Kategori
Perencanaan Keuangan Tips Hemat

Atur Bujet Bulan Ramadan di Masa Krisis yang Belum Usai

Masa krisis belum berlalu. Pergerakan orang-orang yang terinfeksi COVID-19 belum menurun. Malahan, di beberapa daerah, justru mengalami peningkatan yang cukup signifikan. So, lagi-lagi tahun ini, kita harus menjalani bulan Ramadan di tengah pandemi.

Sesuatu ya?

Dua kali sudah kita harus menjalankan puasa di tengah wabah penyakit. Sudah dua kali pula, larangan mudik Lebaran dinyatakan oleh pemerintah (hence, masih saja banyak yang nekat, dan malah menantang larangan ini). Miris, tapi ya bagaimana lagi? Hajat orang banyak beda-beda, apalagi ini dalam satu negara. Dapat dibayangkan, bagaimana berat beban pemerintah. Serba salah, sepertinya.

But then again, mari kita lihat diri kita masing-masing. Apakah sejauh ini sudah cukup survive? Baik dari sisi kesehatan, maupun dari sisi finansial? Sebagian dari kamu mungkin sudah pulih penghasilannya, tetapi percaya banget, masih ada yang belum bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi.

So, lagi-lagi, bulan Ramadan harus dilalui dengan prihatin.

But it’s ok. Mari kita atur saja apa yang ada. Di saat-saat seperti ini, kita masih dikasih rezeki saja sudah alhamdulillah banget kan ya? Tinggal tugas kita untuk mengaturnya. Kalaupun mau menambah rezeki juga bisa. Kan, di bulan Ramadan begini, pasar musiman juga ada.

Tapi, mari kita atur bujet dulu yuk, sebelum beranjak ke yang lainnya.

5 Langkah Atur Bujet di Bulan Ramadan

1. Catat pengeluaran

Yang pertama tentu membuat catatan keuangan, terutama mencatat pengeluaran-pengeluaran kita, di bulan Ramadan yang spesial ini.

Masih belum tahu apa manfaat kita mencatat pengeluaran? Di antaranya ini nih:

  • Dapat dipakai untuk mencegah kebocoran cash flow
  • Bisa dipakai untuk membuat bujet yang lebih baik
  • Kalau ada masalah keuangan, kita bisa mendeteksi kesalahannya di mana dengan lebih mudah
  • Membantu mengendalikan belanja berlebihan
  • Jadi bahan kita menyusun rencana dan tujuan keuangan

Nah, banyak kan? Apa lagi ya, yang belum ketulis? Sok, ditambahin di kolom komen kalau ada ya.

Memang, kalau mau ngapain aja yang berhubungan dengan uang, baik untuk kebutuhan sehari-hari atau sesuatu ke depan, kita akan selalu bertolak ke cash flow. Dan, dari mana lagi kita bisa melihat cash flow kita kalau bukan dari catatan keuangan? Terutama pengeluaran.

Because finance is all about how much we spend, not how much we earn.

Kembali ke atas

2. Anggarkan

Yang berikutnya adalah membuat anggaran. Kalau menjelang dan selama bulan Ramadan, biasanya sih memang pola pengeluaran kita berubah. Karenanya, memang perlu untuk membuat budgeting lagi, berdasarkan pola yang berbeda itu.

Mengapa?

Ya, memang kita sudah tahu, apa saja yang bikin pengeluaran kita jadi berlipat di bulan Ramadan begini. Tetapi, kadang hal itu juga nggak bisa dihindari.

Buatlah anggaran mulai dari:

  • Menu buka puasa, buat rencana menu kayak gini, biasanya bisa bikin kita nggak berlebihan saat menyiapkannya. So, coba deh buat rencana misalnya untuk seminggu. Menunya sederhana asal sehat. Menu buka yang kemudian bisa di-remake menjadi menu sahur. Cari inspirasi menu-menu dari internet, atau aplikasi-aplikasi masak.
  • Zakat dan sedekah. Ini adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat muslim di bulan Ramadan. So, sisihkan sejak awal, karena ini termasuk kewajiban sehingga seharusnya bukan menjadi faktor pemborosan. Bisa dianggarkan sejak awal. Penuhilah kewajiban terhadap sesama, ini nggak boleh pakai alasan.
  • Lebaran: bikin hamper, atau kirim uang? Kalau biasanya mudik, mungkin tahun ini masih belum bisa mudik lagi. Mendingan kirim bingkisan atau kirim uang aja? Biasanya sih ya pada lebih suka dikirim uang, bisa lebih bermanfaat. Tapi, ya pertimbangan saja sih masing-masing, karena kondisi keluarga kan berbeda-beda.

Selain tiga hal di atas, apakah masih ada lagi jenis pengeluaran lain yang ekstra di bulan Ramadan? Coba cek lagi kebutuhanmu, kalau perlu dianggarkan, ya anggarkan.

Kembali ke atas

3. Kelola THR dengan baik

Menjelang Lebaran nanti, kamu yang karyawan kantoran akan menerima THR. Besar atau kecil, syukurilah, dan kemudian pertimbangkan pemanfaatannya. Rencanakanlah penggunaannya dengan baik.

Tapi ingat, jangan dipakai kalau belum kamu terima.

Ada kalanya kita tertarik untuk membeli sesuatu, yang kemudian diikuti dengan, “Harganya mahal beud, gak papa. Ntar kan dapat THR.”

Jangan gitu ya. Jangan pakai uang yang belum ada di tangan.

Menurut aturan yang ada, besaran THR biasanya adalah sama dengan satu kali gaji. Jadi, pastinya ya lumayan tuh jumlahnya kan? Makanya, harus direncanakan penggunaannya, terutama untuk kebutuhan-kebutuhan bernominal besar yang cukup ekstra. Misalnya untuk membayar premi asuransi jiwa, atau sejenisnya.

Buat kamu para pemilik bisnis atau pemberi kerja, jangan lupa memberikan hak para karyawan atau pekerja yang bekerja padamu. Jangan lupa THR ART dan pekerja lainnya di lingkungan rumah atau di rumah sendiri ya.

Kembali ke atas

4. Menabung lagi untuk keperluan besar berikutnya

So, kita masih belum tahu ya, kapan kondisi sulit ini akan berakhir. Rasanya sudah kangen banget kondisinya balik seperti semula seperti tahun-tahun sebelum pandemi menyerang.

Kadang ya kepikiran, bisa enggak ya kita kembali normal seperti dulu?

Yah, tapi bagaimanapun juga kita harus optimis ya kan? Pandemi mengajarkan kita banyak hal, salah satunya lebih bijak dalam mengelola keuangan.

Ke depannya, kita masih belum tahu bakalan seperti apa hidup yang akan kita hadapi. Jadi, yuk, kelola keuangan lagi dengan lebih baik. Menabung lagi untuk keperluan besar berikutnya.

Setelah bulan Ramadan, di depan ada Iduladha yang juga butuh biaya besar. Lalu, ada juga tahun ajaran baru. Juga mungkin ada kebutuhan-kebutuhan lain yang harus kamu sediakan biayanya.

Kembali ke atas

5. Kurangi hal-hal yang nggak penting, kembali ke hakekat puasa

Intinya, marilah kita kembali ke hakekat puasa kita di bulan Ramadan ini, yang adalah beribadah. Bukan lagi pada mewahnya menu buka dan sahur, atau perayaan-perayaan yang enggak penting. Kalaupun mau mengadakan buka bersama, ya ajaklah orang-orang yang tidak seberuntung kita untuk berbuka bersama. Tentulah maknanya akan lebih dalam.

Yang penting, tetap jalankan protokol kesehatan.

Mensyukuri rezeki yang sudah diberi, dan mengupayakan apa yang mesti diusahakan.

Duh, malah khotbah deh.

Kembali ke atas

Kesimpulan

Begitulah cara atur bujet di bulan Ramadan di masa krisis yang belum juga usai. Saatnya bagi kita untuk memaknai bulan suci ini secara lebih dalam lagi. Betul nggak?

Hidup ke depan masih panjang, dan kita mesti optimis dalam menjalaninya.

Semoga puasa kalian diterima ya, Gaes!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *