Rating Film di Bioskop Indonesia Cuma Persyaratan Administratif Aja?

Baiklah, mari kita sudahi vakum posting dengan keresahan gw mengenai rating film di bioskop Indonesia yang seolah cuma persyaratan administrarif doang. Hahaha. *Lama gak update sekalinya update langsung merepet-repet gak jelas. 😛

Gw pernah nulis tentang orang tua yang ngajakin anaknya nonton film malem-malem dan bukan film anak-anak karena saking gemes ngelihat banyak orang tua ngajakin anaknya nonton film Robocop di jam midnight! Cuman waktu itu cuma postingan singkat banget dan gak ada data.

Menonton sesuai rating film

Menonton sesuai rating film

Kali  ini gw mau niat ngajakin kita semua mikirin soal rating film sebelum ngajakin anak ato adek ato ponakan nonton bioskop. Kenapa pasal? Karena semalem waktu gw ngabur, ada at least 3 keluarga ngajak anak mereka yang bahkan (mungkin) belom mimpi basah buat nonton Deadpool (yang akan segera gw tulis reviewnya) dan satu bapak (yang untungnya gendong anaknya keluar studio) pas gw nonton A Copy of My Mind (iya, review juga menyusul, kalo jadi, hari ini bakalan terbit 4 tulisan dari gw). Hahaha.

Gw gemesh warbiyasak!

Perhatikan Rating Film di Bioskop Indonesia Gak Sih Sebelum Nonton?

Rating film menurut MPAA

Rating film menurut MPAA

Sudah akrab kan sama label di atas? Pembagian rating film menurut MPAA (Motion Pictures Association of America).  Secara umum guidancenya kayak begini:

G: General Audiences, semua umur diperbolehkan. Seharusnya gak ada materi yang sensitif untuk anak dan orang tua. Contoh dari film dengan rating G ini The Lion King (dan setelah gw cek gw gak belom pernah bikin review film bergenre G :P)

PG: Parental Guidance Suggested, mungkin terkandung beberapa materi yang tidak cocok untuk anak-anak dan pendampingan orang tua diperlukan karena materi tersebut mungkin tidak diinginkan oleh orang tua untuk dilihat anaknya. The Good Dinosaur salah satu contohnya.

PG-13: Parents Strongly Cautioned, terdapat isi film yang tidak cocok ditonton anak berusia kurang dari 13 tahun atau pra-remaja. Star Wars The Force Awakens masuk di kategori ini.

R: Restricted, penonton di bawa 17 tahun harus didampingi orang tua karena mengandung materi dewasa. Orang tua sangat disarankan untuk mengetahui isi filmnya terlebih dahulu sebelum membawa anak mereka menontonnya.  The Hateful Eight dan film yang mengubah perspektif gw pun masuk di kategori ini: The Matrix.

NC-17: Adults Only, anak dan penonton di bawah usia 17 tahun tidak diperbolehkan. Gw ada sih nonton beberapa film di kategori ini, tapi nontonnya pun setelah gw berumur 25 tahun lebih. Film-film di kategori ini ampundije deh. Gak ada sensor.

Selain kelima rating di atas, juga ada Unrated  yang biasanya diberikan untuk versi film lebih lengkap tanpa potongan yang dikeluarkan dalam bentuk DVD.  Kalo soal sensor-sensoran pastinya lebih gak ada sensor lagi.

Banyak ya kriterianya? Dan sebelum nonton yang gw pengen ajak A, gw selalu cek dan pastikan filmnya itu mendapatkan rating apa. Biar nantinya gw sendiri gak kelabakan kalo ternyata ada materi yang memang seharusnya gak dilihat sama A.

Dari studionya sendiri kan sudah kasih kriteria penonton yang boleh nonton film mereka ya? Jadi mestinya sebagai konsumen, kitapun kudu cerdas. Kita tonton film yang memang sesuai dengan rating film yang sudah diberikan. Gak seenaknya aja memutuskan buat nonton dan ngajakin anak-anak kita buat nonton.

Pas gw browsing-browsing lagi, akhirnya nemu halaman Wikipedia tentang perbandingan rating film di beberapa negara, yang mana kalo diambil perbandingan antara film Hollywod dan Inggris dengan film Indonesia seperti ini:

Perbandingan Rating film Indonesia dan Hollywood

Perbandingan Rating film Indonesia, UK dan Hollywood

Coba lihat antara Indonesia dengan US. Pembagian rating film di bioskop Indonesia cuma ada 3 sementara di US lebih kompleks. Bahkan film untuk umur 17 tahun aja di US udah ada yang masuk kategori R (Restricted) sedangkan di Indonesia masih R (Remaja). Iya, sama-sama R tapi  jauh banget bedanya.

Rating film di Indonesia cuma dibagi 3: SU untuk Semua Umur, R untuk Remaja dan D untuk Dewasa. Yassalam bener dah. Film macem The Hateful Eight, The Revenant ato yang sejenis bisa aja ditonton sama anak umur 13 tahun kalo di Indonesia ya?

Keuntungan Bisnis Bioskop atau Menegakkan Aturan Rating?

Cinema owners are businessmen

Cinema owners are businessmen

Pertanyaan ini lebih buat para pelaku bisnis bioskop sih ya. Gw gak mau sok pinter dengan bilang di Amrik begini begono karena belom pernah tinggal di sono, tapi pernah nonton film dokumenter tentang sistem rating film di Amrik. Di film itu, seinget gw, penetapan rating di bioskopnya mayan ketat dan kalopun ada permainan, ya pada waktu sebuah film apply untuk dirating. Jadi gak semua orang bisa nonton film yang dimau asalkan beli tiket.

Di Indonesia? Fellma Panjaitan memulai petisi untuk para pengusaha bioskop untuk menjual tiket sesuai rating film. Gw kemarin pun tanda tangan petisi ini.

Gak ada penegakan aturan yang memungkinkan orang-orang mengajak anak yang masih di bawah umur untuk nonton film-film yang gak semestinya mereka tonton seperti gw cerita sekilas di awal postingan.

Semalem setelah berhasil menidurkan A, gw pun ngabur ke bioskop di mall deket rumah. Telat 15 menit untuk film A Copy of My Mind yang dimulai jam 21.40, gw lihat seorang bapak ngegendong anak perempuannya yang baru sekitar 4-5 tahun keluar studio pas film baru pertama kali dimulai. Gw gak ngelihat dia balik lagi. Syukurlah.

Kelar dari situ gw langsung lanjut nonton Deadpool di bioskop yang sama. Karena lagi-lagi telat akibat menyelesaikan film A Copy of My Mind gw gak tahu siapa aja yang masuk studio itu. Alangkah terkejutnya gw waktu lihat paling gak ada tiga keluarga yang bawa anak di bawah 10 tahun nonton film ini! Kenapa? Karena Deadpool BUKAN film yang bisa ditonton sama anak-anak, apalagi film anak. Ditambah jam tayang yang mulai jam 23.30!

Senewen setengah metong kalo kata Desi pas lihat keluarga yang bawa anak itu. Filmnya beneran parah kalo sampe ditonton anak-anak karena mengandung tiga hal ini:

Agak lebay dikit sih ya, gak sampe explicit sex scene, tapi udah make out lalalala lah pokoke di film itu.

Semalem itu rasanya pengen nyegat orang tuanya trus kasih ceramah menghakimi, tapi apalah gunanya buat gw kan? Petugas bioskopnya juga diem aja.

Gw yakin para pengusaha bioskop punya hati nurani dan menginstruksikan ke anak buahnya buat bisa menjual tiket sesuai batasan umur. Tapi di bawah, para manajer bioskop itu pasti juga punya target. Minimum jumlah kursi terjual, minimum occupancy rate dan ini dan itu yang mana semakin banyak tiket terjual juga berarti semakin banyak juga side business nya perusahaan dalam bentuk jualan cemilan yang bisa terjual. Ujungnya target terpenuhi, bonus akhir tahun melimpah.

Ujungnya? Ya penonton sendiri mestinya yang bisa jadi kontrol mana yang boleh dilihat dan mana yang gak bisa. Karena sebaik apapun lembaga sensor film melakukan tugasnya, ya gak mungkin mereka babat abis ketiga hal di atas biar filmnya aman ditonton anak-anak kan? Lagian, gw sendiri juga males nonton film yang dipotong sana-sni.

Mau Kasih Tontonan ke Anak yang Seperti Apa?

Sering denger budaya Hollywood merusak budaya kita? Beneran Hollywoodnya yang merusak ato kita sendiri yang sengaja mau dirusak dengan ngajakin anak-anak di bawah umur nonton film ber-rating PG-13, R atau bahkan NC-17? Ato emang sengaja mau ngerusak otak anak kita?

*hahaha… Galak amat Dan!

Tapi emang gini deh, sebagai orang tua, masa se-gak tahan itu sih buat nonton film sampe harus ngajakin anak kalian yang jam sembilan malem mestinya udah tidur di rumah atau lagi baca buku Three Little Kittens ato apalah, buat nonton Deadpool atau film lain yang ratingnya sama? Emang pengen anak kalian mempelajari kekerasan, bahasa kasar dan tentang seks sedini itu? Bangga kalo anak kalian sudah bisa pukulin temennya gaya deadpool di sekolahnya atau nantinya praktekin apa yang Deadpool bisa lakukan sama pacarnya dengan temen sekolahnya?

Iya sih itu emang anak kalian, kalian yang ngurus, cari duit ngedein dan sebagainya, tapi… Ah sampe speechless gw. Udah ketik beberapa kali satu paragraf untuk ini tapi gak bisa pas menggambarkan kegalauan gw. Yang pasti jangan salahin Amerika dan Hollywod yang nyebarin budaya mereka sepenuhnya ya. Rating di bioskop Indonesia juga sudah diinformasikan kok. Mungkin bisa tuh nuntut ke pengusaha bioskop di Indonesia karena gak menegakkan peraturan, tapi apa iya mau nyalahin orang lain?

Ambil cermin, lihat ke sana dan tanya ke diri sendiri kalo misalkan nanti anaknya berperilaku kayak film Hollywood. Apa dulu gw sudah ajakin dia nonton film yang sesuai umurnya?

Yours truly,
@danirachmat yang lagi senewen.

PS: Kalo kalian merasakan hal yang sama, gw akan sangat berterimakasih kalo bersedia ngeshare tulisan ini dan bantu menyadarkan orang tua yang suka ngajakin anaknya nonton film gak sesuai rating filmnya.

Advertisements

61 Comments

  1. Gara
  2. Hairi Yanti
  3. eda
  4. suryahardhiyana
  5. fee

Rugi loh, habis baca gak komen! #Eh?! ;-P

Translate »
Want to read other posts in English in this blog?Open
+
%d blogger menyukai ini: