[Guest Post] Di Belakang Layar: Kehidupan Manajer Investasi Saham

Postingan tentang kehidupan manajer investasi ini adalah postingan tamu dari seorang wealth analyst. Profesional yang berpengalaman di bidangnya. Gue rasa tulisan ini akan memberikan tambahan gambaran di samping kehidupan seorang banker yang pernah gue publish di tulisan Kerja di Bank

Selamat membaca!

-dani

==============

“Reksadana merupakan wadah tempat dana dikumpulkan dari para investor untuk diinvestasikan kembali oleh manajer investasi yang memiliki expertise dalam melakukan investasi” 

Peran Manajer Investasi Reksadana

Peran Manajer Investasi Reksadana

Mendengar quote di atas mungkin yang terbayang dikepala kita fund manager/manajer investasi adalah orang–orang yang ahli  bermain saham. , Tahu hari ini beli saham apa, di berapa, lalu jual sahamnya kapan, jam berapa, diharga berapa.

Well, pada prakteknya tidak begitu guys. Kalau dia bisa begitu, berarti dia sudah setengah dewa. 😋 (Dan sepertinya manajer investasi gak perlu kerja kalo gitu, no?) 

Sudah pasti mereka adalah orang–orang yang kritis dan pintar, namun cara kerja kehidupan manajer investasi dibelakang layar tidaklah secanggih itu. Mereka jauh lebih biasa dari yang kamu kira !!

(Sebagai orang yang kerja di banking industry, gue pribadi punya imajinasi liar tentang kehidupan manajer investasi. Terutama setelah nonton film-film semacam Wolf of Wallstreet. :P)

Kehidupan Manajer Investasi dan Bagaimana Mereka Mengelola Reksadana 

Kenalan Dulu dengan IHSG

Untuk mengetahui cara kerja manajer investasi kita ketahui terlebih dulu mengenai IHSG..

IHSG adalah kumpulan dari seluruh saham / perusahaan publik di Indonesia yang jumlahnya ada sekitar 500an.

Baca juga 5 Alasan Investasi Saham

Setiap perusahaan memiliki harga pasar yang berbeda beda. Misalkan Astra memiliki nilai pasar total Rp. 200 triliun sementara Bank BNI Rp. 100 triliun. Apabila nilai pasar IHSG adalah Rp. 4000 triliun maka astra dan BNI memiliki bobot nilai 5% dan 2,5% dari nilai pasar IHSG.

Begini perhitungannya:

Astra : 200 / 4000 : 5%; sementara untuk BNI : 100 / 4000 : 2,5%;

Hanya 45 saham terbesar yang mewakili 80% nilai pasar IHSG. Click To Tweet

Saham perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia memang ada lebih dari 500 perusahaan. Itu artinya saham – saham lainnya memiliki nilai pasar yang jauh lebih kecil

Sampai sini sudah paham? (aku sih iyes, gak tahu Mas A… *kemudian Dani ditabok)

Baca juga Apa yang Perlu Diketahui untuk Membuka Rekening Sekuritas

Kalau sudah ok kita lanjut, kembali ke pertanyaan pertama, gimana sih sebenarnya kehidupan manajer investasi dan cara mereka mengelola reksadana ?

Cara Manajer Investasi Mengelola Reksadana

Kehidupan Manajer Investasi

Kehidupan Manajer Investasi

Caranya mula – mula adalah dengan membentuk reksadana yang mereka kelola mirip seperti IHSG. Sederhananya beli saja 45 saham terbesar di Bursa Efek Indonesia untuk membentuk reksadana yang mirip IHSG.

Baca juga 12 Hal yang Paling Penting yang Harus Dipahami Dalam Investasi Reksadana

Bila reksadana yang dikelola manajer investasi 100 miliar, maka 5% dananya dibelikan Astra dan 2,5% dananya dibelikan Bank BNI. Apabila dilihat berdasarkan statistik, dengan membeli 45 saham tadi maka memiliki tingkat kemiripan 98% terhadap IHSG. Jadi andai IHSG naik 1% maka reksadana tersebut naik 0,98%.

Kalau cuma begini doang gampang kan?

Lalu kenapa sih reksadana harus dibuat mirip seperti IHSG?

Lihatlah gambar dibawah. Ini merupakan chart IHSG 20 tahun terakhir. Kalau kita lihat perfomance IHSG dalam 20 tahun terakhir hanya 3x IHSG mengalami penurunan yang cukup signifikan. Sisanya? naiik teruus!!!

Dengan membentuk reksadana seperti IHSG, probabilitas keuntungan lebih besar. Click To Tweet

Probabilitas mendapatkan return dengan membentuk reksadana seperti IHSG mencapai 85% !!! ( didapat dari 17 / 20 )

Grafik IHSG

Grafik IHSG

Dengan membentuk reksadana yang memiliki kemiripan dengan IHSG, probabilitas investasi meraih keuntungan semakin tinggi. Kemungkinan terburuknya, ketika mengalami penurunan tinggal lempar kesalahan ke IHSG.

“Market lagi ga bagus paak, reksadana toko sebelah juga pada jelek perfomancenya !!“ 😝

Kalau seandainya manajer investasi membentuk reksadananya benar–benar modal stock picking, cuma beli 4 – 5 saham saja. Kalau sampe rugi sementara reksadana pesaing baik – baik saja, mau berkilahnya pakai apa cobaa? mau salahin IHSG? No can do. Ga bisa. Hawong lagi bagus, yang salah ya manajer investasinya. Makanya stock picking sendiri risikonya terlalu besar, kredibilitas perusahaan dipertaruhkan.

Baca juga Apa yang Harus Dilakukan Ketika Harga Saham dan Reksadana Jatuh

Pada prakteknya memang reksadana ga akan dibentuk percis sama seperti IHSG.

Pada kebanyakan kasus, awalnya reksadana dibentuk mirip dengan IHSG. Barulah setelahnya manajer investasi mengutak atik reksadana nya. Mungkin hanya sekitar 10 – 20% dari total dana kelolaannya yang dialokasikab sedikit berbeda dan merupakan saham – saham pilihan dari sang manajer investasi itu sendiri.

Sounds boring? Yup! Itulah kehidupan manajer investasi dibelakang layar.

Makanya kalau kalian nanya manajer investasi beli saham apa hari ini, jam dan hargs berapa, mereka pasti bingung! Hehehe…

Kendala yang Dihadapi Manajer Investasi

Semakin besar perusahaan investasi reksadana (Asset Management/AM) tersebut maka peraturannya makin banyak dan njelimet. AM merupakan perusahaan jasa. Sebagai perusahaan penyedia layanan jasa, tentunya harus dikelola dengan sebaik mungkin menjaga kepercayaan dan kredibilitasnya.

Dengan niat menjaga kepercayaan tersebut, maka ruang terjadinya risiko dibuat sekecil mungkin.

Padahal prinsip investasi high risk high return itu benar adanya. Click To Tweet

Dengan risiko dibuat sekecil–kecilnya maka perfomance reksadana tidak akan jauh dari IHSG. Dengan meniru IHSG, kalau lagi rugi salahin aja IHSG nya. Hehehe.

Kemudian, walaupun seandainya sang manajer investasi benar benar bagus, pintar dan kritis, ujungnya dia juga “cuma” seorang karyawan. Apa jadinya kalo karyawan kebanyakan ngelawan? Misalkan si manajer investasi mau pilih saham pilihannya sendiri yang berbeda dari kebijakan perusahaan. Gak mungkin kah?

Semakin besar perusahaan tempat manajer investasi itu bekerja maka semakin kecil ruang untuknya melakukan improvisasi untuk mengambil risiko di portfolio investasinya.

Baca juga Gaji Kecil Gak Bisa Investasi? Alesan!

Pernah terjadi manajer investasi di sebuah AM yang cukup besar sampai diberhentikan karena terlalu banyak “stock picking” yang membuat perfomance reksadana jauh berbeda dari IHSG.

Yaa kalau kinerja yang bagus terus siih gpp, kalo lagi jelek? Paiiit deeeh.

Kendala lainnya, untuk membeli saham yang mengandung risiko itu membutuhkan persetujuan atasan. Team komite investasi yang berisikan jajaran direksi. Bahkan untuk asset management besar bisa sampai minta persetujuan headquarter diluar negeri!

Mo beli saham aja dapat persetujuannya bisa sampai seminggu, rempoooong gaaan!

Si manajer investasi bakal dichallenge kenapa memilih saham itu. Ditanyain kenapa begini kenapa begitu oleh komite yang isinya bos–bos mereka.

Apa ga ciut itu nyali?

Akhirnya karena besarnya tekanan untuk menjadi berbeda, balik lagi deeh cari yang aman–aman aja, tiruu aja IHSG.

Jadi Pilih (Reksadana) yang Mana?

Setelah kalian sudah memahami kehidupan manajer investasi di belakang layarnya, sekarang paham dong semakin besar reksadana, perfomance-nya ga bisa bagus–bagus amat. Ya salah satu alasan utamanya itu.

Kalau kalian seorang risk taker dan mengutamakan return, maka salah satu solusinya adalah memilih reksadana yang memiliki track record keuntungan bagus dalam jangka waktu yang cukup panjang namun bukan dari AM besar.

Risikonya, karena sang manajer investasi mungkin banyak melakukan “stock picking” sendiri, maka perfomancenya bisa melenceng jauh dari IHSG.

Tapi, daripada kalian investasi sendiri ke saham bermasalah bisikan doank ya lebih baik masukkan reksadana saja.

Jadi kamu pilih yang mana ??

 =====================

Profil singkat Jeremy Natapura:

Pemilik blog slaveberdasi.com dan seorang Wealth researcher di Commonwealth Bank
Sebelumnya di Sucorinvest Asset Management sebagai analis merangkap fund manajer. Spesialisasi di sektor tambang, industri dasar, perkebunan, dan saham yang mau naik =P
Advertisements

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Ad Blocker Detected

Saya menyajikan blog ini dan segala isinya gratis. Untuk mendukungnya, iklan ditampilkan di blog ini. Mohon dukungannya untuk mendisable ad blocker yang dipakai di bwosernya ya. Terimakasih! (^_^)

Refresh
%d blogger menyukai ini: