[Review] Sabtu Bersama Bapak

Judul Buku: Sabtu Bersama Bapak
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 277

Buku yang udah bikin gw mewek bahkan di bab pertamanya. :))

Akhir-akhir ini udah jarang loh mbrebes mili cuman karena nonton film, denger lagu ato cuman baca buku tapi buku ini berhasil banget bikin mata berkaca-kaca. Paling gak di awal pembukaan buku ini. Kenapa gitu? Karena cerita yang ditulis sama Adhitya Mulya di sini adalah cerita tentang Bapak, Ayah, Papa ato apapun kita nyebutnya yang mana gw (Alhamdulillaah) masih punya dan sedang di posisi itu.

Pas pulak bacanya pas lagi jalan mau mudik lebaran lalu yang mana kekangenan sama Bapak sudah ketahan cukup lama.

Buku dibuka dengan Prolog di mana Pak Gunawan dan Bu Itje sedang menyiapkan rekaman pertama dari sekian banyak rekaman untuk dua anaknya, Cakra dan Satya. Cerita langsung berlanjut ke sesaat setelah Pak Gunawan meninggal, Bu Itje pun memutarkan video pertama untuk anak-anaknya yang berisi pesan Pak Gunawan.

Gimana kemudian Cakra tumbuh jadi laki-laki gak seberapa ganteng dan kagok dalam urusan cinta tapi sukses dalam karir sementara Satya harus menghadapi perubahan dalam keluarganya yang sempurna dengan pesan-pesan Pak Gunawan (Alm) yang diputarkan lewat video jadi warna khas buku ini yang ditulis dengan gaya Adhitya mulya yang berkesan ringan, bisa dihubungkan dengan diri kita dan banyak pesan tersembunyi tanpa ada rasa menggurui. Gak bakalan ada bahasa berwarna filsafat yang kadang bikin bingung. Bahasanya lugas dan jelas. halah

Gw ngerasa dari semua buku yang pernah dia tulis (dan gw baca) buku ini adalah bukunya Adhitya yang paling berbobot. Seperti dia bilang di kata pengantarnya,

” Buku ini ditulis selama 2 tahun tapi dibuat selama 36 tahun”

Menurut gw di buku ini, Adhitya menuliskan konsep parenting yang dia dapatkan dan terapkan, juga bagaimana dia memandang kehidupan. Bagian yang paling gw suka dari buku ini adalah bagaimana bertanggung jawabnya Pak GunawanΒ  sebagai suami yang menyiapkan segala sesuatu untuk keluarga yang ditinggalkan. Pas banget sama konsep aku mencintaimu seumur hidupmu.

Buat suami-suami yang terbiasa menyembunyikan gaji dari istrinya, quote ini kayaknya pas banget deh:

Pemimpin keluarga macam apa yang minta istrinya percaya sama suami tapi dia sendiri menyembunyikan nafkahnya.

Dia mengingatkan lagi ke yang baca bukunya bahwa dengan segala kekurangannya, pasangan kita adalah yang terbaik untuk kita. Mereka telah memilih kita yang penuh kekurangan padahal mereka bisa saja memilih yang jauh lebih-lebih dibanding kita. Mungkin kalo pasangan kita gak punya kekurangan yang kita keluhkan mereka gak bakal milih kita. Gitudeh. Hahaha.

Gw suka banget sama buku ini. Thx to Jo yang udah bikin gw keracunan dan kesetanan buat nyari bukunya pas puasa-puasa. Aseli sampe 3 Gramedia gw puterin buat nyari ini buku. Hihihi.

Advertisements

47 Comments

  1. silvi
  2. De
  3. November 19, 2014

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh
Translate Β»
Want to read other posts in English in this blog?Open
+
%d blogger menyukai ini: