Cerita Sedih Tilang Slip Biru

Pengalaman gue tentang tilang slip biru kemaren bikin miris hati banget! Sampe bikin sempat sesenggukan saking keselnya. Semoga teman-teman gak akan pernah ngalamin kejadian ini! 🙁

Eh iya, sebelum lanjut, makasih bangettttt buat yang sudah ikutan givewanya ya. Meskipun cuman 5 hari, gue bersyukur banget ada 65 entri yang masuk!

You guys are super cool! Dan karena kesibukan mohon maap kalo belom sempet direply satu-satu. Tapi Bul udah keliling bacain atu-atu. Bihihik. InsyaAllah ntar kasih list updatenya peserta.

Jadi lanjut ya cerita tentang kejadian miris yang kami alamin kemaren. Btw pengalaman ini pernah gue alamin sebelumnya dan ditulis di postingan Pak Polisi, Siapa Nama Sampean?

Kena Tilang Karena Lampu Utama “Tidak Dinyalakan”

Jadi kemaren habis meeting dari Bogor, gak nyetir sendiri sih ke Bogornya karena nebeng mobil bos dan baru nyetir sendiri dari matraman ke Grand Indonesia pas pulang.

Kejadian sekitar jam 8.30 malem, gue jemput Bul dan A, keluar dari Grand Indonesia lewat depan menara BCA puter balik menuju arah Sudirman.

Ada oknum polisi ngeberhentiin mobil dan nyuruh kami menepi. Gue turutin dan pas gue tanya kesalahannya apa dibilang lampu utama mobil belom dinyalakan.

Faktanya, lampu utama standar gue udah nyalain sesuai petunjuk yang pernah dijelasin sama orang dealer tempat gue beli mobil. Gue pun sudah berusaha menjelaskan kalo lampu sudah nyala sesuai standar yang berlaku, paling gak menurut penjelasan yang pernah gw terima dan buku manual yang gue baca.

Kondisi yang capek dan panik dicegat oknum polisi di tengah jalanan utama Jakarta bikin gak bisa berpikir jernih dan membela diri. Si oknum polisi pun berkeras kalo lampu nyetir utama belum nyala. Kemudian tangannya dia masuk lah ke dashboard mobil gue dan kasih tahu dengan penuh otoritas bagaimana menyalakan lampu utama.

Baca Baik-Baik Buku Manual Kendaraan!

Catet ya, yang dia nyalakan adalah lampu jauh (sesuai penjelasan dari orang dealer dan sesuai buku manual mobil) dan pas gue bilang itu lampu jauh, dia marahin gue karena gak tahu fungsi lampu dan dibilang itu namanya lampu utama.

Traffic

Traffic

Dia lanjut mainin tuas lampu gw dan bilang lampu dim yang harusnya buat kondisi darurat dan minta jalan itu sebagai lampu jauh.

Saat-saat beginilah gue bersyukur sudah baca buku manual kendaraan gue. Dan gue rasa kalian pun harus baca baik-baik itu buku manual. Jangan sampai kalian gelagapan dituduh melakukan hal yang seharusnya dilakukan sama polisi atau siapapun  yang berusaha ambil keuntungan.

Semakin berusaha gue jelaskan gue semakin salah dan semakin tinggi nada oknum polisi tersebut.

Gue pun disuruh keluar ngikutin dia setelah SIM dan STNK diminta.

Kondisinya mobil gw diparkir di jalur busway depan Hotel Mandarin. Ada total 4 petugas polisi yang melakukan operasi dan menyisir mobil-mobil yang lewat. Bul dan A nunggu di dalem mobil di tengah jalan utama yang kondisinya sudah lengang.

Gue udah pasrah dan memutuskan playing weak. Udah kecapekan juga.

Permintaan Tilang Slip Biru

Hati-hati (Tilang Slip Biru)

Hati-hati (Tilang Slip Biru)

Di sinilah kemirisan yang terjadi. Pikiran gue langsung melayang ke beraneka postingan kalo ngadepin situasi kek gini yang pernah gue baca sebelumnya.

Kalo kena tilang, dan kondisi kita gak ngelanggar aturan apapun, langsung aja ngaku salah dan minta slip biru. Ikutin prosedur yang seharusnya dan bayar denda sesuai kesalahan yang dituduhkan.

Kalo emang polisinya niat cari-cari kesalahan, most of the time mereka akan back down.

Gue diperlakukan sebagaimana orang yang melakukan kesalahan dengan kalimat-kalimat bernada penuh otoritas, menyebut pelanggaran yang membahayakan keselamatan umum dan keselamatan anak-istri gue.

I know better that I always put their safety as my top priority. Jadi agak tersinggung juga gw dengernya. Tapi yasudahlah, I played along.

Langsung gue bilang saya ngaku salah Pak. Gue minta slip birunya untuk bisa bayar denda dan tanya gimana prosedur berikutnya.

Permainan Oknum Aparat Ketika Diminta Tilang Slip Biru

Oknum polisi yang nangkep gue pun akhirnya mengoper gue ke “stafnya”, itu kalo memang gue mau ngurus tilang slip biru.

Dengan stafnya ini, gue gak kalah sengit diperlakukan. Dengan penuh otoritas dan kata-kata yang selalu menyebutkan gue sebagai pelanggar, lalai dalam mengemudi, membahayakan penumpang ini itu. Gue pun digiring ke pos polisi Bundaran HI untuk kemudian dituliskan surat tilangnya.

Sewaktu gue tanya prosedurnya, si oknum staf ini menyebutkan bahwasannya gue melanggar undang-undang peraturan lalu lintas nomor 92 tahun 2013 (sesuai yang gue denger dari bapak oknum) instead of 22 tahun 2009 dan bisa dikenakan denda maksimal kalau gue keukeuh mau menghadiri sidang.

Pas gue tanya kalau slip biru prosedurnya gimana karena akan gue bayar dendanya (yang mana gue gak keberatan), menurut si oknum “staf” adalah sebagai berikut:

  1. Bawa slip biru ke Bank BRI Veteran atau Bank BRI Sudirman (seberang Atmajaya) dan bayar sesuai denda maksimal.
  2. Bukti pembayaran dibawa ke Polda Metro di Gatsu untuk kemudian gue ambil di loket pengambilan dokumen dengan menyebutkan nama si oknum “staf” di loket pengambilan
  3. Pengambilan bisa dilakukan paling cepat 2 hari.

Gue udah gak peduli dan bilang kalo gw terima dan akan gw bayar besoknya (which was Rebo) di BRI dan Kamis bakalan gw ambil STNK gw.

How They Cowered, Loosing on Their own Game

Si bapak oknum “staf” polisi pun membolak-balik buku tilangnya sambil mengatakan hal yang sama berulang kali kalau yang gue lakukan berbahaya dan lalai (inget sekali lagi ya, lampu nyala normal dan bahkan gue pun masih pakai sen untuk pindah jalur. Sementara di saat yang bersamaan, ada dua taksi ngebut dan motong jalur gue untuk pindah dari kanan ke kiri dan beberapa mobil di depan gue kelakuannya sama aja dan dibiarin lolos).

Gue tetep iyain aja dan tetep ngaku salah.

Pikiran gue cuma:

“berapa sih paling dendanya lampu utama gak nyala. Sejuta? gw siap bayar buat negara ini. Hawong kurang bayar pajak pas laporan tahun lalu hampir sepuluh juta aja gue bayar kok”.

Hazeeekkk!!

Pas dia bilang:

“Ini kalau slip biru dendanya maksimal dan bisa kena sampai Rp. 250.000 loh! Beneran ini mau sidang aja?”

Gue pun dengan mantab bilang: “Iya Pak. Saya bayar.”

Sempat tiga kali dia utarakan tentang denda maksimal Rp. 250.000 itu dan gue pun tetep dengan lemas (I was playing weak) tapi penuh kepastian bilang gue minta slip biru untuk pembayaran dan tidak keberatan bayar karena memang salah.

Entah apa alasan si oknum “staf” ini, gue tiba-tiba dilepas dengan dalih kasihan, kali ini dimaafkan dan sebagainya dan lainnya karena kalau harus bayar segitu kasihan guenya!

SIM dan STNK gw tetep dipegang sambil gw dirangkul di bahu dituntun balik ke mobil.

What a ……. banget gak sih?

Taktik Lain Memeras dengan Intimidasi?

Pas gue udah duduk di belakang setir SIM dan STNK dikasih dari jendela pengemudi dengan si oknum “staf” tetap berdiri menunggu. Alasannya minta gue periksa dokumen gue ketuker apa nggak (which was rather impossible buat ketuker karena gue pelototin dari awal sampe akhir).

Gue pun keluarkan dompet dengan posisi oknum “staf” berdiri di samping sisi pengemudi dan sengaja gw bikin gesture buka dompet dan kelihatan uang (yang karena malem selembar seratus rebuan dan beberapa sepuluh rebuan terlihat seperti ratusan ribu).

Si oknum “staf” berdiri awkwardly ngelihatin gw sambil pengang sisi jendela. Said nothing.

Jangan harap gue nawarin uang terima kasih. Cuman mau lihat reaksi si oknum waktu gue keluarin dompet itu. Kalo sampe keluar kata-kata minta bayaran or anything, gue akan balik minta slip biru dan minta segala macam dokumentasi.

Setelah beberapa saat gak ada kata-kata apapun dari si bapak oknum dan gue yang pura-pura buka dompet ngelihatin duit, gue pun tanya:

“ada yang lain lagi yang harus saya lakukan Pak?”

dan masukin lagi dompet ke tas. Gue mulai jalan karena si bapak oknum “Staf” polisi berdiri motionless dan mengalihkan perhatiannya ke temennya yang berhasil stop mobil lain. Tanpa ngejawab pertanyaan gue.

I drove away.

Memang gue gak nanya siapa nama si bapak oknum dan dari kesatuan apa karena dari gelagatnya gak bakalan bisa berakhir baik kalau misalkan gue keukeuh dan ngeyel.

Mikirnya di mobil Bul sama A sudah nungguin resah, malem-malem di tengah jalan gitu. Tapi yang pasti waktu itu ada 4 orang petugas berseragam polisi di putaran dari arah Thamrin menuju Sudirman di Bundaran HI depan Menara Bank BCA. Kalau CCTV daerah situ nyala bisa sih dicek mestinya ya.

Prosedur Tilang Slip Biru yang Seharusnya

Ini gue dapet dari komik Jakarta:

Tilang Slip Biru

Tilang Slip Biru

Nah ternyata kok agak beda yang ada di komik itu dengan setelah baca-baca lagi di page Facebooknya Divisi Humas POLRI,  gue dapet informasi seperti ini:

Quote

“Mengenai slip tilang berwarna biru, agar diketahui dalam Surat Keputusan Kapolri No Pol: SKEP/443/IV/1998, tanggal 17 April 1998 penggunaan blanko biru bisa dilakukan.

Jenis blanko Lembar Tilang yang berlaku:
1. Warna merah : Untuk Pelanggar apabila pelanggar ingin mengikut sidang di Pengadilan Negeri.
2. Warna biru : Untuk Pelanggar apabila pelanggar ingin membayar denda tilang melalui Bank yang telah ditunjuk.
3. Warna kuning : Arsip Kepolisian
4. Warna putih : Arsip Kejaksaan
5. Warna hijau : Arsip Pengadilan

Jika Pelanggar meminta blanko tilang berwarna biru maka pelanggar tidak perlu lagi mengikuti sidang di Pengadilan, bisa membayar langsung di Bank BRI. Namun slip tilang berwarna Biru ini dikenai denda sesuai dengan Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas & Angkutan Jalan.”

unquote

Tilang Slip Biru dan Merah (dari Divisi Humas POLRI)

Tilang Slip Biru dan Merah (dari Divisi Humas POLRI)

Kesimpulan dari Kejadian Tilang Slip Biru

Jadi, yang bikin gue sedih adalah masih adanya oknum-oknum bermental korup kayak begitu. Gue gak salah kemaren, InsyaAllah semua ketentuan sudah gue ikutin, tapi kenapa masih ada oknum yang prey-ing ke pengguna jalan yang harusnya mereka lindungi.

Gimana gak preying kan kalo gak ada kesalahan malah dicari-cari, giliran gwnya ngaku salah dan minta ditindak sesuai peraturan si oknum malah backed out dan ngelepasin gw. Apa memang seperti itu seharusnya?

Gue masih berharap banyak sama kepolisian republik ini buat bisa kasih rasa aman dan nyaman dan perlindungan buat warga negaranya. Pengen bisa merasakan prinsip mengayomi yang selama ini selalu disampaikan ke masyarakan.

Lain kali kalau misalkan ada teman-teman yang mengalami kejadian serupa, jangan panik dan kalo memang salah ngaku aja salah. Silahkan pertimbangkan pilihan mana yang mau ditempuh. Kalau memang mau meminta tilang slip biru silahkan saja. Catat dan dokumentasikan segala sesuatunya.

Semoga kita gak ada yang harus mengalami kejadian ini dan yang terpenting adalah selalu taati dan patuhi peraturan lalu lintas! 😀

Advertisements

77 Comments

  1. liza
  2. eda

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh
Translate »
Ingin membaca artikel perencanaan keuangan lainnya? Buka
+
%d blogger menyukai ini: