Kategori
Perencanaan Keuangan

6 Langkah Perencanaan Keuangan Pribadi untuk Si Lajang di Masa Pascapandemi

Pandemi saat ini belum berakhir, namun secercah harapan untuk pemulihan mulai terlihat. Inilah waktu yang tepat untuk kamu memulai perencanaan keuangan pribadi untuk pasca pandemi nanti.

Meski kamu belum bisa dengan bebas beraktivitas dengan normal tanpa masker, tanpa pembatasan dan lainnya, tetapi kamu bisa mengambil langkah untuk mempersiapkan rencana keuangan di masa transisi menuju new normal ini.

Mengapa Perencanaan Keuangan Pribadi Itu Penting?

Entah akan berakhir kapan, tidak ada salahnya jika kita mulai membuat perencanaan keuangan pribadi sebagai bentuk evaluasi pendapatan dan pengeluaran sejak awal pandemi. Ini juga dapat membantu kamu membuat strategi jitu agar nantinya kamu lebih siap menghadapi kondisi tak terduga di masa depan.

Masa iya mau gedubrakan terus kalau lagi krisis? Enggak capek emang? Lebih enak, kali, kalau bisa tenang di segala situasi. Iya nggak sih?

Ada banyak saran sebenarnya yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi kondisi finansial terutama bagi kamu yang lajang. Ingat, bukan hanya mereka yang berkeluarga loh yang perlu rencana keuangan. Bagi kamu yang masih lajang, juga sangat penting untuk mulai menabung dan berinvestasi sedini mungkin.

Mengapa? Karena jika menyangkut keuangan pribadi dan kesuksesan finansial, kamu sendiri yang sepenuhnya bertanggung jawab. Hal ini juga termasuk membangun kekayaan jangka panjang atau bahkan meraih kebebasan finansial untuk diri sendiri di masa depan.

Terutama jika saat ini kondisimu hanya tergantung pada satu pintu penghasilan. Kalau sumber penghasilanmu kolaps, runyam kan? So, penting bagi kamu untuk bisa mengatur keuangan karena pada dasarnya kesehatan keuangan adalah tanggung jawab kamu sendiri.

Jadi, inilah perencanaan keuangan pribadi yang bisa kamu lakukan untuk beberapa waktu ke depan, saat pascapandemi.

Kembali ke atas

Tip Perencanaan Keuangan Pribadi untuk New Normal

1. Rencanakan dan kelola keuangan secara aktif

Perencanaan keuangan pribadi adalah yang paling penting. Pendapatan, pengeluaran, tabungan, investasi, dan kredit perlu diselaraskan dengan kebutuhan, keinginan, dan tujuan hidup, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Di keadaan ekonomi yang masih dalam masa pemulihan ini, penting untuk memanfaatkan peluang serta tetap siap menghadapi urgensi. Perencanaan keuangan membantu siapa saja agar tetap survive menjalani segala situasi, termasuk di masa-masa yang belum stabil seperti ini.

Penting juga untuk secara aktif mengelola, meninjau kembali dan merevisi rencana, juga menerapkan penyesuaian, selaras dengan perubahan kebutuhan, keinginan, dan skenario ekonomi secara keseluruhan.

2. Asuransi jiwa dan asuransi kesehatan adalah “investasi” penting

Hidup itu tidak pasti. Pandemi tidak hanya membuktikan hal ini kepada dunia, tetapi juga menunjukkan kepada kita, bahwa betapa tak terduganya kehidupan.

Oleh karena itu, memastikan keamanan finansial bagi dirimu sendiri adalah prioritas utama. Iya, dirimu sendiri saja dulu.

“Investasi” dalam bentuk rencana asuransi jiwa harus dilakukan untuk memastikan cakupan yang memadai, apalagi jika ada orang lain yang hidupnua bergantung padamu. Dengan adanya asuransi jiwa ini maka akan ada jaminan stabil secara finansial jika sesuatu terjadi.

Asuransi kesehatan juga merupakan suatu keharusan, baik untukmu sendiri ataupun untuk orang-orang yang kamu tanggung, mengingat meningkatnya penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup dan meningkatnya biaya perawatan kesehatan.

Kesehatan yang baik menjadi kebutuhan dasar, biaya ini tidak dapat diabaikan atau dinegosiasikan. Oleh karena itu, penting untuk memiliki jaminan kesehatan yang memadai untuk semua orang yang menjadi tanggunganmu. Jadi kalau memang kemarin kamu belum membelikan polis asuransi kesehatan untuk orang-orang terdekatmu, segeralah diurus. Minimal BPJS Kesehatan pun sekiranya sudah cukup memadai kok.

Kembali ke atas

3. Bangun dana darurat sebelum menginvestasikan uang

Dana darurat dapat membantu seseorang tetap bertahan di saat krisis keuangan melanda. Ini juga menjadi bagian penting dalam perencanaan keuangan pribadi loh.

Jika kamu adalah seorang lajang, tanpa tanggungan, 3 bulan pengeluaran sekiranya cukup ideal sebagai dana darurat. Tetapi, kalau kamu punya tanggungan yang lebih banyak, maka jumlah dana darurat juga harus menyesuaikan.

Juga, dana ini harus tersedia dengan cepat dan mudah sebagai uang tunai ketika diperlukan. Yang terpenting, dana tersebut harus dianggap aman dan tersedia untuk digunakan hanya dalam keadaan darurat.

4. Hindari jebakan utang

Di era konsumerisme yang meningkat ini, didorong oleh berbagai faktor seperti daya beli yang lebih baik, inovasi produk, gimmick pemasaran, dan pilihan serta fasilitas kredit pribadi yang tersedia dengan mudah, kadang akhirnya membuat kita berujung dalam jebakan utang.

Jebakan utang ini tidak hanya merugikan perencanaan keuangan pribadi tetapi dapat menjadi kehancuran pada saat krisis ekonomi dengan meningkatnya bunga atas iuran yang belum dibayar dan menambah kewajiban peminjam.

Sebenarnya juga, istilah “jebakan” ini kayak kurang tepat juga sih, karena kalau “jebakan” kan artinya kita enggak sadar saat melakukannya. Tapi, kalau utang, masa sih enggak sadar kalau ngutang? Kan aneh?

Ya, intinya gitu deh. Utang bukan dilarang, tapi perlu kebijakan untuk melakukannya. Banyak hal harus diperhitungkan secara matang dulu, apalagi kalau utang untuk hal-hal konsumtif. Pastikan saja, kita mampu membayarnya nanti.

Kembali ke atas

5. Diversifikasi investasi

Prinsip dasar dari investasi yang sukses adalah kemampuan menyesuaikan kebutuhan dengan berbagai pilihan instrumen investasi yang ada sesuai karakteristiknya.

Misalnya seperti saham yang cocok untuk tujuan jangka panjang. Reksa dana pasar uang, untuk jangka pendek. Emas, sebagai penyimpan nilai. Dan, seterusnya.

Kemampuan untuk menyesuaikan karakter dengan kebutuhan ini akan membantu, tidak hanya mengurangi risiko, tetapi juga mengoptimalkan hasil keuntungan.

6. Jalani hidup minimalis

Ini semua tentang menyadari bahwa kita sebenarnya tidak perlu banyak hal untuk menjalani hidup yang bahagia. Konsumerisme yang berlebihan seperti rumah yang lebih besar, mobil yang lebih baik, lebih banyak pakaian, elektronik terbaru hanya mendorong kamu pada kehidupan yang konsumtif.

Menjalani hidup sederhana, berfokus pada kebutuhan, mengurangi keinginan, dan mengembangkan kebiasaan belanja yang sehat tidak hanya memastikan kemakmuran finansial, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan mental dan emosional.

Kembali ke atas

Dari kondisi ini kita belajar, disiplin finansial dengan perencanaan keuangan pribadi diperlukan untuk melalui pasang surut kehidupan. Pandemi ini akan segera berlalu, tetapi jika kita mampu mempertahankan, menyerap, dan menerapkan pembelajaran dari krisis ini, kita akan siap untuk menghadapi kesulitan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *