Katanya, kalau mau pensiun dini itu kudu sudah siap dengan passive income yang memadai. Dengan adanya pendapatan pasif ini, kebutuhan hidup setelah berhenti bekerja bisa terjamin.
Well, gambaran ini memang menarik. Memang kalau ada pemasukan dari sewa properti, dividen saham, bunga investasi, atau bisnis yang tetap berjalan tanpa perlu terlibat setiap hari, pastinya hari tua akan lebih sejahtera ya.
Namun, pensiun dini sebenarnya punya lebih banyak pilihan strategi selain punya passive income.
Artinya, pensiun dini tanpa pemasukan pasif tetap mungkin dilakukan, selama kebutuhan hidup dan sumber dana setelah berhenti bekerja sudah dihitung dengan cermat.
Mengatur Dana Pensiun Saat Tidak Mengandalkan Passive Income
Tanpa passive income, sumber uang untuk membiayai kehidupan setelah pensiun perlu disiapkan lebih awal. Tabungan dan investasi bisa menjadi modal utama, sementara pengeluaran perlu disesuaikan dengan kemampuan dana tersebut bertahan dalam jangka panjang.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan berhenti bekerja lebih cepat. Apa saja?
1. Hitung Kebutuhan Hidup setelah Berhenti Bekerja
Langkah pertama adalah mengetahui berapa biaya yang dibutuhkan setiap bulan. Jangan hanya menghitung makan, listrik, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga. Biaya kesehatan, pajak, perawatan rumah, liburan, bantuan untuk keluarga, serta kebutuhan tak terduga juga perlu masuk perhitungan.
Misalnya, kebutuhan hidup saat ini Rp8 juta per bulan. Jika ingin pensiun pada usia 45 tahun, jangan langsung menggunakan angka tersebut sebagai patokan seumur hidup. Harga barang dan jasa dapat berubah, sementara kebutuhan pada usia 50, 60, atau 70 tahun belum tentu sama dengan kondisi sekarang.
Perhitungan akan lebih berguna jika dibuat dalam beberapa skenario. Ada skenario hemat, kebutuhan normal, dan kondisi ketika pengeluaran meningkat karena kebutuhan kesehatan atau keluarga.
Baca juga: Passive Income Apakah Benar-Benar Pasif? Ini Faktanya!
2. Bangun Dana yang Cukup Besar untuk Menopang Hidup
Pensiun tanpa passive income berarti sebagian besar kebutuhan hidup akan dibayar menggunakan aset yang sudah dikumpulkan. Karena itu, jumlah dana yang tersedia perlu dikaitkan dengan tingkat pengeluaran tahunan.
Contohnya, kebutuhan hidup Rp8 juta per bulan berarti sekitar Rp96 juta per tahun. Kalau seluruh kebutuhan tersebut harus ditanggung dari aset, dana pensiun perlu cukup besar untuk membiayai puluhan tahun kehidupan.
Perhitungan juga perlu memperhitungkan hasil investasi dan inflasi. Menyimpan Rp2 miliar lalu menarik Rp96 juta setiap tahun juga enggak berarti dana tersebut otomatis cukup selama 20 tahun. Nilai investasi bisa naik atau turun, sementara harga kebutuhan hidup dapat terus meningkat.
Karena itu, dana pensiun sebaiknya ditempatkan dalam aset dengan tingkat risiko yang sesuai dengan kebutuhan dan jangka waktu penggunaannya.
3. Pisahkan Dana Pensiun dari Uang untuk Kebutuhan Lain
Dana untuk pensiun sebaiknya jangan disimpan bersama cash aktif, termasuk uang yang masih diperlukan untuk membeli rumah, membayar pendidikan anak, membantu keluarga, atau menjalankan usaha.
Pemisahan ini akan membuat perhitungan jadi lebih mudah. Jika seluruh tabungan dicampur menjadi satu, angka saldo memang terlihat besar, tetapi belum tentu seluruhnya bisa digunakan untuk membiayai kehidupan setelah berhenti bekerja.
Misalnya ada aset senilai Rp3 miliar. Setelah dihitung, Rp800 juta masih dibutuhkan untuk kewajiban keluarga dan Rp400 juta merupakan dana darurat. Artinya, dana yang benar-benar tersedia untuk pensiun bukan Rp3 miliar. Sehingga nanti perhitungannya sudah pasti akan berbeda.
Angka seperti ini perlu diketahui sebelum mengambil keputusan berhenti bekerja.
4. Siapkan Sumber Penghasilan Aktif yang Lebih Ringan
Enggak ada passive income bukan berarti harus berhenti menghasilkan uang sama sekali. Salah satu pilihan adalah mengurangi jam kerja setelah pensiun.
Misalnya, pekerjaan penuh waktu diganti dengan proyek freelance dua atau tiga kali dalam sebulan. Penghasilan dari aktivitas tersebut bisa digunakan untuk membayar kebutuhan rutin sehingga dana investasi enggak perlu ditarik terlalu besar.
Bagi pekerja kreatif, konsultan, pemilik usaha kecil, atau profesional dengan keahlian tertentu, model kerja seperti ini bisa lebih fleksibel. Penghasilan yang diperoleh enggak perlu sebesar saat masih bekerja penuh waktu. Selama mampu menutup sebagian pengeluaran, juga sudah oke. Umur dana pensiun jadi bisa lebih panjang kan?
Ada perbedaan besar antara harus bekerja untuk membayar semua tagihan dan memilih bekerja karena ingin tetap punya aktivitas serta pemasukan tambahan.
5. Buat Batas Penarikan Dana yang Realistis
Tanpa passive income, risiko terbesar adalah dana pensiun habis terlalu cepat. Karena itu, jumlah uang yang boleh ditarik setiap tahun perlu ditentukan sejak awal.
Misalnya aset pensiun mencapai Rp2,5 miliar. Jika setiap tahun ditarik Rp200 juta untuk kebutuhan hidup, persentase penarikannya perlu dibandingkan dengan potensi hasil investasi, inflasi, dan kemungkinan umur pensiun yang panjang.
Kondisi pasar juga perlu diperhatikan. Saat nilai investasi sedang turun, menarik dana dalam jumlah besar dapat mengurangi jumlah aset yang tersisa. Sebaliknya, kalau hasil investasi sedang baik, sebagian keuntungan dapat dialokasikan untuk kebutuhan hidup.
Aturan penarikan jangan terlalu kaku. Yang penting, ada batas yang membantu menjaga pengeluaran tetap sejalan dengan kemampuan aset.
6. Siapkan Dana Khusus untuk Kebutuhan Besar
Biaya hidup bulanan bukan satu-satunya ancaman terhadap dana pensiun. Pengeluaran besar yang muncul sesekali bisa mengubah perhitungan secara drastis.
Renovasi rumah, membeli kendaraan, perawatan kesehatan, atau membantu anggota keluarga membutuhkan dana dalam jumlah besar. Jika semuanya diambil dari dana pensiun utama, saldo bisa berkurang lebih cepat.
Karena itu, sebagian aset dapat dialokasikan untuk kebutuhan jangka menengah dan jangka panjang. Dana darurat juga perlu tetap tersedia setelah berhenti bekerja.
Dengan cadangan tersebut, enggak setiap kejadian besar harus dibayar dari portofolio yang dirancang untuk membiayai kehidupan sehari-hari.
7. Evaluasi Rencana Pensiun secara Berkala
Kalau kamu mau pensiun dini tanpa passive income, kondisi keuangan kudu dipantau dengan ketat. Pengeluaran bisa berubah. Nilai investasi bisa turun. Rencana keluarga juga dapat bergeser.
Evaluasi bisa dilakukan setidaknya setahun sekali. Periksa jumlah aset, pengeluaran tahunan, utang, hasil investasi, serta kebutuhan yang mungkin muncul dalam beberapa tahun ke depan.
Jika pengeluaran meningkat terlalu tinggi, segera lakukan beberapa solusi. Pilihan yang tersedia antara lain mengurangi biaya hidup, menunda pensiun, menambah penghasilan aktif, atau menyesuaikan target gaya hidup.
Pensiun dini itu juga bukannya kudu berhenti bekerja selamanya pada tanggal tertentu. Rencana tersebut bisa dibuat bertahap. Jam kerja dikurangi lebih dulu, kemudian aktivitas profesional dikurangi ketika kondisi keuangan sudah semakin kuat.
Baca juga: Cara Membangun Passive Income sebelum Usia 50
Pensiun Dini Tetap Bisa Jalan Tanpa Passive Income
So, maupPensiun dini tanpa passive income? Bisa kok, bisa. Tapi ya butuh dana yang cukup, pengeluaran yang terkendali, dan rencana penarikan aset yang realistis.
Selama sumber dana sudah dihitung sampai jauh ke depan, pensiun enggak harus bergantung pada satu jenis pemasukan. Bagi sebagian orang, kombinasi tabungan, investasi, dan pekerjaan ringan setelah pensiun dapat menjadi cara untuk menjaga keuangan tetap berjalan tanpa harus kembali ke rutinitas kerja penuh waktu.
Mau tahu bagaimana merencanakan FIRE dan membangun aset 300 kali gaji dengan lebih detail? Kamu harus banget punya buku ini. Kamu bisa baca dan belajar secara fleksibel, dan dapatkan insight lebih detail mengenai konsep FIRE.
Sudah bisa dibeli di toko-toko buku di kota-kota besar di Indonesia! Get your copy now!
Jangan lupa untuk follow akun Instagram Dani Rachmat ya, untuk berbagai tip keuangan dan investasi yang praktis dan bisa dipraktikkan sendiri. Juga berlangganan newsletter dengan melakukan registrasi di sini, yang akan dikirimkan setiap bulan berisi berbagai update dan tren di dunia keuangan. Jangan sampai ketinggalan berita!
