Kategori
Investasi Perencanaan Keuangan Reksadana Saham

Perjalanan Investasi Seorang Tukang Kredit

“Gimana sih cara belajar investasi Mat?”

Beberapa tahun lalu banyak yang nanya tentang ini. Akhir-akhir ini, meskipun masih ada yang penasaran bagaimana caranya belajar investasi, pertanyaan sudah mulai langsung ke mengarah ke satu instrumen investasi. Sudah bukan lagi gimana caranya belajar tentang investasinya. Kayak misalkan:

“Gimana caranya gue ngerti mana saham yang bagus ato nggak?”

“Apa panduan buat milih reksa dana terbaik ya?”

“Unitlink mana nih yang paling bagus buat asuransi kesehatan gue?”

Gara-gara pergeseran ini, gue jadi pengen cerita gimana dulu perjalanan gue dan menemukan cara belajar investasi yang cukup panjang. Gak kayak sekarang yang apa-apa bisa langsung baca dari banyak sumber. Bahkan gak perlu beli buku!

Sounds envious? I really am!

Hahaha. Enak banget ya yang lahir jaman sekarang! Bahahaha *trus dikutuk sama emak gue.

Tapi gue tetep mau cerita ini. Biar nanti teman-teman yang merasakan sulitnya belajar tentang investasi bisa menggunakannya sebagai referensi.

Seperti biasa, teman-teman bisa baca dari awal sampai akhir. Kalau mau baca langsung yang sesuai minat langsung saja ikutin daftar isi di bawah ini.

Cara Belajar Investasi dari Pengalaman Tukang Kredit

Cara Belajar Investasi dari Pengalaman Seorang Tukang Kredit

Perjalanan Panjang Seorang Investor

Gue mau buka bagian ini dengan pesan bahwasannya yang namanya investasi itu untuk jangka panjang. Bukan waktu yang singkat sesingkat beberapa tahun saja. Lebih-lebih bulan.

Ini karena gue banyak ketemu sama teman-teman yang ngakunya mau investasi. Tapi kemudian setelah beli satu produk investasi cuma dalam waktu beberapa bulan sudah gak betah karena dananya gak naik-naik.

Atau malah lebih parah. Karena janji dan jaminan keuntungan besar dalam waktu singkat malah kejebak investasi-investasi bodong. Kejebak penipuan yang berujung duit hilang dan menguap begitu saja.

Kembali ke atas

Produk Unit Link untuk Belajar Investasi

Karena tabungan gak gue anggap sebagai bagian investasi, jadi gue langsung ceritain instrumen pertama yang gue kenal. Unit link.

I know right…

Unit link bukanlah produk investasi. Buat yang belum tahu, unit link adalah salah satu produk perusahaan asuransi. Dan unit link ini muncul di Indonesia sebagai salah satu produk bancassurance – produk perusahaan asuransi yang penjualannya melalui channel distribusinya bank.

Masa ketika gue masih jadi trainee di Bank Mandiri, ada salah satu program yang namanya OJT – On The Job training. Gue dapat di Bank Mandiri Kota. Dan masa itu adalah masa-masa awal produk bancassurance dijual di Bank Mandiri.

Baca juga: Tes Masuk Officer Development Program Bank Mandiri

Sebagai anak magang, kami dapat target kudu bisa closing 1 produk bancassurance. Satu-satunya cara buat anak kemaren sore yang baru seminggu magang ya buka sendirilah itu asuransi. Beruntungnya kami, di masa itu, potongan untuk biaya asuransi dari setoran hanya berlaku 3 tahun.

Unit link pertama gue ini pun gue tutup lima tahun sejak pembeliannya. Saat itu gue BEP. Hitungan yang gue bayar dan yang gue dapat sama persis. Cuma untung beberapa ribu rupiah.

Kalo dipikir lagi, unit investasi gue udah naik banyak pasti karena gue bahkan gak rugi ketika nutup!

Apakah sekali itu doang gue beli unit link? Nggak.

Ketika gue kembali ke Jakarta empat tahun kemudian, gue beli unit link kedua dari temen kos. Saat itu gue beli murni karena gak enak dan mau bantuin temen. Dua belas tahun kemudian, gue beli lagi unit link ketiga dengan sangat penuh kesadaran.

Kedua produk unit link tersebut masih terpakai sampai saat ini. Hey! Ternyata setelah tahu dan memahami asurasni unitlink, produknya bagus dan bisa sangat bermanfaat mamen! Kenapa gue harus tutup kan?

Anyway, sejak tahun 2016 OJK sudah melarang bank hanya menjual satu produk bancassurance sesuai berita dari bisnis.com ini.

Kembali ke atas

Berjualan Tabungan Berjangka

Tabungan Berjangka untuk Membangun Kebiasaan Investasi

Gue harus masukkan “Tabungan Berjangka alias TaKa” ini sebagai salah satu instrumen di sini karena teman-teman investor pemula sering banget memakai instrumen ini. Meskipun gue sendiri tidak menganggap tabungan berjangka ini sebagai instrumen investasi.

Tapi, bagi banyak orang tabungan berjangka bisa menjadi instrumen dan cara belajar investasi yang tepat. Kok bisa?

Karena tabungan berjangka mengajarkan untuk menyisihkan uang secara teratur dan konsisten. Perpaduan dua syarat utama dalam berinvestasi kan?

Gue berkenalan dengan tabungan berjangka ketika bertugas sebagai seorang customer service officer (CSO) di Bank Mandiri Bandar Lampung. Dan gue gak bangga kalo mengingat betapa gue dulu adalah salah satu pegawai yang paling sukses jualan tabungan berjangka ini.

Sasaran tabungan berjangka ini sangat jelas kok. Orang-orang yang mengalami kesulitan menabung dan berinvestasi. Terutama mereka yang merasa punya tujuan yang spesifik tapi tidak pernah bisa mengalokasikan dana. Duit gaji selalu habis di akhir bulan.

Ketika sudah menemukan orang-orang yang seperti ini dari beberapa menit interview, gue pun bisa dengan mudah masuk dan menyelesaikan “pain” yang ada. Prestasi paling membanggakan dalam menjual tabungan berjangka ini adalah bisa membuat orang membuka dengan nominal setoran Rp 5 juta per bulan.

Gak heran kemudian gue mendapatkan promosi ke Jakarta. Hahaha.

Buat yang merasa kesulitan investasi, saran gue bisa mencoba dengan membuka dulu tabungan berjangka ini. Mintalah ke pihak bank agar pemotongan saldo dilakukan di awal bulan. Buka untuk periode 1 tahun dulu dan kemudian terapkan pembelian otomatis untuk produk asuransi setelah yakin sudah terbiasa dengan tabungan berjangka.

Kembali ke atas

Pelopor Penjual Reksa Dana

Belajar Investasi dengan Menjual Reksa Dana

Perkenalan gue dengan reksa dana cukup eventful. Gue cukup beruntung bekerja sebagai anggota termuda di cabang. Sehingga tanggung jawab membaca surat edaran dan peraturan baru jatuh ke tangan gue.

Dikombinasikan dengan sertifikasi WAPERD (Wakil Agen Penjual Reksa Dana) yang gue terima ketika training ODP, gue pun bisa membuka kesempatan penjualan reksa dana di cabang. Tentu saja setelah gue baca habis peraturan dan petunjuk teknisnya.

Beruntungnya lagi, saat itu berbarengan dengan krisis global akibat sub prime mortgage crisis di Amerika. Harga-harga instrumen investasi pun turun. Berujung ke harga reksa dana yang juga jeblok tanpa gue tahu sama sekali kondisinya.

Gue pun menyarankan nasabah-nasabah kaya di cabang buat beli reksa dana dan tak lupa gue sendiri juga mencobanya. Gimana bisa jualan kalo gue sendiri gak ngerasain kan?

Gak sampai dua tahun kemudian, nasabah gue hepi banget karena dananya naik beberapa puluh persen. Gue sendiri bagaimana? Let’s just say I was more than happy!

Duit buat gue nikahan sebagian besar (yang jadi bagian gue) berasal dari duit di reksa dana yang gue beli beberapa tahun sebelumnya. Meskipun harus gue akuin kalo lebih banyak duit yang berasal dari orang tuanya istri juga. Hahaha. 😀

Kembali ke atas

Buka Saham dengan Dana Puluhan Juta

Trus, kapan si Mamat kenalan dan belajar investasi saham?

Meskipun ketika gue di Lampung pernah buka rekening saham karena dikejar marketing sebuah perusahaan sekuritas, gue baru benar-benar belajar saham ketika gue sudah pindah dari Bank Mandiri. Dua tahun setelah gue keluar dari bank BUMN itulah gue baru buka rekening dan belajar investasi saham.

Lagi-lagi karena alasan bantu teman yang baru resign dari bank tempat gue kerja saat itu. Dia pindah ke perusahaan sekuritas dan ngajakin teman-temannya buat buka rekening di sekuritasnya dia.

Tawarannya pun menggoda. Dari nominal pembukaan rekening yang Rp 50 juta, kami bisa buka “hanya” dengan Rp 30 juta. Diskon orang dalem! Hahaha.

Saat itulah gue kemudian berkenalan dengan saham dan tradingnya. Jangan dibayangkan aplikasi sekuritas dan online trading system sudah kayak sekarang. Dulu kalo mau beli saham ya kudu tetep WhatsApp atau telepon si teman ini. Fungsi broker masih benar-benar menerima transaksi dan eksekusi. Nggak kayak sekarang yang semuanya bisa kita eksekusi sendiri berdasar hasil analisa teknikalnya yang bisa langsung kita analisa.

Sekarang gimana? Mau jual & beli saham mah cincai. Cara belajar investasi saham pun sudah tersedia di berbagai akun media sosial. Mulai dari yang ngajarin trading sampai yang ngajarin valuasi saham yang murah dan berbagai strateginya.

Kembali ke atas

Akselerasi Waktu Belajar dengan Kemudahan Akses Data

Kalau mau menghitung total waktu untuk belajar investasi, total gue membutuhkan waktu 10 tahun lebih. Dan gue masih belum berhenti belajar ya.

Sampai sekarang pun gue masih terus belajar dan mencoba instrumen-instrumen investasi yang ada. Karena ilmu untuk mempelajari ini gak pernah habis.

Mulai dari instrumennya yang terus bertambah seiring berkembangnya jaman, cara investasinya pun bertambah. Sebut saja P2P Lending dan Crowd Funding yang semakin ramai akhir-akhir ini.

Belum lagi kalau mau sebut crypto currency dan crypto asset yang bahkan sampai tulisan ini gue terbitkan, gue sendiri belum masuk lagi. Masih banyak hal tentang investasi yang masih harus gue pelajari dan cari tahu lebih dalam lagi.

Buat teman-teman yang baru mulai belajar tentang investasi, gak usah berkecil hati. Kalian mungkin gak perlu lagi menghabiskan 10 tahun lebih hanya untuk belajar instrumen-instrumen investasinya. Jaman sudah berubah! Sudah banyak sekali kemajuan baik di lalu lintas persebaran data sampai ke infrastruktur investasinya.

Tinggal cari saja data yang mau kalian pakai dan sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Gue rasa cukup beberapa bulan kalian yang mau belajar investasi dan baca tulisan ini akan bisa menguasai hampir semua yang ada.

Kembali ke atas

Jalani Sesuai Kemampuan Diri

Pada banyak kasus, hambatan yang terjadi dan timbul ketika seseorang ingin belajar investasi bukanlah tidak tersedianya data. Pun cara investasi yang susah seperti jaman dulu ketika untuk membeli reksa dana saja orang harus rela antri di bank.

Tapi justru banyaknya data dan informasi dari berbagai sumber yang kadang tidak sesuai dengan kebutuhan seseorang. Sementara yang bersangkutan belum memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup untuk bisa memilah dan memilih informasi yang harus dia konsumsi.

Hal-hal ini kemudian berujung ketidaksabaran dan rasa cemas berlebih. Kalo ini yang terjadi, dia harus bisa menarik dirinya kembali tujuan awalnya belajar investasi. Dia harus fokus dengan kebutuhan dan tujuannya di masa depan dan berhenti mengukur dirinya dengan standar orang lain.

Susah sekali memang melakukannya, tapi dengan menjalani perjalanan berinvestasi sesuai dengan kondisi dan kemampuannya sendiri adalah salah satu cara belajar investasi yang terbaik. Tak berlebihan mengejar profit yang kemudian ketika harus berhadapan dengan risiko, masih bisa menerima dengan baik. Alih-alih menjadi trauma, orang tersebut akan bisa kembali dengan strategi investasi yang lebih baik.

Kembali ke atas

Nikmati Proses dan Perjalanannya Karena Investasi untuk Waktu yang Lama

Sebagai penutup, gue cuma mau mengingatkan kalau investasi itu butuh waktu dan kesabaran. Kadang butuh waktu sampai bertahun-tahun lamanya untuk bisa melihat hasil investasi kita saat ini.

Gue sendiri menyesali keputusan menjual berbagai produk investasi gue terlalu cepat. Meskipun dulu ketika menjual sudah mengalami kenaikan dan mendapatkan keuntungan. Tapi, seandainya saja gue tetap pegang sampai saat ini, investasi itu sudah naik berkali-kali lipat.

Tentu saja tidak ada gunanya kan kalau gue terus menyesalinya?

Dan mulai saat ini, gue sudah berjanji ke diri sendiri buat lebih sabar dalam berinvestasi. Buat lebih tahan lama dalam hal investasi.

Kalo gak bisa selamanya, minimal selama sampai gue harus benar-benar menjual instrumen investasi itu. Kalo nggak? ya akan gue pegang terus.

Wanna join me?

Kembali ke atas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *