Galeri Seni Pertama

Selasar Sunaryo

Yes, sesuai judulnya. Gw mau mendokumentasikan kunjungan kami bertiga ke galeri seni untuk pertama kalinya.

Liburan lebaran haji kemaren, gw ama Bul memutuskan untuk melakukan perjalanan pertama liburan kami. Seperti yang gw tulis di Page : Places We Want to Seeurutan pertama daftar itu adalah tempat yang terkenal banget dengan julukan kota kembang. Bandung. eh bener gak sih kota kembang? menurut gw sih iya karena di sana banyak banget kembang desa dan kembang kota yang cantik-cantik udaranya dingin yang bikin kembang tumbuh dengan baik

Hampir semua orang di kantor bilang:

“ngapain ke Bandung Dan? macet gilak kali di sana liburan long weekend gini”

Tapi kami pantang menyerah. Tujuan utama kami ke sana bukan buat belanja. Tapi buat wisata budaya. jiah.. aseli ini pencitraan

Tujuan awalnya sih sebenernya ke kampusnya Bul. Istri gw yang cantik ini pengen maen-maen ke sana lagi dan (obsesi gw yang aseli gak penting) ngenalin Aaqil sedini mungkinย  sama lingkungan akademis. Selain itu Bul juga pengeeen banget makan lomie enak yang ada di Jalan Imam Bonjol (kalo gw gak salah inget nama jalannya). Eh salah satu temen kantor bilang kalo tujuan utama kami bukan mau belanja, Selasar Sunaryo di bukit pakar timur bisa jadi salah satu alternatif.

Pergilah kami ke sana. Dari hasil cerita-cerita, gw tahunya Bpk. Sunaryo adalah maestro pembuat patung Jenderal Sudirman yang jadi salah satu iconnya Jakarta. Tanpa ngerti harus berekspektasi gimana nyampelahย  kami di Selasar Sunaryo ini setelah sebelumnya sempet nyasar gegara nurutin google maps.

Bener ya, gw yang udik dan belom pernah ke galeri seni sebelumnya merasa terharu dan pengen nangis bahagia pas ngelihat hasil karya seni maestro perupa Indonesia ini. Pas kami dateng ke sana ada 2 perupa yang lagi pameran selain karya Pak Sunaryo. Pelukis realis Bunawijaya dengan Membaca Langit Merapi dan
Kolaborasi abstrak kontemporer Purwa Wiwitan Daksina Wekasan antara seniman Ayah-Anak Haryadi Suadi dan Radi Arwinda.

Lukisan realis dengan mengambil tema Merapi di sekitar setelah peristiwa letusan beberapa tahun lalu, Bunawijaya berhasil mengantarkan keperkasaan dan kesensitifan Merapi di ruang pamer. Bagaimana tanah gersang tertutup lahar dingin yang tertiup angin berganti menjadi lahan subur bikin gw ama Bul merinding.

Beralih ke ruang pamer utama, kepiawaian Pak Sunaryo memadukan media cat minyak dan anyaman bambu seolah menyuarakan protes akan kesenjangan sosial dan carut marutnya tataaan sosial dan kehidupan. Ketidakteraturan tata kota Bandung yang terabadikan dalam karya beliau terasa universal dan bisa dihubungkan dengan keadaan di banyak kota di negara ini.

Karena ada mbak-mbak yang ngawasin, kami sempet dapet cerita tentang salah satu karya Pak Sunaryo yang dibakar oleh mahasiswanya setelah memenangkan penghargaan di sebuah pameran. Beruntung masih bisa diselamatkan, patung ukiran pohon itupun sekarang berwarna hitam hangus di sebagian besar bagiannya. Menurut cerita si Mba penjaga, mahasiswa itu udah meninggal dan menjelang meninggalnya dia ketemu sama Pak Sunaryo dan menyelesaikan urusan mereka.

Pameran ketiga adalah kolaborasi antara perupa klasik kontemporer Haryadi Suadi dengan anaknya Radi Arwinda yang seorang desainer grafis. Haryadi yang penganut kejawen (menurut penjelasan mbak penjaga) menghasilkan karya yang penuh dengan simbol. Menariknya, pameran kolaborasi ini dibagi jadi beberapa segmen. Mulai dari masa ketika beliau masih bujang menampilkan segala macem setan di cerita-cerita jawa dalam nuansa hitam putih. Episode ketika sudah mendapatkan pendamping hidup dibuat mulai memiliki warna sedangkan fase kehadiran anak dan buah hati sukses menjadikan karya unik warna-warni

Puaaas banget deh kemaren. Sampe gw ama Bul bertekad mencari tempat-tempat lain yang kek gini. Tahun depan kami merencanakan ke Jogja. Kenapa? karena ada yang bilang mau pameran di sana dan kayanya Jogja bakalan jadi tempat menarik untuk dikunjungi bertiga sebelum Bali dan Singapura. Semoga habis ini yang mau bikin pameran di Jogja infoin kapannya biar bisa pesen tiket segera. Hehehe.

Gw ama Bul ga ngambil foto karya seninya karena kata securitynya ga boleh. Ya kami juga pengen menghargai senimannya sih.

Tambahan:
Gw ga pasang satupun karya yang dipamerkan karena emang gw ga motret sendiri. Untuk informasi mengenai Art Space/Gallery ini lebih lengkapnya bisa dibuka website resmi Selasar Sunaryo ini.
Thx to Mba Nella buat ngingetin masang linknya. ๐Ÿ™‚

Advertisements

140 Comments

  1. Ely Meyer
      • Ely Meyer
  2. aqomadin
  3. whysooserious
  4. Evi
  5. Erwin
  6. awan
  7. uni
  8. marsudiyanto
  9. arif
  10. abedsaragih
  11. yeye
  12. nurulamalee
  13. randompeps
  14. yuniarinukti
  15. Gen Puisi
  16. alaika
  17. Muh Nahdhi Ahsan
      • Muh Nahdhi Ahsan
  18. Januari 15, 2013
  19. Pingback: Hutang Tulisan Tanggal 27 Oktober 2012 | Sekarlangit
    Juni 1, 2013
  20. Januari 15, 2015

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh
Translate ยป
Want to read other posts in English in this blog?Open
+
%d blogger menyukai ini: