Pelajaran Kehidupan yang Mendalam: Review Buku Bumi Manusia

Novel roman sejarah Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ini membuat saya terkagum kagum dengan di hadirkannya tokoh yg sangat berkarakter dan pemikiran yg tajam.

Lah yaaa Pram Gito loh…
Duniapun tahjum dengannya apalagi saya… Gak heran kalau buku ini diterjemahkan ke lebih 30 bahasa di dunia.

Dengan pemikiran tajam seorang Pram,
saya memberanikan memberikan satu pandangan tentang buku “Bumi Manusia” 

Sebelum lebih lanjut tentang apa dan bagaimana  saya belajar dari buku ini, saya ceritakan dilu tentang adanya tujuh tokoh yang menurut saya membuat saya belajar.

(1) Tuan Meilema
(2) Nyai Ontosoroh
(3) Annelies
(4) Minke
(5) Magda Peters
(6) Jean Marais
(7) Bunda Minke.

PS: Cover images from Wikipedia page

Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer’s Blurb

Sebelum saya mengutarakan tentang ketujuh tokoh tersebut, baiknya saya memberikan sedikit ringkasan novel Bumi Manusia.

Bumi manusia ini menceritakan tentang seorang Minke,  pribumi dan mahasiswa HBS, yang jatuh cinta pada Annelies, wanita cantik anak Nyai Ontosoroh gundik Tuan Meilema.

Minke adalah putra seorang Bupati keturunan Ninggrat, punya seorang kawan bernama Jean Marais, pelukis asal prancis punya anak yg sering di ajak bermain oleh Minke. Di kampus, Minke punya Dosen yg menyayangi dia bernama Magda Peters.

Bagaimana Pram meramu cerita kehidupan seorang Minke yang terasa biasa saja menjadi sebuah buku yang sempat dilarang peredarannya di bumi Indonesia tercinta inilah yang sungguh menarik untuk disimak.

Review Buku Bumi Manusia: Sebuah Pelajaran Mendalam tentang Kehidupan

Membacalah, Tekunlah Belajar

Bumi Manusia English Version

Bumi Manusia English Version

Tokoh Pertama yang ingin saya ceritakan NYAI ONTOSOROH .

Selir yg di beli Tuan Meilema dari ayahnya yg haus kekuasaan , tidak bisa membantah walau hati remuk. Dunianya berakhir disaat pertama kali Tuan Meilema membelinya. Mati hati, itu mungkin yg saya bisa katakan terhadap Nyai Ontosoroh kala dia mengalami peristiwa itu.

Kebenciannya begitu besar terhadap ayahnya, dan menjadikan ibunyapun tidak luput dari perasaannya yang begitu kuat, karena dia merasa seorang ibu harusnya membela anaknya.

Saya begitu kagum dengan Pram, ketika dia memberikan kisah bagaimana Tuan memperlakukan Nyai begitu manis, disayang, dididik menjadi seorang wanita yang cantik, kuat dan cerdas.

Dari hasil hubungan mereka lahir seorang putra dan putri. Nyai, tidak banyak bincang, kesukaannya membaca, belajar dengan tekun membuat dia mampu melipat gandakan perusahaan yang dimiliki oleh sang Tuan. Kepedihan hidupnya dia alihkan dengan membaca dan bekerja. Indahnya hidup dia rasakan saat bagaimana Tuan Meilema begitu menyayangi dia dan mendidiknya tapi semuanya direnggut kembali oleh keadaan saat putra sah sang Tuan dari Belanda datang mengambil semua hak-haknya. Kalimat Nyai yg tertanam di hati saya, saat dia menceritakan ke An, putrinya bagaimana tuan mengajarinya untuk selalu rapi.

“Perempuan yang tak dapat merawat kecantikan sendiri, kalau aku lelaki, akan ku katakan pada teman-temanku, jangan kawini perempuan semacam itu, dia tak bisa apa-apa, merawat kulitnya sendiripun tidak kuasa ” #jleb

Habis baca itu saya langsung nelen ludah… Hik… Saya termasuk orang yg tidak perduli dengan penampilan. Tapi percaya deh walau begitu kamar saya rapi kok, meja kerja saya rapi kok, semua tertata pada tempatnya, sampai isi lemari urutannya sesuai jenis pakain dan warna… 😀

Tapi siapa yg percaya itu semua kalau penampilan saya berantakan ?

Ah Nyai… kau benar… *habis baca buku ini langsung deh lebih banyak belajar berpenampilan rapi… Karena diapun berkata:

“Cantik menarik sungguh lebih baik daripada kusut, Dan setiap yg buruk tak pernah menarik”

Nyai… Nyai… Andaikata wanita atau putri putri Indonesia mengerti pesanmu ini… Alangkah indahnya…

Kau wanita yang sangat terpuruk, mampu menjadi wanita yg luar biasa karena mau BELAJAR dengan mendengar didikan dan banyak membaca buku.

Bangunlah Orang Lain

Ada dua tokoh yg menggambarkan karakter ini.

Tokoh kedua yg saya ceritakan, Tuan Meilema.

Lelaki berkebangsaan Belanda ini mungkin membuat banyak pembaca tidak menyukai karakternya, sayapun sempat emosi. Bukan karena dia suka hati beli wanita atau meninggalkan wanita tapi lebih ke kepengecutannya sebagai lelaki yg tidak mengambil SIKAP ketika masalah hadir dalam hidupnya.

Tapi akhirnya saya berpikir,  jika Tuan Meilema ini tidak mendidik Nyai dengan kasih sayang, mampukah sang Nyai lahir sebagai wanita yg kuat, cerdas dan mampu melipatgandakan kekayaannya? Yap, akhirnya sayapun menyadari dan berpikir, batas kekurangan seperti apapun dari kita sebagai manusia yang diberikan oleh pencipta, harusnya bisa membuat orang lain lebih baik.

Tokoh ketiga, orang yg membuat Minke menjadi murid CERDAS adalah Magda Peters. Dosen Belanda ini begitu menyayangi Minke, dia satu-satunya dosen yang membela Minke saat dia dikeluarkan dari kampus karena tinggal serumah dengan Annelies. Bahkan pada akhirnya Dosen ini harus dikeluarkan dari HBS dan di kirim kembali ke Negeri Belanda.

Yaaaaah…  memang selalu ada korban di setiap kisah.

Jadilah Penyemangat

Bumi Manusia

Bumi Manusia

Selanjutnya tokoh ke empat,
Annelies, putri Nyai Ontosoroh. Kecantikannya mengalahkan dewi dewi *Pram ini looh kalo bikin analogi, mengungkapkan kecantikan wanita di Annelies itu bikin sirik…  hahahahaha.

An, panggilannya tidak banyak yg bisa saya utarakan di tokoh ini, karena buat saya dia hanya tokoh yg menjadi penyemangat tokoh utama yaitu Minke, An, wanita yang digambarkan sangat cantik ini adalah sejatinya wanita rapuh, sangat berbeda dengan mamanya. Sang Nyai yang begitu perkasa menangani segala yang terjadi dalam hidupnya.

Dia menjadi korban keadaan tapi tidak mampu bertransformasi menjadi wanita kuat seperti mamanya. Namun demikian tanpa kehadiran dia di buku ini, Minke tidak menjadi lelaki yg utuh, kenapa? Karena dia begitu mencintai An, bahkan keluarganyapun dia lupakan untuk mendapatkan An.

Tokoh berikutnya adalah Jean Marais, seorang pelukis prancis menjadi tokoh kelima yng saya bahas di sini.

Dia adalah kawan Minke yg anaknya sering diasuh dan diajak oleh Minke untuk jalan sore… Jean ini sering menjadi tempat Minke bercerita tentang hidupnya, dia sering memberikan pandangan yg baik ke Minke, bahkan ketika sang tokoh utama jatuh cinta ke Annelies.

Penyemangat yg baik, itu kata yg tepat buat Jean Marais.

Wanita, Jadilah Bijaksana

Tokoh selanjutnya,  Bunda, tokoh ke enam ini sempat membuat saya merenung, hati saya tidak karuan, antara ditantang, kagum dan pedih bercampur jadi satu.

Pedih… Ibu atau wanita. Seorang istri seharusnya punya sikap… Tapi pada kenyataannya…

Kagum, saya sangat kagum ke Pram, begitu piawai menggoreskan karakter Bunda ini.

Ditantang, yap,  membaca karakter Bunda, sebagai wanita saya merasa ditantang untuk menjadi wanita seperti Bunda.

Bunda, seorang istri Bupati, melihat anaknya yg tidak sejalan pemikiran dengan bapaknya, mampu menjadi penengah yg sangat Bijaksana. Mampu memberi pengertian yg baik kepada putranya, mampu menjadi istri yg membela suaminya di depan anak yg tidak menyukai Bapaknya.

Bunda, begitu mengagumi kecantikan An, menantunya. Memberi petuah ke putranya yg luar biasa saat sebelum pernikahan Minke. Tenang, Tajam dan bijaksana ketika memberi petuah bagaimana menjadi Kesatria.

Inilah 5 syarat untuk menjadi seorang kesatria menurut Bunda:

1. Wisma (Rumah)

Tanpa rumah orang tak mungkin satria, dia gelandangan.

2. Wanita

Tanpa wanita satria menyalahi kondrat sebagai lelaki. Wanita lambang kehidupan, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan, bukan sekedar istri untuk suami. Wanita sumbu pada semua, penghidupan dan kehidupan berputar dan berasal.

*tuh kan Pram, bikin hati bercambur lagi kan , *ambil cermin , bisa jadi wanita gitu ga yaa…

3. Turangga, (Kuda)

Ilmu pengetahuan, kemampuan, ketrampilan, keahlian. Tanpa itu takkan jauh melangkahmu, pendek penglihatan.

4. Kukila ( Burung) 

Hobby, tanpa kukila manusia hanya sebongkah batu tanpa semangat.

5. Curiga (Keris)

Kewaspadaan, kesiagaan, alat untuk mempertahankan ke empat lainnya .

Wejangan yg sangat bijak di saat Minke menjadikan Annelies istri.

Bunda, tokoh yg memberi saya pengertian, bagaimana menjadi wanita bijaksana.

Menulislah, Ungkapkan Pemikiranmu!

Tokoh Terakhir, Ketujuh.. . Minke…

Tokoh utama di buku Bumi Manusia.

*sebentar saya ambil nafas dulu…

Fiuh… Saya lagi bayangkan…

Minke ini ganteng, tenang, matanya tajam sesuai pemikirannya. Begitulah imajinasi saya ketika membaca tentang Minke.

Quotes by Pram (borrowed from Makaryo.co)

Quotes by Pram (borrowed from Makaryo.co)

Minke, anak muda pribumi sekolah di HBS, suatu ketika di ajak kawannya berkunjung ke rumah Nyai, maksud hati Robert kawannya ini mengajak Minke menjadi bandingan, Minke yg pribumi sementara dia,  Robert,  peranakan. Robert mau mengenal lebih dekat An karena dia menyukainya.  Apa daya, Robert tidak dilirik sama sekali, An malah mengajak Minke berbicara bahkan ngobrol mengajak keliling rumah.

Minke terpesona dengan kecantikan An, dan lebih dr itu Minke terpesona dengan ketrampilan An dalam bekerja membantu Nyai.

Saat mengenal Nyai, Minke sangat kagum akan kepribadian Nyai, saking kagumnya dia membuat satu artikel, tentu dengan nama pena berbeda. Minke ini anak muda Cerdas, selain kuliah kehariannya juga menulis di salah satu koran.

Segala opininya dia tulis. Kepiawaiannya dalam menulis, pada saat tertentu, ketika Nyai mendapatkan masalah ketika Annnelies di renggut hak asuhnya oleh hukum saat itu, menulis menjadi sarana berperang Minke.

Dia tuangkan segala pemikirannya melalui artikel di semua koran yg ada. Walau pada akhirnya An harus dipaksa pergi, kalah di mata hukum. Saat itu Minke berkata kepada Nyai,

“Kita Kalah, Ma…”

Namun Nyai menjawab,

“Kita telah melawan Nak, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. “

Minke, anak muda cerdas ini mengajarkan pada saya untum mengutarakan pemikiran dalam tulisan. Diterima atau tidak, menang atau kalah… Semua itu hanya sebuah pandangan…

Akhirnya, dari Minke inilah saya belajar menulis, menuangkan pemikiran saya tentang buku Bumi Manusia, yang mengajak kepembaca untuk tekun belajar, beri makna ke orang lain serta jangan takut mengungkapkan pemikiran. Sebuah pemikiran mendalam tentang kehidupan.

Jika semua dilandasi niat tulus… Kita tinggal berharap apa yang kita lakukan akan memberi dampak yg baik.

Ini pemikiran saya, mungkin pembaca yang lain punya pemikiran yang berbeda? Mari berbagi!

Belum membaca buku pertama dari tetralogi Buru karya masterpiece Pramoedya Ananta Toer  ini? Apalagi anda suka menulis ?

Ah sayang sekali kalau belum, coba baca deh Bumi Manusia ini.. Mungkin akan lebih banyak mendapatkan pelajaran daripada saya…

======

Tulisan ini adalah guest post dari sahabat (pengakuan sepihak) gw, Nik Sukacita, yang sudah beberapa kali berkolaborasi sama gw di acara Ngobrol Santai.  Heading dan judulnya gw sesuaikan dengan gaya  blog gw.  Ada beberapa tambahan minor di sana – sini yang gak mengubah alur cerita.

Review Buku Bumi Manusia ini jadi review buku pertama dintahun ini setelah terakhir gw nulis tentang Bulan tahun lalu.  Gw sendiri baca buku ini tahun 2007 dan masih terpesona dengan cara Pram bercerita. Kalau mau baca-baca buku apa aja yang pernah gw review silahkeun dilihat di kategori review buku.

Thanks Nik buat tulisannya!

Powered by WP Review
Advertisements

94 Comments

  1. Inayah
  2. eda
  3. fee
  4. Gara
      • Gara
      • Gara
  5. Ina
  6. Hairi Yanti
  7. ratih k
  8. jarwadi
  9. liannyhendrawati
  10. Lilis
  11. Sandi Iswahyudi

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh
Translate »
Want to read other posts in English in this blog?Open
+
%d blogger menyukai ini: