Kategori
Perencanaan Keuangan

Kondisi Keuangan di Usia 20 – 30 Tahun yang Saya Sesali

Ya, kalau dulu di saat saya masih usia 20 – 30 tahun sudah ada media sosial seperti sekarang, mungkin kondisi keuangan saya agak berbeda. Eh ya tapi nggak tahu juga sih, karena merely di usia segitu, saya masih belum mikirin duit banget-banget.

Disclaimer dulu: Artikel ini bukan ditulis oleh Dani Rachmat.

A Real Fresh Graduate

Saya mulai kerja di usia 24 tahun, setelah sekitar 3 bulan menganggur habis wisuda. Itu juga karena saya sudah risih ditanyain terus, sudah sempat melamar ke mana saja? Yaqinlah, saya sudah melamar sana-sini, tapi kayaknya pada nggak percaya saya sudah kirim surat-surat lamaran itu. Padahal, pas saya membawa tumpukan amplop besar berwarna cokelat itu, semua kayaknya juga lihat.

Saya bukan tipe yang terlalu nafsu menjalani hidup. Saya lebih suka enjoying the flow. Saat kuliah, ya saya full focus kuliah, sementara teman-teman yang lain pada mroyek, pada jadi asisten dosen. Saya nggak melakukan seperti yang mereka lakukan, simply just because I don’t want to. Akhirnya, saya pun lulus bener-bener sebagai fresh graduate, yang bener-bener seger. Nol pengalaman.

Ya untunglah saya “cuma” sempat nganggur 3 bulan. Itu pun saya dapat kerjaan di kota domisili juga. Saya enggak ke Jakarta, mengejar mimpi, seperti halnya teman-teman yang lain.

Mungkin … mungkin lo ya, kalau dulu saya sudah “sepintar” sekarang, barangkali saya sudah bisa bebas finansial sekarang. Hahaha. Sumpah deh, pede banget.

Baiklah, saya akan ceritakan beberapa hal yang saya sesali terjadi terkait kondisi keuangan saya di usia 20 – 30 tahun, yang seandainya dulu tidak saya lakukan, kondisi saya sekarang akan lebih baik. Bukan berarti kondisi keuangan saya sekarang kurang baik loh ya, tapi mungkin akan jauh lebih baik lagi, jika hal-hal ini enggak saya lakukan dulu.

Kembali ke atas

Paycheck to Paycheck

Sebagai pekerja yang tinggal di daerah yang UMRnya merupakan salah satu yang terendah se-Indonesia Raya, pastinya kamu bisa membayangkan berapa banyak gaji pertama saya. Itu saja masih dipotong beberapa bulan karena probasi. Jadi saya terima gaji pertama itu sebesar 85% saja. Baru 3 bulan kemudian, saya bisa terima 100%, dan itu pun enggak menyentuh angka 1 juta.

Dan, seperti yang bisa diduga, gaji pertama langsung ludes. Kondisi keuangan yang lazim banget buat para pekerja newbie, kan ya?

Tanpa bisa mengambil pelajaran, hidup selanjutnya hanya paycheck to paycheck. Gaji keluar masuk, cuma mampir di rekening. Apalagi perusahaan pertama saya itu termasuk cukup “pelit” ngasih bonus.

Waktu itu sih ya saya pikir, mau ngapain sih? Orang masih serumah sama Ibuk juga. Saya juga masih dapat uang saku dari kedua abang saya. Memang setelah Bapak nggak ada, mereka berjanji akan menggantikan peran Bapak buat saya. Dan, janji memang terpenuhi.

So, nggak tahu deh, duit kepakai buat apa saja. Padahal usia 24 – 25 tahun itu saya masih jomlo banget. Single fighter ke mana-mana. Habis buat apa dong kalau gitu?

Saya inget banget, kebanyakan habis buat yang berikut ini.

Kembali ke atas

Terlalu Sayang sama Mobil Butut

Saya dulu “dihadiahi” sebuah mobil tua merek Honda yang ketika sampai di tangan saya saja umurnya sudah 20 tahun. Jadi mobil itu sama saya sebaya.

So, tahu sendirilah, perawatan mobil tua itu kayak apa. Saban bulan masuk bengkel. Asuransi? Boro-boro. Selain saya juga belum kenal asuransi, memangnya perusahaan asuransi mana coba yang mau acc pengajuan untuk mobil setua itu?

Cuma ya, nggak tahu kenapa, saya sayang beud sama mobil itu. Akhirnya, meski bikin dompet jebol dan sampai-sampai saya nggak punya tabungan, ya saya jabanin aja itu pakai mobil butut.

Karena duit terlalu banyak lari ke mobil, akhirnya …

Kembali ke atas

Pasrah, Tapi Juga Nggak Punya Utang

Saya pasrah aja gitu. Apalagi tahunya cari duit itu ya cuma dengan kerja kantoran. Waktu itu juga belum kayak sekarang, yang asal kita punya barang, kita juga bisa dagang di online. Internet aja masih pakai telepon, yang kalau nyambung masih berisik banget suaranya itu.

Meskipun saya sudah akrab banget, ya tapi nggak kepikiran buat cari duit dari internet.

Merasa nggak pernah punya duit, membuat saya pasrah dan “terlatih” untuk menekan keinginan-keinginan saya. Hasilnya, saya nggak pernah punya utang. Akhirnya, saya nggak kepenginan. Bodo amat orang lain pada punya gadget canggih. Kalau gadget saya masih bisa dipakai, ya akan saya pakai sampai benar-benar rusak.

Ini mungkin bisa dilihat sebagai hal bagus sih, karena sampai sekarang pun saya perhitungan banget kalau mau ambil pinjaman. Sudah waktunya mencicil, kalau enggak segera dicicil, rasanya ada yang ganggu banget di pikiran.

Sisi lain, ya saya jadi enggak pernah punya cita-cita apa pun. Padahal kadang utang diperlukan sebagai leveraging. Ilmu ini juga baru saya pelajari sekarang.

So, apakah kondisi keuangan yang ini patut disesali? Ya dan tidak.

Kembali ke atas

Investasi? Malah Dapat Investasi Bodong

Waktu itu saya juga pernah belajar, bahwa investasi akan bagus buat menolong kondisi keuangan kita. Tapi, lagi-lagi, waktu itu produk investasi belum seperti sekarang. Ilmu keuangan pun belum bisa didapatkan dengan mudah.

Alhasil, alih-alih untung malah buntung. Penginnya coba-coba investasi, malah kena investasi bodong. Saya nggak akan cerita sekarang sih. Ntar aja di artikel yang lain, karena bakalan curhat panjaaang …

Kerugiannya ya lumanyun banget. Bikin kondisi keuangan kayak kena tsunami. Apalagi buat saya yang gajinya juga cetek. Nggak tanggung-tanggung sih, seluruh keluarga juga kena. Karena Ibuk dan kedua abang saya juga ikut-ikutan investasi.

Kalau inget rasanya masih nyesek loh, sampai sekarang. Tapi ya untunglah (?), untuk yang satu ini, saya bisa mengambil pelajaran yang cukup keras. Saya nggak mau sembarangan lagi naruh dana.

Saking kerasnya, bahkan, saya nggak berani lagi menyentuh investasi.

Setelah belajar bertahun-tahun, saya juga maju mundur cantik aja untuk investasi lagi. Baru setelah kenal dan “diracuni” selama setahun sama pemilik blog ini, akhirnya saya bisa beneran investasi lagi. Baru beberapa tahunan kali ya. Tapi so far, saya cukup puas dengan perkembangannya. Heuheuheu. Makasih yaaa, junjungan!

Kembali ke atas

Kesimpulan

Itulah kondisi keuangan saya di usia 20 – 30 tahun yang (sebenernya) saya sesali sekarang. But yeah, kita semua memang belajar dari kesalahan, bukan? Dan barangkali, kalau dulu nggak melakukan kesalahan-kesalahan itu, siapa yang bisa jamin juga hidup saya kayak sekarang ini?

Eh, mbulet nggak sih? Semoga sih enggak ya. LOL.

So, semoga bisa diambil hikmahnya ya. Yang pasti, kondisi zaman dulu memang beda. Nah, mumpung sekarang semua sudah lebih mudah, seharusnya sih kamu nggak kesulitan mengatur uang. Nasihatnya cuma satu: jangan sia-siakan waktu.

Itu aja.

4 tanggapan untuk “Kondisi Keuangan di Usia 20 – 30 Tahun yang Saya Sesali”

Ambil hikmahnya ya kak. Semoga kita bisa lebih pandai dalam mengatur keuangan. Sebenarnya sih susah-susah gampang. Banyak kok artikel tips mengelola keuangan yang baik. Kita bisa mulai menerapkan setelah mempelajari berbagai cara mengelola keuangan ayang baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *