
kini aku mah jarang baca novel mas….

pengen meluangkan waktu baut baca lagi tapi motivasi malas selalu ada 😀

Walaupun Novel KPBJ terkesan “agak” dihancurkan oleh filmnya (JUJUR MENGAKUI ITU SEPARUH BENAR), namun bagi saya personal, untuk karakter Reuben dan Dimas, Arifin Putra dan Hamish Daud keren sekali memerankan kedua tokoh super filosofis, saintifik, dan intelektual itu. Baik Arifin maupun Hamish menurut saya cukup sukses membawakan diskusi-dikusi akbar Reuben-Dimas. SAYANGNYA, SUNIL SORAYA SEDIKIT SEKALI MENEMPELKAN DIALOG REUBEN, DIMAS, BAHKAN DIVA. YANG DIPERBANYAK MALAH KISAH ANTARA FERRE-RANA-ARWIN. PADAHAL YANG MEMBUAT KPBJ BERBEDA DARI BUKU FIKSI ILMIAH LAINNYA ADALAH BERKAT KONTRIBUSI REUBEN-DIMAS-DIVA. Huh, itu saja sih yang saya kecewakan dari adaptasi layar lebarnya.

Halo, kak
Permisi, salam kenal, nama saya Eka Nur’Aini
mahasiswa semester 8 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang angkatan tahun 2014.
semester ini saya mengambil mata kuliah skripsi dimana bahan kajian saya adalah resepsi pembaca terhadap novel Intelegensi Embun Pagi karya Dewi Lestari.
saya memohon ijin menggunakan ulasan anda untuk dijadikan data dalam skripsi saya, selain itu saya juga meminta tolong kepada saudara semoga berkenan mengisi data berikut sebagai bahan tambahan untuk skripsi saya.

Nama (memohon semoga dapat diisi dengan nama asli, walaupun sekedar nama panggilannya):
usia:
jenis kelamin
pendidikan terakhir:
pekerjaan:
pengalaman buku bacaan (novel atau buku sastra):
asal daerah:

pesan ini saya buat dengan sejujurnya dan semoga niat baik ini juga dapat ditanggapi dengan baik. saya mohon maaf jika mengganggu dan ada yang salah, serta berterima kasih atas perhatiannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *