Mencari penghasilan tambahan di masa pensiun kini jauh lebih mudah berkat banyaknya pilihan pekerjaan untuk usia 60 tahun ke atas yang enggak menguras fisik. Fokus utamanya bukan lagi mengejar karier, melainkan mencari aktivitas yang memberikan kebebasan waktu sekaligus manfaat ekonomi.
Kenapa sih mesti cari penghasilan tambahan kalau sudah pensiun? Ya, bisa saja karena memang masih ada energinya, masih longgar pikirannya. Lumayan juga kalau bisa cari tambahan, biar beban investasi atau yang dari Jaminan Pensiun juga lebih ringan kan?
Selain itu, punya aktivitas yang menghasilkan juga membantu menjaga ritme harian tetap teratur. Ada alasan untuk bangun pagi, ada hal yang dikerjakan, dan ada hasil yang bisa dilihat. Hidup pun masih ada semangatnya, kalau kita punya tujuan setiap hari.
Jenis Pekerjaan untuk Usia 60 Tahun yang Cocok
Mencari pekerjaan untuk usia 60 tahun biasanya lebih diarahkan pada aktivitas yang fleksibel, enggak terlalu menuntut tenaga fisik, serta memanfaatkan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya. Berikut beberapa kategori usaha dan pekerjaan untuk usia 60 tahun ke atas sebagai tambahan sumber penghasilan.
1. Pekerjaan Berbasis Keahlian dan Pengalaman
Pengalaman kerja puluhan tahun bisa langsung dipakai tanpa perlu mulai dari nol. Pengetahuan yang dulu dipakai di kantor atau lapangan masih relevan, hanya bentuk kerjanya yang disesuaikan. Beban pekerjaan untuk usia 60 tahun ini lebih ringan, waktunya bisa diatur, dan enggak bergantung pada tenaga fisik. Fokusnya pada kemampuan berpikir, memberi arahan, dan menyelesaikan masalah.
Salah satunya adalah membuka jasa konsultasi atau mentoring. Pensiunan manajer, akuntan, atau praktisi hukum bisa membantu pelaku usaha kecil yang membutuhkan arahan praktis. Komunikasi bisa dilakukan lewat Zoom atau WhatsApp. Topik yang dibahas juga bisa disesuaikan, seperti pengelolaan keuangan sederhana, bimbingan karier, kinerja, atau pengambilan keputusan. Tarif bisa disesuaikan per sesi agar lebih fleksibel.
Pilihan lain adalah menjadi pengajar atau tutor privat. Materinya bisa mata pelajaran sekolah, dasar bahasa asing, atau keterampilan seperti musik sudah cukup banyak dicari. Kelas bisa dilakukan di rumah atau secara daring melalui platform seperti Write Edge. Sistemnya bisa per pertemuan, sehingga tidak mengikat jadwal terlalu padat. Interaksi dengan murid juga membantu menjaga aktivitas mental tetap aktif.
Jika lebih nyaman bekerja sendiri, menjadi penulis atau editor bisa jadi alternatif. Banyak kebutuhan untuk artikel, terjemahan, atau perbaikan naskah yang bisa dikerjakan dari rumah. Pekerjaannya enggak menuntut mobilitas tinggi, hanya dengan laptop dan koneksi internet. Ritmenya bisa disesuaikan dengan kondisi harian. Selama hasilnya rapi dan tepat waktu, peluang untuk mendapat proyek lanjutan cukup terbuka.
Baca juga: 13 Usaha Tanpa Modal Besar untuk Usia 50 an agar Tetap Produktif dan Mandiri
2. Usaha Rumahan Modal Kecil
Usaha rumahan memberi ruang kerja yang lebih tenang karena dijalankan dari lingkungan sendiri. Enggak perlu menyewa tempat, pakai salah satu ruangan yang ada di rumah juga bisa. Pilih yang operasionalnya paling simpel, dengan skala yang bisa diatur sesuai tenaga dan waktu yang tersedia.
Salah satu contohnya warung kelontong atau kedai kopi kecil. Bisa memanfaatkan teras atau bagian depan rumah, dengan barang yang memang dibutuhkan warga sekitar. Isinya barang yang sering dicari, seperti sembako, minuman, atau camilan.
Kalau mau usaha kedai kopi sederhana, fokusnya pada suasana santai untuk ngobrol. Pelanggan utamanya biasanya tetangga sendiri, jadi hubungan personal ikut berpengaruh pada penjualan.
Untuk yang hobi memasak, katering rumahan bisa dijalankan dengan sistem pre-order. Menu dibuat sederhana dan jelas, misalnya paket sarapan, lauk sehat harian, atau kue basah. Dengan sistem ini, bahan bisa dibeli sesuai pesanan sehingga enggak banyak yang terbuang. Distribusi juga enggak perlu terlalu jauh, cukup area sekitar rumah saja. Konsistensi rasa dan kebersihan jadi hal yang perlu dijaga karena pelanggan cenderung datang dari rekomendasi mulut ke mulut.
Pilihan lain adalah budidaya tanaman seperti sayuran hidroponik. Bisa ditanam di halaman sempit dengan perawatan yang enggak terlalu berat. Hasil panen bisa dijual ke tetangga atau pasar terdekat.
Alternatif lain ternak ayam petelur atau ikan lele di zaman sekarang juga enggak butuh area yang terlalu luas, mudah juga dikelola dalam jumlah terbatas. Rutinitasnya enggak terlalu ribet, dan hasilnya bisa dijual secara berkala. Aktivitas ini juga membantu menjaga tubuh tetap aktif tanpa beban kerja berlebihan.
3. Pemanfaatan Aset (Penghasilan Pasif)
Aset yang sudah ada sering kali bisa menghasilkan pemasukan tanpa perlu terlibat penuh setiap hari. Kuncinya ada pada pengelolaan yang rapi. Setelah sistem berjalan, aktivitasnya lebih ke pemantauan dan perawatan ringan. Cara ini cocok untuk yang ingin tetap produktif tanpa jadwal kerja yang padat.
Kalau ada kamar kosong di rumah, bisa dimanfaatkan sebagai kos atau penginapan. Targetnya bisa mahasiswa, pekerja, atau tamu harian, tergantung lokasi rumah. Perlu disiapkan fasilitas dasar seperti tempat tidur yang layak, kamar mandi bersih, dan akses yang aman. Aturan sederhana juga penting, misalnya soal jam malam atau penggunaan fasilitas bersama. Pembayaran bisa dibuat bulanan agar lebih praktis dalam pencatatan.
Nah, kalau punya kendaraan, opsi sewa juga cukup menjanjikan lho. Motor atau mobil bisa disewakan ke orang yang membutuhkan transportasi harian atau jangka pendek. Supaya lebih aman, sebaiknya ada perjanjian tertulis dan identitas penyewa yang jelas. Kondisi kendaraan juga perlu dicek rutin agar tetap layak pakai. Dengan pengaturan seperti ini, aset yang sebelumnya hanya diam bisa berubah menjadi sumber pemasukan yang stabil.
4. Pekerjaan Fleksibel (Ekonomi Gig)
Jenis pekerjaan ini cocok untuk yang masih ingin aktif bergerak dan suka berinteraksi dengan orang lain. Pola kerjanya bisa disesuaikan dengan kondisi tubuh dan waktu luang. Target jam kerja juga bisa disesuaikan, ritme kerja bisa diatur sendiri. Selama masih nyaman beraktivitas di luar rumah, pilihan ini cukup membantu menjaga penghasilan tetap berjalan.
Misalnya, ngojek online. Rata-rata platform seperti Grab atau Gojek memberi keleluasaan dalam menentukan jam kerja. Penghasilan tergantung jumlah perjalanan, jadi bisa disesuaikan. PR-nya ada pada memanajemen tenaga dan energi, karena meski tampak fleksibel, energi buat nyetir atau motoran itu juga enggak sembarangan loh. Apalagi di lalu lintas seperti Jakarta.
Pilihan lain adalah jasa penitipan hewan atau pet sitting. Layanan ini biasanya dicari saat pemilik hewan pergi beberapa hari. Tugasnya kurang lebih kayak memberi makan, membersihkan kandang, dan memastikan hewan dalam kondisi baik. Lokasinya bisa di rumah sendiri atau datang ke rumah pemilik, tergantung kesepakatan. Pekerjaan ini enggak terlalu berat, apalagi kalau sudah suka sama hewan. Tetapi tetap membutuhkan tanggung jawab dan ketelatenan. Jika dikerjakan dengan baik, peluang untuk mendapat pelanggan tetap cukup terbuka.
Baca juga: Dana Pensiun BPJS Ketenagakerjaan bagi Karyawan Swasta: Seberapa Cukup?
Pilihan pekerjaan di usia 60 tahun ke atas enggak perlu disamakan dengan ritme kerja sebelumnya. Yang lebih penting adalah menemukan aktivitas yang ringan dijalankan, sesuai kemampuan, dan tetap memberi hasil yang jelas. Dengan memilih jenis pekerjaan yang tepat, penghasilan tambahan bisa didapat tanpa mengganggu kenyamanan hidup sehari-hari.
Mau tahu bagaimana merencanakan FIRE dan membangun aset 300 kali gaji dengan lebih detail? Kamu harus banget punya buku ini. Kamu bisa baca dan belajar secara fleksibel, dan dapatkan insight lebih detail mengenai konsep FIRE.
Sudah bisa dibeli di toko-toko buku di kota-kota besar di Indonesia! Get your copy now!
Jangan lupa untuk follow akun Instagram Dani Rachmat ya, untuk berbagai tip keuangan dan investasi yang praktis dan bisa dipraktikkan sendiri. Juga berlangganan newsletter dengan melakukan registrasi di sini, yang akan dikirimkan setiap bulan berisi berbagai update dan tren di dunia keuangan. Jangan sampai ketinggalan berita!
