Kategori
Perencanaan Keuangan

3 Strategi Jitu Mengatur Gaji UMR

Sudah baca artikel tentang gaji UMR dan juga komponen-komponen gaji kan? So, kalau belum, boleh dibaca dulu.

Karena untuk bisa mengatur gaji dengan tepat, kamu pun harus tahu dulu, bagaimana perhitungan gaji karyawan ini ditetapkan; bahwa ini sudah dihitung dengan saksama dan sedemikian rupa, sehingga kalaupun kamu merasa terlalu kecil, maka seharusnya bukan nominal gajilah yang disalahkan. Tapi, cara kamu mengelolanya yang harus diperbaiki lagi.

Gimana cara memperbaikinya? Ya, balik dulu ke gaji UMR kamu.

Tapi, berapa emangnya gaji UMR itu? Ya, tergantung masing-masing daerah. So, kalau misalnya ada yang lagi menghitung dengan menggunakan UMR Jakarta, sedangkan kamu berada di daerah lain, ya tausah protes. Tinggal diganti saja variabelnya, dan masukkan ke formula pengelolaan uangnya ya.

Berikut beberapa langkah mengatur gaji UMR yang bisa dilakukan. Ingat, tinggal diganti variabelnya, atau sesuaikan dengan kondisi setempat. Pada prinsipnya sebenarnya sama saja kok, jadi silakan disesuaikan masing-masing ya.

[toc]

3 Langkah Mengatur Gaji UMR

1. Buat pos pengeluaran

Buat kamu yang baru saja mulai masuk ke dunia kerja, mungkin kamu memang akan sedikit overwhelming saat pertama kali harus mengatur gaji kamu. Nggak usah khawatir, kamu enggak sendirian. In fact, setiap orang sukses dulu juga bermula dari gaji yang kecil. Rasanya, jarang banget yang punya privilege, pertama kerja langsung gaji gede miliaran, kalau nggak dapat warisan bisnis dari ortu yang memang udah tajir dari sononya.

So, jangan berkecil hati jika sekarang gaji kamu setara UMR, dan harus hidup pas-pasan. Percayalah, seiring waktu kamu akan bisa mengaturnya lebih baik, pun seiring juga dengan berkembangnya kariermu.

Jadi, yang pertama kali kamu lakukan untuk mengatur gaji UMR ini adalah dengan mengenali kebutuhan hidupmu.

Pada umumnya, kita bisa memisahkan pengeluaran dan kebutuhan menjadi 4 kelompok besar, yakni kebutuhan rutin, cicilan, investasi dan tabungan, dan kemudian sosial. Nah, kamu bisa membagi gaji UMR yang kamu terima dengan proporsi 40 : 30 : 20 : 10.

Kebutuhan Rutin

Untuk kebutuhan rutin, anggarkan sebanyak minimal 40% dari penghasilanmu. Kalau kita pakai UMR Jakarta yang sebesar Rp4.416.186, maka untuk kebutuhan rutin ini setidaknya Rp1.766.000 harus cukup dalam sebulan. Apa saja yang masuk ke dalam kebutuhan rutin? Ya, pastinya akan berbeda sih antara satu dengan yang lain. Tapi biasanya kebutuhan ini mencakup makan, transportasi, pulsa atau kuota, dan kebutuhan lain yang selalu ada di setiap bulannya.

Cicilan

Jika kamu hendak mengambil kredit—segala macam kredit—maka perhitungkan bahwa cicilanmu nantinya tidak boleh lebih dari 30% penghasilan. Dengan UMR Jakarta, berarti besarnya cicilan tidak melebihi Rp1.300.000. Ini semua bentuk cicilan ya; bisa jadi cicilan motor, gawai, utang ke teman, dan seterusnya.

Investasi dan Tabungan

Sisihkan di awal, 20% penghasilan untuk tabungan dan investasi. Kamu boleh pilih berbagai instrumen investasi yang sekarang dengan mudah kamu pelajari. Mengapa harus disisihkan di awal? Karena, kalau nabung dengan uang sisa belanja, ya enggak akan ada sisa, beyb.

Kata orang, gaji UMR nggak bakalan bisa nabung, yekan? Nah, itu mungkin kalau mereka nabungnya dari uang sisa belanja. Jadilah nggak bisa menyisihkan uang.

Sosial

Sosial di sini bisa jadi adalah zakat, sedekah, … beramal deh pokoknya. Biar pas-pasan, sudah seharusnya kita tetap peduli pada sesama. Sedikit enggak masalah, asalkan ada. Penuhi kewajiban sesuai ajaran agama saja sudah cukup kok.

Nah, misalnya nih, kalau enggak punya cicilan gimana? Ya, sesuaikan saja, mau dialokasikan ke kebutuhan rutin, atau buat nambah investasi. Sekali lagi, setiap orang punya kebutuhan yang berbeda. Kalau kebutuhanmu berbeda dari contoh alokasi di atas, ya enggak apa, tinggal sesuaikan. Artikel ini hanya menunjukkan, bahwa alokasi anggaran ini bisa kok dilakukan dengan gaji berapa pun. Gaji UMR sekalipun.

2. Buat jaring pengaman

Hal kedua yang terpenting adalah menyiapkan jaring pengaman. Kenapa penting?

Karena ibaratnya lagi jalan, akan selalu ada rintangan nantinya di depan kita. Hidup kan enggak akan mungkin mulus-mulus saja, akan baik-baik terus. Buktinya, seperti pandemi COVID-19 ini, siapa yang bisa meramalkan? Bill Gates sih ya? Ya, tapi, apakah ada di antara kita yang bisa menjamin, bahwa kondisi sulit seperti ini tidak akan terulang lagi? Terutama dari sisi finansial, risiko sebenarnya selalu bisa dikelola. Paling tidak, mari, kita minimalkan.

Karena itulah, jaring pengaman penting, untuk menghindarkanmu dari risiko finansial yang bisa terjadi. Ada 2 jaring pengaman yang semestinya kamu miliki:

Asuransi

Terutama asuransi kesehatan. Biasanya sih kamu akan otomatis diikutsertakan dalam program BPJS Kesehatan. Ini pada dasarnya sudah cukup, tapi kamu bisa mengecek ulang dengan kebutuhanmu. Jika perlu, tambahlah juga dengan asuransi jiwa. Terutama kalau kamu adalah tulang punggung keluarga.

Dana darurat

Dana yang bakalan bisa menolongmu di kondisi darurat yang mendadak. Karenanya, sejak awal masuk kerja, mulailah dana darurat diprioritaskan. Kamu bisa alokasikan dulu pos investasi untuk membangun dana darurat lebih dulu.

Jika kedua jaring pengaman ini sudah kamu punyai, maka dijamin, hidupmu akan lebih tenang, dan kamu juga bisa lebih fokus bekerja untuk menghasilkan lebih banyak lagi.

3. Pilih gaya hidup yang masuk akal

Sementara, kalau memang gaji kamu masih dirasa kecil—setara gaji UMR—ada baiknya kamu enggak perlu aneh-aneh dulu deh. Semua kebutuhan hidup terpenuhi saja, kamu harus bersyukur. Kamu bisa memenuhi semua pos pengeluaran dengan baik saja, itu sudah sangat baik.

Untuk sekarang, lebih baik kamu fokus meningkatkan karier, sehingga diharapkan gajimu pun bisa menyesuaikan. Pilihlah gaya hidup yang sesuai dengan penghasilan. Gaya hidup yang masuk akal.

Kalau memang kamu merasa penghasilanmu terlalu kecil, ada baiknya juga kamu mempertimbangkan untuk menambahnya. Coba cari peluang untuk bisa berpenghasilan sampingan.

Kesimpulan

Jangan dulu berkecil hati kalau memang kamu merasa gajimu begitu kecil. Coba diulik lagi. Kamu enggak sendirian, karena pada kenyataannya, siapa pun yang bergaji besar sekarang ini juga memulai dari gaji yang kecil.

Coba kelola lagi. Cari di pos mana kamu bisa menghemat lagi. Tambah gaji kecilmu dengan penghasilan sampingan. Kalau sampai di sini saja, gaji masih saja dirasa terlalu kecil, well, mungkin kamu juga perlu mempertimbangkan pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Tentunya, kamu juga harus sadar, bahwa besarnya gaji biasanya juga diiringi dengan besarnya tanggung jawab dan target.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version