Kenalan Saham: Rasio Return on Equity (ROE) untuk Memilih Saham

Setelah PER dan PBV kemarin, gue mau bahas tentang rasio Return on Equity (ROE) untuk memilih saham. Sudah pada kenal belom dengan ROE?

Kalo belom, siapa tahu tulisan ini bisa berguna buat kita semua. 😀

Baca juga tulisan tentang dua rasio sebelumnya: Price to Book Value (PBV) dan Price to Equity Ratio (PER).

Seperti biasa, mantereman bisa baca postingan ini langsung dari atas ke bawah. Atau bisa juga baca sesuai daftar isi di bawah ini.

Rasio Return on Equity (ROE) untuk Memilih Saham

Kesimpulan: ROE untuk Pertimbangan Memilih Perusahaan

Rasio Return on Equity (ROE) untuk Memilih Saham

Apa sih Rasio Return on Equity (ROE) itu?

Rasio Return on Equity (ROE)

Kalo ada yang ngobrolin soal rasio Return on Equity (ROE), manteman jangan langsung minder dulu. Sebenarnya sederhana banget kok ROE itu.

Cuma perbandingan antara keuntungan bersih perusahaan dengan modal perusahaan. Kalo dipikir, pas jaman ODP dulu gue dijelaskan ini mumetnya setengah mati. LoL!

Baca juga tulisan tentang Tes Masuk Office Development Program Bank Mandiri.

Kayak kalo misalkan kita punya usaha jualan olshop misalkan, ROE itu ya keuntungan bersihnya si olshop dibanding modal yang dikeluarkan. Atau kalo mau dibahas lebih jauh nih…

Tahu kan kalo modal perusahaan itu selisih antara total semua aset dikurangi sama semua kewajiban. Nah ROE itu ya perbandingan antara keuntungan usaha dengan aset bersih perusahaan.

Artinya apa sih kalo ngomogin ROE? Rasio ini bisa dibaca sebagai seberapa efektif manajemen perusahaan mengelola asetnya. Semakin besar tentunya semakin efektif dan semakin bagus.

Ofkors, kita gak akan bisa ngitung rasio Return on Equity (ROE) kalo salah satunya negatif. Misalkan kalo perusahaan rugi. Atau kalo nilai kewajiban (utang) perusahaan lebih gede dari asetnya.

Kembali ke atas

Bagaimana Menghitung Rasio Return on Equity (ROE)?

Seperti gue tulis sebelumnya kalo rasio Return on Equity (ROE) itu adalah perbandingan antara keuntungan bersih perusahaan dengan modal perusahaan. Rumusnya begini kalo mau ngitung:

rasio Return on Equity (ROE)

Keuntungan bersih perusahaan di sini tentu saja sudah dikurangi dengan pengeluaran-pengeluaran seperti kewajiban bunga utang. Selain itu juga sudah bersih dikurangi pajak perusahaan.

Sementara modal di sini adalah jumlah bersih aset usaha dikurangi dengan total kewajiban usaha. Tentu saja periodenya harus di periode yang sama dengan ketika keuntungan bersih dihitung. Biar apple to apple.

Tehehehehe, Inimah kerjaan gue sehari-hari di bank melototin angka ginian. Analisa kredit kan salah satu yang kudu dilihat ya angka keuntungan bersih dan modalnya. 😛

Baca juga tulisan tentang Kerja di Bank.

Sederhana banget kan? 😀

Kembali ke atas

Contoh Rasio Return on Equity (ROE) dengan Studi Kasus Perusahaan Telekomunikasi di Indonesia

Buat contohnya, biar nyambung dengan tulisan terkait PER dan PBV kemaren, kita pake contoh yang sama. Kita bandingkan nilai rasio Return on Equity (ROE) dari perusahaan-perusahaan telekomunikasi di Indonesia.

Data tentu saja tetap gue ambil dari websitenya Bursa Efek Indonesia. Silahkan cari sendiri data lengkapnya kalo penasaran 🙂

Gimana sih bentuknya ROE antara TLKM, EXCL, ISAT dan FREN ini? Cuss lihatin gambar di bawah ini:

Rasio Return on Equity TLKM
Rasio Return on Equity EXCL
Rasio Return on Equity (ROE) ISAT
Rasio Return on Equity (ROE) FREN

Banyak ya rasionya. Fokus sama ROE aja ya. 😀

Kalo dibikin summarynya, perbandingan rasio-rasio ke empat perusahaan ini sebagai berikut:

Kira-kira gimana tuh mengartikan perbandingan rasio Return on Equity di atas?

Kembali ke atas

Bagaimana ROE yang Bagus?

Kalo dilihat dari tabel perbandingan ROE perusahaan-perusahaan telekomunikasi di Indonesia sebelumnya, TLKM memiliki rasio ROE tertinggi sebesar 19,46% per September 2018. Jauh lebih besar dibandingkan perusahaan-perusahaan telekomunikasi lain yang bernilai negatif.

Kenapa sih sampe ROE ini gue selalu membandingkan dengan perusahaan lain di sektor yang sama? Ya jelas lah ya karena untuk bisa membandingkan efektivitas penggunaan aset untuk usahanya antar perusahaan yang sejenis.

Dari tabel perbandingan ini, kita bisa lihat kalo TLKM memiliki tingkat keuntungan paling tinggi dibandingkan dengan modalnya. Apakah ini artinya bagus?

Sebuah perusahaan bisa dibilang bagus kalau nilai rasio Return on Equity (ROE) perusahaan ada di kisaran rata-rata perusahaan di industri sejenisnya atau lebih tinggi. Kalo dilihat, TLKM tentu saja jauh di atasnya.

Selain bisa dibilang berdasarkan ROEnya, TLKM paling bagus, bisa diartikan apa lagi sih? Kita ke bagian selanjutnya, memperkirakan pertumbuhan perusahaan dari rasio Return on Equity (ROE).

Kembali ke atas

Perkirakan Pertumbuhan Perusahaan dari ROE

Satu hal penting yang bisa kita lakukan dari rasio Return on Equity (ROE) ini adalah perkiraan pertumbuhan perusahaan. Pertumbuhan yang bagaimana? Rencana investasi, ekspansi usaha dan perkembangan usaha ke depan.

Hal ini penting karena perusahaan seharusnya bertumbuh dari tahun ke tahun. Terdapat kenaikan sales, investasi di teknologi-teknologi baru dan banyak hal lainnya. Ujungnya, perusahaan seharusnya bisa mencatatkan keuntungan yang lebih baik.

Trus apa hubungannya sama rasio Return on Equity (ROE) tadi?

Pertumbuhan perusahaan kan butuh dana ya. Dana untuk membiayai ekspansi, investasi dan pertumbuhan perusahaan itu asalnya dari mana? Ya dari modal (equity) perusahaan. Ya bisa sih dari kredit, tapi approval kredit pun masih tetep lihat equity perusahaan.

Dalam equity ada yang namanya Retained Earning (RE). Nah RE ini didapatkan dari keuntungan perusahaan yang gak dibagikan ke pemegang saham dalam bentuk dividen.

Baca juga tulisan tentang 5 Alasan Investasi Saham.

Semakin besar RE, maka perusahaan punya peluru berupa modal yang semakin gede. Dengan RE yang gede, memungkinkan perusahaan untuk melakukan apapun. Termasuk rencana pengembangan usahanya.

Karena itulah. semakin besar ROE, maka kemungkinan perusahaan memiliki RE yang gede semakin besar. Sehingga kita bisa mengharapkan perusahaan dapat terus tumbuh di masa depan.

Kalaupun misalkan ternyata nilai ROE besar, tapi nilai REnya kecil, kita sebagai investor bisa bahagia juga. Kenapa? Yakarena kalo gak disimpen dalam bentuk RE, berarti keuntungan perusahaan dibagikan kepada investor dalam bentuk dividen.

Ya kan? *senyum manis

Kembali ke atas

Kesimpulan: Menambahkan Rasio Return on Equity untuk Pertimbangan Memilih Perusahaan

Jadi-jadi-jadi, setelah tahu PER, PBV dan sekarang rasio Return on Equity (ROE), semakin kebayang kan gimana milih perusahaan yang bagus? Sudah ada 3 senjata yang manteman bisa pahami dan pergunakan.

Dari PER manteman bisa mengetahui harga per lembar saham dibandingkan keuntungan per lembar sahamnya itu kemahalan apa gak. Trus dari nilai PBV manteman bisa tahu harga perlembar saham perusahaan dibandingkan nilai perusahaannya.

Nah dari ROE ini, manteman bisa tahu seberapa efektif perusahaan menghasilkan keuntungan dari modal yang dimilikinya. Kemudian, manteman bisa memerkirakan bagaimana perusahaan yang mau dipilih bisa tumbuh ke depannya. Tentu saja semakin besar semakin bagus.

Apalagi, semakin besar ROE, ada kemungkinan kita mendapatkan keuntungan yang lebih besar dalam bentuk dividen. Jadi, bisa kan sekarang milih perusahaan yang gimana?

Kalo ada yang mau didiskusikan, monggo manteman colek-colek akiks di media sosial gue ini:

Twitter: @danirachmat
Instagram: @danirachmat

Atau kirim aja email ke halo@danirachmat.com.

Kembali ke atas

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh