Kenalan Saham: Kenalan dengan Price to Earning Ratio (PER) untuk Memilih Saham yang Bagus

Price to earning ratio untuk memilih saham yang bagus? Apa sih itu maksudnya?

– pertanyaan netyjen

Ada di antara teman-teman semua yang punya pertanyaan yang sama? Bagaimana cara memilih saham yang bagus?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling sering gue terima kalo sudah ngomongin tentang investasi saham. Apalagi dari teman-teman yang belom pernah mulai investasi saham sebelumnya.

Satu yang selalu dan sering banget gue kemukakan adalah pilih perusahaan yang produknya kita ngerti, atau malah sehari-hari kita pake. Misalkan beli sahamnya TLKM (PT Telekomunikasi Indonesia Tbk) karena kita beli pulsa Telkomsel setiap hari. Atau contoh lain misalkan beli saham ICBP karena penggemar berat Indomie.

Tapi gue tahu memang kalo cuma berdasarkan pertimbangan itu, saham yang kita pilih bisa jadi kurang bagus. Karena kalau setiap orang hanya memilih berdasarkan pakai produk yang sama, bakalan subjektif banget menilai saham itu bagus atau nggak.

Bagaimana memilih saham yang bagus dan apa sih PER itu? Baca postingan ini berurutan atau manteman bisa langsung loncat sesuai daftar isi ini”

Kenalan dengan PER untuk Memilih Saham yang Bagus

PER Bukan Satu-satunya Parameter

Kenalan dengan Rasio Price to Earning Ratio (PER) untuk Memilih Saham yang Bagus

Acuan Obyektif untuk Menilai Saham

Karena misalkan saja, ada orang yang sehari-harinya pakai Telkomsel, tapi pasti ada juga yang diehard usernya Indosat atau XL. Trus apakah pengguna XL harus beli saham perusahaan XL? Pun pengguna Indosat.

Padahal, harga saham satu perusahaan bisa jadi bagus meskipun seseorang tidak menggunakan produknya. Begitupun sebaliknya.

Menggunakan produk satu perusahaan tidak menjadikan perusahaan itu yang terbaik. Ada satu panduan obyektif yang bisa dijadikan panduan oleh semua orang. Tweetkan ini

Untungnya, untuk memilih saham ada panduan yang bisa dijadikan petunjuk. Berupa apa? rasio-rasio yang bersifat universal yang bisa dipergunakan untuk membandingkan antara satu dan lainnya.

Rasio-rasio tersebut diambil dari laporan keuangan yang berisi informasi kinerja perusahaan. Dengan membandingkan kinerja antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain, kita akan bisa mendapatkan perusahaan dengan kinerja terbaik untuk pilihan investasi kita.

Postingan ini akan membahas yang pertama. PER. Price to Earning Ratio.

kembali ke atas

PER – Price to Earning Ratio

Apa sih PER itu? Kalo diartikan secara sederhana sih price to earning ratio (PER) itu rasio/perbandingan antara harga per lembar saham dengan penghasilan bersih per lembar sahamnya. Penghasilan bersih ini apa?

Penghasilan bersih di sini adalah keuntungan bersih yang dihasilkan oleh perusahaan di setiap akhir tahun buku. Rangorang keuangan nyebutnya net profit. Ihik, jangan lupa ya.

Sekarang bayangkan gini, kita ambil contoh PT DR Tbk (ticker DRKN) berhasil membukukan keuntungan bersih Rp. 1 milyar. Sementara jumlah saham yang beredar sebanyak 10 juta lembar saham. (Harap dicatet ya DRKN ini fully fictional. CUMA CONTOH!).

Dengan keuntungan Rp. 1.000.000.000,- dan jumlah saham beredar sebanyak 10.000.000,- keuntungan per lembar sahamnya jadi Rp. 100,-. Sederhana kan?

= Keuntungan bersih perusahaan : jumlah lembar saham
= Rp. 1.000.000.000 : 10.000.000
= Rp. 100,-

Trus lanjut lagi ke Price to Earning ratio yang jadi topik utamanya. Berapa sih sebenarnya harga sahamnya dibandingkan dengan keuntungan bersih per lembar sahamnya?

Mari ambil contoh harga sahamnya DRKN hari ini sebesar Rp. 2.750,-, Nilai PERnya adalah sebesar 27,5x. Gimana ngitungnya? Gampang!

= Harga saham : Nilai keuntungan per lembar saham
= Rp. 2.750 : Rp. 100,-
= 27,5x

Artinya apa? Nilai harga saham DRKN hari ini diperdagangkan 27,5 kali dari keuntungan bersih yang didapatkan per lembar sahamnya oleh para pemegang saham. Jadi, kalo gue beli saham DRKN sekarang dengan per 27,5 kali, bisa diartikan secara sangat sederhana kalo duit gue baru akan balik 27,5 tahun kalo misalkan semua keuntungan bersih perusahaan dibagikan ke para pemegang saham.

Dengan asumsi setiap tahun DRKN hanya bakalan bisa memeroleh keuntungan Rp. 1 milyar pertahun selama 27,5 tahun ke depan.

Sederhana kan?

kembali ke atas

Contoh PER Beberapa Perusahaan Tercatat – Studi Kasus 3 Operator Telekomunikasi Indonesia

Berikut ini data saham dari beberapa perusahaan telekomunikasi di Indonesia. TLKM (PT Telekomunikasi Indonesia Tbk); ISAT (PT Indosat Tbk); EXCL (PT XL Axiata Tbk) dan FREN (PT Smartfren Telecom Tbk).

Price to Earning Ratio (PER) TLKM
Price to Earning Ratio (PER) ISAT
Price to Earning Ratio (PER) EXCL
Price to Earning Ratio (PER) FREN

Kalau di-summary-kan di satu tabel, perbandingan price to earning rationya kayak gini:

PER Industry di tabel di atas adalah rata-rata price to earning ratio dari perusahaan-perusahaan telekomunikasi di Indonesia yang nilainya 9,5x. Nilai 9,5x ini adalah perbandingan yang bisa dijadikan patokan menentukan pilihan.

Cara bacanya gini:

Rata-rata, perusahaan di industri telekomunikasi di Indonesia diperdagangkan dengan harga saham yang nilai 9,5x dari nilai keuntungan bersih per lembar sahamnya.

Telkom, diperdagangkan 19,58x; jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai PER industrynya. Sementara perusahaan-perusahaan telekomunikasi lainnya memiliki PER negatif.

Nilai negatif yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan lainnya bisa jadi disebabkan oleh rugi yg dialami oleh perusahaan.

kembali ke atas

PER Tinggi ataukah PER Rendah?

Pertanyaan berikutnya yang gue dapatkan setelah menjelaskan beberapa hal tentang PER ini di IGS adalah:

Lebih baik memilih perusahaan yg gimana? PER tinggi ato PER rendah?

– pertanyaan netyjen

Kalo jawaban gue sih: jangan yang terlalu tinggi. Pilih yang masih murah dan memberikan kesempatan yang bagus. Tapi kalo satu-satunya pilihan adalah dengan PER cukup tinggi, kenapa nggak?

Akan tetapi, kadang ada juga perusahaan-perusahaan yang under valued. Perusahaan dengan harga saham yang tidak terlalu tinggi apabila dibandingkan dengan nilai penghasilan per lembar sahamnya.

Perusahaan-perusahaan yang seperti ini memang gak bisa langsung kelihatan hanya dari angka. Investor yang sudah ahli akan bisa melihat peluang-peluang dari perusahaan yang masih dihargai rendah.

Rencana investasi dan ekspansi perusahaan. Aset-aset yang belum dipergunakan. Prospek usaha ke depan. Hal-hal ini juga akan menentukan bagus tidaknya sebuah perusahaan untuk dikoleksi sebagai salah satu portfolio investasi.

Gosah terlalu dipikirin banget dah sekarang. Yang penting sudah tahu kegunaan PER ini apa.

kembali ke atas

Mendapatkan Data PER dari Website IDX

Kalo misalkan ada yang menanyakan, dapat datanya dari mana sih?

Gampang! Semuanya ada di website Bursa Efek Indonesia / Indonesian Stock Exchange. Websitenya www.idx.co.id. Gratis-tis-tis tidak dipungut biaya sama sekali.

Untuk postingan ini, data gue ambil dari halaman ringkasan performa perusahaan tercatat. Di situ tinggal ketikkan ticker saham yang mau kita lihat.

Kalau misalkan manteman mau lihat di tempat lain, bisa juga dengan buka Google Finance atau Yahoo!Finance. Gambar di bawah ini adalah contoh dari Google Finance:

Ato mau contoh dari Yahoo!Finance? Ada juga kok 🙂

Jadi, gak ada alasan kan gak bisa dapat data untuk memilih saham perusahaan yang bagus berdasarkan Price to Earning Ratio (PER) nya perusahaan? Karena datanya ada dimana-mana.

kembali ke atas

Apakah Price to Earning Ratio Bisa Menggambarkan Data Terupdate Sampai dengan Hari Ini?

Data Terupdate PER Berdasarkan Laporan Keuangan Quarterly

Kelemahan dari PER adalah kondisi yang digambarkan adalah hanya berdasarkan kondisi sesuai laporan keuangan terakhir yang dirilis oleh perusahaan. Jadi tidak terbaru sampai dengan hari perdagangan sahamnya. Kenapa?

Karena laporan keuangan perusahaan Tbk hanya tersedia setiap quarter. Perusahaan-perusahaan terdaftar di Bursa Efek Indonesia ini hanya diwajibkan untuk melaporkan kinerjanya setiap 3 bulan sekali.

Oleh karenanya, kita hanya dapat melihat nilai keuntungan bersih perusahaan di bulan Maret, Juni, September dan Desember. Selain itu bulan-bulan tersebut, perusahaan tidak wajib melaporkan kinerja interim bulanan.

Sementara harga saham tersedia setiap hari di pasar. Perdagangan terjadi setiap hari.

Data paling mutakhir yang bisa didapatkan adalah perbandingan antara harga saham terakhir dengan nilai EPS quarter terakhir. Akan tetapi, data ini bisa jadi cukup representatif karena perbandingan dengan perusahaan yang lain pun kondisinya juga sama.

Jadi gak usah terlalu terobsesi dengan nilai terbaru karena khawatir data untuk memilih sahamnya bukan yang paling akhir.

kembali ke atas

Price to Eearning Ratio Bukan Satu-satunya Patokan

Pasti akan terdapat kondisi dimana nilai price to earning ratio kurang memberi kita keyakinan ketika dipakai untuk memilih saham yang bagus. Atau ketika dilihat nilai PER malah membuat galau karena semuanya bagus. Apa yang harus dilakukan?

Tentu sahaja manteman, ada nilai-nilai rasio lain yang harus dilihat. PER bukanlah satu-satunya rasio perbandingan yang bisa dipakai untuk memutuskan saham mana yang paling bagus.

Apa saja rasio-rasio itu? Cukup banyak sebenarnya. Ada nilai Price to Book Value (PBV), Return on Equity (ROE), Current Ratio, Debt to Equity Ratio dan beberapa rasio-rasio lainnya.

Satu yang perlu manteman ingat, gak usah ragu kalau manteman sudah melihat prospek usaha perusahaannya bagus, apalagi didukung dengan nilai price to earning ratio yang juga bagus. Selamat berinvestasi!

kembali ke atas

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh