Menyiapkan dana pensiun itu kerapnya diidentikkan dengan upaya menghitung kebutuhan hidup setelah berhenti bekerja. Berapa biaya makan setiap bulan, berapa tabungan yang harus terkumpul, lalu berapa lama uang tersebut diperkirakan bertahan. Ya, memang begitu sih cara kerja dana pensiun. Tapi, yang juga sering dilewatkan adalah memahami bahwa ada beberapa risiko yang bisa membuat rencana keuangan meleset jauh dari perkiraan.
Masalahnya, sejumlah risiko ini mungkin baru muncul ketika sudah semakin mendekati usia pensiun. Biaya kesehatan bisa naik, harga kebutuhan pokok terus berubah, atau kondisi keluarga yang berubah ketika pensiun sudah dekat.
Duh, terus gimana dong? Kalau sejak awal hanya berpatokan pada angka kebutuhan bulanan hari ini, dana yang terlihat memang bisa saja cepat menyusut.
Hal yang Sering Terlewat Saat Menyiapkan Dana Pensiun
Menyiapkan dana pensiun perlu melihat kehidupan setelah berhenti menerima gaji secara lebih menyeluruh. Ada risiko yang enggak muncul setiap bulan, tetapi sekali datang bisa menghabiskan dana dalam jumlah besar. Ada pula perubahan kecil yang terjadi terus-menerus dan baru terasa dampaknya setelah bertahun-tahun.
Mari kita lihat satu per satu, biar jelas ya.
1. Biaya Kesehatan Bisa Membesar Seiring Usia
Kebutuhan kesehatan menjadi salah satu pengeluaran yang patut mendapat porsi khusus dalam rencana pensiun. Saat masih produktif, sebagian biaya kesehatan mungkin sudah ditanggung BPJS Kesehatan atau asuransi yang dimiliki. Namun, tetap ada pengeluaran yang harus disiapkan sendiri, termasuk biaya untuk kebutuhan yang tidak ditanggung maupun perawatan tambahan.
Padahal kebutuhan kesehatan juga nggak berhenti pada biaya konsultasi dokter. Ada pemeriksaan rutin, obat-obatan, perawatan gigi, alat bantu tertentu, sampai kemungkinan membutuhkan perawatan jangka panjang. Seiring bertambahnya usia, kebutuhan seperti ini bisa muncul lebih sering dan pasti butuh biaya yang lebih besar.
Karena itu, saat menyiapkan dana pensiun, jangan hanya menghitung biaya hidup seperti makan, listrik, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga. Sisihkan pula dana untuk kebutuhan kesehatan yang mungkin meningkat seiring usia. Dengan begitu, biaya berobat enggak langsung menggerus dana yang sudah disiapkan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama pensiun.
2. Inflasi Bisa Mengubah Angka Kebutuhan Hidup
Coba bayangkan kebutuhan hidup Rp5 juta per bulan saat ini. Angka tersebut mungkin cukup untuk gaya hidupmu yang sekarang. Namun, kebutuhan yang sama puluhan tahun mendatang bisa butuh dana jauh lebih besar karena harga barang dan jasa mengalami kenaikan.
Inflasi sering luput karena perhitungannya enggak langsung kelihatan. Kenaikan harga beberapa persen dalam setahun kayaknya kecil kalau dilihat satu tahun saja. Tapi setelah puluhan tahun, wah, gede juga lho.
Misalnya, kebutuhan Rp5 juta per bulan dengan inflasi rata-rata 3 persen per tahun akan menjadi sekitar Rp9 juta per bulan dalam 20 tahun. Artinya, target dana pensiun kudu dihitung berdasarkan kebutuhan masa depan, bukan sekadar menyalin pengeluaran hari ini.
3. Umur Panjang Bisa Membuat Dana Habis Lebih Cepat
Menyiapkan dana pensiun juga perlu memperhitungkan berapa lama dana tersebut harus digunakan. Misalnya nih, kamu pengin pensiun pada usia 60 tahun dan hidup sampai 90 tahun. Dengan begitu, dana pensiun yang disiapkan kudu bisa menopang kebutuhan selama sekitar tiga dekade.
Banyak dong? Iya, banyak. Selama periode tersebut, biaya hidup tetap berjalan dan sejumlah pengeluaran bisa meningkat. Kesalahan menghitung usia harapan hidup dapat membuat dana habis padahal kamu masih butuh biaya untuk hidup.
Yah, ini bukannya menakut-nakuti sih. Tapi ini jadi alasan kenapa target dana pensiun sebaiknya tidak dibuat dengan asumsi bahwa uang hanya akan digunakan selama 10 atau 15 tahun. Perencanaan yang lebih panjang memberi ruang ketika masa pensiun berlangsung lebih lama dari perkiraan.
4. Ada Kemungkinan Harus Membantu Keluarga
Rencana keuangan masa pensiun kadang berubah karena kebutuhan anggota keluarga. Anak mungkin belum mandiri secara finansial, pasangan membutuhkan biaya kesehatan, atau ada anggota keluarga yang membutuhkan bantuan dalam jumlah besar.
Pengeluaran semacam ini enggak bisa dibikin angka pasti. Dilema sih, memang. Karena kalau diabaikan juga jadi risiko. Dana yang awalnya disiapkan untuk kebutuhan pribadi bisa ikut terpakai untuk membayar biaya pendidikan, tempat tinggal, pengobatan, atau kebutuhan keluarga lainnya.
Dalam menyiapkan dana pensiun, kamu bisa memisahkan dana untuk kebutuhan pribadi dengan dana cadangan keluarga. Pemisahan ini membantu menjaga agar tabungan pensiun utama enggak terus-menerus ditarik setiap kali ada kebutuhan keluarga.
5. Return Investasi Enggak Selalu Sesuai Harapan
Mengandalkan investasi untuk membangun dana pensiun berarti siap menghadapi naik-turunnya nilai aset. Perhitungan sering dibuat menggunakan asumsi imbal hasil rata-rata setiap tahun. Artinya, angkanya (tampak) tetap. Padahal, ya namanya investasi bisa naik turun.
Risikonya makin besar ketika penurunan pasar terjadi menjelang atau setelah masa pensiun. Pada periode tersebut, kita mulai butuh untuk mengambil uang dari portofolio. Jika aset sedang turun dan harus dijual untuk membayar kebutuhan hidup, jumlah aset yang tersisa bisa berkurang lebih cepat.
Karena itu, menyiapkan dana pensiun perlu memperhitungkan kondisi pasar, komposisi aset, serta kapan uang akan mulai digunakan. Dana yang segera dibutuhkan sebaiknya memiliki karakter berbeda dengan dana yang masih akan disimpan untuk jangka panjang.
6. Gaya Hidup setelah Pensiun Bisa Berubah
Ada orang yang membayangkan masa pensiun sebagai periode dengan pengeluaran lebih rendah karena enggak kerja lagi. Padahal, waktu luang yang lebih banyak dapat memunculkan jenis pengeluaran baru.
Misalnya, pengin liburan, menjalankan hobi, kumpul-kumpul bareng keluarga, semuanya butuh biaya. Transportasi ke luar kota yang dulu jarang dilakukan bisa menjadi lebih sering. Begitu pula biaya untuk kegiatan sosial.
Saat menyiapkan dana pensiun, kebutuhan hidup sebaiknya dibagi ke dalam beberapa kelompok. Ada kebutuhan rutin, kebutuhan kesehatan, dana darurat, serta anggaran untuk menikmati masa pensiun.
Dengan begitu, rencana keuangan enggak hanya menghitung bagaimana bertahan hidup, tetapi juga memberi ruang untuk aktivitas yang memang ingin dijalani.
7. Pensiun Enggak Selalu Berarti Berhenti Punya Penghasilan
Ada pula kemungkinan kamu masih pengin kerja meski sudah pensiun. Mungkin kerja paruh waktu, konsultasi, usaha kecil, menyewakan aset, atau pekerjaan lain yang sesuai dengan kondisi dan keahlianmu.
Ya enggak apa juga. Malah bagus.
Penghasilan tambahan yang didapat dari kerjaan-kerjaan tersebut bisa bantu memperpanjang usia dana pensiun. Namun, sebaiknya pemasukan itu enggak langsung dianggap sebagai angka pasti dalam perencanaan. Kondisi kesehatan, permintaan pasar, kemampuan bekerja, dan peluang usaha bisa berubah.
Karena itu, rencana pensiun lebih aman jika tetap dapat berjalan meski penghasilan tambahan ternyata lebih kecil dari perkiraan atau berhenti sama sekali. Jika pemasukan tambahan benar-benar muncul, dana tersebut dapat menjadi ruang ekstra untuk kebutuhan lain.
Menyiapkan dana pensiun bukan sekadar mengejar nominal tertentu lalu menganggap tugas selesai. Perhitungan perlu memperhitungkan biaya kesehatan, inflasi, usia hidup, kebutuhan keluarga, risiko investasi, perubahan gaya hidup, dan kemungkinan pemasukan setelah pensiun. Semakin realistis asumsi yang digunakan sejak awal, semakin kecil kemungkinan kamu harus mengubah seluruh rencana ketika sudah berhenti bekerja.
Mau tahu bagaimana merencanakan FIRE dan membangun aset 300 kali gaji dengan lebih detail? Kamu harus banget punya buku ini. Kamu bisa baca dan belajar secara fleksibel, dan dapatkan insight lebih detail mengenai konsep FIRE.
Sudah bisa dibeli di toko-toko buku di kota-kota besar di Indonesia! Get your copy now!
Jangan lupa untuk follow akun Instagram Dani Rachmat ya, untuk berbagai tip keuangan dan investasi yang praktis dan bisa dipraktikkan sendiri. Juga berlangganan newsletter dengan melakukan registrasi di sini, yang akan dikirimkan setiap bulan berisi berbagai update dan tren di dunia keuangan. Jangan sampai ketinggalan berita!
