Kategori
Kredit Kredit Online

KPR Ditolak karena Pinjol, Jadi Gimana? Masih Mau Kabur Aja?

Beberapa waktu yang lalu sempat membaca berita, bahwa banyak pengajuan KPR ditolak lantaran si calon debitur tercatat memiliki utang pinjol (yang sepertinya macet) di BI Checking.

Hal ini diungkapkan oleh pihak manajemen salah satu bank yang cukup populer dengan produk kredit perumahannya beberapa waktu yang lalu. Kalau dipikir-pikir ya, lucu juga ya. Dulu yang sering menjadi batu sandungan pengajuan KPR adalah utang kartu kredit. Eh, sekarang KPR ditolak karena utang di pinjol.

Zaman berubah, kebutuhan berbeda, perilaku pun bergeser. Dulu kartu kredit menjadi biang kerok gagalnya KPR sejumlah calon debitur, sekarang pinjaman online. Masih menurut bank yang bersangkutan, rejection rate KPR akibat pinjol sebesar 30%.

[toc]

Apa Itu BI Checking?

BI Checking sejak dulu memang sudah menjadi salah satu syarat pengajuan KPR. Dan, menjadi salah satu alasan KPR ditolak yang cukup telak.

Sebenarnya, layanan BI Checking ini sekarang sudah menjadi Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), dan beralih dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan. BI Checking sendiri merupakan layanan informasi data historis terkait kredit berdasarkan Sistem Informasi Debitur (SID). Jika kamu mengajukan kredit—jenis apa pun—pihak pemberi kredit, seperti bank atau platform lainnya akan mengecek riwayat penggunaan layanan keuanganmu pada sistem ini. So, kalau kamu punya utang ke lembaga-lembaga resmi, maka datamu juga ada di sini. Termasuk kalau kamu utang pinjol, dan macet.

Nah, yang terakhir ini nih yang jadi red flag untuk lembaga mana pun, mana kala kamu mengajukan kredit. Pasalnya, siapa pun yang terlibat kredit macet di lembaga mana pun memang bisa terdeteksi di sistem ini, dan statusnya akan menjadi blacklist alias daftar hitam. Namun, jika kamu punya riwayat kredit yang lancar dan baik, hal tersebut juga akan muncul dalam sistemnya, sehingga kalau kamu mengajukan berbagai jenis kredit, pengajuanmu juga akan lebih mudah disetujui dan lebih cepat pemrosesannya.

Alasan KPR Ditolak

Sementara, ada berbagai alasan mengapa sebuah pengajuan KPR ditolak. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Syarat dokumen tidak lengkap

Bukan tanpa alasan mengapa pihak pemberi pinjaman meminta berbagai dokumen sebagai syarat pengajuan KPR. Hal ini terkait dengan kekuatan hukum dan manajemen risiko yang harus dihadapi oleh lembaga terkait. So, sudah pasti, kalau dokumen enggak lengkap, ya KPR ditolak.

Jenis dokumennya bisa saja berbeda, tergantung kebijakan masing-masing lembaga. Tetapi, pada umumnya yang diminta adalah sertifikat-sertifikat yang menyatakan kepemilikan dan pemakaian, akta jual beli, surat PBB, sertifikat IMB, dan sebagainya.

2. Masa kerja kurang

Kamu diminta untuk berpenghasilan tetap jika ingin mengajukan KPR, minimal 1 – 2 tahun, tergantung pekerjaan atau profesi masing-masing. Hal ini terkait kebutuhan pihak lembaga pemberi pinjaman akan kelancaran kredit ke depannya.

3. Penghasilan dan kondisi keuangan dinilai kurang memenuhi syarat

Salah satu syarat dokumen yang sering diminta juga adalah slip gaji, laporan penghasilan, atau sejenisnya. Hal ini penting untuk dipakai sebagai bahan analisis pihak pemberi pinjaman, apakah kita akan mampu membayar cicilan sampai lunas. Umumnya pihak lembaga pemberi pinjaman menstandarkan cicilan minimal 30% dari penghasilan. Minimal ya, jadi ya bisa lebih besar.

Selain penghasilan, pihak bank juga akan mempertimbangkan jumlah tabungan kita sebagai salah satu sumber cadangan dana. So, jelas. Kalau kondisi keuangan kita berantakan, maka bisa jadi KPR ditolak.

4. Melampaui batas usia

KPR ditolak juga bisa karena kita dinilai sudah melampaui batas usia. Misalnya, saat ini kamu berusia 40 tahun, mengajukan KPR dengan tenor 25 tahun. Nah, dengan batas usia pensiun sekitar 55 tahun, maka bisa saja KPR ditolak. Karena artinya 15 tahun lagi, kamu sudah pensiun sehingga tidak akan memiliki penghasilan pasif. Logikanya, dari mana kamu bisa membayar cicilan nantinya, sampai lunas?

5. Punya riwayat kredit yang buruk

Nah, ini dia nih. Logikanya cukup wajar. Siapa yang mau kasih pinjam duit ke orang yang cicilannya ke orang lain nggak dibayar? Terlepas dari apa pun penyebab cicilan tersebut enggak dibayar.

Di sinilah fungsi BI Checking atau SLIK ini berperan. Saat kamu lalai membayar cicilan—apalagi sampai gagal bayar—maka namamu akan masuk ke dalam data historis sistem ini.

Beresin Dulu Utangmu, Baru Pengajuan KPR

Jadi, masih mau kabur dari pinjol? Jangan. Nantinya, kamu sendiri yang bakalan susah.

Menurut berita yang dirilis, pihak pemberi pinjaman sebenarnya juga sudah mulai melunakkan syarat ini. Tak semata-mata KPR ditolak, pihak bank juga memberikan kelonggaran-kelonggaran tertentu.

FYI, dalam sistem BI Checking atau SLIK ada 5 tingkat kolektibilitas atau disingkat KOL. Untuk KOL 1, biasanya pihak debitur masih diberi keringanan untuk mengurus dulu utangnya, sementara proses pengajuan KPR bisa dilanjut. Menurut pihak bank, sekarang yang ada di KOL 2 dan KOL 3 juga diberi kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan mereka dengan pinjol, bahkan sampai 3 bulan. Enggak serta merta KPR ditolak saat itu juga.

So, sekarang jika kamu mengalami masalah ini, lebih baik fokuslah pada upaya untuk melunasi pinjol agar jangan sampai pengajuan KPR ditolak.

1. Prioritas utang berbunga besar tenor singkat

Kalau memang terlalu banyak, kamu bisa prioritaskan untuk menyelesaikan utang yang memiliki bunga tinggi dan tenor yang pendek. Begitu utang berbunga tinggi dan bertenor pendek ini lunas, yaqin deh, bebanmu akan terasa lebih ringan dengan segera.

2. Cari pinjaman tanpa bunga

Cara ini mungkin bisa dibilang gali lubang tutup lubang sih, tapi jauh lebih lunak. Coba cari pinjaman tanpa bunga pada keluarga, atau kantor tempat kamu bekerja. Ya, mungkin rada susah sih tanpa bunga, setidaknya bunganya lunak. Biasanya perusahaan memang punya fasilitas pinjaman dengan bunga lunak, yang pembayarannya bisa dengan potong gaji. Kamu bisa mencoba nego dengan yang berwewenang (biasanya HR) dalam hal ini di kantor.

3. Pakai dulu tabunganmu

Kalau perlu ya, pakai dulu tabunganmu meskipun fungsinya tabungan adalah untuk kebutuhan mendesak. Tapi, jika kamu tak ingin pengajuan KPR ditolak, maka pelunasan utang ini bisa jadi salah satu kebutuhan yang mendesak. Seenggaknya, jangan sampai bunga pinjol semakin membesar sementara pengajuan KPRmu sedang diproses.

Nantinya, kalau utang pinjol sudah terselesaikan, KPR juga sudah disetujui, kamu bisa membuat rencana keuangan baru dan menambah lagi tabungan yang terkuras. Pokoknya, selama kamu masih berpenghasilan aktif, seharusnya hal ini aman deh. Tinggal atur lagi keuangannya supaya cash flow tetap positif.

4. Jual aset

Kalau saat ini kamu punya aset bernilai ekonomis tinggi, kamu bisa menjualnya dulu demi mendapatkan cash dan bisa dipakai untuk melunasi utang pinjol. Misalnya seperti emas, jam tangan branded, lukisan bernilai tinggi, dan lain sebagainya.

Mungkin kamu juga sudah punya investasi seperti reksa dana, deposito, atau saham? Kamu juga bisa jual dulu sesuai kebutuhan demi lunasnya utang pinjol. Perhitungkan dengan cermat ya, siapa tahu juga enggak perlu langsung dijual semua lo.

5. Cari penghasilan tambahan

Demi bisa mendapatkan cash lebih cepat, pertimbangkan juga untuk mencari penghasilan tambahan. Faktanya, orang banyak berutang karena penghasilannya kurang. Karena itu, proses pelunasannya juga terhambat.

So, cobalah untuk memperbesar penghasilan dengan mencari alternatif sampingan yang lain—yang sekiranya tidak mengganggu pekerjaan utamamu. Misalnya, kamu punya warung makan. Sekalian saja jual sembako. Kamu kerja kantoran? Coba sambil jualan bekal makan siang atau camilan yang di-repack untuk teman-teman sekantormu. Kamu punya online shop? Jajaki produk lainnya juga, siapa tahu bisa menambah omzet.

Hanya kamu yang tahu, apa yang bisa kamu lakukan untuk menambah penghasilan. So, open your mind, dan cari peluang. Jangan menyerah ya.

Nah, dengan dilunasinya utang pinjol yang kamu miliki, maka peluang KPR ditolak akan bisa ditekan. Kesempatan KPR disetujui akan semakin terbuka, dan seiring dengan hal tersebut, (semoga) keuanganmu juga akan lebih sehat.

Jangan lupa untuk follow akun Instagram Dani Rachmat ya, untuk berbagai tip keuangan dan investasi yang praktis dan bisa dipraktikkan sendiri. Juga berlangganan newsletter dengan melakukan registrasi di sini, yang akan dikirimkan setiap bulan berisi berbagai update dan tren di dunia keuangan. Jangan sampai ketinggalan berita!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version