Slow living di desa sepertinya menjadi cita-cita banyak pejuang FIRE ya? Kamu jugakah?
Ya memang. Kita bisa membayangkan slow living di desa itu seperti apa; kehidupan yang berjalan lebih tenang, biaya hidup yang relatif terjangkau, dekat dengan alam … Sungguh pilihan tempat tinggal yang menarik, ya kan?
Mau Hidup Slow Living di Desa? Ini Tipsnya
Memang kedengarannya mudah, tapi sebenarnya menjalani slow living di desa itu tetap membutuhkan persiapan. Terutama sih supaya hari-hari tetap nyaman dan kondisi keuangan tetap terjaga dalam jangka panjang.
Karena ya, meskipun namanya slow living di desa, tapi pengeluaran tetap ada kan? Jangan kaget, karena di desa kamu justru akan lebih banyak biaya sosial karena asas gotong royongnya relatif lebih tinggi. Apa-apa iuran, belum lagi kalau ada yang punya hajat. Wah, amplopnya harus ada tuh.
Berikut beberapa tips yang dapat membantu menikmati slow living di desa setelah pensiun atau mencapai FIRE.
1. Pilih Desa yang Sesuai dengan Kebutuhan, Bukan Sekadar Indah
Pemandangan sawah dan udara sejuk memang menyenangkan, tetapi itu bukan satu-satunya hal yang perlu dipertimbangkan. Cek juga apakah desa memiliki puskesmas, apotek, pasar, ATM, sinyal internet yang stabil, serta akses jalan yang memadai.
Perjalanan ke rumah sakit rujukan juga perlu diperhitungkan karena kebutuhan kesehatan biasanya meningkat seiring bertambahnya usia. Luangkan waktu untuk tinggal sementara selama beberapa minggu agar bisa merasakan ritme kehidupan sehari-hari sebelum benar-benar memutuskan pindah.
Baca juga: 14 Tempat Terbaik untuk Slow Living
2. Sesuaikan Pola Pengeluaran dengan Ritme Kehidupan Baru
Slow living di desa, pengeluarannya bisa saja lebih rendah, tetapi tetap perlu diatur dengan baik. Buat anggaran yang mencakup kebutuhan pokok, biaya kesehatan, perawatan rumah, hingga dana darurat.
Hindari kebiasaan belanja impulsif hanya karena waktu luang lebih banyak. Ketika pengeluaran terkendali, dana pensiun atau aset hasil FIRE dapat digunakan lebih lama tanpa mengurangi kualitas hidup. Dan jangan lupa, sisihkan untuk biaya sosial, seperti yang sempat disinggung di atas.
3. Isi Hari dengan Rutinitas yang Memberikan Arah
Setelah enggak kerja lagi, jadwal harian bisa berubah total. Mulailah pagi dengan aktivitas ringan seperti berjalan kaki, menyiram tanaman, atau menikmati kopi di teras. Sisihkan waktu untuk membaca, belajar keterampilan baru, atau mengerjakan hobi yang selama ini tertunda.
Hari tetap terasa teratur tanpa perlu dipenuhi agenda yang padat dari pagi hingga malam.
4. Manfaatkan Pekarangan untuk Kebun Rumah
Rumah di desa umumnya pekarangannya luas. Cobalah mulai dimanfaatkan, tanam beberapa pot berisi cabai, tomat, kangkung, daun bawang, atau berbagai rempah. Hasilnya lumayan, bisa buat bantu mengurangi belanja dapur.
Aktivitas merawat tanaman juga membuat tubuh tetap bergerak setiap hari. Saat masa panen tiba, hasilnya bisa langsung dimanfaatkan untuk memasak sehingga pengeluaran terasa lebih hemat.
5. Tetap Miliki Penghasilan Tambahan yang Fleksibel
Pensiun atau FIRE bukan berarti seluruh pemasukan harus berhenti. Keuntungan pensiun dini kan juga bukan nganggurnya, tetapi kebebasan memilih pekerjaan ringan yang dapat dikerjakan sesuai waktu luang. Misalnya menulis, mengajar secara daring, membuka konsultasi, menjual produk digital, atau mengelola homestay kecil jika lokasi memungkinkan.
Tambahan pendapatan seperti ini bisa dipakai untuk liburan, hobi, atau menghadapi biaya tak terduga. Dana investasi pun enggak perlu terlalu sering dicairkan untuk memenuhi kebutuhan di luar anggaran rutin.
6. Kurangi Screening Time
Saat bekerja, sebagian besar waktu mungkin dihabiskan di depan komputer atau ponsel. Slow living di desa seharusnya bikin kamu punya kesempatan untuk mengubah kebiasaan tersebut.
Batasi penggunaan media sosial pada jam tertentu, lalu manfaatkan sisa waktu untuk membaca buku, memancing, bersepeda, berkebun, atau sekadar menikmati suasana sekitar. Pikiran menjadi lebih tenang karena perhatian enggak terus-menerus berpindah dari satu notifikasi ke notifikasi berikutnya.
7. Jadikan Kesehatan Sebagai Bagian dari Rutinitas Harian
Waktu luang setelah pensiun bisa kamu pakai untuk lebih memperhatikan kondisi tubuh. Jalan kaki setiap pagi, bersepeda mengelilingi desa, berkebun, atau senam ringan sudah cukup membantu menjaga kebugaran.
Lengkapi dengan pola makan yang lebih seimbang dan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari memberi manfaat jauh lebih besar dibanding berolahraga berat sesekali.
8. Sisihkan Anggaran untuk Kebutuhan di Luar Desa
Enggak semua layanan tersedia di desa. Ada kalanya perlu pergi ke kota untuk pemeriksaan kesehatan, membeli perlengkapan tertentu, atau mengurus administrasi. Biaya transportasi dan pengeluaran tambahan seperti ini sebaiknya sudah masuk dalam anggaran tahunan.
Dengan persiapan sejak awal, kebutuhan mendadak enggak akan mengganggu arus kas sehari-hari.
Baca juga: Kota Pensiunan dengan Biaya Hidup Rendah tapi Kualitas Hidup Tinggi
Slow living di desa dapat menjadi cara menikmati masa pensiun atau kehidupan setelah mencapai FIRE dengan ritme yang lebih tenang dan terarah. Lingkungan yang nyaman, pengeluaran yang lebih terkendali, serta waktu yang lebih leluasa membuka kesempatan untuk menjalani hari sesuai prioritas pribadi.
Dengan persiapan yang matang sejak awal, kehidupan di desa enggak hanya bisa kasih kamu ketenangan, tetapi juga membantu menjaga kualitas hidup dan kestabilan finansial dalam jangka panjang.
Mau tahu bagaimana merencanakan FIRE dan membangun aset 300 kali gaji dengan lebih detail? Kamu harus banget punya buku ini. Kamu bisa baca dan belajar secara fleksibel, dan dapatkan insight lebih detail mengenai konsep FIRE.
Sudah bisa dibeli di toko-toko buku di kota-kota besar di Indonesia! Get your copy now!
Jangan lupa untuk follow akun Instagram Dani Rachmat ya, untuk berbagai tip keuangan dan investasi yang praktis dan bisa dipraktikkan sendiri. Juga berlangganan newsletter dengan melakukan registrasi di sini, yang akan dikirimkan setiap bulan berisi berbagai update dan tren di dunia keuangan. Jangan sampai ketinggalan berita!
