Blog Perencanaan Keuangan

Menu
  • FIRE
    • Dana Pensiun
  • Perencanaan Keuangan
    • Kredit
      • Kredit Umum
      • KPR
      • Kartu Kredit
      • Kredit Online
    • Asuransi
    • Dana Darurat
    • Dana Pendidikan
    • Tips Hemat
  • Investasi
    • Emas
    • Business
    • Crypto
    • ORI-SukRi
    • Reksadana
    • Saham
    • P2P Lending
  • Kamus Keuangan
  • Stories
    • Keluarga
    • Buku
    • Film
    • Musik dan CD
    • Office Life
    • Di Balik Blog
    • Inspirasi
  • About Me
    • Site Map danirachmat.com
    • Contact
    • Paid Post
    • Postingan Tamu
    • Disclaimer
Home
Investasi
Reksadana
Jangan Beli Saham dan Reksadana, Cek Profil Risiko Dulu!
Perencanaan Keuangan

Jangan Beli Saham dan Reksadana, Cek Profil Risiko Dulu!

dani 03/05/2020

Sudah pada cek profil risiko masing-masing belum? Kalau belum coba kerjain kuiz penentuan profil penerimaan terhadap risiko di bawah ini. Inget ya, waktu ngerjain jangan mikir kelamaan, langsung jawab aja sesuai yang terlintas pertama kali di pikiran.

Hasilnya juga mungkin gak 100% akurat ya. Tergantung dari algoritma perhitungan pluginnya ini. Gue masukin pertanyaannya sesuai list yang gue punya di risk profiling questionnaire sebelumnya. Semoga bisa membantu. 😀

Manteman bisa baca artikel di bawah ini runut sampai habis, atau sesuai dengan table of content di bawah ini ya:

[toc]

Tes risk profilenya tepat di bawah ini. Kalo mau baca artikel, table of contect di atas. Nah Kalo tesnya gak bisa diklik/error, bisa coba pakai test cek profil risiko yang ada di file ini:

Daftar Isi
  1. 1. Pertanyaan-pertanyaan Tes Profil Risiko
  2. 2. Kenapa Harus Cek Profil Risiko Sebelum Mulai Investasi?
    1. 2.1. Kisah Sedih Investasi Tanpa Tahu Profil Risiko
    2. 2.2. Profil Risiko itu Penting, tapi Jarang Diperhatikan
  3. 3. Apa aja sih Profil Risiko yang Ada di Kuiz di Atas Tadi?
    1. 3.1. Profil Risiko Sangat Konservatif yang Maunya Aman 100%
    2. 3.2. Profil Risiko Konservatif yang Maunya Aman
    3. 3.3. Seimbang yang Mau Untung tapi Tetap Aman
    4. 3.4. Berkembang dan Mencoba Instrumen Investasi Baru yang Ada
    5. 3.5. Tipe Profil Risiko Agresif
  4. 4. Apakah Profil Risiko Bisa Berubah?

1. Pertanyaan-pertanyaan Tes Profil Risiko

[wp_quiz id=”17942″]

Bagaimana hasilnya? Tipe penerimaan risiko yang apa nih kalian? Sangat konservatif, konservatif, berimbang atau justru agresif?

Berkali-kali gue bilang kan kalau investasi yang paling baik adalah yang paling sesuai dengan bagaimana penerimaan risiko masing-masing orang. Jadi saham yang returnnya gede banget belum tentu yang terbaik buat orang yang tipe konservatif.

Jangan sampe bingung dan suka dag-dig-dug kalo harga sahamnya jatuh karena memilih beli saham padahal konservatif. Ato gregetan hasil investasi cuannya gak seberapa karena milih obligasi ritel padahal tipe risk profilenya agresif.

Buat apa kan profit tinggi kalo ternyata jantungan yes?

Cek Profil Risiko Sebelum Mulai Investasi

2. Kenapa Harus Cek Profil Risiko Sebelum Mulai Investasi?

Profil risiko menurut imoney (source: https://www.imoney.my/articles/investment-quiz)

The featured image borrowed from the investment quiz on www.imoney.my website. You can check your risk profile there as well! 🙂 

Ingat ya, investasi di sini adalah yang hasilnya direinvestasikan lagi. Bukannya penempatan investasi yang hasilnya diambil untuk dikonsumsi setiap bulan ya. . 😀

Baca juga: Reinvestasi, Rahasia Orang Kaya Semakin Kaya

2.1. Kisah Sedih Investasi Tanpa Tahu Profil Risiko

Ngomongin soal penerimaan risiko ini,  jadi inget cerita waktu kerja di cabang bank dulu. Di sekitar tahu 2008 dimana waktu itu gue masih jadi customer service di cabang.

Sayangnya cerita ini bukan salah satu kejadian lucu gue kerja di bank. Gue akuin, banyak banget kejadian lucu-lucu dari kerjaan di bank.

Baca juga: Kerja di Bank dan Kejadian Ajaibnya

Dateng ibu-ibu dengan dandanan istri bupati. Sasak tinggi, baju gelap berkelas dan kacamata muka (sebutan kaca mata yang nutupin 80% bagian muka kecuali hidung dan bibir :P). Begitu meja gue kosong, si Ibu dengan semangat 45 nyamperin meja gue. Kurang lebih kek gini lah ekspresinya:

Kurang galak sih ini (marah-marah karena investasi tidak sesuai profil risiko)
Kurang galak sih ini (marah-marah karena investasi tidak sesuai profilnya)

Pas buka kacamata gue kaget! Matanya ituloh, kayak siap nelen orang!

Si Ibu: “Mas, gila ya ini Customer Servicenya bank ini. Duit saya yang tahu lalu katanya bisa naik dua puluh lima persen sekarang tinggal segini. Dua puluh lima juta menguap! Sekarang sisa berapa juta doang ini!” *sambil kasih lihat cetakan rekening reksadana

Gw: *glek *senyum paling manis “Ibu belinya tahun berapa Bu ini?”

Si Ibu:”setahun lalu. Tahun 2006 apa 2007 gitulah! “

Waktu itu tahun 2008 pasar dunia lagi ambruk kena sub prime mortgage crisis dari Amrik. Dia beli reksa dana saham, sementara profilnya si Ibu menurut hasil dokumen isiannya adalah konservatif!

Makjang! Pengen ditelen bumi gak gue rasanya yang harus ngadepin?

Dia tentu saja menjawab belum pernah dijelaskan tentang risikonya,  dia ngeles! Ngomel panjang lebar ngerasa gak dikasih penjelasan. Marah-marah BANGET! Ya coba ya bok, bayangin aja kalo duitnya orang yang tipe konservatif tiba-tiba ilang karena harga NAB reksa dananya turun.

Tentu saja karena gue adalah customer service yang hebat, akhirnya ditutup dua puluh menit kemudian dengan beliau buka deposito. Gue jelaskan panjang kali lebar risiko, ekonomi dunia saat itu sambil memberikan empati yang diperlukan oleh si ibu.

Reksa dananya dia dibiarkan aja nunggu balik lagi harganya, yang hanya setahun kemudian kalo si Ibu baru beli di 2008 akan naik beberapa belas bahkan 20%an. Ini kejadian sama nasabah lain di cabang itu.

Kembali ke atas

2.2. Profil Risiko itu Penting, tapi Jarang Diperhatikan

Hayo ngaku deh! Siapa diantara yang baca postingan ini sudah pernah cek profilnya sebelum ini? Terutama sebelum kalian beli reksadana, saham atau unit link?

Belom ya? Trus tahu dari mana kalo deposito dan obligasi ritel negara itu paling cocok buat klean?

Baca juga: 6 Alasan Investasi Saham yang Bikin Langsung Buka Rekening Sekuritas

Siapa tahu loh, instrumen yang kalian sudah beli itu (termasuk deposito, tabungan rencana dan unit link yang dibeli) bukan yang paling cocok. Ada gak yang ngerasa deposito, tabungan rencana dan yang aman-aman itu kok dananya gak berkembang ya? Atau malah setelah beli saham dagdigdugdhuar tiap hari?

Kalo ada yang ngerasain kayak gitu, bisa jadi memang kalian beli instrumen yang gak pas sama profil risiko klean pada. Makanya harus cari tahu dulu termasuk dalam profil yang mana biar bisa milih instrumen yang paling sesuai!.

Kembali ke atas

3. Apa aja sih Profil Risiko yang Ada di Kuiz di Atas Tadi?

Kalau dari hasil quiz yang gue bikin itu, ada 4 tipe profil risiko di hasil akhirnya, konservatif, seimbang, berkembang dan agresif.

3.1. Profil Risiko Sangat Konservatif yang Maunya Aman 100%

Tipe Risiko Konservatif Banget

Baca juga: Memilih Antara Deposito, Obligasi Negara Ritel atau Reksa Dana Pasar Uang

Profil risiko sangat konservatif ini tambahan dari postingan awalnya. Orang-orang yang masuk tipe ini adalah mereka yang investment-in-any-market-virgin. Belum pernah tahu investasi saham sekali.

Jaman sekarang menurut gue udah jarang sih orang-orang tipe ini. Apalagi untuk mereka yang tinggal di perkotaan dan punya akses informasi yang memadai.

Sedikit banyak orang-orang yang masuk dalam kelas menengah yang baca blog ini, paling gak sudah pernah tahu tentang reksa dana pasar uang maupun obligasi ritel negara. Gak mungkin kalo mereka cuma tahu tabungan dan deposito.

Gak menutup kemungkinan sih mereka juga tahu tentang instrumen-instrumen itu. Tapi, meskipun tahu tentang instrumen tadi, mereka tetep maunya semua dijamin pemerintah. Aman banget-banget-banget-banget.

Kembali ke atas

3.2. Profil Risiko Konservatif yang Maunya Aman

Baca juga: Belajar Lagi Obligasi Ritel Pemerintah

Gue pake ilustrasinya dokter ya. Karena di masa pandemi ini rasanya tenang ngelihat para dokter dan perawat yang berjuang untuk kita. Profil risiko konservatif ini mau aman. Sama sekali gak mau ada risiko yang terjadi sama uang yang diinvestasikan.

Tapi meskipun begitu, masih bisalah sedikit-sedikit coba instrumen investasi di pasar uang. Meskipun mungkin proporsinya gak seberapa banyak.

Kalo nanti manteman ada yang mendapatkan hasil konservatif waktu tes, lebih baik memang memilih investasi di instrumen-instrumen yang relatif lebih aman. Cocoknya sih masuk ke pasar uang macem deposito dan obligasi pemerintah. Lebih tentram hidupnya.

Tapi-tapi-tapi, jangan pernah lupakan inflasi ya. Karena uang yang kita investasikan itu kan tujuannya buat ngelawan inflasi. Nah kalau deposito gue sih yakin kalo gak bakal ngelawan sama inflasi. Obligasi pemerintah masih mungkin lah buat kejar itu nilai inflasi.

Meskipun bertipe konservatif, ingat selalu ada yang namanya inflasi! Karena lawan utama duit adalah inflasi yang membunuh daya belinya. Share on X

Apa sih obligasi pemerintah? Itu loh, ORI atau Sukuk. Kalo mau aman dan menguntungkan sih ya ini.

Coba juga alokasikan 20% campuran instrumen yang lebih agresif ke reksadana campuran ato reksadana pendapatan tetap. Atau kalau gak nyaman 20% ya perkecil porsinya. Mulai belajar dikit-dikit.

Kembali ke atas

3.3. Seimbang yang Mau Untung tapi Tetap Aman

Tipe Risiko Seimbang

Baca juga: Ketika Harga Saham dan Reksadana Jatuh

Untuk tipe investor dengan profil risiko seimbang ini, sebenernya sudah mulai besar penerimaan risikonya. Udah bisa lah ngadepin sedikit gejolak di instrumen investasinya. Jadi gak harus selalu yang 100% dijamin pemerintah.

Itulah kenapa ilustrasinya pake foto mas-mas sama mbak-mbak yang woles santuy kayak di pantai.

Selain obligasi pemerintah maupun deposito, tipikal investor Seimbang ini sudah bisa memperbesar porsi kepemilikan investasi di portfolio yang lebih berisiko. Reksa dana pendapatan tetap atau reksa dana campuran bisa jadi pilihan. Cuman ya toleransi untuk risiko masih lebih kecil.

Sebagian besar asetnya mungkin masih akan ada di deposito atau obligasi pemerintah.

Tipe pemilik profil risiko ini menurut gue tinggal belajar lebih banyak tentang instrumen investasi yang lain yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi. Dengan semakin banyak belajar, bakalan semakin tinggi toleransi terhadap risiko.

Kembali ke atas

3.4. Berkembang dan Mencoba Instrumen Investasi Baru yang Ada

Tipe Profil Risiko Berkembang

Termasuk tipe pemilik profil risiko berkembang?

Meskipun masih menginginkan keamanan dalam portofolio investasi, tipe profil risiko berkembang ini sudah lebih terbuka terhadap risiko. Instrumen-instrumen yang memiliki potensi kerugian (dan tentunya keuntungan) lebih besar sudah bisa ditoleransi oleh orang-orang dengan tipe profil risiko ini.

Deposito dan obligasi pemerintah mungkin masih menjadi pilihan sebagai safety cushionnya. Sementara reksa dana saham, emas dan saham sudah ada di portfolionya. Pilihan-pilihan investasi terbaru pun mungkin akan dicobanya.

FYI, investasi emas bukanlah instrumen investasi yang 100% aman. Harganya fluktuatif dan punya risiko harga yang naik turun seperti saham.

Baca juga: 7 Pelajaran Penting Investasi Emas

Gue sendiri pernah berada di kondisi ini setelah dua tahun kerja di front-line Bank Mandiri dan tahu tentang reksadana. Pertama kalinya waktu itulah gue buka rekening sekuritas.

Kembali ke atas

3.5. Tipe Profil Risiko Agresif

Tipe profil risiko agresif

Pasar modal yang bergejolak (dan bisa jadi lagi jeblok) bukan sesuatu hal yang bikin orang dengan profil risiko agresif kebat-kebit. Malahan orang-orang dengan profil risiko ini mungkin akan beli lagi untuk nambah portfolionya. Average down kata mereka, mumpung lagi diskon kalau mereka memang yakin pilihannya adalah investasi yang bagus.

Jadi gak ada khawatir yang berlebihan banget gitu. Makanya ilustrasinya pake gambar anak-anak

Portfolio para investor dengan profil agresif ini biasanya atau lebih lebih banyak ke saham, reksadana saham, dan instrumen-instrumen yang memang lebih agresif. Mereka ngarepin untung gede dari investasinya over time. Paham banget bahwasannya semboyan risiko gede pasti diikuti dengan untung gede.

Tapi penting dan kudu diinget sama teman-teman dengan profil risiko ini, bahwa sebaiknya masih harus ada paling gak 20% investasi di pasar uang. Tujuannya buat cushion kalo sewaktu-waktu perlu cash. Jangan sampe gak ada buffer sama sekali.

Kembali ke atas

4. Apakah Profil Risiko Bisa Berubah?

Profil penerimaan risiko ini bukan harga mati. Tenang aja, bisa berubah kok!

Bisa berubah dari yang konservatif ke agresif dengan banyak baca dan selalu menambah pengetahuan tentang pasar modal, investasi dan hal-hal yang berhubungan lainnya. Tapi bisa juga sebaliknya emang.

Tingkat penerimaan risiko bisa juga berubah dari agresif banget ke sangat konservatif. Terutama apabila mengalami trauma portfolionya turun nilainya. Meskipun kalau berbekal pengetahuan yang cukup, kondisi ini unlikely kejadian.

Jadi, jangan mentang-mentang dapat hasil tipe sangat konservatif trus maunya deposito terus untuk simpan uangnya.  Inget inflasi! 😛

Postingan-postingan terbaru

  • Aplikasi Dana Pensiun untuk Membantu Menyiapkan Hari Tua
    Di Indonesia, enggak semua orang memiliki dana pensiun dari kantor. Banyak pekerja lepas, pelaku UMKM, hingga ibu rumah tangga harus menyiapkan sendiri kebutuhan hari tua mereka. Karena sering terasa rumit dan membingungkan, persiapan pensiun pun kerap tertunda. Di kondisi seperti ini, aplikasi dana pensiun mulai dilirik sebagai cara praktis untuk mengatur tabungan dan rencana keuangan
  • Cara Mengelola Keuangan Keluarga setelah Pensiun
    Memahami cara mengelola keuangan keluarga setelah pensiun itu penting karena pola hidup biasanya ikut berubah ketika seseorang berhenti bekerja. Pemasukan cenderung tetap, sementara kebutuhan sehari-hari tetap harus berjalan. Di momen ini, banyak keluarga mulai menata ulang kebiasaan belanja agar lebih aman dan terkontrol. Enggak sedikit yang merasa bingung harus mulai dari mana, terutama jika sebelumnya
  • Checklist Keuangan Akhir Tahun untuk Kamu yang Ingin Capai FIRE Lebih Cepat
    Mengurus keuangan akhir tahun sering terasa melelahkan, tapi sebenarnya ini momen terbaik untuk melihat kembali perjalanan finansialmu selama dua belas bulan terakhir. Lewat proses ini, kamu bisa tahu apa saja yang sudah berjalan baik dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Semua dilakukan pelan-pelan saja, pakai data yang kamu punya, lalu ditarik garis besarnya. Dari
  • Cara Menghitung Dana Pensiun Karyawan Swasta
    Membahas cara menghitung dana pensiun karyawan swasta bisa terasa rumit kalau belum tahu langkah-langkahnya. Banyak orang bekerja bertahun-tahun, tetapi belum punya gambaran jelas soal kebutuhan hidup saat pensiun nanti. Padahal perhitungan dana pensiun membantu kita melihat seberapa besar biaya yang harus disiapkan sejak dini. Mulai dari perkiraan biaya hidup, kapan ingin pensiun, sampai inflasi yang
  • 14 Tempat Terbaik untuk Slow Living
    Menemukan tempat terbaik untuk slow living bukan sekadar soal pindah ke wilayah yang tenang. Melainkan soal mencari ruang yang membantu kita bernapas lebih pelan dan hidup tanpa terburu-buru. Banyak orang ingin kembali ke ritme yang lebih manusiawi, jauh dari tekanan dan bisingnya kota besar. Dan, Indonesia punya banyak pilihan kota kecil dan daerah hijau yang

Buat beajar, bisa baca-baca isi blog ini, atau follow juga instagram gue di @danirachmat.

Jadi-jadi-jadi sebelum manteman semua aggressively beli saham lalalili trus kemudian bersedih hati, coba cek dulu profil risiko masing-masing ya! Gratis kok!

Kembali ke atas

Share
Tweet
Email
Prev Article
Next Article

Related Articles

Apa saja sih hal-hal yang belum diketahui oleh umum tentang …

7 Hal yang Kalian Belum Pernah Dengar tentang Fintech dan Pinjaman Online! Oleh-oleh dari Event Blogger X Fintech Day

Investasi Saham Pemula yang Menguntungkan Tahun 2022, Cek 3 + 3 Tips Ini!
Investasi saham pemula memang kadang terdengar “mengerikan”, if you what …

Investasi Saham Pemula yang Menguntungkan Tahun 2022, Cek 3 + 3 Tips Ini!

About The Author

dani

35 Comments

  1. jampang

    belum berani saya beli saham, mas

    28/10/2015
    • Dani

      Kenapa Bang kok belum berani?

      28/10/2015
  2. retma

    Aku kategori yg mana yak? Punya reksadana, tapi dr kemaren merem aja lah liat angka2. 😀
    Di sisi lain, beli BBRI lewat Ipot (eh, tnyata pas harga terendah). Sesuatu banget!

    28/10/2015
    • dani

      Waaah masuk yang mana yaaa. Coba dites aja Mbak. Hihihi. Beruntung banget tuh bisa masuk ke bbri pas lagi the lowest! 😀

      29/10/2015
  3. Dunia Ely

    Soal paham aku masih belum banyak ngerti Dann.

    28/10/2015
    • Dani

      Bagaimana-bagaimana Mbak El, ada yang bisa saya bantu-kah?

      29/10/2015
  4. Alris

    Gampang saja sebenarnya ya: makin gede untung makin besar resiko. Jangankan investasi, narok uang di bank juga beresiko kalo bank-nya tutup dan duit yang disimpan gak kembali kayak nasabah bank century yang di Surabaya itu. Kalo gak mau resiko tarok duit di dalam brankas di kamar dhewek 😛

    29/10/2015
    • Dani

      Hahaha. bener banget Mas. Di bank juga berisiko kok. Tergantung ama profil risiko masing-masing emang Mas 😀

      31/10/2015
    • Mella

      Hai Mas Dani ☺ tulisannya bagus sekali. Semoga makin banyak orang teredukasi tentang profil resiko sebelum pembelian produk high risk. Rata2 orang indonesia masih banyak yg belum paham termasuk saya yg masih belajar. Semoga jadi semakin cerdas dalam berinvestasi.
      Lain kali bahas tentang unitlink mas, kebanyakan org masih ragu invest Reksadana tapi gatakut beli unitlink padahal ya UL itu yg dibeli ya RD juga hehe.Sukses terus Mas Dani

      03/03/2017
      • dani

        Waaaah. Terimakasih Mbak Mella. Amiiin. Semoga semakin banyak yang tertarik investasi ya Mbak 😀

        05/03/2017
  5. Ceritaeka

    Aku masuk tipe agresif kayaknya kalo buat RD saham. Kalo saham masih agak takut2. Hihihi

    29/10/2015
    • Dani

      Wuaaaah. Keren. Padahal gak jauh beda Mbak kalo saham. 🙂

      29/10/2015
  6. Nia Nastiti

    Kalau dari dugaan ngasalku aku konservatif nih, tapi mau coba2 testnya ah. Menarik banget ini Mas 😀

    29/10/2015
    • Dani

      Jadi bagaimana Mbak Nia? Hasilnya bener konservatif?

      31/10/2015
  7. eda

    aku ga brani main2 saham begini daan.. termasuk yg trading jugaa.. padahal lagi happening bgt di kantor

    29/10/2015
    • Dani

      Gak beraninya gimana Daaa? Bisa ngobrol ama eyke. Kali aja bisa bantu. 😀

      29/10/2015
  8. Hobilari

    Bener mas, sangatlah penting. Apalagi masuk ke bursa. High profit, high return, namun kadang orang tidak melihat high risknya juga, Namun kalau masuknya pas ya cuannya mantap.

    10/11/2015
    • dani

      Bener banget Mas 🙂

      21/01/2017
  9. yani

    Mas dan produk reksadana yg syariah itu apa?

    10/01/2017
  10. maya rumi

    pertama kalinya isi profil resiko & mengikuti petunjuk tenang & cepat ngisinya, akhirnya bisa tahu profil resiko saya seperti apa. tq mas dani.

    10/01/2017
  11. 120 GOLD GAME GRAND GANGSTERS HARGA $9.99 DOLLAR GRATIS DENGAN CARA INI

    ane paling ngeri kalau beli2 saham dan di tawarin ini itu oleh perusahaan, takut resikonya besar

    10/01/2017
    • dani

      High risk high return bro 😀

      21/01/2017
  12. Orin

    Errrr…. ini postingannya nyindir gw yah Dan? nuduh hahahahaha

    suka denial sih eikeh, ngerasa punya profil agresif pdhl mah ya mgkn msh konservatif hiks

    11/01/2017
  13. Notig dua

    Maen rekasadana lebh mudah untuk pemula karena ga ribet bisa pake AM, setau saya bisa juga di pilih mau yang cepet untung/balik modal tapi high risk atau yang jangka panjang tapi lebh aman cuman lebh lama balik modal hehe

    20/01/2017
    • dani

      Yang pasti reksadana ga usah pusing mikirin soal manage portfolionya 😀

      21/01/2017
  14. iKurniawan

    bolak balik belajar reksa, sampe BukaLapak ada fitur ini, masih belum berani coba

    gak paham mau beli yang mananya itu
    😀

    31/01/2017
  15. Penjaja Kata

    Belajar tentang saham sama reksadana itu bikin pusing ya (bagi saya hehehe). Tapi kayaknya harus sering main ke sini biar lebih mudah ngerti. 😀

    05/04/2017
    • dani

      Langsung beli juga bisa Mas Nurdiansyah selain sering main ke sini 🙂 Biar langsung tahu bagaimana rasanya.

      01/05/2017
  16. Pingback: Panduan Investasi Reksadana bagi Pemula – Zaipad
    21/05/2019
  17. Umi Mamdudah Tilawat

    aq baru mulai inves di reksadana , pengen naik kelas nieh biar pendapatan ningkat tapi bingung mau kemana haaaa

    26/05/2019
    • dani

      Maksudnya cari kerja baru gitu Mbak? Kalo untuk investasi reksadana dan saham sih jangan diharapkan income yg warbiyasak Mbak. Kenaikannya bertahap dan pelan-pelan 🙂

      28/05/2019
  18. Pingback: 4 Pelajaran Investasi Emas Harus Diketahui! >> danirachmat
    03/06/2019
  19. febridwicahya

    per-investasian bang dan selalu mantap ya bahasannya. Saya tapi masih belom mikir kesana, ya ampon idup saya cetek bet keknya.

    04/05/2020
  20. pjiuma

    Wah sangat bermanfaat mas , terima kasih

    salam dari UMA

    21/05/2020
    • dani

      Masamaaa

      22/05/2020
  21. Pusat Jurnal

    sangat bermanfaat

    02/06/2020
    • dani

      Terima kasih 🙂

      03/06/2020

Leave a Reply Cancel Reply

Beli e-book Kebebasan Finansial Level 1

Podcast

Postingan Terbaru

  • Aplikasi Dana Pensiun untuk Membantu Menyiapkan Hari Tua
    Aplikasi Dana Pensiun untuk Membantu Menyiapkan Hari …
  • Cara Mengelola Keuangan Keluarga setelah Pensiun
    Cara Mengelola Keuangan Keluarga setelah Pensiun
  • Checklist Keuangan Akhir Tahun untuk Kamu yang Ingin Capai FIRE Lebih Cepat
    Checklist Keuangan Akhir Tahun untuk Kamu yang …
  • Cara Menghitung Dana Pensiun Karyawan Swasta
    Cara Menghitung Dana Pensiun Karyawan Swasta
  • 14 Tempat Terbaik untuk Slow Living
    14 Tempat Terbaik untuk Slow Living

Postingan Paling Populer

  • Cara Mengelola Keuangan Keluarga setelah Pensiun
    Cara Mengelola Keuangan Keluarga setelah Pensiun
  • Panduan Membuat dan Contoh Laporan Keuangan Sederhana untuk Usaha Kecil
    Panduan Membuat dan Contoh Laporan Keuangan Sederhana …
  • Tips Menabung 50% dari Pendapatan untuk Capai FIRE Lebih Cepat
    Tips Menabung 50% dari Pendapatan untuk Capai …
  • Budgeting 2025: Cara Efektif Mengatur Keuangan Bulanan yang Lebih Baik
    Budgeting 2025: Cara Efektif Mengatur Keuangan Bulanan …
  • Cara Investasi Dolar untuk Pemula: Panduan Praktis Mulai dari Nol
    Cara Investasi Dolar untuk Pemula: Panduan Praktis …

Blog Perencanaan Keuangan

Copyright © 2025 Blog Perencanaan Keuangan
Design by Mamat

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Refresh