Kategori
Blogging Things Fragment Postingan Tamu

Kenalan dengan Profesi Content Writer, Yuk!

Profesi Content Writer bisa jadi belum terlalu umum diketahui. Postingan ini berisi seluk beluk tentang profesi content writer. Udah pada tahu belom? Guest Post pertama di blog ini nih

Postingan ini adalah tulisan penulis tamu Mbak Carolina Ratri atau yang sudah dikenal dengan Red Carra. Suatu kehormatan buat gw bisa mempublikasikan tulisan beliau tentang profesi content writer di blog ini.
===

Apa sih profesi content writer?

Kok kayaknya ngehits banget akhir-akhir ini? Atau saya aja yang baru tahu dan baru tertarik ya? Hahaha. Mungkin. Bisa jadi begitu. Jujur saja, ini hal baru buat saya dan kemudian membuat saya penasaran, dan ingin tahu lebih jauh.

Nah, kalau content writer kan kayaknya orangnya nih. Kita lihat dulu deh yuk, ke aktivitasnya yaitu content writing. Jadi apa itu content writing?

Menurut wikipedia sih begini.

A website content writer or web content writer is a person who specializes in providing relevant content for websites. Every website has a specific target audience and requires a different type and level of content. Content should contain words (key words) that attract and retain users on a website.

Kalau boleh diterjemahkan secara bebas, seorang content writer, atau lebih tepatnya, seorang web content writer adalah orang yang menulis konten-konten yang relevan untuk keperluan ditampilkan di website-website. Setiap website mempunyai target pembaca masing-masing dan memerlukan konten yang sesuai dengan target pembaca tersebut. Sebuah konten harus berisi hal-hal yang mampu menarik pembaca untuk mengunjungi website tertentu.

Jadi kalau dari pengertian content writer di atas, content writing bisa diartikan sebagai proses penulisan artikel dengan konten yang isinya disesuaikan dengan target pembaca tertentu dari sebuah website tertentu.

Perbedaan Content Writer dan Blogger

Jadi apa bedanya  mengerjakan content writing dengan blogging? Ada beberapa, CMIIW ya. Koreksi kalau ada yang kurang tepat, boleh ditambahin juga kalau kurang akurat 😉

Sudut pandang penulisan
Content writer menulis dari sudut pandang orang ketiga, sedangkan seorang blogger akan menulis dari sudut pandang orang pertama. Sebuah artikel yang ditulis oleh seorang content writer untuk website tertentu, tidak akan menyebut “aku” di sepanjang artikelnya. Sedangkan seorang penulis yang sedang menulis untuk blog, terutama blog pribadi, bisa menyebut mengenai diri sendiri dalam artikelnya, “saya” atau “aku”.
Titik berat isi tulisan
Poin satu di atas terjadi karena blogging cenderung mengungkapkan opini ataupun insight pribadi terhadap masalah tertentu yang dibahas dalam artikelnya. Sedangkan seorang content writer lebih menitikberatkan pada data, statistik ataupun bukti faktual lain, dan kemudian menyajikannya pada pembaca melalui sudut pandang seorang “ahli”. Mengapa saya kasih tanda petik dalam kata ahli? Karena bisa saja sih yang nulis belum ahli-ahli amat, tapi karena didasarkan pada data dan statistik yang bebas opini pribadi itu, tulisannya jadi ‘terdengar’ seperti kata seorang ‘ahli’.
Tone penyuaraan isi tulisan
Tulisan artikel content writer lebih bernada ‘umum’, ketimbang tulisan dalam blog yang bernada ‘personal’. Kalau mau lihat tulisan-tulisan content writer, bisa mencari di web-web portal semacam femaledaily, liputan6, dan lain-lain. Meski sekarang yang lagi ngehits adalah web portal UGC (User Generated Content) –mengenai ini, nanti saya tulis lain waktu- tapi coba lihat dengan blog-blog yang dimiliki oleh para blogger. Tone-nya pasti berbeda. Artikel di web-web portal tersebut mempunyai sudut pandang yang lebih besar, ketimbang blog yang sangat personal.
Inspiring Content

Nah, itulah keistimewaan seorang content writer.

Mereka bisa menulis sebagai jurnalis, sebagai copywriter, sebagai blogger dan masih banyak lagi. Jadi seorang blogger bisa disebut sebagai content writer? Bisa dong. Kan nulis di blog juga kan nulis konten. Kamu fokus ke konten kan di blog? Atau enggak? Ehehehe. Kalau fokus ke konten, iya, kamu mungkin juga bisa disebut content writer. Barangkali sebentar lagi kamu juga akan ditawari untuk menulis di web lain. Uhuk. Tunggu aja. 😀

Tertarik menjadi seorang content writer? Saya juga. Lah.

Keuntungan menjadi content writer

Berikut beberapa keuntungan menjadi content writer

1. Tulisannya bisa menyebar lebih luas.

Inilah yang biasanya menjadi alasan pertama seorang blogger yang menggeser target menjadi seorang content writer. You know-lah, kalau hanya nulis di blog sendiri kan rasanya cuma ‘jualan di rumah sendiri’ aja kan? Tapi kalau bisa menulis di web lain, apalagi kalau kemudian ada backlink ke blog pribadi, berarti tulisan kita berkesempatan untuk bisa dibaca oleh banyak orang J Iya nggak? Bener nggak tuh, logika saya? Jadi, cyinnn, kita bisa lebih eksis gitu sebagai blogger. Eciyehhh.

2. Menambah pendapatan.

Nah, ada juga content writer yang nggak boleh eksis. Ada. Content-content writer ini disebut sebagai ghost writer. Mereka diminta oleh website tertentu untuk menulis artikel, namun seolah-olah pengurus website itulah yang menulis. Jadi nggak ada kredit untuk si penulis aslinya. Istilahnya, artikelnya dibeli putus. Ya, kalau yang jenis ini sih biasanya buat mendapatkan penghasilan, bukan lagi untuk tujuan eksis. Tapi kalau disebutin, dengan menjadi content writer kita bisa mendapatkan penghasilan dengan mudah sih itu juga nggak bener. Menjadi seorang content writer itu butuh perjuangan juga, vroh. Nggak gampang. Seenggaknya sependek pengalaman saya, seorang content writer harus bisa menulis beberapa artikel sekaligus dalam sehari. Ada bahkan yang minta 10 artikel sekaligus per hari. Jadi, mudah? Nggak sama sekali.

Nah, tertarik untuk menjadi seorang content writer?

Ayo deh, belajar menulis dan membuat konten yang bermanfaat sama-sama J So, mungkin next saya akan bikin summary mengenai apa yang saya dapatkan saat saya menelusuri apa saja hal-hal yang perlu dipelajari untuk menjadi seorang content writer ‘beneran’. Haha.

Sampai ketemu lagi di tulisan lain berikutnya, ya!

Tulisan Yuk Kenalan dengan Profesi Content Writer ini ditulis oleh Carolina Ratri
Blog: RedCarra.com
Twitter: @CarolinaRatri

109 tanggapan untuk “Kenalan dengan Profesi Content Writer, Yuk!”

Yayayyyy. Tayang 😀
Terima kasih udah mau nampung hasil penelusuranku 😀
Semoga bisa bermanfaat!

Saya yang terimakasih banget Mbak Carra. Jadi ada pengalaman baru. 😀

Balas

Iya bener, memang berat jadi CW 🙂 Terutama bagi waktu dengan tugas-tugas rutinitas yang lain.

Dan, kalo aku rada beda, nih. Aku pernah jadi content writer untuk beberapa website parenting. Semuanya pakai sudut pandang orang pertama alias aku. Gaya bahasanya juga santai dan menceritakan pengalaman pribadi tanpa bersifat menggurui. Lebih baik lagi jika kami sekalian mengambil pendapat para ahli untuk memperkuat tulisan kami. Mungkin karena website parenting kali ya, Dan. Jadi ga harus pakai sudut pandang orang ketiga dan berbasis pendapat ahli semua.

Halo, Bun Haya 😀
Iya, aku sama Bun Haya pernah sama-sama isi konten untuk sebuah website parenting (sayangnya, webnya sekarang udah almarhum yah). Memang T&C dari pemilik web adalah kita diharuskan memakai PoV pertama, jadi lebih ke sharing pengalaman pribadi.
Ya, memang tergantung juga sih sama masing-masing pemilik yah. Mereka yang punya web, jadi ya kita yang harus menyesuaikan sama maunya mereka ^^

Makasih Mbak Hayaaa. Tergantung cerita dan konten yang mau diangkat memang ya Mbak. Yang pernah saaya alami malah gak boleh sama sekali mengandung unsur opini di dalamnya Mbak. Jadi bener-bener present data dan fakta. Itu susyeeeeh. Hahaha.

Balas

Saya penulis konten website dari tahun 2009. Rata-rata temanya Travel. Sampai sekarang juga masih jadi content writer. Memang menyenangkan karena bekerjanya tidak berbatas waktu dan ruang. Yang penting pas tanggal deadlinenya ya setor pekerjaannya.
Sekarang banyak situs pencari content writer. Dulu saya daftar masukin CV ke tiap website yang saya kunjungi. Lumayan ada yang nyangkut 😀
Dulu pembayarannya masih murah 😀 sekarang? tambah murah hahaha 😀 Makin banyak orang yg muncul dgn profesi ini, tarifnya juga terbawa murah. Sama kayak HP, makin banyak yg make harganya makin terjangkau. Tapi beberapa website yang dibangun secara serius dan kontennya juga serius (misalnya politik, lingkungan) bayarannya mahal. Kayak Iphone gitu, tetep aja mahal walo yg make juga banyak. Ya paling gak relatif lebih tinggi dibanding travel atau kuliner lah kira-kira. Ini mah menurut pengalaman saya. Karena saya ‘dibayar lebih baik’untuk mengerjakan artikel di website lingkungan daripada website2 travel yg pernah menyewa jasa saya.
Jadi sebenernya profesi Blogger yang dipakai untuk menulis artikel jauh lebih mahal daripada profesi Content Writer yg nulis.
Ini mah pendapat aja yak, Kang Dani. Berdasarkan pengalaman hehehe.

Betul. Untuk beberapa web memang membayar artikel dari kita dengan murah. Banget. Apalagi kalau kita masuknya melalui semacam “agen penyedia jasa”. Murahnya kadang kebangetan.
Saya pribadi sih, biasanya dapat job karena networking. Dan semuanya berawal dari blog. Bayarannya? Ya, ada sih yang tetep nggak seberapa, tapi lumayan untuk menambah panjang portfolio. Tapi nggak kurang juga yang lumayan banget, melebihi postingan di blog sendiri 😉
Kalau sependek pengamatan dan pengalaman sih, biasanya web yang punya niche khusus atau target pembaca yang spesifik dengan nama merek yang dibranding secara serius, mau membayar content/copywriter dengan cukup layak 🙂
Tapi bisa nemu di mana, nah, itu masih menjadi misteri. Karena kadang ya kayak rezeki nomplok gitu, jatuhnya nggak bisa ditebak hehe.

Wuiih berarti branding kuat itu penting banget ya Mbak. Ngelanjutin obrolan WA kemaren jadinya. Yasutra sayah berniat banget buat najemin topik itu. Makasih tambahan ilmunya Mbak.. 😀

Balas

Setuju banget sama Mba Carra. Emang ketemu dgn website yg mau bayar mahal tuh misteri banget hahahaha. Nah job yg dateng dari networking malah feenya lebih manusiawi. Kalo via web2 kayak sribulancer.com atau sejenisnya itu malah fee buruh pabrik. Kadang2 tarifnya kurang ajar sih, murah banget utk pekerjaan yang seabrek. Dikata nulis 500-1000 kata gampang, dibayarnya 10ribu perak, 20ribu perak. Ya ampun…Masalahnya ada yg mau ngerjainnya. sebel juga lihatnya 😀 kok mau sih dbayar murah. Biasanya mah newbie yg ngerjain beginian, milih murah, atau emang kepepet butuh dlm wkt cepet. Saya pernah ada di fase ini waktu lagi butuh duit. Everything i do lah. Tapi masalahnya mau sampe kapan…
Jadi ujung2nya kita emang harus memperluas jaringan. Pekerjaan yang saya dapat, semuanya dari jalur pertemanan. Honornya bikin seneng 😀 Perkuat juga gaya menulisnya. Branding di satu niche yg sama juga buat saya penting banget. Tapi gaya menulisnya juga lebih penting. Kalo kata Mba Haya, kita harus bisa naro roh dalam tulisan. Mas Dani tulisannya bagus2 je, saya suka bacanya. Bentar lagi pasti berdatangan job-job menulis 😀 lebih banyak dr yg sekarang didapat. Amin. Hehehe

Wuaaaah. Makadih banyak Mbak Ulu. Jadi tahu lebih banyak deh tentang content writing ini dari komennya njenengan. Bener juga ya, meskipun awalnya mahal kalo banyak tenaga yang bisa jualan jasa content writing jadinya malah murah ya. Hukum supply and demand berlaku.
Baca komennya Mbak Ulu sama balesan dari Mbak Carra beneran bikin melek.

Balas

Maturnuwun Pak Dhe tambahan informasinya. Saya baru tahu kalau blogger pun bisa order tulisan. Terimakasih banyak dan salam hangat dari serpong nggih. 🙂

Balas

Kayaknya asyik jadi CW. Tapi kudu ‘pinter’ sih ya, terutama tentang gaya hidup, ekonomi, politik, hobi, dan teknologi yang banyak dicari.

boleh juga nih jadi CW…saat ini kan detik2 resign..mantap deh jadi CW..makasih infonya mas Dan dan mbak RedCarra

bener banget mbak cara, denger-denger gak mudah jadi content writer itu. temen saya yg udah jadi content writer sejak 2013, sempet pindah-pindah website juga. sehari harus nulis minimal 8 artikel katanya. gile aja kan.. diuber-uber tagihan tulisan tiap dini hari, boro-boro sempet membaca, padahal penulis itu butuh vitamin bacaan, kan. well, akhirnya dia seringnya menyadur sih alias copas dengan sedikit modifikasi 🙁 yang penting dapet penghasilan katanya.

kaya nya seru ya profesi CW ini…
jd penulis ini sebenarnya cita2 terpendam..iya dan kaya’nya terlalu dalam terpendamnya..hahaha
kalo dulu hobi banget nulis, dari jaman di buku, di komp/word sampai akhirnya bikin blog. cuma makin ke sini kok berasa semangatnya makin hilang..ide di kepala banyak yg pengen ditulis, tapi kok rasanya nyari waktu luang buat anteng nulis ini yg makin langka… 🙁

Paham banget Ra kondisinya. Kalo gw mah sekalian aja nyuri waktu di angkot, toilet, di mana aja. Hihihi. Paling sering tidur bareng anak lebih cepet bangun lebih pagi aja.

Balas

Lagi hot topic neh soal content writer.
Br beberapa hari lalu, obrolan di grup nyasar ke content writer. Dan dimarih…dibahas lebih jelas lagi ttg apa, bagaiman utk jd CW.
Asli sih, tertarik utk bisa menjadi CW…tapi so far, masih berada di level blogger moody.

Ohhh aku baru paham tentang Content Writer ini. Pengetahuan baru buatku nih Dan. Seru yaa. Aku hobi sih nulis, tapi kalo nulis dikejar deadline jadi trauma sama tesis hahaha itu menulis yang sampai terjengkang2 saking kejar2an sama deadline :))

Masama Den. Aku yo baru ngerti lengkap gegara postingane Mbak Carra ini. Hihihi. Ngerti kok rasane nulis dikejar deadline. 😀

Balas

Sepertinya menarik mas? tetapi kemampuannya masih terbatas. Apalagi sehari sampai 10 Artikel……

Menarik ulasannya.. Temenku juga ada tuh, sehri sampe 10 tulisan, bahasa Inggris pulak. Tapi kalu aku ngga kukuuuu. Aku aja yang pernah kerja ngisi konten socmed, sehari lima udah mabok rasanya, padahal nulisnya lebih pendek >.<

Menarik nih Mas Dani… jadi pengen juga bergeser ke profesi ini… tapiiiii itu 10 postingan per hari, langsung melipir ganteng sambil melambaikan tangan ke Kamera… hahahah

Saya pernah jadi content writer. Ternyata buat saya enakan jadi blogger, sih. Karena suka gregetan gak bisa masukin unsur ‘aku’ hahaha. Tapi, kalau ada tawaran lagi dan cocok, gak akan ditolak juga 😀

Terimakaih mba cara, mas deni. Tulisannya sangat bermanfaat. Semoga bisa semangat menulis lagi, syukur-syukur bisa freelance juga. ^_^

Saya rasa kapasitas otak akan semakin berkembang Mbak Molly, dan semakin terbiasa untuk menulis kalo sehari sampai 10 artikel. Iya, memng profesi content writer itu sangat berkembang sekarang. 😀

Balas

Sebelumnya kenalkan kakak, nama saya Ara. Saya umur 17th dan baru saja kelulusan MAN. Saya mau tanya gimana sih caranya biar bisa jadi Content Writer gitu? Jujur saya baru mengenal apa itu CW dan saya tertarik. Tolong di jawab kak, terima kasih.

Halo Ara. Terus terang saya juga tidak bisa menjawab banyak karena postingan ini adalah postingan dari Mbak Carolina Ratri. Beliau adalahh content writer handal (mungkin yang paling handal yang saya kenal).
Untuk belajar dari Mbak Carolina Ratri ini, silahkan berkunjung ke blognya beliau di http://www.carolinaratri.com dan juga tulisan Mbak Carolina Ratri di website-website lain. Bisa di Google kok 🙂

Balas

Wah, ini … gara-gara kemarin ada yang bisik-bisik mau niat melamar daku jadi CW-nya, jadilah nyasar di mari hehehe. Lebih tercerahkan soal jobdesc, cuma kalau mengingat honornya itu lhoo…
Yaa, semoga besok pas beneran dipekerjakan ((pekerja euy!)), dapatlah nilai yang manusiawi.
Terima kasih sudah membuatku nyasar di sini, Kang Dani n Mbak Ra. Sukses selalu! 😀

Tentu saja content writing di website sendiri akan lebih asik karena kita bebas melakukannya, tapi CW di blog dan web lain akan meningkatkan eksposur kita. 🙂

Balas

Wah, saya jadi tau mengenai profesi content writer. Kalau ada yang menawari, mungkinkah peeusahaan tersebut bersedia menyesuaikan dengan kita bisanya berapa artikel dan DL nya? Menguntungkan banget ya jika di web tsb nama blog kita ada? Jadi pembaca juga bisa berkunjung ke blog pribadi gitu. Makasih ?

Kalau untuk perusahaan bersedia atau tidaknya akan sangat bergantung seberapa tinggi posisi tawar kita sebenarnya. Kalo misalkan kita bagus banget, pasti akan ada kelebihan posisi tawar kita. Blog atas nama kita memang akan sangat menguntungkan. 🙂

Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *