Saat artikel ini ditulis, IHSG masih bergerak di zona merah dan berada di level 5.745. Penurunan tersebut memperpanjang periode pelemahan yang sudah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Jadi, membeli saham di tengah kondisi seperti sekarang? Hmmm ….
Ada yang mungkin memilih menunggu sampai situasi lebih tenang. Sebagian yang lain mungkin masih ada yang mencari peluang.
Eh, emang masih ada orang yang beli saham di kondisi kayak sekarang?
Emang, Siapa yang Masih Mau Membeli Saham in This Economy?
Masih banyak orang tetap membeli saham di tengah kejatuhan pasar saat ini. Siapa saja mereka?
1. Value Investor Jangka Panjang
Ini sepertinya sudah rahasia umum sih. Kalau harga saham turun cukup dalam, investor dengan gaya value investing sering melihatnya sebagai peluang yang berbeda.
Mereka mencari perusahaan yang bisnisnya masih sehat, laba tetap tumbuh, dan posisi keuangannya kuat, tetapi harga sahamnya ikut tertekan karena sentimen pasar. Bagi mereka, penurunan harga dianggap sebagai kesempatan untuk membeli aset yang sama dengan harga lebih murah. Fokus mereka bukan kondisi pasar beberapa bulan ke depan, melainkan potensi pertumbuhan perusahaan dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.
Baca juga: Hal Keuangan Apa Saja yang Harus Segera Dipersiapkan untuk Masuk Masa Krisis?
2. Pengelola Dana Pasif
Di tengah pelemahan pasar, aktivitas membeli saham juga tetap datang dari pengelola dana pasif atau passive fund manager. Karena ya sudah jadi tugas mereka untuk mengelola dana kan? Ketika kondisi pasar berubah, ya mereka perlu melakukan penyesuaian portofolio. Seenggaknya kalo merah, ya enggak nangis-nangis amat. Minimal.
Menjelang agenda MSCI Rebalancing maupun review indeks global lainnya pada bulan Juni, transaksi pembelian dan penjualan saham tetap dilakukan sesuai komposisi yang sudah ditentukan. Jadi, keputusan mereka lebih banyak dipengaruhi aturan pengelolaan dana daripada sentimen pasar harian.
3. Investor DCA
Ada pula investor yang tetap menjalankan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) tanpa mengubah rencana investasnya. Setiap bulan mereka menyisihkan dana dalam jumlah tertentu untuk membeli saham atau instrumen investasi yang dipilih. Saat harga turun, dana yang sama bisa memperoleh lebih banyak saham. Saat harga naik, jumlah saham yang didapat memang lebih sedikit, tetapi proses investasinya tetap berjalan.
Strategi ini digunakan untuk mengurangi risiko salah menentukan waktu masuk pasar sekaligus membangun portofolio secara bertahap dalam jangka panjang.
So, Mau Membeli Saham in This Economy? Ini Pertimbangannya
Ha? Mau beli saham di situasi begini? Ya, kenapa enggak? Tapi memang butuh pertimbangan yang cukup panjang, ges. Karena sejujurnya, jawabannya tergantung apa yang dibeli dan seberapa panjang horizon investasinya.
Kalau pertanyaannya, “Apakah sekarang waktu yang bagus untuk membeli saham Indonesia secara umum?”
Jawabannya ya, pastinya akan lebih menarik dibanding saat IHSG masih di 7.500–8.000. Ini juga tanpa melihat latar belakang kenapa terkoreksi, pun enggak bisa disebut kondisi yang nyaman.
Ada beberapa alasan, di antaranya:
- Valuasi banyak saham memang sudah jauh lebih murah dibanding puncaknya.
- Sentimen pasar sedang buruk, dan sejarah menunjukkan peluang terbaik sering muncul ketika mayoritas investor pesimis.
Namun sumber masalahnya belum sepenuhnya selesai. Rupiah masih lemah, pertumbuhan ekonomi melambat, kepercayaan investor terhadap arah kebijakan pemerintah sedang diuji, dan dana asing masih cenderung keluar.
Artinya, saat ini lebih mirip fase “mulai mengoleksi secara bertahap” daripada “all in besar-besaran.” Kalau kita melihat situasi dari sudut pandang investor jangka panjang 5–10 tahun, maka iya, boleh saja kalau mau membeli saham. Tapi, lakukan pertimbangan berikut.
1. Harga Sudah Jauh Turun, tetapi Belum Semua Risiko Hilang
Salah satu alasan terkuat investor yang mau membeli saham di situasi begini adalah mirip-mirip kayak kita kalau lagi ada sale atau diskon. Banyak harga saham sudah terkoreksi cukup dalam, sehingga valuasi sejumlah emiten menjadi lebih menarik dibanding saat pasar berada di puncaknya.
Namun, perlu juga melihat latar belakang penyebab penurunan saat ini. Rupiah masih berada di bawah tekanan, arus dana asing belum stabil, dan pasar masih terus menilai dampak berbagai kebijakan ekonomi yang sedang berjalan.
Jadi, membeli saham sekarang lebih cocok dilihat sebagai upaya mencari peluang di tengah ketidakpastian, bukan berburu keuntungan cepat.
