Really, Should You Ask?

The only thing that will make you happy is being happy with who you are, and not who people think you are.
Goldie Hawn as copied from Search Quotes

Penting ya orang nanya: “Kapan Nikah?”

At first I didn’t really care about this question. Not until my auntie broken down crying for over an hour to let her pain caused by that question out from her chest.

Gw baca dan denger banyak banget blog dan unek-unek orang yang ditanya pertanyaan keramat itu yang mana mostly menyatakan kalo mereka terganggu. Pertanyaan itu jadi pertanyaan tergengges kalo gw simpulkan.

Okelah kalo dibilang pertanyaan itu sebagai bentuk perhatian, bahwasannya nanya karena care. Tapi perhatian dalam hal apa? Apakah dengan menanyakan itu berarti update  terus akan kondisi orang yang ditanya? Ato berniat untuk mencarikan calon? ato bentuk perhatian yang lain yang kayak begimana? Yang ada seringnya nanya pertanyaan itu (setahu gw) purely karena emang si penanya merasa superior dan memiliki kondisi lebih dibanding yang ditanya (note: sudah menikah) dan (semoga gw salah) emang berniat nanya pertanyaan yang susah dijawab biar merasa menang.

Pertanyaan semacam itu pastinya diajukan untuk orang yang menurut “standar” orang kebanyakan “seharusnya” sudah berada pada tahapan kehidupan menikah tapi ternyata belom juga menikah. Dalam kasus sodara gw ini dia dianggap gagal oleh masyarakat buat memenuhi standar yang ada dan orang lain berasa berhak menghakimi dan ngomong macem-macem. Yeah you may already know the terms. Perawan tua dan sebutan keji semacam itu. Well, life happens dan kondisi itu bukan sepenuhnya tanggung jawab orang yang harus menanggung kondisi itu kan?. Jadi ga seorangpun berhak melabeli orang lain kalo menurut gw. Inilah yang mendorong gw bikin postingan ini.

Gw yakin sepenuhnya kalo jodoh itu hak prerogatif Tuhan yang bikin hidup meskipun manusia diberikan keleluasaan untuk berusaha mencari pasangan hidupnya yang menurut mereka paling pas. Dalam kasus gw, sebelum ketemu Bul dan Allah menunjukkan jodoh gw untuk dunia-akhirat adalah dia (insyaAllah-amiin), jujur aja gw belom berniat menikah dan membayangkan diri gw sendiri sebagai seorang family-man. Eh ternyata begitu ketemu dengan mudahnya Dia bikin hati gw berbalik dan gw jadi pengen nikah. Sampe salah satu temen baik gw pernah bikin postingan tentang itu dan akhirnya gw posting juga di postingan Life Changing People We Meet ini. Dulu setiap ditanya kapan nikah selalu gw keluarkan jawaban “Well, I can’t see myself married and settle down atleast for the next five years.” Dan pas ngomong gitu gw emang ga ngebayangin nikah and I didn’t really care that time.

Tapi coba deh bayangkan kalo posisi penerima pertanyaan adalah seseorang yang hidup di tengah masyarakat yang (menurut gw) judgemental banget, menghakimi dan menuntut orang untuk sesuai dengan kondisi kebanyakan orang. Hidup normal, menikah dan membentuk keluarga, sementara si korban yang ditanya adalah orang yang mikirin banget pendapat orang dan lingkungannya.

Speaking of living normal, my auntie screaming her wish to live just like any other people, married, having one or two kids, and live normal.

Sedih gw dengernya. Keinginan yang gw sendiri ga pernah akan bisa ngebantu untuk mewujudkan. Maksud gw kalo gw punya kenalan tentu gw bakalan ngebantu buat ngejodohin dan lain sebagainya, tapi ya cuman sebatas itu. Sementara orang nikah kan banyak banget faktor yang menentukan kan. Mungkin ketakutan terbesarnya adalah bakalan kesepian waktu sudah menua dan gw pun pernah menghadapi ketakutan itu di suatu titik. Waktu itu gw cuman bisa berusaha meyakinkan kalo kami keluarganya akan selalu ada di sampingnya. Buat gw hidup normal antara orang satu dan lainnya ga sama. Okelah kalo keluarga normal mungkin terdiri dari figur Suami, Istri dan Anak, tapi kalo udah berusaha maksimal dan emang belom dikasih ya masak harus dicap aneh-aneh segala macem? Toh orang lain ga pernah ngerti kan ama kejadian di hidup seseorang. Kebahagiaan kita seharusnya kita sendiri yang menentukan. Bukan orang lain.

Worst part is that people who are asking purposedly over and over again are those who are less care (if I can’t say don’t care) about my auntie’s well being. Mereka yang nanya kebanyakan bukan keluarga, cuman temen kerja yang sebenernya insignificant sama kehidupan yang ditanya. Tetangga yang demi ga ada bahan obrolan akhirnya nanya pertanyaan ga penting itu dan ato kalopun keluarga palingan keluarga jauh yang ketemu cuman setahun sekali ato di acara nikahan, sunatan ato kematian keluarga yang lain. Mereka yang ngasih beban terbesar biasanya justru orang-orang yang sama sekali ga berkontribusi, not even ask whether my auntie is fine or not.

Yes I know that’s life. I can’t ask people to have all same standard. But please be nice. Stop being nosy and mind your own business. Siapa yang tahu seberapa besar upaya orang-orang yang belum menikah untuk bertemu jodohnya, ato apa yang kejadian sama hidup mereka sampe sekarang ini, trus keputusan apa yang mereka buat. Just give it a rest. Masih banyak kok pertanyaan lain buat ditanyakan.

Maaf kalo gw merepet di sini.

PS:

  • Yang menderita karena pertanyaan ini ga cuman yang ditanya. Orang tua yang ditanya juga bakalan lebih setres. Dan kesetresan ini terjadi juga ama sodara gw yang lain yang anak cowoknya belum ketemu jodohnya.
  • pertanyaan lain yang ga kalah genggesnya adalah ‘kapan punya anak?’, ‘kapan anaknya dikasih adek?’. Come on, it is life, not a race. Mau ditanya balik ‘kapan meninggal?’ nggak kan? 😀
Advertisements
Tags:

129 Comments

  1. ongakudewi
  2. metamocca
      • metamocca
  3. ronal
  4. awan
  5. yeye
  6. whysooserious
  7. aqomadin
  8. randompeps
  9. Ely Meyer
  10. Penulis Cemen
  11. Gen Puisi
  12. Hicha Aquino
  13. November 24, 2012
  14. November 24, 2012
  15. heliocentre
  16. 'Ne
  17. bintangtimur

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh
%d blogger menyukai ini: