Dreaming Wide Awake

Featured image di postingan ini dari Entertainment Buddha.

Kayak judul lagunya Lizz Wright, tapi gw bukan mau ngebahas lagu. Mau ngebahas film. 😀

Film ini sebenernya dah pernah gw bahas di akhir tahun 2014 pas gw ngadain challenge, cuman emang gaklengkap dan detail. Waktu itu gw nulis tentang film yang merubah perspektif.

Bisa nebak ga kira-kira dari ketiga film yang pernah gw bahas itu, film mana yang bakalan gw tulis di sini?

Kalo dari judul postingan sih pasti udah ketebak kalo filmnya adalah The Matrix *hellow yellow deh Daaan, dari featured imagenya aja udah ketahuan kelleus! Filmnya sebenernya trilogi, dimulai dari The Matrix, The Matrix Reloaded sampai The Matrix Revolutions, tapi yang gw bahas di sini kheses buat film pertamanya. The Matrix.

Bukan Sekedar Film Action

Jujur aje, pertama kali tahu film ini justru dari tayangan TV. Gw masih SMA waktu filmnya sendiri rilis tahun 1999, trus di Indonesia rame iklan rambut yang pake gayanya Neo yang menghindari peluru itu. Pas udah deket-deket seri keduanyalah The Matrix Reloaded di tahun 2003 an lah The Matrix tayang di TV.

Awalnya sih pas lihat di acara Layar Emasnya RCTI ngira film ini cuma film eksyen yang lain aja. Banyak adegan tembak-tembakan dan spesial efek yang warbiyasak bagus. Udah gitu doang. Bokk, jaman segitu internet belom kayak sekarang yang apa-apa tinggal google dong ya. Jadi ya manalah ada gw cari tahu dulu kalo The Matrix itu menang segabruk Oscar sebelumnya.

And there I was. Innocently watch this very movie. 

Image from Coroflot.com

Emang pantes film ini menang Oscar untuk semua efek-efek yang dipakai. Wachowsky bersodara emang gila bisa aja kepikiran segudang efek yang bahkan gak kepikiran bisa dibuat waktu itu. Mulai dari adegan openingnya Trinity, agent yang dingin gak ketulungan sampe ke loncatan antar gedung dan menghindari dan menghentikan peluru. Levelnya dewa deh spesial efeknya.

Membangkitkan Pemikiran

Salah satu alasan kenapa film ini bisa begitu mengena adalah mungkin karena waktu pas nonton pertama kali status masih sebagai mahasiswa Teknik Informatika yang berkutat sama programming dan baris kode. Apalagi baris-baris program komputer yang dipake itu emang baris-baris commandnya Linux. Jadi berasa bisa relate sama yang dikerjain sama Neo yang hacker.

Alasan lainnya adalah waktu itu gw baru-baru menyelesaikan baca Sophie’s Worldnya Jostein Gaarder dan sebelumnya habis baca buku Ksatria, Putri dan Bintang Jatuhnya Dee Lestari. Sudah lihat benang merahnya?

Filosofi dari dua buku dan film ini kuat banget.

Di buku Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, ternyata tokoh Ruben dan Dimas yang sibuk banget nulis cerita bareng ternyata juga adalah tokoh rekaan, di Sophie’s World juga ternyata kehidupan tokoh yang gw baca hampir seisi buku ternyata juga rekaan dan di film The Matrix ini, kehidupannya Neo which is adalah kehidupan yang gw tahu juga ternyata cuma ada di dalam pikiran. Cuman mimpi.

Efek setelah film ini berakhir dashyat banget. Hampir selama seminggu di kepala gw terngiang-ngiang beneran gak sih hidup yang gw tahu ini sebenernya adalah hidup gw? Apakah gw emang hadir in the flesh? darah dan daging? Ataukah sebenernya gw yang sebenernya juga sedang “dipanen” sama mesin dan dikasih mimpi doang?

Bahkan sampe sekarang, kalo dilihat lagi dan dipikirin lagi, rasanya luar biasa banget. Ini nih sepuluh momen paling oke di trilogi Matrix dari WatchMojo.com dan sebagian besar di antaranya adalah dari film The Matrix

Ambil Kendali dalam Hidup

Setelah berhasil move-on dari efek film yang gak mau-mau hilang dari kepala ini, beberapa pelajaran bisa gw ambil untuk diimplementasikan dalah kehidupan nyata. *tsaaahh. 

Satu yang terpenting adalah kejujuran itu yang utama sepahit apapun. Entahlah, gw ngelihat pilihan antara dunia matrix dan dunia nyata adalah gambaran dari topeng dan kejujuran. Seenak apapun topeng yang dipakai/dinikmati dalam dunia matrix kita sendiri gak hidup di dalamnya alias hidup dalam kebohongan. Mending kalo semua orang juga hidup dalam kebohongan, lha kalo kita sendokir? kan berabe. Kayak ngeblog misalkan, ya gak usahlah posting yang bohong-bohong. Jujur aja, kayak Neo yang milih hidup dan bangun daripada terus mimpi.

Selain itu, film ini juga ngajarin kalo pilihan apapun yang dipilih, ya kita harus siap sama konsekuensinya. Mau tetep tidur di dunia mimpi ya monggo dengan konsekuensi gak bisa melakukan apapun karena kita tergantung sama mesin, kalo mau bangun ya hayuk aja asalkan siap berjuang.

Dan yang terpenting adalah, dengan berani mengambil keputusan menjalani hidup, gw bisa menjalani hidup sampai sepenuh potensi diri yang ada*tsaaaaah lagi. Hal-hal yang ngebatesin berkembangnya gw ya cuma ada di pikiran. Selama gw bisa mengalahkan apa yang ada di pikiran, ya gw akan bisa melakukan hal-hal yang mungkin gw pikir mustahil awalnya. Seperti apa yang Neo lakukan. *ihikkk…. Idola banget emang si Neo *sok ikrib.

Jadi kalo ditanya what movie am I? I’m The Matrix geek. I love all about this movie.

Ada yang suka The Matrix juga?

Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp SecondGiveaway: What Movie are You?

Postingan lain tentang film di blog ini:

[display-posts category=”movies”]

Advertisements

23 Comments

  1. ulu
  2. ara

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Translate »
Want to read other posts in English in this blog?Open
+
%d blogger menyukai ini: