Blog Perencanaan Keuangan

Menu
  • FIRE
    • Dana Pensiun
  • Perencanaan Keuangan
    • Kredit
      • Kredit Umum
      • KPR
      • Kartu Kredit
      • Kredit Online
    • Asuransi
    • Dana Darurat
    • Dana Pendidikan
    • Tips Hemat
  • Investasi
    • Emas
    • Business
    • Crypto
    • ORI-SukRi
    • Reksadana
    • Saham
    • P2P Lending
  • Kamus Keuangan
  • Stories
    • Keluarga
    • Buku
    • Film
    • Musik dan CD
    • Office Life
    • Di Balik Blog
    • Inspirasi
  • About Me
    • Site Map danirachmat.com
    • Contact
    • Paid Post
    • Postingan Tamu
    • Disclaimer
Home
Investasi
Saham
Membeli Saham saat IHSG Memerah: Apa yang Perlu Dipertimbangkan Investor Saat Ini?
Investasi

Membeli Saham saat IHSG Memerah: Apa yang Perlu Dipertimbangkan Investor Saat Ini?

penuliskonten 05/06/2026

Saat artikel ini ditulis, IHSG masih bergerak di zona merah dan berada di level 5.745. Penurunan tersebut memperpanjang periode pelemahan yang sudah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Jadi, membeli saham di tengah kondisi seperti sekarang? Hmmm ….

Ada yang mungkin memilih menunggu sampai situasi lebih tenang. Sebagian yang lain mungkin masih ada yang mencari peluang.

Eh, emang masih ada orang yang beli saham di kondisi kayak sekarang?

Daftar Isi
  1. Emang, Siapa yang Masih Mau Membeli Saham in This Economy?
    1. 1. Value Investor Jangka Panjang
    2. 2. Pengelola Dana Pasif
    3. 3. Investor DCA
  2. So, Mau Membeli Saham in This Economy? Ini Pertimbangannya
    1. 1. Harga Sudah Jauh Turun, tetapi Belum Semua Risiko Hilang
    2. 2. Menunggu Situasi Sempurna Bisa Membuat Kehilangan Momentum
    3. 3. Membeli Saham Bertahap
    4. 4. Fokus pada Kualitas Emiten
    5. 5. Saham yang Turun Paling Dalam Belum Tentu Menjadi Pilihan Terbaik
    6. 6. Kondisi Saat Ini Lebih Cocok untuk Investor Jangka Panjang
    7. 7. Berhati-hati Mengambil Keputusan

Emang, Siapa yang Masih Mau Membeli Saham in This Economy?

Membeli Saham saat IHSG Memerah: Apa yang Perlu Dipertimbangkan Investor Saat Ini?

Masih banyak orang tetap membeli saham di tengah kejatuhan pasar saat ini. Siapa saja mereka?

1. Value Investor Jangka Panjang

Ini sepertinya sudah rahasia umum sih. Kalau harga saham turun cukup dalam, investor dengan gaya value investing sering melihatnya sebagai peluang yang berbeda.

Mereka mencari perusahaan yang bisnisnya masih sehat, laba tetap tumbuh, dan posisi keuangannya kuat, tetapi harga sahamnya ikut tertekan karena sentimen pasar. Bagi mereka, penurunan harga dianggap sebagai kesempatan untuk membeli aset yang sama dengan harga lebih murah. Fokus mereka bukan kondisi pasar beberapa bulan ke depan, melainkan potensi pertumbuhan perusahaan dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.

Baca juga: Hal Keuangan Apa Saja yang Harus Segera Dipersiapkan untuk Masuk Masa Krisis?

2. Pengelola Dana Pasif

Di tengah pelemahan pasar, aktivitas membeli saham juga tetap datang dari pengelola dana pasif atau passive fund manager. Karena ya sudah jadi tugas mereka untuk mengelola dana kan? Ketika kondisi pasar berubah, ya mereka perlu melakukan penyesuaian portofolio. Seenggaknya kalo merah, ya enggak nangis-nangis amat. Minimal.

Menjelang agenda MSCI Rebalancing maupun review indeks global lainnya pada bulan Juni, transaksi pembelian dan penjualan saham tetap dilakukan sesuai komposisi yang sudah ditentukan. Jadi, keputusan mereka lebih banyak dipengaruhi aturan pengelolaan dana daripada sentimen pasar harian.

3. Investor DCA

Ada pula investor yang tetap menjalankan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) tanpa mengubah rencana investasnya. Setiap bulan mereka menyisihkan dana dalam jumlah tertentu untuk membeli saham atau instrumen investasi yang dipilih. Saat harga turun, dana yang sama bisa memperoleh lebih banyak saham. Saat harga naik, jumlah saham yang didapat memang lebih sedikit, tetapi proses investasinya tetap berjalan.

Strategi ini digunakan untuk mengurangi risiko salah menentukan waktu masuk pasar sekaligus membangun portofolio secara bertahap dalam jangka panjang.

So, Mau Membeli Saham in This Economy? Ini Pertimbangannya

Membeli Saham saat IHSG Memerah: Apa yang Perlu Dipertimbangkan Investor Saat Ini?

Ha? Mau beli saham di situasi begini? Ya, kenapa enggak? Tapi memang butuh pertimbangan yang cukup panjang, ges. Karena sejujurnya, jawabannya tergantung apa yang dibeli dan seberapa panjang horizon investasinya.

Kalau pertanyaannya, “Apakah sekarang waktu yang bagus untuk membeli saham Indonesia secara umum?”

Jawabannya ya, pastinya akan lebih menarik dibanding saat IHSG masih di 7.500–8.000. Ini juga tanpa melihat latar belakang kenapa terkoreksi, pun enggak bisa disebut kondisi yang nyaman.

Ada beberapa alasan, di antaranya:

  • Valuasi banyak saham memang sudah jauh lebih murah dibanding puncaknya.
  • Sentimen pasar sedang buruk, dan sejarah menunjukkan peluang terbaik sering muncul ketika mayoritas investor pesimis.

Namun sumber masalahnya belum sepenuhnya selesai. Rupiah masih lemah, pertumbuhan ekonomi melambat, kepercayaan investor terhadap arah kebijakan pemerintah sedang diuji, dan dana asing masih cenderung keluar.

Artinya, saat ini lebih mirip fase “mulai mengoleksi secara bertahap” daripada “all in besar-besaran.” Kalau kita melihat situasi dari sudut pandang investor jangka panjang 5–10 tahun, maka iya, boleh saja kalau mau membeli saham. Tapi, lakukan pertimbangan berikut.

1. Harga Sudah Jauh Turun, tetapi Belum Semua Risiko Hilang

Salah satu alasan terkuat investor yang mau membeli saham di situasi begini adalah mirip-mirip kayak kita kalau lagi ada sale atau diskon. Banyak harga saham sudah terkoreksi cukup dalam, sehingga valuasi sejumlah emiten menjadi lebih menarik dibanding saat pasar berada di puncaknya.

Namun, perlu juga melihat latar belakang penyebab penurunan saat ini. Rupiah masih berada di bawah tekanan, arus dana asing belum stabil, dan pasar masih terus menilai dampak berbagai kebijakan ekonomi yang sedang berjalan.

Jadi, membeli saham sekarang lebih cocok dilihat sebagai upaya mencari peluang di tengah ketidakpastian, bukan berburu keuntungan cepat.

2. Menunggu Situasi Sempurna Bisa Membuat Kehilangan Momentum

Banyak investor memilih menunggu sampai kondisi ekonomi benar-benar membaik sebelum masuk ke pasar. Ya, enggak apa juga.

Masalahnya, pasar saham sering bergerak lebih dulu sebelum perbaikan ekonomi kelihatan jelas. Ketika sentimen mulai pulih dan kepercayaan investor kembali meningkat, harga saham bisa jadi sudah naik duluan.

Karena itu, masih banyak orang yang tetap mengoleksi saham saat kondisi masih kurang nyaman. Mereka sadar bahwa titik terendah pasar hampir selalu baru diketahui setelah semuanya berlalu.

3. Membeli Saham Bertahap

Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak kayak sekarang, membeli saham mendingan bertahap saja. Strategi kayak gini akan memberi ruang buat kita gerak sedikit lagi kalau-kalau pasar masih melanjutkan pelemahan dalam beberapa bulan ke depan.

Selain mengurangi risiko salah timing, cara ini juga membantu menjaga emosi ketika pergerakan pasar masih sulit diprediksi dari hari ke hari.

4. Fokus pada Kualitas Emiten

Saat pasar sedang tertekan, hampir semua saham bisa ikut turun. Namun enggak semua perusahaan memiliki kemampuan yang sama untuk menghadapi periode sulit.

Ada emiten yang tetap mencatat laba stabil, memiliki kas yang kuat, dan mampu menjaga bisnisnya tetap berjalan meskipun kondisi ekonomi kurang mendukung. Ada pula yang menghadapi tekanan lebih besar karena utang tinggi atau bisnisnya sedang melambat.

Jadi, memang kita kudu analisis lebih teliti lagi. Dalam situasi seperti sekarang, kualitas perusahaan jadi faktor yang lebih penting dibanding besarnya penurunan harga saham.

5. Saham yang Turun Paling Dalam Belum Tentu Menjadi Pilihan Terbaik

Saham yang anjlok puluhan persen memang bisa dianggap sebagai peluang besar. Tapi, kudu ingat ya, penurunan harga yang sangat dalam kadang juga mencerminkan masalah yang memang sedang dihadapi perusahaan tersebut. Bisa karena kinerja menurun, utang meningkat, atau prospek bisnis yang memburuk.

So, mau membeli saham, ada baiknya enggak cuma terpaku pada besarnya koreksi harga saja. Yang lebih relevan adalah mencari tahu apakah fundamental perusahaan masih layak untuk jangka panjang.

6. Kondisi Saat Ini Lebih Cocok untuk Investor Jangka Panjang

Pasar saham Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan yang belum selesai dalam waktu dekat. Situasi seperti ini membuat potensi volatilitas tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

Kamu yang berharap memperoleh keuntungan dalam hitungan minggu atau beberapa bulan, risikonya masih cukup besar. Tapi kalau horizon waktunya lima tahun atau lebih, peluang untuk mengumpulkan saham berkualitas dengan harga yang lebih menarik masih terbuka. Jadi, ya, kembali lagi ke kamu sebagai investor ya, dan tujuan investasimu apa.

7. Berhati-hati Mengambil Keputusan

So, apakah ini waktu yang bagus untuk membeli saham? Ya, enggak terlalu juga. Jadi, waktu yang buruk? Ya, enggak juga.

Kondisinya memang sulit, karena enggak ada yang bisa menjamin. Pasar masih bergerak di tengah berbagai ketidakpastian yang belum sepenuhnya mereda. So, posisi yang cukup relevan saat ini bukan terlalu agresif dan bukan pula sepenuhnya menunggu. Kamu harus selektif, disiplin, dan fokus pada tujuan jangka panjang. Dengan begitu, peluang untuk memanfaatkan koreksi pasar tanpa harus mengambil risiko yang berlebihan jadi lebih luas.

Baca juga: Dana Darurat Ideal: di Masa Krisis Beda atau Sama dengan Kondisi Normal?

Ya, harus diakui sih. Membeli saham pas IHSG memerah kayak gini adalah keputusan yang risiko. Namun pasar yang sedang lesu itu juga wajar. Bahkan, selalu ada investor yang tetap masuk ke pasar dengan alasan dan strategi masing-masing.

Karena itu, daripada terpaku pada warna merah di layar perdagangan, lebih baik fokus pada kualitas perusahaan, kondisi keuangan pribadi, serta tujuan investasi yang ingin dicapai. Dengan cara tersebut, keputusan membeli saham bisa diambil berdasarkan pertimbangan yang matang, bukan sekadar mengikuti suasana pasar yang sedang berlangsung.

Mau tahu bagaimana merencanakan FIRE dan membangun aset 300 kali gaji dengan lebih detail? Kamu harus banget punya buku ini. Kamu bisa baca dan belajar secara fleksibel, dan dapatkan insight lebih detail mengenai konsep FIRE.

Membangun Aset 300 Kali Gaji, oleh Dani Rachmat

Sudah bisa dibeli di toko-toko buku di kota-kota besar di Indonesia! Get your copy now!

Jangan lupa untuk follow akun Instagram Dani Rachmat ya, untuk berbagai tip keuangan dan investasi yang praktis dan bisa dipraktikkan sendiri. Juga berlangganan newsletter dengan melakukan registrasi di sini, yang akan dikirimkan setiap bulan berisi berbagai update dan tren di dunia keuangan. Jangan sampai ketinggalan berita!

Share
Tweet
Email
Prev Article
Next Article

Related Articles

P2P Lending: Begini Cara Kerjanya!
Mencari jalan investasi baru untuk meningkatkan kekayaanmu? Atau mungkin kamu …

P2P Lending: Begini Cara Kerjanya!

Selamat Hari Ibu! Nyangka gak kalo gw belajar tentang pasar …

Selamat Hari Ibu: Gimana Awalnya Belajar Pasar Modal

About The Author

penuliskonten

Write. Write. Write. We just write, and write away! IG @penuliskonten.id

Leave a Reply Cancel Reply

Beli e-book Kebebasan Finansial Level 1

Podcast

Postingan Terbaru

  • Sudah Mencapai FIRE, tapi Bagaimana jika Umur Lebih Panjang dari Perkiraan?
    Sudah Mencapai FIRE, tapi Bagaimana jika Umur …
  • FIRE untuk Freelancer: Tidak Ada HRD yang Mengurus Masa Depanmu
    FIRE untuk Freelancer: Tidak Ada HRD yang …
  • Investasi Apa yang Cocok untuk Mendukung Perencanaan Keuangan FIRE?
    Investasi Apa yang Cocok untuk Mendukung Perencanaan …
  • Pensiun Dini di Kota vs Pensiun Dini di Desa: Mana yang Lebih Efisien?
    Pensiun Dini di Kota vs Pensiun Dini …
  • Tips Hidup Slow Living di Desa Setelah Pensiun atau Mencapai FIRE
    Tips Hidup Slow Living di Desa Setelah …

Postingan Paling Populer

  • Contoh Perusahaan Dana Pensiun di Indonesia dan Cara Kerjanya
    Contoh Perusahaan Dana Pensiun di Indonesia dan …
  • Cara Menghitung Kebutuhan Dana Pensiun bagi Freelancer dan Pekerja Mandiri
    Cara Menghitung Kebutuhan Dana Pensiun bagi Freelancer …
  • Dana DPLK Bisa Dicairkan Sebelum Pensiun? Ini Penjelasan Lengkapnya
    Dana DPLK Bisa Dicairkan Sebelum Pensiun? Ini …
  • Sudah Mencapai FIRE, tapi Bagaimana jika Umur Lebih Panjang dari Perkiraan?
    Sudah Mencapai FIRE, tapi Bagaimana jika Umur …
  • Mengenal Sifat Harta: Tetap, Lancar, Tak Berwujud, dan Lainnya
    Mengenal Sifat Harta: Tetap, Lancar, Tak Berwujud, …

Blog Perencanaan Keuangan

Copyright © 2026 Blog Perencanaan Keuangan
Design by Mamat

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh
Go to mobile version