2. Menunggu Situasi Sempurna Bisa Membuat Kehilangan Momentum
Banyak investor memilih menunggu sampai kondisi ekonomi benar-benar membaik sebelum masuk ke pasar. Ya, enggak apa juga.
Masalahnya, pasar saham sering bergerak lebih dulu sebelum perbaikan ekonomi kelihatan jelas. Ketika sentimen mulai pulih dan kepercayaan investor kembali meningkat, harga saham bisa jadi sudah naik duluan.
Karena itu, masih banyak orang yang tetap mengoleksi saham saat kondisi masih kurang nyaman. Mereka sadar bahwa titik terendah pasar hampir selalu baru diketahui setelah semuanya berlalu.
3. Membeli Saham Bertahap
Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak kayak sekarang, membeli saham mendingan bertahap saja. Strategi kayak gini akan memberi ruang buat kita gerak sedikit lagi kalau-kalau pasar masih melanjutkan pelemahan dalam beberapa bulan ke depan.
Selain mengurangi risiko salah timing, cara ini juga membantu menjaga emosi ketika pergerakan pasar masih sulit diprediksi dari hari ke hari.
4. Fokus pada Kualitas Emiten
Saat pasar sedang tertekan, hampir semua saham bisa ikut turun. Namun enggak semua perusahaan memiliki kemampuan yang sama untuk menghadapi periode sulit.
Ada emiten yang tetap mencatat laba stabil, memiliki kas yang kuat, dan mampu menjaga bisnisnya tetap berjalan meskipun kondisi ekonomi kurang mendukung. Ada pula yang menghadapi tekanan lebih besar karena utang tinggi atau bisnisnya sedang melambat.
Jadi, memang kita kudu analisis lebih teliti lagi. Dalam situasi seperti sekarang, kualitas perusahaan jadi faktor yang lebih penting dibanding besarnya penurunan harga saham.
5. Saham yang Turun Paling Dalam Belum Tentu Menjadi Pilihan Terbaik
Saham yang anjlok puluhan persen memang bisa dianggap sebagai peluang besar. Tapi, kudu ingat ya, penurunan harga yang sangat dalam kadang juga mencerminkan masalah yang memang sedang dihadapi perusahaan tersebut. Bisa karena kinerja menurun, utang meningkat, atau prospek bisnis yang memburuk.
So, mau membeli saham, ada baiknya enggak cuma terpaku pada besarnya koreksi harga saja. Yang lebih relevan adalah mencari tahu apakah fundamental perusahaan masih layak untuk jangka panjang.
6. Kondisi Saat Ini Lebih Cocok untuk Investor Jangka Panjang
Pasar saham Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan yang belum selesai dalam waktu dekat. Situasi seperti ini membuat potensi volatilitas tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Kamu yang berharap memperoleh keuntungan dalam hitungan minggu atau beberapa bulan, risikonya masih cukup besar. Tapi kalau horizon waktunya lima tahun atau lebih, peluang untuk mengumpulkan saham berkualitas dengan harga yang lebih menarik masih terbuka. Jadi, ya, kembali lagi ke kamu sebagai investor ya, dan tujuan investasimu apa.
7. Berhati-hati Mengambil Keputusan
So, apakah ini waktu yang bagus untuk membeli saham? Ya, enggak terlalu juga. Jadi, waktu yang buruk? Ya, enggak juga.
Kondisinya memang sulit, karena enggak ada yang bisa menjamin. Pasar masih bergerak di tengah berbagai ketidakpastian yang belum sepenuhnya mereda. So, posisi yang cukup relevan saat ini bukan terlalu agresif dan bukan pula sepenuhnya menunggu. Kamu harus selektif, disiplin, dan fokus pada tujuan jangka panjang. Dengan begitu, peluang untuk memanfaatkan koreksi pasar tanpa harus mengambil risiko yang berlebihan jadi lebih luas.
Baca juga: Dana Darurat Ideal: di Masa Krisis Beda atau Sama dengan Kondisi Normal?
Ya, harus diakui sih. Membeli saham pas IHSG memerah kayak gini adalah keputusan yang risiko. Namun pasar yang sedang lesu itu juga wajar. Bahkan, selalu ada investor yang tetap masuk ke pasar dengan alasan dan strategi masing-masing.
Karena itu, daripada terpaku pada warna merah di layar perdagangan, lebih baik fokus pada kualitas perusahaan, kondisi keuangan pribadi, serta tujuan investasi yang ingin dicapai. Dengan cara tersebut, keputusan membeli saham bisa diambil berdasarkan pertimbangan yang matang, bukan sekadar mengikuti suasana pasar yang sedang berlangsung.
Mau tahu bagaimana merencanakan FIRE dan membangun aset 300 kali gaji dengan lebih detail? Kamu harus banget punya buku ini. Kamu bisa baca dan belajar secara fleksibel, dan dapatkan insight lebih detail mengenai konsep FIRE.
Sudah bisa dibeli di toko-toko buku di kota-kota besar di Indonesia! Get your copy now!
Jangan lupa untuk follow akun Instagram Dani Rachmat ya, untuk berbagai tip keuangan dan investasi yang praktis dan bisa dipraktikkan sendiri. Juga berlangganan newsletter dengan melakukan registrasi di sini, yang akan dikirimkan setiap bulan berisi berbagai update dan tren di dunia keuangan. Jangan sampai ketinggalan berita!
