Mencapai FIRE di usia 40 tahun dengan dana yang diproyeksikan cukup sampai usia 80 tahun mungkin terlihat aman. Tapi, gimana ya kalau ternyata kita punya umur panjang (Amin!) dan hidup sampai 95 atau bahkan 100 tahun?
Ya, pastinya alhamdulillah ya dikasih umur panjang. Tapi kalau balik ke itungan matematikanya, berarti ada tambahan 15–20 tahun biaya hidup dong, yang tetap harus dibayar. Padahal penghasilan aktif sudah lama berhenti.
Walah, terus gimana ya?
Nah, ini nih. Ternyata risiko pensiun itu enggak cuma itungan investasi yang meleset atau inflasi yang membengkak. Risiko umur panjang kayak gini tuh malah sering luput dari hitungan karena usia memang enggak bisa dipastikan.
Padahal, bagi yang menjalani FIRE lebih awal, selisih usia sedikit saja bisa mengubah seluruh proyeksi keuangan. Dana yang semula terlihat cukup bisa menyusut lebih cepat, terutama saat inflasi, biaya kesehatan, dan hasil investasi bergerak di luar perkiraan.
Umur Panjang Bisa Menjadi Risiko dalam Perencanaan Mencapai FIRE
Dalam perencanaan keuangan, ada istilah longevity risk atau risiko umur panjang. Risiko ini muncul kalau kamu hidup lebih lama daripada usia yang digunakan dalam perhitungan keuangannya.
Dana sudah dihitung untuk mencukupi kebutuhan sampai usia tertentu, sementara biaya hidup terus berjalan beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun setelahnya.
Misalnya, perhitungan FIRE dibuat dengan asumsi hidup sampai usia 80 tahun. Ternyata, usia mencapai 95 tahun. Artinya, ada tambahan 15 tahun yang perlu dibiayai. Selama periode tersebut, kebutuhan makan, tempat tinggal, tagihan rutin, transportasi, dan kesehatan tetap ada. Nilainya pun terus berubah mengikuti inflasi.
Risiko ini perlu lebih diperhatikan oleh kamu yang ingin mencapai FIRE karena masa pensiun dimulai jauh lebih awal. Misalnya nih, kamu berhenti kerja pada usia 40 tahun, lalu hidup hingga 90 tahun, berarti kamu perlu mengandalkan aset selama sekitar 50 tahun. Nah, kalau kamu hidup sampai usia 100 tahun, berarti nambh jadi 60 tahun. Rentang waktunya jauh lebih panjang dibandingkan pensiun pada usia 60 atau 65 tahun.
Artinya? Ya, kamu butuh lebih banyak buat napas kan?
Sementara itu, selama 50 – 60 tahun, kondisi ekonomi juga enggak akan bergerak sesuai satu proyeksi. Inflasi dapat lebih tinggi dari perkiraan, pasar investasi mengalami periode buruk, dan pengeluaran pribadi berubah seiring usia. Biaya kesehatan yang kecil pada usia 40 tahun, misalnya, bisa mengambil porsi lebih besar saat memasuki usia 70 atau 80 tahun.
Karena itu, longevity risk enggak hanya berkaitan dengan kemungkinan dana FIRE habis. Perhitungan awal bisa meleset karena dibuat menggunakan asumsi usia, pengeluaran, inflasi, dan hasil investasi yang berbeda dari kondisi nyata.
Semakin panjang periode FIRE, semakin besar peluang munculnya selisih antara angka di proyeksi dan kebutuhan hidup yang benar-benar harus dibayar.
Cara Mengantisipasi Risiko Umur Panjang Setelah Mencapai FIRE
Sebelum dana benar-benar bermasalah, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memperkuat ketahanan finansial setelah mencapai FIRE. Fokusnya pada menjaga portofolio agar tetap mampu membiayai kebutuhan dalam periode yang lebih panjang. Berikut beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.
1. Buat Proyeksi Dana hingga Usia 100 Tahun
Jangan berhenti pada angka usia harapan hidup rata-rata. Coba hitung kebutuhan dana hingga usia 90 atau 100 tahun untuk melihat apakah portofolio masih mampu membiayai pengeluaran. Skenario usia panjang memberi gambaran tentang seberapa kuat dana FIRE bertahan.
2. Gunakan Withdrawal Rate yang Fleksibel
Persentase penarikan dana enggak perlu dipaksakan sama setiap tahun. Saat pasar turun atau nilai portofolio menyusut, pengeluaran dapat dikurangi untuk sementara. Cara ini membantu menjaga lebih banyak aset tetap berada dalam portofolio.
3. Siapkan Dana Khusus untuk Kesehatan
Pisahkan kebutuhan kesehatan dari anggaran hidup rutin. Perhitungkan biaya pemeriksaan, obat, perawatan, dan kebutuhan medis lain yang mungkin meningkat seiring usia. Dengan pos tersendiri, biaya kesehatan enggak langsung menggerus dana untuk kebutuhan sehari-hari.
4. Pertahankan Aset yang Masih Bisa Bertumbuh
Portofolio FIRE tetap perlu memiliki aset dengan potensi pertumbuhan jangka panjang. Kalau seluruh dana ditempatkan pada instrumen yang pertumbuhannya terlalu rendah, daya beli aset dapat tertinggal dari inflasi. Komposisinya perlu disesuaikan dengan profil risiko dan kebutuhan danamu.
5. Evaluasi Perhitungan FIRE Secara Berkala
Periksa kembali nilai aset, pengeluaran aktual, dan hasil investasi secara rutin. Jika angkanya mulai jauh dari proyeksi, lakukan penyesuaian lebih awal. Jangan menunggu nilai portofolio turun terlalu dalam untuk menghitung ulang rencana.
6. Pertahankan Sumber Penghasilan Tambahan
Royalti, bisnis yang sudah berjalan, aset produktif, atau proyek pilihan dapat menjadi bantalan keuangan. Penghasilan tersebut bisa mengurangi jumlah dana yang perlu ditarik dari portofolio. Bahkan pemasukan yang enggak terlalu besar dapat memberi pengaruh jika berlangsung selama bertahun-tahun.
7. Susun Beberapa Tingkat Pengeluaran
Pisahkan pengeluaran menjadi kebutuhan utama, gaya hidup rutin, dan biaya tambahan. Ketika kondisi pasar sedang buruk, pengeluaran dari kategori yang lebih fleksibel dapat dikurangi lebih dulu. Portofolio pun memiliki waktu lebih panjang untuk pulih.
Upaya Mencapai FIRE Bukan Cuma Menebak Kapan Hidup Berakhir
Perencanaan FIRE sebaiknya enggak bergantung pada satu angka usia. Enggak ada yang tahu pasti apakah dana perlu membiayai hidup sampai usia 80, 90, atau lebih dari 100 tahun. Karena itu, proyeksi keuangan perlu diuji dalam beberapa skenario agar terlihat seberapa lama portofolio mampu bertahan.
Mencapai target FIRE memang membuka kesempatan untuk berhenti bekerja lebih awal. Namun, selebihnya, kebebasan finansial masih perlu terus dijaga selama puluhan tahun berikutnya. Dana yang kuat memberi ruang untuk menghadapi perubahan kebutuhan dan kondisi ekonomi tanpa membuat rencana hidup bergantung pada tebakan usia.
Mau tahu bagaimana merencanakan FIRE dan membangun aset 300 kali gaji dengan lebih detail? Kamu harus banget punya buku ini. Kamu bisa baca dan belajar secara fleksibel, dan dapatkan insight lebih detail mengenai konsep FIRE.
Sudah bisa dibeli di toko-toko buku di kota-kota besar di Indonesia! Get your copy now!
Jangan lupa untuk follow akun Instagram Dani Rachmat ya, untuk berbagai tip keuangan dan investasi yang praktis dan bisa dipraktikkan sendiri. Juga berlangganan newsletter dengan melakukan registrasi di sini, yang akan dikirimkan setiap bulan berisi berbagai update dan tren di dunia keuangan. Jangan sampai ketinggalan berita!
