Kategori
Investasi Perencanaan Keuangan

Terlambat Investasi? Nggak Apa, Ini yang Saya Lakukan untuk Kejar Ketinggalan

Idealnya, kita memang seharusnya memulai sejak masih muda. Masih di awal karier, itu lebih baik. Tapi, kalau misalnya kayak saya, yang dulu alergi sama istilah “investasi”, ya bisa mulai investasi di usia 40-an juga nggak apa. Jangan sampai karena merasa terlambat investasi, malah jadi nggak invest sama sekali.

Itu namanya mencelakakan diri sendiri.

So, kalau kamu punya masalah seperti ini, tenang. Kamu sama kayak saya. Saya baru mulai investasi beneran di usia 40-an. Dan saya mesti gaspol, kalau mau masa depan saya safe.

Ngos-ngosan? Hajelas! Tapi optimis saja, dan stick to the plan.

Disclaimer: Artikel ini bukan ditulis oleh Bang Mamat, tapi oleh seorang perempuan yang sudah tak belia lagi, dan sedang mencoba berdamai dengan keterlambatan yang ada.

Mengapa Harus Segera Mulai Meski Terlambat Investasi?

Usia 40 itu harusnya memang sudah mapan. Aset sudah bertumbuh, beberapa tujuan finansial juga seharusnya sudah terlaksana dengan baik. Ya, gimana enggak? Karena asumsinya, di usia 40-an itu, seseorang seharusnya sudah bekerja setidaknya 15 tahunan kan?

Seharusnya, dengan waktu segitu, kita sudah punya beberapa aset, mulai dari rumah (meski mungkin belum lunas), kendaraan sendiri, investasi di surat berharga, dan sebagainya. Pekerjaan sudah stabil, plus ada stream income yang lain. Nggak heran makanya ada ungkapan, “Life begins at 40.”

Tapi ya gitu, karena kesalahan di masa muda, akhirnya sekarang harus menanggung akibatnya. Itu aja saya merasa nggak boncos-boncos amat, karena saya termasuk nggak kepenginan. Ehtapi ya karena ada si mobil butut itu sih, yang paling bikin dompet saya jebol setiap bulannya. Awokawokawok.

Tapi kalau tarsok tarsok, ya akhirnya tertunda terus, dan nggak  bakalan jadi. Sudah tahu kan, apa manfaat investasi?

Investasi akan sangat berguna untuk:

  • Senjata ampuh untuk melawan inflasi
  • Mencapai tujuan finansial dengan lebih cepat
  • Bisa menjadi sumber penghasilan kedua, ketiga, dan seterusnya
  • Lebih siap pensiun
  • Lebih cepat bebas finansial

Apa lagi ya? Terutama lima itu sih buat saya.

So, telat nggak telat, marilah kita mulai dulu. Tapi, karena terlambat investasi, jadi ada beberapa hal yang mesti dilakukan ekstra dengan ekstra disiplin juga. Kerja lebih keras deh, pokoknya.

Kembali ke atas

Langkah Memulai untuk yang Terlambat Investasi

1. Tentukan tujuan finansial

So, where do we start? Menentukan tujuan finansial, tentu saja. Ini penting, sepenting ketika kita mau pergi, ya pasti kita harus menentukan dulu mau ke mana.

Kalau bingung—karena kebanyakan mau, ya maklum. Terlambat investasi jadi penginnya semua-mua dilakuin—bagilah tujuan finansialmu dalam beberapa horizon waktu. Biasanya sih pada dibagi dalam 3 jangka waktu, yaitu pendek (di bawah 3 tahun), menengah (sampai dengan 5 tahun), dan panjang (di atas 5 tahun). Setelah terbagi dalam beberapa jangka waktu, tentukan pula jumlah nominal yang dibutuhkan. Nah, mari kita ke poin berikutnya, karena ini memang harusnya dalam satu langkah biar nggak bolak-balik.

Kembali ke atas

2. Tentukan horizon waktunya

Penentuan waktu ini memang akan lebih singkat daripada orang pada umumnya, karena ingat, kita sudah terlambat investasi. It will be so frustrating untuk bisa compete dengan waktu, tapi ya, ini perlu untuk memacu diri sendiri, supaya bisa mengejar ketertinggalan.

Karena terlambat investasi, maka tujuan finansial jangka pendek saya banyak sekali. Ya nggak apa, dibikin daftar saja dulu. Masukkan saja dulu apa saja yang jadi target. Baru kemudian setelah selesai didaftar, dipilah lagi. Mana yang bisa dimundurkan ke jangka waktu yang lebih panjang. Masing-masing orang punya prioritasnya sendiri. Saya dan kamu bisa jadi berbeda, so don’t bother membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Taruhlah untuk saya nih. Jangka waktu pendek saya adalah renovasi rumah. Pengin cat ulang, benerin lisplang, benerin pintu garasi, dan pengin nambah kamar tidur baru buat anak. Saya pengin ini terlaksana semua maksimal sampai 3 tahun ke depan. Saya harus cari tahu, berapa harga material plus harga pekerja. Setelah ketemu nominal, baru deh di-breakdown mundur ke masa sekarang, untuk mulai bisa nabung.

Jangka waktu menengah saya adalah support dana pendidikan anak ke universitas. Kok support? Apa itu support dana pendidikan? Untuk dana pendidikan masuk universitasnya sendiri sudah menjadi tujuan finansial keluarga, which means jadi jatah suami. Saya akan fokus ke support-nya, yaitu dana bimbel. Bimbel zaman sekarang mahalnya sama saja dengan sekolahnya, Ferguso. Tanpa bimbel, saya sendiri kewalahan kalau harus membelajari anak-anak. Saya merasa kurang kompeten.

Tujuan jangka panjang saya adalah dana pensiun. Karena kalau 5 tahun lagi kayaknya nggak mungkin sampai—plus toh saya adalah seorang freelancer yang bisa menentukan sendiri kapan mau pensiun—maka saya memundurkan usia pensiun saya ke 15 tahun lagi. Moga-moga saja saya masih dikasih umur panjang ya. LOL.

Kembali ke atas

3. Kenali instrumennya

Jangka waktu akan memengaruhi pemilihan instrumen investasi.

Untuk jangka waktu pendek, pilih yang konvensional dengan tingkat risiko rendah. Saya sendiri simpan dana untuk jangka pendek di tabungan berjangka. Dengan sistem autodebit, saya nggak pusing harus ingat-ingat kapan harus setor setiap bulan.

Untuk jangka menengah, saya punya instrumen reksa dana pendapatan tetap. Sedangkan jangka panjang, saya simpan di beberapa saham blue chip, yang saya topup setiap bulan, plus kalau lagi ada diskon.

Kembali ke atas

4. Tambah penghasilan, dan/atau hidup lebih hemat

Nah, sementara saya mulai ngegas investasinya, saya juga harus support cita-cita saya untuk mengejar ketertinggalan akibat terlambat investasi ini dengan hal-hal di luarnya. Ada 2 hal yang bisa saya lakukan:

  • Cut out expenses, dengan cara hidup lebih hemat lagi.
  • Tambah stream income, yang mana sangat mungkin saya lakukan karena saya bekerja secara freelance. Berarti genjot deh promosi diri sendirinya.

So, yeah, saya bener-bener berjuang di bagian kedua. Harus bisa mengelola bisnis saya dengan lebih baik lagi, biar berkembang. Kerja cerdas, bukan kerja keras, serta memikirkan strategi yang lebih panjang agar lebih sustainable.

Doakan saya ya!

Btw, ada yang butuh penulis konten?

*malah ngiklan* *ditabok yang punya blog*

Kembali ke atas

5. Nggak usah muluk-muluk, yang penting disiplin

Yah, meski targetnya lebih pendek dari rangorang, saya berusaha santai saja menjalaninya. Punya target, harus disiplin dengan rencana yang sudah dibuat, tapi jangan ngoyo. Yang penting, kesehatan fisik dan mental harus nomor satu.

God speed, semoga semua tercapai dengan kehendak Yang di Atas.

So, itu dia beberapa langkah raksasa yang harus saya lakukan demi mengejar ketertinggalan akibat terlambat investasi. Belum terlalu terlambat, tapi ya harus segera dimulai kalau nggak pengin dapat masalah keuangan ke depannya.

Rada mefet, dan stressful, but yeah, mari kita berusaha saja. Semoga dilancarkan. Amin!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *