Kategori
Perencanaan Keuangan

Saya Butuh Self Reward dan Itu Bukan Pemborosan

Buat saya, memotivasi diri supaya terus semangat menjalani hari-hari sibuk karena pekerjaan itu penting. Semakin penting artinya ketika akhirnya saya memutuskan untuk menjadi pemburu proyekan, alias freelancer. Kalau orang kantoran, ada atasan dan HR yang siap membantu, jadi freelancer itu memang beneran jadi single fighter. So, harus sering-sering kasih self reward, juga pukpuk ke diri sendiri.

Kadang saya mengernyit, kalau orang yang menyindir kebiasaan-kebiasaan untuk beli kopi, langganan netflix, dan sebagainya sebagai suatu kebiasaan yang memboroskan keuangan.

Padahal ya, nggak ada yang salah dengan self reward itu. Bahkan penting! Supaya kita nggak ngerasa hidup cuma buat beli saham, topup reksa dana, cicilan, … Kadang kita juga perlu lo, belanja nggak jelas, traktir diri sendiri kopi yang rasanya beda dari kalau buat sendiri, atau juga hal-hal lainnya.

Kadang ya, karena baca tip keuangan sana-sini, memang jadi terintimidasi sih. Jadi merasa bersalah banget, kalau pakai duit yang didapat itu buat seneng-seneng sendiri. Apa-apa selalu buat masa depan, buat anak-anak, buat keluarga. Ya itu memang bener, cuma sekali waktu—nggak perlu sering-sering juga—bikin diri sendiri senang, gitu.

Tapi, keknya cuma sedikit ya, yang merasa bersalah pakai uang sendiri tuh. LOL. Semoga sih saya enggak sendirian.

Disclaimer: Artikel ini bukan ditulis oleh Bang Mamat.

Buat Apa Sih Self Reward?

1. Motivasi Diri

Jika ke depan nanti hidup saya bisa bebas dari masalah keuangan, itu memang seharusnya bisa jadi motivasi diri yang terbesar. Tapi ada kalanya juga, kita butuh alasan untuk merasa happy dengan hari ini.

Memberikan self reward bisa memenuhi keinginan itu.

Hadiah pada diri sendiri ini membuat mood jadi baik, dan akhirnya akan berpengaruh juga pada produktivitas kerja kita. Pasalnya, menerima sesuatu yang kita sukai—dari mana pun asalnya, termasuk dari diri sendiri—itu memicu produksi hormon dopamin; hormon yang berhubungan dengan rasa bahagia.

Kembali ke atas

2. Memicu Positive Reinforcement

Apa sih maksud positive reinforcement?  Adalah perilaku kita yang terpicu oleh rasa senang mendapatkan imbalan, untuk berusaha mendapatkan imbalan lagi ke depannya.

Nah, jadi enggak salah kan? Kalau saya kerja keras bagai quda, agar nanti saya merasa berhak untuk menraktir diri sendiri seliter kopi gula aren dari warung kopi yang sudah terkenal di dunia itu, dan bisa menikmatinya tanpa beban.

Menurut ilmu psikologi, hal seperti ini penting lo, karena dari sinilah kita bisa memulai bangun kebiasaan dan produktivitas.

Jadi, ntar kalau nggak ada self reward jadi nggak pengin kerja gitu? Enggak gitu juga. Karena ini tuh satu paket utuh. Self reward hanya salah satu pendorong. Kalau nggak ada self reward, masih ada banyak alasan lain untuk tetap bekerja kok.

Tapi, selama self reward masih bisa dilakukan, ya lakukan saja!

Kembali ke atas

3. Membentuk Rasa Penting

Adalah penting untuk selalu merasa positif setiap hari. Dengan merasa bahwa diri sendiri ini penting, maka kamu pun akan dapat menghargai setiap hal yang didapatkan.

Tanpa merasa penting, kamu bisa saja lo membuat dirimu sendiri kerja rodi. Ih, emang mau? Bisa-bisa burnout dan apa yang terjadi? Bisa diduga kan, kinerja akan menurun. Means, penghasilan juga akan terkendala nantinya. Terus, siapa yang repot lagi?

Lalu, gimana cara memberi self reward?

Nah, ya kalau saya sendiri sih nyadar betul, bahwa sebenarnya saya juga masih punya banyak mau dan keinginan dalam hidup. Saya masih mau hidup lebih lama sedikit lagi. Jadi, saya juga nggak boleh sembarangan mengeluarkan uang cuma gara-gara saya pengin senang-senang di masa sekarang.

So, ngasih self reward juga mesti bijak. Self reward itu penting, tapi jangan sampai bikin pening nantinya.

Kembali ke atas

Cara Memberi Self Reward

Setiap orang punya jenis self reward sendiri-sendiri. Saya sendiri saja, mungkin hari ini menganggap seliter kopi gula aren sebagai hadiah pada diri sendiri yang paling layak. Tapi di hari lain, bisa saja saya menganggap satu set pisau cookware kekinian berwarna pink itu sebagai self reward yang pantas.

1. Dalam batas kemampuanmu

Setuju kan, bahwa lucu kalau sampai kamu “mengorbankan” masa depan untuk sesuatu yang kamu nikmati sebentar di masa sekarang. Jadi jajan, nongkrong di café, nonton film, traveling, semua lakukanlah dalam batas kemampuanmu.

Nggak usah halu kalau memang nggak mampu.

Orang-orang mungkin akan kagum melihatmu bisa menjalani lifestyle yang mevvah. Tapi, kalau kamu bangkrut, mereka bisa apa? Mungkin malah ngetawain kamu kan?

Karenanya, penting untuk bisa membuat your own borderline.

Kembali ke atas

2. Pastikan nggak mengganggu rencana jangka panjang

Bagaimanapun juga kita kan harus berprioritas. Rencana jangka panjang haruslah tetep jalan, self reward juga harus disesuaikan. Kalau kamu sudah melakukan poin pertama di atas, maka selanjutnya pasti akan mudah saja untuk tidak mengganggu rencana jangka panjang.

Kadang yang menjadi hambatan itu kalau memang kita halu sih.

Kembali ke atas

 3. Yang simpel dan gampang aja

… yang penting bikin seneng.

Makan siang yang lebih mevvah dari biasanya, pesan online. Atau, belikan diri sendiri skincare yang sudah lama lihat reviewnya di biuti vlogger idola. Beli di marketplace saja, sambil memanfaatkan gratis ongkir dan cashback.

Oh iya, saya lebih seneng belanja online. Hari ini saja, saya pesan vitamin buat kulit. Dan saya membayar Rp0, karena memanfaatkan gratis ongkir dan tukar poin. Betapa bahagianya saya!

Kembali ke atas

Nah, kamu bisa cari cara self reward sendiri yang sesuai untukmu. Sepatu, belanja baju, jajan boba, apa saja boleh. Saya sendiri sih, tipe-tipe yang mudah dibikin seneng sebenernya. Belanja Rp0 karena tukar poin pun saya sudah seneng banget, apalagi ditambah dapat barang yang saya penginin.

Hati senang, kerja juga dengan mood yang baik. Alhasil hasilnya juga nggak akan mengingkari. So, boleh banget kok self reward. Malahan harus! Self reward itu bukan pemborosan, asal kamu nggak halu.

2 tanggapan untuk “Saya Butuh Self Reward dan Itu Bukan Pemborosan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *