Kenalan Saham: Mengenal Price to Book Value Ratio

Price to Book Value Ratio, udah pada kenal belom? Rasio ini biasanya disingkat dengan PBV. Kalo dari artinya, harga dibandingkan dengan nilai buku.

Harga apa? Nilai buku apa? Kita kenalan dan bahas di tulisan ini yok!

Buat yang belom kenal, PBV ini adalah satu dari beberapa rasio yang dipake buat milih saham. Di samping nilai PER, ROE, Dividen Yield dan DER.

Price to Book Value Ratio (PBV) Saham

Gosah pusing dulu, ntar bakalan dibahas kok satu-satu di blog ini yes 😀

Seperti biasa, manteman bisa baca langsung keseluruhan tulisan price to book value ratio ini. Kalo dirasa kepanjangan, bisa baca per bagian. Klik aja daftar isi di bawah dan di setiap bagian ada link buat balik ke atas ini.

Price to Book Value Ratio: Menilai Harga Perusahaan Terhadap Nilai Bukunya

Kesimpulan: PBV Sebagai Indikasi Memilih Saham

Price to Book Value Ratio: Menilai Harga Perusahaan Dibanding Nilai Bukunya

Nilai Buku (Book Value Perusahaan) Per Lembar Saham

Sebelum membahas Price to Book Value Rationya, gue bahas dulu soal Book Value. Nilai Buku. Apaan sih nilai buku?

Gini, kita aja kalo usaha pasti keluar masuk duit dicatet kan. Beli aset buat usaha, utang ke siapa dan segala macem juga dicatet. Trus kalo ada investor nanya, sebenernya nilai bisnis kita itu berapa kan tinggal kasih catetan.

Nilai perusahaan ini, kalo nyatetnya bener, adalah perbedaan antara total aset dikurangi total kewajiban. Dengan kata lain, nilai perusahaan adalah total ekuitas dari perusahaan/usaha.

Book Value = Total Aset – Total Kewajiban
Book Value = Nilai Ekuitas Perusahaan

Begitu pula perusahaan-perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Semua perusahaan pasti memiliki nilai bukunya. Nilai ekuitas perusahaan.

Karena ada saham yang beredar, kita pun bisa menghitung nilai perusahaan per lembarnya. Jadi selain harga saham, kita bisa juga tahu nilai perusahaan di setiap lembar sahamnya.

Rumus nilai perusahaan per lembar sahamnya pun sederhana:

Book Value per Share = Book Value : Lembar Saham Beredar

Misalkan aja ada perusahaan PT Akhirnya Bisa Curhat Deh Tbk (ticker ABCD) dengan data sebagai berikut:

Total aset : Rp. 500.000.000.000,-
Total kewajiban : Rp. 410.000.000.000,-
Jumlah lembar saham beredar : 20.000.000 lembar

Bisa diperoleh informasi sebagai berikut:

Book value = Rp. 500.000.000.000 – Rp. 410.000.000.000
Book value = Rp. 90.000.000.000,-

Sementara untuk nilai buku perusahaan per lembar sahamnya adalah:

Book value per share = Rp. 90.000.000.000 : 20.000.000
Book value per share = Rp. 4.500,-

Dari sini kita tahu, sebenernya per lembar sahamnya, nilai perusahaan ABCD sebesar Rp. 4.500,-

Kalo sudah tahu nilai buku perusahaan per lembar sahamnya, njuk piye? Di sinilah kemudian kita nilai harga per lembar saham dibandingkan dengan nilai bukunya. Price to Book Value rationya.

kembali ke atas

Menghitung Price to Book Value Ratio (PBV)

Gimana sih rumus PBV? Sederhana BANGET kok gaesss.

Price to Book Value per Share = Harga Per Lembar Saham : Book Value per Lembar Saham

Jadi masih tetep pake contoh perusahaan ABCD tadi ya. Kita ambil contohharga saham perusahaan ABCD diperdagangkan dengan nilai Rp. 13.500/lembar saham. Nilai PBV perusahaan jadi:

PBV ABCD = Rp. 13.500 : Rp. 4.500
PBV ABCD = 3x

Artinya apa sih angka 3 kali ini?

Dengan harga di market Rp. 13.500, perusahaan ABCD diperdagangkan 3 kali dari nilai bukunya. Inget kan nilai bukunya di bagian sebelumnya bernilai Rp. 4.500 per lembar saham?

Jadi kalo ada orang yang beli harga sahamnya ABCD di Rp. 13.500, berarti orang itu menghargai perusahaan ABCD senilai 3x dari nilai perusahaannya. Demi ABCD dengan kondisi saat ini dan juga prospek usahanya, orang rela membayar 3 kali lipat!

Biar gampangnya, nilai PBV ini bisa dibagi dengan nilai PBV di atas 1 kayak perusahaan ABCD di atas. Bisa juga nilai PBVnya di bawah 1.

Kalau di atas 1 sudah jelas seperti contoh tadi. Orang rela membayar buat beli saham perusahaan dengan harga di atas nilai bukunya. Perusahaan dihargai lebih mahal dibandingkan nilainya.

Sebaliknya, apabila nilai PBV perusahaan di bawah 1, harga sahamnya masih lebih murah dibandingkan nilai perusahaannya. Lebih murah ini belum tentu bagus, tapi gak selalu jelek.

Banyak faktor yang bisa menentukan bagaimana orang menghargai perusahaan apabila dibandingkan dengan nilai bukunya.

Gimana kalo kita pake lagi contoh dari postingan mengenai PER sebelumnya?

Baca juga tulisan tentang Mengenal Price to Earning Ratio (PER) dan Return on Equity (ROE).

kembali ke atas

Memahami PBV Dalam Perbandingan: Studi Kasus Perusahaan Telekomunikasi Indonesia

Oke, masih ingat kan perbandingan-perbandingan perusahaan yang dipake di postingan sebelumnya? Kemaren gue pake TLKM, EXCL, ISAT dan FREN.

Waktu itu yang gue bandingkan cuma nilai PERnya.

Coba kita lihat lagi data yang gue ambil dari websitenya Bursa Efek Indonesia kemaren.

Price to Book Value Ratio (PBV) TLKM

Per data laporan keuangan Desember 2018, PBV TLKM sebesar 3,5x. Orang-orang bersedia buat beli sahamnya Telkom 3,5 kali lipat dari nilai perusahaannya.

Mahal kan harga sahamnya Telkom kalo dilihat dari PBV? Apalagi PERnya kemaren juga di atas 20x lipat. Ini menandakan orang-orang percaya kalo nilainya Telkom saat ini seharusnya 3,5 kali dari nilai bukunya.

Bisa jadi tingginya nilai ini juga setelah melihat prospeknya ke depan.

Gimana dengan para pesaingnya?

Pertama yuk kita lihat EXCL, saham perusahaan yang membawahi brand telekomunikasi XL.

Price to Book Value Ratio (PBV) EXCL

Price to Book Valuenya XL per Desember 2018 ternyata “cuma” 0,99x. Orang-orang gak mau beli sahamnya EXCL lebih dari nilai bukunya. Turun dari PBV di beberapa tahun sebelumnya.

Januari 2019 pun, meskipun mengalami kenaikan, PBV EXCL masih di kisaran 1x nilai bukunya.

Bagaimana dengan ISAT?

Price to Book Value Ratio (PBV) ISAT

Jeng-jeng-jeng!

Nilai PBVnya ISAT bahkan jauh di bawah 1~

Apakah artinya ini? Bisa jadi pelaku pasar gak cukup percaya dengan ISAT. Rangorang bahkan gak mau beli di harga bukunya. Maunya diskon.

Bisa jadi karena melihat belum ada prospek perkembangan yang cukup berarti. Tapi di Januari 2019 nilai PBVnya sudah naik di atas 1X bahkan melebihi PBV EXCL. Ini bisa jadi menunjukkan kepercayaan investor yang mulai terbangun.

Trus gimana nasibnya pemain keempat? Smartfren yang tickernya FREN? Let us take a look at it. 😀

Price to Book Value Ratio (PBV) FREN

Di luar dugaan kan? Ternyata sahamnya FREN diperdagangkan dengan PBV hampir 2x di Desember 2018! Bahkan per Januari 2019 naik sampe 3,72x dari nilai bukunya!

Perbandingan Price to Book Value Perusahaan Telekomunikasi

Padahal TLKM aja cuma dikisaran 3,6x! Kenapakah ini?

Bisa jadi karena adanya issue aka gosip yang berkembang tentang nasib perusahaan. Kalo gak salah di awal tahun memang santer adanya issue akuisisi FREN oleh perusahaan telco lain.

Tapi gak selalu karena gosip ya manteman. Ketika ada kenaikan harga saham, bisa jadi perusahaa mengumumkan proyek baru. Terutama yang berkaitan langsung dengan usaha perusahaan.

Jadi sekali lagi, kita sebagai investor HARUS BANGET banyak-banyak baca.

kembali ke atas

Sebaiknya Memilih PBV yang Bagaimana?

Jadi-jadi-jadi, pertanyaan berikutnya adalah: Pilih yang mana?

Apakah harus pilih perusahaan yang PBVnya tinggi kek TLKM dan FREN? Atau yang rendah kek ISAT dan EXCL?

Kan tadi udah dibilang kudu banyak baca gaesss… Ga bisa langsung digebyah uyah.

Book value ini kan nilai perusahaan yang tercantum di buku ya. Nah yang gak tercantum gimana?

Dari baca-baca tadi kita carinya. Kita bakalan bisa lebih banyak tahu nilai perusahaan yang belum tercantum di buku.

Kek mana sih? Berupa prospek perusahaan ke depan. Ketika market ngelihat potensi perkembangan di masa depan, mereka gak segan bayar mahal.

Contohnya kek gini:

Telkom berhasil memasang infrastuktur telekomunikasi di daerah yang sebelumnya belum tersentuh operator manapun. Hal ini bisa menambah potensi kenaikan pelanggan yang berujung tambahan income.

Atau kalau misalkan XL mengumumkan mereka jadi operator pertama yang berhasil uji coba 5G. Dan dalam waktu singkat mereka berhasil roll-out teknologinya. Bisa memberikan potensi menarik pelanggan dari operator lain.

Kedua contoh berita di atas akan memberikan potensi penambahan income masing-masing operator. Income/penghasilan perusahaan akan bertambah. Ujung-ujungnya keuntungan bersih perusahaan juga akan bertambah.

Kalo keuntungan bersih perusahaan bertambah apa yang terjadi? Dividen yang dibagikan kepada para pemegang saham juga akan menjadi lebih besar.

Karena itulah, orang akan rela membayar harga sahamnya lebih mahal dibandingkan dengan nilai perusahaan yang tertera di buku.

kembali ke atas

Membeli Saham Perusahaan dengan Harga Diskon

Akan tetapi bisa juga begini loh:

Ketika sebuah perusahaan masih baru, atau relatif lebih kecil dibanding pesaingnya. Harga saham perusahaan masih diperdagangkan di bawah 1x. Hal ini karena orang belum yakin dengan harga saham perusahaan tersebut dibandingkan dengan nilai bukunya.

Tapi kalo misalkan saja kita banyak baca tentang perusahaan tersebut. Trus kita bisa dapat informasi bagaimana strategi perusahaan ke depan. Ketika PBV masih di bawah 1x, kita beli perusahaan tersebut dengan harga diskon.

Kita beli perusahaannya dengan harga (saham) yang lebih murah dibanding nilai buku per lembar sahamnya.

Ketika perusahaan ini kemudian berhasil mewujudkan proyek-proyeknya, keuntungan perusahaan perlahan akan naik. Apalagi ketika perusahaan mampu membuktikan keberlangsungannya.

Harga saham akan terus naik seiring perkembangan kinerjanya. Sebagai pemegang saham, tentunya kitapun akan ikut merasakan keuntungan ini.

Apabila ini yang terjadi, maka harga murah yang kita bayar di awal akan memberikan imbal hasil yang luar biasa. Karena kita beli dari harga diskon. 😀

Tapi tentu saja, butuh latihan bertahun-tahun untuk bisa melakukannya. Kejelian dan kepekaan melihat sebuah perusahaan dan industri gak datang begitu saja.

Lagi-lagi, harus banyak baca. Terbuka dengan semua informasi. Telaten dan teliti.

Makanya itulah kenapa, menurut Warren Buffett, dia gak setuju diversifikasi. Menurutnya, itu hanya dilakukan oleh orang yang gak ngerti apa yang dilakukannya.

Gimana tuh?

kembali ke atas

Kesimpulan: Price to Book Value Ratio Salah Satu Indikator Memilih Saham yang Bagus

Sudah kebayang akan memilih saham perusahaan dengan nilai PBV yang seperti apa?

Setiap orang punya strategi yang berbeda-beda buat investasinya. PBV ini gak bisa jadi satu-satunya patokan dalam mengambil keputusan. Sama seperti PER kemarin.

Kombinasikan antara nilai PER dan nilai PBV perusahaan yang kalian incar.

TLKM misalkan, diperdagangkan jauh di atas nilai PER rata-rata industrinya sebesar 19,58x di Desember 2018. Sementara PER industri telekomunikasi hanya 9,50x. Apakah ini kemahalan?

Ternyata kalau dilihat perusahaan di sektor yang sama, PERnya pada negatif. Sehingga membuat nilai PER TLKM terlihat baik-baik saja.

Trus kemudian kita lihat nilai PBV. Ternyata orang rela membayar harga saha, TLKM 3,5x lipat dari nilai bukunya. Price to book value TLKM ini juga ternyata jauh di atas nilai perusahaan-perusahaan lainnya.

Ibarat kata, orang-orang rela untuk membayar mahal TLKM dibandingkan beli diskon perusahaan pesaingnya. Hal ini terutama dilihat dari nilai PER dan PBVnya.

Kalo ngikut pepatah Jawa:

Ono rego ono rupo

~ harga yang mahal mencerminkan kualitas barangnya

Kalo manteman ngerasa tulisan ini bisa berguna buat yang lain, boleh minta tolong dishare ya 😀

Gimana menurut manteman? Ada komen? Bagi ya di kolom komentar.

kembali ke atas

4 Comments

  1. gesti citra

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh